BAB II TINJAUAN UMUM MENGENAI HAK ASASI MANUSIA
D. Hubungan Antara Hak Asasi Manusia dan Perang
Diluar dari kehendak yang wajar dan pandangan umum, tidak seorangpun dari masyarakat internasional menginginkan terjadinya perang sesama mereka, semua orang mengutuk peperangan karena peperangan hanya akan membawa sengsara dan kebinasaan bagi umat manusia. Tetapi dalam kenyataannya walaupun masyarakat internasional berusaha agar perang tidak terjadi, tetapi tetap saja perang itu timbul dan ada sampai saat ini bahkan dikhawatirkan akan lebih meningkat lagi di masa akan datang.
Peristiwa perang dan permusuhan antara berbagai pihak, tidak saja dikenal sejak beberapa puluh tahun yang lalu, tetapi perang telah dikenal dan telah dilakukan sejak umat manusia mengukir sejarah dan peradabannya. Perang dapat menyebabkan semua pihak menjadi terlibat
dan jika tidak ada pembatasannya menyebabkan kehancuran total umat manusia, serta menyebabkan terancamnya hak asasi manusia.
Jika kita hubungkan dengan kenyataan dunia yang kita alami saat ini dengan banyaknya terjadinya peperangan, konflik-konflik dan beraneka bentuk permusuhan lainnya yang mengancam perdamaian dunia. Sampai pada ditandatanganinya perjanjian Paris (Briand Kellog
Pact) pada tahun 1926 bagi negara-negara yang terlibat dalam peperangan dan pengkhianatan
tidak ada jalan kecuali dengan perang karena peranglah jalan satu-satunya cara yang sah untuk menyelesaikan konflik-konflik internasional yang mampu mempertahankan dan menegakkan hukum internasional.
Menurut perjanjian tersebut diatas tidak ada gunanya melarang terjadinya perang, sebab tidak adanya badan yang berwenang penuh untuk bertindak atas pelanggaran-pelanggaran hukum internasional. Itulah sebabnya kalau terjadi perang maka penyelesaiannya diusahakan saja pada negara yang terlibat atau dengan istilah lain System by Decentralize Enforced of International
Law.
Berpedoman kepada sejarah ternyata cara demikian tidak menguntungkan bahkan menimbulkan kerugian yang amat besar baik bagi manusia sendiri sebagai pelaku dalam peperangan, maupun terhadap lingkungan tempat dilakukannya perang. Kemudian mulailah orang berpikir dan membuat batasan-batasan dan ketentuan-ketentuan yang mengatur perang antar bangsa-bangsa.
Pada prinsipnya perang dilakukan secara luas tanpa aturan dan banyak menimbulkan kerugian serta penderitaan bagi umat manusia. Di lain pihak perang juga mempunyai segi positif dan negatif yang ditimbulkannya. Perang dapat mempengaruhi sejarah manusia yaitu terhapusnya kebudayaan yang lama untuk digantikan dengan kebudayaan yang baru misalnya
tampak pada Perang Dunia I tidak bakal ada revolusi tahun 1917 di Rusia yang kemudian melahirkan Republik Soviet. Dengan berakhirnya perang dunia II maka hampir semua bangsa Asia, Afrika dan Amerika Latin memperoleh kemerdekaannya. Disini jelas tampak bahwa perang telah menciptakan perubahan-perubahan yang memungkinkan dalam rangka memajukan perkembangan kebudayaan.
Secara umum dapat dikatakan bahwa setiap bangsa yang melakukan perang tidak lain adalah dengan maksud untuk memaksakan kehendaknya atau untuk memperluas wilayahnya dalam rangka mewujudkan cita-cita nasionalnya. Dalam hal ini kita dapat melihat contoh dari perang Teluk 1990-1991 yang sekarang terwujudnya perjanjian Washington yang baru dilaksanakan pada tanggal 2 Mei 1994 yang tetap dianggap rakyat Palestina sebagai sesuatu yang belum tuntas dan utuh karena masalah kota Yerusalem yang masih dipertahankan oleh Israel.
