• Tidak ada hasil yang ditemukan

Kondisi perairan memiliki peranan penting dalam mendukung kehidupan sponge. Kondisi perairan yang sesuai dengan kehidupan sponge yang di alam menyebabkan distribusi dua kelompok sponge yang lebih melimpah. Pada menelitian ini, kondisi perairan meliputi arus, salinitas, bahan organik terlarut, kecerahan dan suhu yang di ukur pada pengambilan data di lapangan. Grafik yang menghubungkan antara parameter oseanografi dan jumlah jenis sponge disajikan pada (Gambar 16)

Suhu Salinitas

BOT

Kecerahan

Arus Jumlah Jenis

Kelimpahan AC NA SC R S + RB DCA FS flat 1 slope 1flat 2 slope 2 flat 3 slope 3 -1,4 -1,2 -1 -0,8 -0,6 -0,4 -0,2 0 0,2 0,4 0,6 -1,5 -1 -0,5 0 0,5 1

42 Kondisi perairan yang di amati terdiri dari beberapa parameter fisik dan kimia, perairan memperlihatan variasi yang cukup besar dari setiap titik pengamatan seperti suhu, arus dan BOT demikian pula terhadap jumlah jenis dan kelimpahan.

Hasil analisis komponen utama (PCA) yang dilakukan berdasarkan matriks korelasi memberikan informasi yang penting yang menggambarkan korelasi antara parameter fisik, kimia dan kategori tutupan dasar terumbu karang perairan sebagai variabel aktif, sedangkan jumlah jenis sebagai suplemen. Ini bertujuan untuk melihat keterkaitan jumlah jenis sponge dengan parameter oseanografi.

Hasil analisis memperlihatkan 2 kelompok yaitu: Kelompok 1 terdiri dari Stasiun II dan III pada daerah reef flat Stasiun III dan reef flat dan slope pada Stasiun II yang dicirikan oleh jumlah jenis dan kelimpahan, FS dan S+RB. Melimpahnya jumlah jenis sponge pada kelompok ini dipengaruhi oleh subtrat pasir dan rubble (S+RB). Meskipun salinitas rendah namun faktor substrat masih dalam batas toleransi untuk kelimpahan sponge. Faktor keberadaan substrat diduga menjadi faktor utama sehingga keberadaan sponge lebih banyak dan padat. Hal ini di dukung oleh cukup tingginya tutupan rock (RK) stasiun 3 pada zona reef slope (Gambar 10). Seperti halnya hewan sessil, sponge lebih menyukai substrat yang keras atau kasar (Toonen dalam Setyadji dan Panggabean, 2010).

Keberadaan sponge pada kelompok 2 yang terdiri dari salinitas, BOT, DCA, R dan NA. Salinitas merupakan faktor penting dalam kehidupan biota laut dalam hal ini sponge. keberadaan sponge pada kelompok ini 2 ini dipengaruhi oleh salinitas untuk osmoregulasi yang baik bagi sponge, dimana salinitas pada lokasi penelitian masih dalam batas toleransi sponge atau salinitas normal

43 dengan nilai rata-rata 31,51‰. Hal ini juga dikatakan oleh Suryanto (1998) bahwa, salinitas optimum untuk kehidupan sponge adalah antara 30-36‰ selain itu bahan organik terlarut memperlihatkan komposisi kandungan yang baik untuk mendukung kehidupan sponge pada zona reef flat di setiap Stasiun dan zona

reef slope pada Stasiun I. Menurut Hynes (1970) dalam Ramli (2009), bahan

organik yang terkandung dalam air merupakan faktor penting dalam rantai makanan organisme dalam perairan. Seimbangnya bahan organik terlarut sebagai makanan sponge mampu hidup pada perairan terseut. Menurut Toonen

dalam Setyadi dan Panggabean (2001) bahwa, seperti halnya hewan sessil yang

menyukai substrat yang keras termasuk DCA tetapi dalam penelitian ini, DCA tidak mampu mempengaruhi kelimpahan sponge.

F. Distribusi Spasial Sponge

Hasil analisis distribusi spasial dengan menggunakan Correspondent

Analiysis sponge diuraikan menurut Stasiun. Untuk Stasiun I dapat diliat pada

(Gambar 15). Dari hasil analisis menunjukkan bahwa informasi utama terpusat pada sumbu 1, 2 dan 3 dengan persentase ragam total masing-masing sebesar 32,88%, 31,16% dan 20,71%. Hasil analisis CA (Correspondent Analysis) ditentukan kelompok dan titik sampling besarta sampling sponge yang menjadi penciri.

