• Tidak ada hasil yang ditemukan

Hubungan antara Kontrol Diri (Self Control) dengan Perilaku

BAB II KAJIAN TEORI

D. Hubungan antara Kontrol Diri (Self Control) dengan Perilaku

Masa remaja adalah masa peralihan individu dari masa kanak-kanak menuju dewasa. Pada masa ini remaja banyak menemui gejolak-gejolak dalam dirinya. Perkembangan remaja ini ditandai dengan perkembangan pesat dalam pertumbuhan fisik, psikis maupun sosialnya. Pada masa ini pula timbul banyak perubahan yang terjadi, baik secara fisik maupun psikologis, seiring dengan tugas-tugas perkembangan yang harus dipenuhi oleh remaja. Hal ini membuat remaja sangat mudah untuk terpengaruh terhadap nilai-nilai asing yang menyenangkan dan dapat membawa perubahan, namun seringkali perubahan-perubahan ini berdampak pada hal-hal yang negatif, seperti berpakaian yang kurang sopan, mencuri, pergaulan bebas, taruhan, minum-minuman keras bahkan tidak mampu mengatur dan mengontrol perilakunya.

Kontrol diri (self control) merupakan kemampuan individu untuk mengendalikan diri dari dorongan-dorongan baik dalam diri maupun dari luar diri, yang meliputi kontrol perilaku, kontrol kognitif atau cara berfikir, dan kontrol dalam mengambil keputusan sehingga dapat memikirkan resiko dari perbuatan, untuk dapat mengarahkan kepada perilaku ke arah yang lebih positif.

Snyder dan Gangestad (dalam Kusumadewi, 2011: 5) mengatakan bahwa kontrol diri secara langsung sangat relevan untuk melihat hubungan antara pribadi dengan lingkungan masyarakat dalam mengatur kesan masyarakat yang sesuai dengan isyarat situasi dalam bersikap dan berpendirian yang efektif. Hal ini berarti kontrol diri dapat dengan otomatis mengatur segala sikap dan perilaku dalam memutuskan atau melakukan segala sesuatu yang menjurus kearah sikap yang positif sehingga seseorang akan mampu mengendaliakan dan tidak melakukan hal-hal yang merugikan atau bertentangan dengan pandangan masyarakat.

Kontrol diri sangat berperan penting di setiap segi kehidupan manusia, begitu juga perilaku melanggar Syariat Islam, kontrol diri berperan sebagai kontrol timbulnya perilaku melanggar Syariat Islam. Orang yang memiliki kontrol diri yang baik akan selalu mempertimbangkan dan mengendalikan perilaku-perilaku mereka sesuai dengan nilai-nilai yang mereka anut. Individu yang kontrol dirinya baik akan bersikap konsisten antara perilaku dengan

nilai-nilai ajaran Islam, sehingga dapat membatasi perilaku apa yang pantas dan tidak pantas dilakukan dalam mengikuti aturan Syariat Islam. Begitu pula sebaliknya, individu yang memiliki kontrol diri yang kurang maka akan mudah terjerumus kedalam dorongan-dorongan perilaku melanggar Syariat Islam.

Hal tersebut diatas sejalan dengan yang dikatakan oleh Suyasa (Kusumadewi, dkk. 2011 : 5), yang menyebutkan bahwa kontrol diri merupakan kemampuan individu untuk menahan keinginan yang bertentangan dengan tingkah laku yang tidak sesuai dengan norma sosial, dapat diidentikkan sebagai kemampuan individu untuk bertingkah laku sesuai dengan norma sosial yang berlaku. Sehingga terdapat perbedaan tingkat kepatuhan antara individu dengan kontrol diri tinggi dan individu dengan kontrol diri rendah.