Sejarah telah membuktikan bahwa suatu bangsa yang ingin hidup damai dan aman, maka ia harus memperhatikan pertahanan dan keamanannya yang hanya untuk kepentingan kesejahteraan rakyatnya saja, maka negara itu akan mudah hancur oleh serangan-serangan negara lain yang telah mempersiapkan diri untuk perang.
Perlunya penerapan aturan serta rasa kemanusiaan dalam perang sudah dikenal sejak jaman dahulu kala. Namun ironisnya pelanggaran demi pelanggaran masih saja terus berlangsung hingga sekarang. Di India misalnya, sejak dahulu kala telah dikenal peraturan-peraturan hukum perang yang bertujuan untuk melindungi orang-orang yang tak berdaya, terluka dan yang sakit, terdapat ketentuan-ketentuan mengenai hak-hak tentara pendudukan, senjata terlarang, dan perlakuan tawanan perang. Cerita Mahabharata misalnya, mengandung aturan-aturan perang yang berperikemanusiaan.
Demikian pula kitab Undang-undang Manu di India pada masa lampau memuat ketentuan terperinci mengenai orang-orang (penduduk sipil) yang tidak boleh diserang, barang-barang rampasan perang, dan larangan untuk melakukan kekejaman. Salahudin Al- Ayubi pada masa kejayaan Islam juga telah menerapkan aturan hukum humaniter berdasar ajaran Al-Qur’an dan Hadits.
Yunani Kuno dan Romawi juga mengenal ketentuan-ketentuan yang melarang pemakaian racun, pembunuhan tawanan perang, dan penyerangan atas tempat-tempat ibadah. Sumbangan yang berharga dari hukum Romawi terhadap hukum perang modern adalah definisi “perang” dan pendapat yang mengatakan bahwa peperangan harus dimulai dengan suatu pernyataan perang yang resmi.
Jelas bahwa rasa kemanusiaan merupakan suatu hal yang umum dan telah dikenal oleh berbagai bangsa dan peradaban sejak dahulu kala. Tidak benar apabila ada yang berpendapat bahwa sebelum Rousseau merumuskannya dalam Du Contract Social, prinsip perikemanusiaan itu belum dikenal. Perbedaannya hanyalah bahwa sebelum itu perikemanusiaan dalam perang sering masih terbatas pelaksanaannya pada musuh yang seagama atau satu kebudayaan sehingga pada saat itu belum dapat dikatakan sebagai asas yang berlaku umum dan universal yang melintasi batas keagamaan, kebudayaan, dan kebangsaan seperti di zaman modern.
Dasar-dasar hukum humaniter bertujuan melindungi masyarakat dan membatasi akibat yang tidak perlu atau yang berlebihan, yang ditimbulkan oleh peristiwa-peristiwa konflik dan perang. Hukum humaniter merupakan sejumlah prinsip dasar dan aturan mengenai pembatasan penggunaan kekerasan dalam situasi konflik bersenjata.
Pada prinsipnya masyarakat internasional memang mengakui bahwa peperangan antarnegara (international armed conflict) dan bahkan secara internal dalam suatu negara
(non-international armed conflict) dalam banyak kasus yang pernah terjadi memang sukar atau tidak
dapat dihindari. Kemudian, sudah pasti dalam situasi perang atau konflik bersenjata tersebut akan jatuh korban, bukan hanya dari pihak-pihak yang bermusuhan tetapi orang-orang yang tidak terlibat secara langsung dengan situasi tersebut juga ikut menjadi korban.
Oleh karena itu semua orang harus tetap dilindungi hak asasinya, baik dalam keadaan damai maupun perang. Tidak benar bahwa dalam peperangan, aspek hukum akan lenyap seperti yang digambarkan dalam peribahasa Romawi inter arma silent leges (terjadinya perang membuat aturan-aturan hukum bisa diabaikan).
