• Tidak ada hasil yang ditemukan

Hubungan antara Komitmen dan Prestasi Kerja

Sesungguhnya, sedikit studi empiris sudah dilakukan oleh para ahli untuk menguji komitmen aparatur sektor publik dan hubungannya dengan prestasi. Sebagian besar

30

literatur mengenai prestasi dan capaian organisatoris menempatkan penekanan pada komitmen aparatur (Creech, 1989; Becker and Eveleth, 1995; Spector, 1997).

Hasil temuan menunjukkan bahwa komitmen aparatur adalah kunci bagi organisasi menuju keberhasilan prestasi (Mowday & Emudi, 1982, Reichers, 1985). Aparatur yang mempunyai tingkat komitmen yang tinggi akan lebih mudah mencapai prestasi kerja yang tinggi. Dengan tingkat komitmen yang tinggi membuat seorang aparatur aktif dan kreatif dalam menyelesaikan pekerjaanya.

Steers (1985:145-146) berpendapat bahwa komitmen memberikan sekurangnya empat hasil yang berkaitan dengan efektifivitas. Pertama, para pekerja yang benar-benar menunjukan komitmen terhadap tujuan dan nilai-nilai organisasi mempunyai kemungkinan jauh lebih besar untuk menunjukan tingkat partisipasi yang tinggi dalam kegiatan organisasi. Kehadiran mereka juga umumnya hanya terhalang jika mereka sakit. Kedua, pekerja yang menunjukkan komitmen tinggi memiliki keinginan yang kuat untuk tetap dapat bekerja agar terus mencapai tujuan aparatur. Ketiga, individu yang kuat komitmennya akan sepenuhnya melibatkan diri dalam pekerjaan mereka, karena pekerjaan tersebut adalah mekanisme kunci dan saluran individu untuk memberikan sumbangannya bagi pencapaian tujuan organisasi. Keempat, pekerja dengan komitmen tinggi akan bersedia mengerahkan cukup banyak usaha demi kepentingan organisasi. Dari pendapat para ahli dapat disimpulkan bahwa dengan adanya peningkatan kehadiran, kebetahan pekerja dalam organisasi, keterlibatan pada pekerjaan dan peningkatan usaha dan kesadaran akan kemampuan yang ada padanya maka akan lebih mendorong dalam mencapai prestasi kerja yang tinggi.

Tingkat prestasi kerja aparatur yang tinggi merupakan salah satu ukuran tercapainya tujuan organisasi. Aparatur dengan komitmen yang tinggi akan bersedia mengerahkan cukup banyak usaha demi kepentingan organisasi. Lebih lanjut, Moekijat (1991:136)

31

berpendapat bahwa aparatur-aparatur dengan komitmen yang kerja yang tinggi merasa bahwa mereka diikutsertakan, bahwa tujuan organisasi patut diberi perhatian, bahwa usaha-usaha mereka dikenal dan dihargai. Selanjutnya aparatur-aparatur dengan komitmen yang tinggi memberikan sikap kebanggaan dalam dinas, dan ketaatan kepada kewajiban, serta prestasi kerja dan efisiensi yang tinggi.

Berdasarkan pada telaah teori yang telah dikemukakan maka penulis memberikan hipotesis sebagai berikut:

H0: „Komitmen Afektif, komitmen Continuance dan Komitmen Normatif tidak berpengaruh positif dan signifikan terhadap Prestasi Kerja’

Ha: „Komitmen Afektif, komitmen Continuance dan Komitmen Normatif berpengaruh positif dan signifikan terhadap Prestasi Kerja’

1. Komitmen Afektif dan Prestasi Kerja

Pada dasarnya pendekatan afektif menekankan pada pentingnya kesesuaian antara tujuan pribadi dengan nilai dan tujuan organisasi. Seorang aparatur yang benar-benar menunjukan komitmennya terhadap tujuan dan nilai-nilai organisasi mempunyai kemungkinan menunjukkan tingkat partisipasinya yang tinggi dalam kegiatan organisasi.

Meyer dan Allen (1984); Dipboye& Smith, (1994:72) berpendapat bahwa komitmen afektif merupakan suatu perasaan emosional yang melekat pada diri individu yang menyebabkan individu melakukan identifikasi terhadap nilai maupun terlibat dalam aktivitas organisasi).