Perilaku melanggar Syariat Islam yang dilakukan oleh remaja terjadi dikarenakan peran kontrol diri yang lemah pada dirinya, sehingga remaja berperilaku melanggar diakibatkan oleh ketidak mampuan dalam mengontrol serta mengendalikan diri mereka dari kebebasan melakukan pelanggaran Syariat Islam dengan nilai-nilai yang dipahami. Hal ini sejalan pula dengan yang dikatakan Gottfredson (Mira A. Rachmawati dan Devintha Indraprasti, 2008), tentang A general theory of crime yang menjelaskan bahwa rendahnya kontrol diri pada individu dapat meyebabkan terjadinya perilaku kejahatan.

Perilaku melanggar Syariat Islam merupakan hal yang sangat kompleks dan dipengaruhi oleh berbagai faktor kepribadian. Salah satu faktor dari dalam kepribadian yang mempengaruhi perilaku melanggar Syariat Islam adalah kontrol diri (self control) hal ini seperti yang dikatakan oleh (Bactiar, 2004) terdapat beberapa faktor yang dapat mempengaruhi terjadinya perilaku melanggar Syariat Islam yang dilakukan oleh remaja antara lain faktor keperibadian, seperti harga diri, kontrol diri, tanggung jawab, kemampuan membuat keputusan, nilai-nilai moral, keluarga, program sekolah, dan Agama.

Perilaku melanggar Syariat Islam merupakan segala sesuatu yang dilakukan oleh manusia dalam menanggapi stimulus lingkungan, dalam bentuk pelanggaran peraturan atau ketetapan yang allah perintahkan kepada hamba-hambanya. Seperti puasa, shalat, haji, zakat dan seluruh kebaikan yang telah diatur dalam perundang-undangan yang menjadi landasan pemberlakukan formalisasi Syariat Islam, dan pelanggaran tersebut dapat diancam dengan tindakan pidana. Menurut Abubakar, (2006 : 7-8) terdapat aspek-aspek dalam perilaku melanggar Syariat Islam yaitu : aqidah, ibadah, dan syi’ar yang meliputi perbuatan khalwat atau mesum, pebuatan Maisir atau perjudian, perbuatan khamar meminum- minuman keras dan sejenisnya.

Aspek aqidah menggambarkan perilaku meyakini dan mempercai hal-hal lain selain tuhan, seperti: mempercayai perkataan paranormal, menyembah kepada selain tuhan. Aspek ibadah adalah perilaku melanggar di bidang

ibadah, seperti: tidak melaksanakan shalat, tidak berpuasa dibulan ramadhan dan tidak menunaikan zakat. Aspek syiar adalah perilaku memakai pakaian-pakaian yang tidak sesuai dengan norma-norma, adat dan istiadat yang berlaku di Aceh, perbuatan mesum adalah perilaku bersunyi-sunyian yang dilakukan oleh dua orang yang bukan muhrim, perbuatan perjudian adalah perilaku permainan yang bersifat taruhan, dan perbuatan meminum-minuman keras dan sejenisnya adalah perilaku meminum minumam keras, narkoba dan narkotika yang dilakukan oleh seseorang maupun sekelompok orang.

Berkaitan dengan kemungkinan adanya hubungan kontrol diri dengan perilaku melanggar Syariat Islam, dapat dikatakan bahwa kalau seseorang memiliki kontrol diri yang baik, maka ia akan berperilaku dan akan menyelaraskan perilakunya dengan nilai-nilai ajaran agama yang dianutnya, oleh karena itu dapat dikatakan bahwa seseorang yang kontrol dirinya baik akan terdorong untuk menghindari perilaku melanggar Syariat Islam, karena ia menyadari hal tersebut tidak sesuai dengan nilai-nilai ajaran Agama yang dianutnya.

Kesimpulannya adalah apabila semakin tinggi tingkat kontrol diri yang dimiliki oleh seseorang, maka semakin rendah perilaku melanggar Syariat Islamnya, begitupula sebaliknya semakin rendah tingkat kontrol diri yang dimiliki seseorang, maka semakin tinggi perilaku melanggar Syariat Islam yang dilakukannya.

Dokumen terkait