Hukum yang mengatur konflik bersenjata lazim disebut sebagai hukum perang, kemudian setelah Perang Dunia II diubah menjadi hukum humaniter. Penggantian istilah tersebut dalam rangka memanusiakan manusia dalam perang. Perang biasanya ditandai oleh konflik di suatu wilayah dengan intensitas penggunaan kekuatan bersenjata cukup tinggi dan terorganisasi. Tujuan hukum humaniter yang dirumuskan oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa adalah sebagai berikut:
1. Untuk melindungi orang yang tidak terlibat atau tidak lagi terlibat dalam suatu permusuhan
(hostilities), seperti orang-orang yang terluka, yang terdampar dari kapal, tawanan perang, dan penduduk sipil.
2. Untuk membatasi akibat buruk penggunaan senjata dan kekerasan dalam peperangan dalam
rangka mencapai tujuan terjadinya konflik tersebut.
Israel jelas telah melanggar prinsip-prinsip kemanusiaan dalam berbagai tindakan atau aksi militernya, baik selama kurang lebih enam dasawarsa di Palestina. Dalam memperjuangkan kepentingan nasionalnya, Israel telah menggunakan cara-cara yang tidak berperikemanusiaan,
melanggar hak asasi manusia, mengabaikan aturan hokum humaniter, dan tidak sesuai dengan doktrin “Just War”.
Dalam Hukum Humaniter Internasional terdapat dua doktrin mengenai kategori perang, yaitu :42
a. Just War
“Just War” (perang yang dibenarkan) bermakna bahwa ada justifikasi atau alasan
pembenaran untuk melaksanakan serangan, bahwa perang dilakukan berdasarkan alasan-alasan yang logis dan dapat dibenarkan, perang berlangsung secara adil dan seimbang, perang dilakukan terbatas untuk mencapai tujuan tertentu dan bukan untuk menghancurkan atau memusnahkan pihak lawan (suatu negara, suatu bangsa, etnis dan suku-bangsa, kelompok atau oposisi atau pemberontak). Berlandaskan doktrin “Just War” ini, sepanjang perang tidak terhindarkan dalam rangka memperjuangkan sesuatu atau mempertahankan sesuatu, dibolehkan melakukan tindakan untuk mengalahkan/menaklukkan lawan, tetapi bukan untuk menghancurkan. Boleh memperjuangkan sesuatu, mencakup hal-hal kepentingan nasional atau mencegah berlanjutnya agresi, tetapi bukan dengan cara-cara teror yang menimbulkan kesengsaraan bagi penduduk sipil. Kriteria melakukan sebuah perang yang dibenarkan, pertama kali diringkas oleh seorang ahli filsafat Belanda Hugo Grotius pada abad ke-17 dan bersumber pada ahli-ahli agama Katolik tua, terdiri atas tujuh elemen: (1) bahwa ada penyebab yang dibenarkan; (2) bahwa ada otoritas yang benar (penguasa yang sah) yang memprakarsai perang tersebut; (3) maksud yang benar dari pihak-pihak yang menggunakan kekuatan; (4) bahwa pilihan menggunakan kekuatan adalah proporsional; (5) bahwa penggunaan kekuatan merupakan pilihan terakhir; (6) bahwa perang ditempuh dengan
kedamaian sebagai tujuan akhirnya (bukan karena semata-mata ingin berperang); (7) bahwa ada harapan yang masuk akal bahwa upaya perang tersebut akan berhasil.
b. Unjust War (perang yang tidak dibenarkan)
Unjust War merupakan perang yang tidak mengikuti ketentuan perang dalam hukum
humaniter, seperti genosida, penggunaan senjata pemusnah massal dan lain-lain.