Kelompok I terlihat (Tabel 2) sebaran jenis sponge dengan penciri

Leiosella, Baikalospongia dan Petrosina pada Stasiun II zona reef flat. Kedua

jenis sponge ini lebih sering ditemukan pada kondisi perairan yang masih alami. Menurut Rani & Samawi (2003), bahwa bahwa Famili Darwinillidae, Dysideidae,

Petrosiidae dan Chalinidae sering ditemukan pada kondisi oseanografi yang

44 Pada kelompok II (Tabel 2) terlihat sponge penciri jenis Aplysina dominan pada zona reef flat di Stasiun II dan III . Hal ini ditandai bahwa jenis ini akan lebih sering ditemukan pada zona rendah pesisir dan bersubsrat lumpur dan melekat pada batu tetapi tak jarang dari jenis ini mampu hidup pada perairan yang dalam. Pada kelompok III dicirikan sponge dengan jenis Plyllospongia dan

Styllisa yang dominan pada Stasiun III zona reef slope, sedangkan kelompok IV

dengan jenis sponge penciri Carterospongia, Gelliodes, Pleraplysilla, Oceanapia

dan Ircinia yang dominan pada Stasiun II zona reef slope. Selain itu kelompok V

(Gambar 17) yang menjadi penciri jenis sponge yang dominan pada zona reef

slope di Stasiun I yakni Ptilocaulis. pada kelompok sponge yang dominan pada

zona reef slope karena kemampuan terhadap arus yang menjadi salah satu faktornya. Kecepatan arus sangat dibutuhkan sponge antara lain untuk keperluan suplai oksigen dan pakan (plankton) serta bermanfaat untuk kebersihan partikel-partikel sedimen yang menempel pada permukaan tubuhnya.

Terlihat pula seberan sponge pada kelompok IV dengan jenis penciri Haliclona pada zona reef flat di Stasiun I ini membuktikan bahwa Haliclona yang mempunyai tolerasi yang tinggi terhadap kondisi oseanografi yang ekstrim.

45

Gambar 16. Distribusi spasial sponge di setiap Stasiun.

Sponge yang dapat beradaptasi baik dengan alam, ruang/tempat maupun predator akan tertus bertahan dan berkembang dengan baik. Hal ini juga diperkuat oleh Soest (1976 dalam Amir dan Budiyanto 1996), bahwa sponge

b a

46 dapat berkompetisi dengan alga dan karang dalam mendapatkan cahaya dimana sponge dapat tumbuh disela-sela karang.

Tabel 3. Kelompok distribusi sebaran sponge

Kelompok Stasiun Sponge penciri

I 1 Leiosella Baikalospongia II 3 Aplysina III 3 Plyllospongia Styllisa IV 2 Carterospongia Gelliodes Pleraplysilla Oceanapia Ircinia V 1 Ptilocaulis VI 1 Haliclona

47

V. SIMPULAN & SARAN

A. Simpulan

Dari hasil penelitian yang telah dilakukan, maka dapat ditarik kesimplan sebagai berikut:

a. Kepadatan sponge di sebelah Tenggara Pulau Karammasang dan sebelah Timur Laut Pulau Karammasang lebih tinggi dan berbeda nyata daripada di sebelah Barat Daya Pulau Karammasang, sedangkan kepadatan sponge di zona reef slope lebih tinggi dan berbeda nyata daripada di zona reef flat. b. Kondisi terumbu karang pada setiap staisun berada dalam kategori ”rusak”

sampai “sedang” dengan tutupan karang hidup rata-rata sebesar 33% pada sebelah Barat Daya Pulau Karammasang dan terendah 9% pada sebelah Timur Laut Pulau Karammasang.

c. Kondisi terumbu karang tidak mempengaruhi kepadatan sponge pada perairan Pulau Karammasang namun keberadaan rubble dan sand yang menyababkan kepadatan sponge di perairan Pulau Karammasang.

B. Saran

Perlunya kesadaran dari pihak masyarakat di Polewali Mandar khususnya masyarakat Pulau Karammasang untuk menjaga ekosistem bawah laut sebagai sumber daya alam yang dapat dimanfaatkan secara terus menerus dengan tidak menggunakan alat tangkap yang dapat merusak keberadaan organisme bawah laut. Dari hasil penelitian ini, peneliti mengharapkan adanya penelitian bagaimana untuk melakukan konservasi atau rehabilitasi terumbu karang di Pulau Karammasang.

Dokumen terkait