32

Lebih lanjut Mowday, Porter & Steers (1982) (dalam Seniati, 2001: 302) berpendapat pula bahwa karakteristik aparatur dengan komitmen yang tinggi pada organisasi antara lain memiliki keyakinan yang kuat terhadap organisasi serta menerima tujuan dan nilai organisasi; memiliki keinginan untuk bekerja keras.

Robbins (1996:143) mengemukakan bahwa dalam kesetiaan terhadap organisasi adalah kemauan untuk membela organisasi tersebut adalah hal penting dalam menunjang komitmen aparatur terhadap pekerjaannya sekaligus terhadap organisasi di mana mereka bekerja. Berdasarkan pada ketiga ciri yang memperlihatkan komitmen, definisi komitmen adalah sikap seorang aparatur yang mengusahakan upaya yang tinggi dan sepenuhnya melibatkan diri pada pekerjaan. Pekerjaan yang dihasilkan oleh seorang aparatur mempunyai dampak yang besar terhadap kelangsungan organisasi.

Berdasarkan pada telaah teori yang telah dikemukakan maka penulis memberikan hipotesis sebagai berikut:

H0: „Komitmen afektif berpengaruh positif namun tidak signifikan terhadap prestasi kerja’.

Ha: „Komitmen afektif berpengaruh positif dan signifikan terhadap prestasi kerja’.

2. Komitmen Continuance dan Prestasi Kerja

Meyer dan Allen (1984) berpendapat bahwa tipe komitmen ini didasarkan pada pertimbangan untung rugi yang berkaitan dengan keluar atau menetapnya individu dalam organisasi. Individu dengan komitmen ini akan membandingkan keuntungan dan kerugian finansial dengan cara membandingkan organisasinya saat ini dengan organisasi lainnya yang memberi kesempatan untuk bekerja sehingga aparatur cenderung memiliki keinginan yang kuat untuk bertahan dalam organisasi.

33

Berdasarkan pada telaah teori yang telah dikemukakan maka penulis memberikan hipotesis sebagai berikut:

H0: „Komitmen continuance berpengaruh positif namun tidak signifikan terhadap prestasi kerja’.

Ha: „Komitmen continuance berpengaruh positif dan signifikan terhadap prestasi kerja’.

3. Komitmen Normatif dan Prestasi Kerja

Konsep komitmen normatif diperkenalkan pertama kalinya oleh (Wiener, 1982) yang berpendapat bahwa komitmen normatif harus dapat dilihat sebagai sebuah tekanan yang berasal dari luar maupun dari dalam agar individu bekerja untuk mencapai tujuan organisasi.

Komitmen normatif yang sering juga disebut sebagai komitmen moral (Jaros et al, 1993) adalah komitmen yang menunjukkan perasaan individu akan kewajiban untuk bekerja pada organisasi berdasarkan pada kesadaran akan adanya kewajiban dan tanggungjawab yang harus dipikul.

Jika aparatur mendapat tekanan yang berasal dari luar untuk bekerja guna mencapai tujuan organisasi maka aparatur akan cenderung berusaha bekerja sesuai standar yang ditetapkan oleh organisasi baik secara kualitas maupun kuantitas.

Berdasarkan pada telaah teori yang telah dikemukakan maka penulis memberikan hipotesis sebagai berikut:

34

H0: „Komitmen normatif berpengaruh positif namun tidak signifikan terhadap prestasi kerja’.

Ha: „Komitmen normatif berpengaruh positif dan signifikan terhadap prestasi kerja’.

Berdasarkan hasil penelitian Meyer, Pneunonen, Gellatly, Goffin, Jackson (1998); Marseto (2004) yang menyimpulkan bahwa komitmen afektif berpengaruh secara signifikan dan positif terhadap prestasi kerja, maka penulis merasa perlu dan penting untuk membuktikan akan tipe komitmen manakah yang paling berpengaruh secara dominan terhadap prestasi kerja, maka penulis menetapkan hipotesis H5 sebagai berikut;

Berdasarkan pada telaah teori yang telah dikemukakan maka penulis memberikan hipotesis sebagai berikut:

H0: „Komitmen afektif tidak berpengaruh paling dominan terhadap prestasi kerja’.

Ha: „Komitmen afektif berpengaruh paling dominan terhadap prestasi kerja’.

Dokumen terkait