Selain yang diatur berdasar doktrin, dalam perkembangan di zaman modern diadakan pula aturan-aturan berdasar perjanjian internasional dan ketetapan dari badan perlengkapan organisasi internasional. Sehingga ketentuan-ketentuan Hukum Perang atau Hukum Humaniter ini dibagi ke dalam tiga cabang, yaitu :
1. Hukum The Hague (Law of the Hague) lebih terkait dengan peraturan mengenai cara dan sarana bertempur dan memusatkan perhatiannya pada tindakan operasi militer. Oleh karena itu, maka jenis Hukum The Hague sangat penting bagi komandan militer di darat, laut, dan udara. Hukum ini dilandasi oleh hasil Konferensi Perdamaian yang diselenggarakan di The Haque (Den Haag, Belanda) pada tahun 1899 dan 1907, yang utamanya menyangkut sarana dan metode perang yang diperkenankan.
2. Hukum Jenewa (Law of Geneva), yang berkaitan dengan perlindungan korban perang. Mereka yang dilindungi adalah militer maupun sipil, di darat maupun di air. Hukum Jenewa melindungi semua orang yang hers de combat, yakni yang luka-luka, sakit, korban karam/tenggelam, dan tawanan perang. Hukum Jenewa ini mencakup Konvensi Jenewa 1929, Konvensi Jenewa 1949, dan juga Protokol Jenewa 1977.
3. Hukum New York (New York Rules), yaitu aturan-aturan baru yang berkaitan dengan hukum humaniter atau yang mengatur ketentuan yang berlaku dalam peperangan/pertempuran. Ketentuan dihasilkan melalui mekanisme Perserikatan
Bangsa-Bangsa yang bermarkas besar di New York. Lazimnya yang digolongkan sebagai New
York Rules adalah yang dibuat setelah tahun 1980. Ada yang berupa konvensi, protocol,
maupun berupa resolusi. Resolusi Majelis Umum dan Resolusi Dewan Keamanan PBB. Contoh-contohnya antara lain Convention on the prohibition of the development,
production, stock-pilling and the use of chemical weapons and on their destructions
(1993), Protocol on Binding Laser Weapons (1995), Protocol on the Explosive Remnants
of War (2003), dan New York Rules juga mencakup yang sebelum tahun 1970-an yaitu
Konvensi PBB tentang Genosida (Genocide Convention) tahun 1948 yang merupakan pengembangan dari Resolusi PBB Nomor 96 (11 Desember 1946), serta Resolusi Majelis Umum PBB Nomor 2444 Tahun 1968 (Respect for Human Rights in Armed Conflict).
BAB III
PENGATURAN TENTANG PERLINDUNGAN WARGA SIPIL PADA MASA PERANG DALAM HUKUM INTERNASIONAL
A. Prinsip Pembedaan (Distinction Principle) dalam Hukum Humaniter 1. Pengertian Prinsip Pembedaan
Salah satu prinsip yang menjadi landasan utama hukum perang adalah pembagian penduduk (warga negara) negara yang sedang berperang atau yang sedang terlibat dalam suatu pertikaian senjata (armed conflict) dalam dua kategori, yaitu kombat dan penduduk sipil
(civilians). Golongan kombat inilah yang secara aktif turut serta dalam permusuhan. Prinsip
membagi penduduk dalam dua golongan ini lazim disebut distinction principle.43
Hukum perang seperti induknya, yaitu hukum internasional, berasal dan bersumber dari dunia Barat. Oleh karena itu, apabila dikatakan bahwa hukum perang antara lain bersumber pada kebiasaan perang, yang dimaksudkan di sini adalah kebiasaan perang di dunia Barat. Sekalipun di dunia Timur juga terdapat kebiasaan perang, namun pada waktu menyusun hukum perang, yang dijadikan sumber adalah (hanya) kebiasaan dunia Barat saja.
