HASIL PENELITIAN
1. Hubungan Antara Status Gizi dan Prestasi Belajar
Uji analisis yang digunakan pada penelitian ini adalah uji chi-square. Pada uji analisis dengan chi-square test, didapatkan p = 0,586 (p > 0,05). Hal ini menjelaskan bahwa tidak terdapat hubungan antara status gizi (indeks IMT/U) dengan prestasi belajar siswa. Pada dasarnya faktor-faktor yang mempengaruhi prestasi belajar tidak hanya ditentukan oleh status gizi. Hal ini sesuai dengan penelitian yang dilakukan pada siswa kelas 4 dan 5 SD Katolik Santa Theresia Malalayang yang menunjukkan tidak terdapat hubungan antara status gizi dengan prestasi belajar siswa.22
Pada penelitian ini ditemukan 28,3% siswa dengan status gizi kurang memilki prestasi belajar cukup. Pada dasarnya hal ini sesuai dengan teori yang mengemukakan bahwa pada anak yang kekurangan gizi akan terjadi perubahan pada metabolisme yang berdampak pada kemampuan kognitif dan kemampuan otak.
Perkembangan kecerdasan anak berkaitan erat dengan pertumbuhan otak, sedangkan faktor utama yang mempengaruhi pertumbuhan otak adalah gizi atau nutrisi yang didapatnya. Beberapa teori menyebutkan bahwa sel-sel saraf otak manusia yang jumlahnya milyaran dan senyawa kimia pengaturnya
(neurotransmitter) dibangun dari zat-zat gizi makanan.5 Menurut Nutritional Academy of Scains (1973), kekurangan asupan gizi berdampak buruk pada
perkembangan kecerdasan melalui dua cara yaitu mempengaruhi struktur otak, termasuk berat, jumlah sel, ukuran sel, organisasi sel, dan pembentukan myelin terutama pada masa pembentukan otak.23
Sejumlah penelitian telah menunjukkan peran penting zat gizi tidak saja pada pada pertumbuhan fisik tubuh, tetapi juga dalam perkembangan perilaku, motorik, dan kecerdasan. Martorell pada tahun 1996 telah menyimpulkan kekurangan gizi pada masa kehamilan dan anak usia dini menyebabkan keterlambatan dalam pertumbuhan fisik, perkembangan motorik, dan gangguan perkembangan kognitif. Selain itu, akibat kekurangan gizi dapat berdampak pada perubahan perilaku sosial, kekurangan perhatian, dan kemampuan belajar sehingga berakibat pada rendahnya hasil belajar.1
Kekurangan gizi pada masa lalu sangat berperan terhadap perkembangan otak. Kurang gizi di masa anak-anak menyebabkan tingkat intelektual mereka menurun 10-15 IQ point dengan resiko tidak mampu mengadopsi ilmu pengetahuan. Selain itu, daya pikirnya pun sangat lemah karena defisiensi atau kekurangan berbagai mikro nutrien, seperti yodium, Fe (zat besi), dan KEP (kekurangan energi protein) sebagai unsur makanan bergizi. Selain itu, beberapa ahli gizi menyatakan bahwa anak yang kekurangan gizi pada masa balita menyebabkan penurunan jumlah sel otak sebesar 15-20%. Pada keadaan yang lebih berat, kekurangan gizi menyebabkan terhambatnya pertumbuhan badan. Badan menjadi lebih kecil diikuti dengan ukuran otak yang juga kecil sehingga jumlah sel otak berkurang. Keadaan ini dapat berpengaruh pada kecerdasan anak.5,24
Status sosial ekonomi sangat berpengaruh terhadap perkembangan otak anak. Status sosial ekonomi yang rendah dapat menyebabkan asupan zat makanan yang tidak memadai sehingga dapat menyebabkan kekurangan gizi. Anak dari keluarga dengan status sosial ekonomi rendah lebih beresiko mengalami gangguan kognitif dan perilaku serta kemampuan intelektual rendah yang dapat berpengaruh terhadap prestasi akademiknya daripada anak yang dibesarkan oleh keluarga dengan sosial ekonomi tinggi.23