Sudah diketahui bahwa hukum perang merupakan bagian dari hukum internasional. Akan tetapi, mungkin belum diketahui bahwa hukum perang merupakan bagian pertama dari hukum internasional yang dikodifikasikan (tertulis). Sampai sekarang, dengan disetujuinya Protokol-protokol Tambahan 1977, hukum perang mencakup kurang lebih enam ratus artikel.
44
Konvensi pertama yang berhubungan dengan hukum perang di darat ditandatangani di Jenewa pada tahun 1864, yaitu konvensi tentang perbaikan keadaan yang luka-luka dalam tentara
43
Makdin Amrin Munthe, Pengantar Hukum Humaniter Internasional, USU Press,Medan, 2008, hal 89
di lapangan. Konvensi-konvensi pertama dari hukum perang umumnya mengenai perbaikan nasib yang sakit dan luka-luka di medan perang. Salah satu prinsip dasar yang dianut dalam hukum perang adalah pembedaan antara kombat dan penduduk sipil. Pembedaan ini perlu diadakan pertama untuk mengetahui siapa yang dapat/boleh dijadikan objek kekerasan dan siapa yang harus dilindungi. Dengan kata lain, dengan adanya prinsip pembedaan tersebut dapat diketahui siapa yang boleh turut dalam pertempuran sehingga dijadikan objek kekerasan (dibunuh), dan siapa yang harus dilindungi karena tidak turut serta dalam permusuhan.45
45 Ibid.
Salah satu prinsip dasar yang dianut dalam hukum perang adalah pembedaan antara kombat dan penduduk sipil. Pembedaan ini perlu diadakan pertama untuk mengetahui siapa yang dapat/boleh dijadikan objek kekerasan dan siapa yang harus dilindungi. Dengan kata lain, dengan adanya prinsip pembedaan tersebut dapat diketahui siapa yang boleh turur dalam permusuhan sehingga dapat dijadikan objek kekerasan (dibunuh), dan siapa yang harus dilindungi karena tidak turut serta dalam permusuhan. Mengenai masalah ini, Manual of Military Law dari Kerajaan Inggris yang dikutip Draper, mengatakan bahwa kedua golongan itu, yaitu kombat dan penduduk sipil, masing-masing mempunyai privileges-duties-disabilities. Selanjutnya dalam manual tersebut dikatakan bahwa seorang harus memilih di dalam golongan mana ia masuk, dan ia tidak dibenarkan menikmati privilages dua golongan sekaligus. Di dalam cetakan tahun 1958, manual tersebut menambahkan bahwa pembedaan antara kombat dan non-kombat sekarang menjadi tidak jelas. Pada masa itu, yaitu dekade abad ke-19 tidaklah sulit untuk menentukan siapa yang turut dalam permusuhan dan siapa golongan sipil, karena angkatan bersenjata atau kombat memakai seragam yang jelas berbeda dari pakaian penduduk sipil.
Sekalipun pada waktu itu sudah ada wajib militer (compulsary military service) sehingga jumlah angkatan bersenjata sudah jauh lebih besar dibandingkan dengan waktu sebelumnya, namun mereka semua memakai pakaian seragam. Dengan demikian, pada waktu itu orang secara cepat dapat menentukan siapa kombat dan siapa penduduk sipil. Perlu sekali lagi ditekankan bahwa apa yang diterangkan di atas tersebut terjadi di dunia Barat.
2. Distinction Principle Menurut Hague Convention IV – 1907
Pada tahun 1899 di Den Haag atas prakarsa Rusia dilangsungkan apa yang disebut First
Hague Peace Conference. Salah satu tujuan konvensi yang sudah disetujui di Brussels pada
tahun 1874. Ternyata bahwa konferensi ini berhasil untuk menerima konvensi tersebut di atas beserta annex-nya. Konvensi 1899 ini kemudian direvisi lagi dalam Second Peace Conference, yang diadakan di Den Haag pada tahun 1907. Konvensi 1907 ini tidak jauh berbeda dari konvensi 1899. Dapat ditambahkan bahwa Second Peace Conference ini menghasilkan banyak konvensi, satu diantaranya adalah konvensi IV, yang berjudul Convention respecting the laws
and customs of war on land. Konvensi ini hanya terdiri dari sembilan artikel, tetapi dilampiri
sebuah annex yang berjudul Regulation respecting the laws and customs of war on land, yang terdiri dari 56 artikel. Annex ini lebih dikenal dengan sebutan Hague Regulations, atau disingkat HR. 46
46 Ibid., hal 76.
Karena pentingnya bagi setiap anggota angkatan bersenjata, HR itu sering juga disebut the soldier’s vadamecum. Sebagai tambahan dapat dikemukakan bahwa Konvensi IV ini antara lain diratifikasi oleh negara Great Britain, Jepang, Meksiko, Belanda, Rusia, dan sebagainya. Di dalam artikel 1 dari HR tersebut dinyatakan sebagai berikut
Hukum hak dan kewajiban perang tidak hanya berlaku bagi tentara (Armies) saja, tetapi juga bagi milisi dan korps sukarela (volunteer corps) yang memenuhi syarat berikut :
1. Dipimpin oleh seseorang yang bertanggung atas bawahannya
2. Mempunyai tanda pengenal yang melekat, yang dapat dilihat dari jauh 3. Membawa senjata secara terbuka
4. Melakukan operasinya sesuai dengan hukum dan kebiasaan perang
Di dalam negara-negara di mana misili atau korps sukarela itu merupakan (constitute) tentara atau menjadi bagian daripadanya, mereka dimasukkan dalam sebutan tentara (army).
Selanjutnya dalam artikel 2 ditentukan bahwa juga segolongan penduduk disebut
belligerent seperti mereka yang tersebut artikel 1- apabila mereka memenuhi persyaratan yaitu
penduduk dari suatu wilayah yang belum diduduki, yang secara spontan mengangkat senjata untuk melawan musuh yang mendekat, dan tidak sempat mengatur diri sesuai ketentuan artikel 1, dianggap sebagai belligerent jika mereka mengindahkan hukum perang dan membawa senjata secara terbuka.
Artikel 2 ini menyangkut apa yang dikenal dengan istilah levee en masse. Jadi persyaratan yang harus dipenuhi supaya diakui sebagai levee en masse adalah :
1. Penduduk dari wilayah yang belum diduduki. 2. Secara spontan mengangkat senjata.
3. Tidak ada waktu untuk mengatur diri. 4. Mengindahkan hukum perang.
5. Membawa senjata secara terbuka.
Di dalam artikel 3 dinyatakan bahwa angkatan bersenjata dari pihak berperang dapat terdiri dari kombat dan non-kombat. Apabila tertangkap oleh musuh, kedua-duanya harus
diperlakukan sebagai tawanan perang. Perlu dicatat disini bahwa nonkombat yang dimaksudkan dalam artikel 3 ini bukanlah penduduk sipil, tetapi bagian dari angkatan bersenjata yang tidak turut bertempur.
Berdasarkan hal-hal yang tercantum dalam artikel 1, 2 dan 3 itu, menurut Hague
Regulations, golongan yang secara aktif dapat turut serta dalam permusuhan adalah :
1. Armies (tentara) ;
2. Militia dan volunteer corps (milisi dan korps sukarela) dengan memenuhi
persyaratan tertentu ;
3. Levee en masse (Pen duduk sipil dalam kategori sebagaim an a disebutkan dalam
Artikel 2 H ague Regulation s);
Salah satu pasal dari Hague Convention IV yang perlu mendapat perhatian adalah Pasal 2, yang berbunyi sebagai berikut : ketentuan yang terdapat pada Hague Regulations, maupun yang terdapat dalam konvensi ini, tidak berlaku mengikat selain semua pihak-pihak penanda tangan, dan hanya apabila semua pihak berperang adalah pihak dari konvensi ini.