Pada penelitian ini ditemukan juga 26,7% siswa yang mengalami status gizi kurang mendapatkan prestasi belajar yang baik. Faktor-faktor yang mempengaruhi prestasi belajar siswa tidak hanya ditentukan oleh status gizi siswa. Faktor-faktor lain yang dapat mempengaruhi prestasi belajar adalah faktor
yang berasal dari dalam (internal) dan faktor yang berasal dari luar (eksternal). Dalam hal ini, prestasi belajar siswa juga ditentukan oleh tingkat kecerdasan (kemampuan intelektual) dan kepribadian siswa. Tingkat kecerdasan sangat menentukan berhasil atau tidaknya seorang siswa dalam belajar. Semakin tinggi tingkat kecerdasan siswa, semakin baik pula prestasi belajar yang diperoleh.25
Hasil penelitian ini juga mendapatkan sebanyak 12 siswa (20,0%) yang memiliki status gizi baik tetapi prestasi belajarnya cukup. Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya bahwa status gizi bukanlah satu-satunya faktor yang dapat mempengaruhi prestasi belajar siswa. Contoh faktor lain yang berhubungan dengan prestasi belajar siswa adalah tingkat pendidikan orang tua. Orang tua memberikan bimbingan dan membantu anaknya di rumah untuk mengerjakan tugas dari sekolah. Cara membimbing anak akan berpengaruh tehadap prestasi belajar anak sehingga di sekolah anak akan mempunyai prestasi belajar yang berbeda sesuai dengan bimbingan yang diperoleh di rumah. Oleh karena itu, agar dapat memainkan perannya sebagai pendidik orang tua perlu dibekali pengetahuan dan keterampilan yang sangat dipengaruhi oleh tingkat pendidikan orang tua.19 Selain itu, motivasi juga merupakan salah satu faktor yang dapat mempengaruhi prestasi belajar siswa. Apabila motivasi siswa kurang dalam belajar, maka akan mempengaruhi prestasi belajar siswa itu sendiri. Motivasi dapat mempengaruhi semangat siswa dalam belajar. Oleh karena itu, sangat diperlukan motivasi dan dukungan dari orang tua serta guru kepada siswa untuk dapat meningkatkan prestasi belajar.
Selain faktor-faktor yang telah disebutkan di atas, prestasi belajar juga dipengaruhi oleh sarana prasarana dan tenaga pengajar yang ada di sekolah. Sarana prasarana yang cukup serta tenaga pengajar yang berkompetensi dapat menunjang keberhasilan proses belajar itu sendiri. Berdasarkan penelitian yang dilakukan di beberapa SMA Provinsi Sumatera Utara menunjukkan hubungan yang signifikan antara sarana prasarana atau media belajar dengan prestasi belajar siswa.26
Hasil penelitian ini tidak sesuai dengan dengan penelitian yang dilakukan oleh Sa’adah yang menemukan bahwa terdapat hubungan antara status gizi dengan prestasi belajar siswa.8 Penelitian yang dilakukan oleh Sa’adah ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Sorhaindo dan Feinstein di London yang juga menyatakan bahwa terdapat hubungan antara status gizi dengan prestasi belajar. Dalam penelitiannya, mereka menemukan bahwa gizi buruk yang dialami anak akan mempengaruhi sistem imun sehingga anak lebih mudah menderita penyakit infeksi. Keadaan ini akan mempengaruhi kehadiran anak di sekolah sehingga anak cenderung tertinggal dalam proses pembelajaran sehingga mempengaruhi hasil belajar.27
Perbedaan hasil penelitian ini mungkin disebabkan karena perbedaan tempat dilakukannya penelitian dan besarnya sampel yang diteliti. Selain itu, penilaian status gizi tidak hanya dapat ditentukan dengan antropometri tapi juga dapat dinilai berdasarkan uji laboratorium.