Dengan adanya ketentuan tersebut, Hague Regulations tidak berlaku apabila dalam suatu perang ada suatu pihak berperang saja yang tidak meratifikasi konvensi tersebut.
3. Distinction Principle Menurut Geneva Conventions 1949
Seperti diketahui, Konvensi Jenewa 1949 itu terdiri dari empat konvensi, yaitu:
a) Konvensi mengenai perbaikan keadaan anggota angkatan perang yang luka dan sakit di medan pertempuran darat.
b) Konvensi mengenai perbaikan keadaan anggota angkatan perang di laut yang luka, sakit dan korban karam.
c) Konvensi mengenai perlakuan tawanan perang.
Di dalam konvensi 1, 2, 3 ada artikel yang berhubungan dengan distinction principle, yaitu artikel 13 dalam konvensi 1-2 dan artikel 4 dalam konvensi 3. ketiga artikel itu sebagian sama bunyinya. Artikel 13 tidak memuat apa yang terdapat dalam artikel 4 sub B. Artikel 13 menentukan kategori antara lain :
1. Anggota angkatan bersenjata dari pihak bertikai, dan anggota milisi atau korps sukarela yang merupakan bagian dari angkatan bersenjata.
2. Anggota dari milisi lain dan korps sukarela lain, termasuk anggota gerakan perlawanan yang teratur yang menjadi bagian dari pihak bertikai dan beroperasi, baik di dalam maupun di luar wilayah mereka, sekalipun wilayah tersebut telah diduduki, selama mereka semua memenuhi syarat-syarat, yaitu :
a. Dipimpin oleh orang yang bertanggung jawab atas bawahan. b. Mempunyai tanda tertentu yang tampak dari jauh.
c. Membawa senjata secara terbuka.
d. Melakukan operasinya sesuai dengan hukum perang.
3. Anggota angkatan bersenjata yang menyatakan kesetiaannya pada suatu pemerintah atau penguasa yang tidak diakui oleh negara penahan.
4. Orang-orang yang menyertai angkatan bersenjata, tetapi bukan menjadi bagian daripadanya, seperti anggota sipil dari awak pesawat terbang militer, wartawan perang, anggota dari kesatuan pekerja yang bertanggung jawab atas kesejahteraan angkatan bersenjata, mereka semua harus mendapat izin dari angkatan bersenjata yang diikuti. 5. Anak awak dari kapal dagang dan awak pesawat terbang sipil dari pihak yang bertikai,
yang tidak menikmati perlakuan yang lebih baik berdasarkan ketentuan hukum internasional yang lain.
6. Penduduk dari wilayah yang belum diduduki, yang mengangkat senjata secara spontan pada waktu musuh mendekat, untuk melawan pasukan penyerbu, sedangkan tidak ada waktu untuk mengatur diri dalam kesatuan bersenjata yang teratur asalkan mereka membawa senjata secara terbuka dan mengindahkan hukum kebiasaan perang.47
Berbeda dengan artikel 13 Konvensi I dan II, artikel 4 Konvensi III masih ditambah dengan sub B, yang berbunyi sebagai berikut:
Yang juga diperlakukan sebagai tawanan perang ialah :
1) Orang-orang yang termasuk, atau pernah termasuk angkatan bersenjata dari negara yang telah diduduki apabila negara yang menduduki menganggap perlu untuk melawan mereka.
2) Orang-orang yang termasuk tergolong salah satu kategori yang disebut dalam artikel ini, yang telah diterima oleh negara netral atau negara nonbelligerent di wilayah mereka, dan di mana negara-negara tersebut menganggap perlu untuk menawan mereka berdasarkan hukum internasional.48
Di dalam artikel 13 ataupun artikel 14 tidak terdapat istilah kombat. Istilah yang terdapat