• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II. TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Landasan Teoritis

2.1.6. Hubungan Antara Variabel Ekonomi Mikro dan

Variabel ekonomi mikro yang dinyatakan dalam harga pokok penjualan merupakan variabel yang signifikan dalam mempengaruhi profitabilitas perusahaan. Dengan demikian pengendalian harga pokok penjualan akan memberikan kontribusi dalam peningkatan laba, namun demikian tidak selamanya perusahaan dapat mengendalikan harga pokok penjualan. Hal ini disebabkan salah satu variabel harga

pokok penjualan adalah jumlah persediaan yang terjual. Banyak faktor yang mempengaruhi penjualan, misalnya harga, promosi, daya beli masyarakat (pendapatan) dan sebagainya. Intinya adalah bagaimana manajemen mampu meningkatkan penjualan yang akhirnya akan meningkatkan profitabilitas perusahaan. Demikian juga halnya tentang variabel ekonomi makro, di mana pemerintah suatu negara selalu berusaha menjaga kegiatan perekonomiannya supaya selalu mengalami pertumbuhan, dan dapat menekan tingkat inflasi yang rendah. Namun pada kenyataannya keadaan perekonomian selalu mengalami fase membaik dan menurun. Keadaan ini selalu terjadi secara berulang sehingga menyerupai sebuah siklus. Indikator-indikator ekonomi makro khususnya variabel ekonomi makro penting, dalam hal ini Produk Domestik Bruto, Tingkat Inflasi, dan Tingkat Pengangguran merupakan akumulasi semua kegiatan ekonomi, juga dapat memberikan gambaran terjadinya fase-fase dalam perekonomian tersebut. Fase perekonomian yang mengalami peningkatan dan penurunan tersebut dapat dipandang sebagai suatu fluktuasi dalam aktivitas perekonomian yang terjadi secara terus-menerus dan terkait dengan berbagai faktor seperti kebijakan dan keadaan perekonomian secara global. Variabel ekonomi makro penting tersebut juga berdampak terhadap aktivitas perusahaan termasuk perusahaan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia. Pengaruh fluktuasi pada variabel ekonomi makro penting akan mempengaruhi profitabilitas perusahaan. Hubungan tersebut dapat dijelaskan melalui metode Du Pont (Rudianto, 2005: 318) berikut ini:

Gambar 2.2. Metode Du Pont

Berdasarkan bagan tersebut di atas dapat diketahui dengan jelas, bahwa terdapat 3 (tiga) cara untuk meningkatkan ROA, yaitu dengan meningkatkan penjualan, mengurangi biaya dan mengurangi aktiva. Peningkatan penjualan yang tidak dibarengi peningkatan biaya dan peningkatan asset akan meningkatkan ROA.

Artinya perusahaan harus didorong untuk menjadi “marketing company”dan elemen

perusahaan harus menjadi “element marketing” sehingga perusahaan akan dapat

meningkatkan penjualan dari tahun ke tahun. Selain meningkatkan penjualan, cara Harga Pokok Penjualan Beban Pemasaran Beban Administrasi Kas Piutang Usaha Persediaan Aktiva Tetap Aktiva Lain Penjualan Total Beban Operasi Laba Bersih Aktiva Lancar

Aktiva Tetap & Aktiva Lainnya Total Aktiva R O A + + + + (-) :

lain untuk meningkatkan ROA adalah dengan cara melakukan efisensi atau penghematan biaya. Jika penjualan tidak dapat lagi ditingkatkan maka langkah yang tepat yang harus dilakukan perusahaan adalah dengan cara melakukan penghematan biaya. Karena dengan biaya yang semakin kecil maka laba akan meningkat meskipun penjualan tetap. Dan pada akhirnya akan meningkatkan ROA. Di samping kedua faktor di atas, variabel yang dapat meningkatkan ROA adalah dengan mengurangi asset. Tindakan mempertahankan atau mengurangi aset dapat meningkatkan ROA tetapi hal ini dilakukan hanya untuk jangka pendek, karena akan berdampak buruk untuk kinerja perusahaan jangka panjang.

Dari penjelasan di atas dapat dihubungkan bagaimana aktivitas perusahaan dalam menghasilkan profitabilitas (ROA) yang dipengaruhui baik perubahan pada ekonomi mikro (Harga Pokok Penjualan) maupun perubahan yang terjadi pada ekonomi makro penting. Berikut ini dapat dijelaskan bagaimana hubungan variabel- variabel tersebut terhadap profitabilitas (ROA) perusahaan.

a. Hubungan antara Cost of Goods Sold terhadap Profitabilitas (ROA)

Harga pokok penjualan merupakan variabel pertama yang mempengaruhi laba, dalam hal ini adalah laba kotor. Laba kotor merupakan selisih antara penjualan bersih (Net Sales) dengan harga pokok penjualan. Sedangkan laba bersih merupakan selisih laba kotor dengan seluruh beban operasi (beban pemasaran dan beban administrasi) dan beban lainnya. Dengan demikian hubungan antara harga pokok penjualan dengan laba memiliki hubungan negatif. Artinya semakin tinggi harga pokok penjualan maka laba kotor semakin kecil, dan laba bersih juga akan semakin

kecil dan pada akhirnya ROA akan semakin kecil. Dan sebaliknya semakin kecil harga pokok penjualan maka semakin besar laba kotor, laba bersih juga semakin besar, dan akhirnya ROA pun akan meningkat.

b. Hubungan antara Gross Domestic Brutto terhadap Profitabilitas (ROA) Perusahaan

Sebagaimana yang dijelaskan di atas bahwa Produk Domestik Bruto menggambarkan peningkatan pendapatan masyarakat. Perekonomian mengalami pertumbuhan apabila balas jasa faktor produksi tersebut pada suatu masa tertentu lebih besar dari periode sebelumnya. Hal ini berarti faktor produksi yang dimiliki masyarakat tersebut memberikan return yang meningkat sehingga tingkat kesejahteraannya mengalami peningkatan. Dengan meningkatnya kesejahteraan melalui pendapatan masyarakat yang meningkat, maka tingkat konsumsi atas produk yang dihasilkan perusahaan akan meningkat sehingga akan berdampak pada peningkatan penjualan perusahaan yang pada akhirnya meningkatkan laba perusahaan. Dengan demikian akan meningkatkan ROA. Sehingga dapat disimpulkan pertumbuhan ekonomi (PDB) berpengaruh positif terhadap Return on Assets. Artinya jika PDB meningkat maka ROA juga meningkat. Dan sebaliknya jika PDB mengalami penurunan maka ROA juga akan menurun.

c. Hubungan antara Tingkat Inflasi dengan Profitabilitas (ROA) Perusahaan Tingkat Inflasi menggambarkan kondisi di mana harga-harga barang secara umum mengalami kenaikan secara terus-menerus. Salah satu penyebab terjadinya inflasi (Nopirin, 1992: 30) adalah Cost-push Inflation, yaitu inflasi yang terjadi

dimulai akibat kenaikan harga yang disertai turunnya produksi, hal ini biasanya dimulai dengan adanya penurunan dalam penawaran total (agregate supply) sebagai akibat kenaikan biaya produksi. Pada kondisi ini, daya beli masyarakat akan semakin menurun. Dengan menurunnya daya beli masyarakat, maka tingkat konsumsi atas produksi perusahaan akan menurun. Penurunan produksi akan berdampak pada tingkat pendapatan perusahaan yang pada akhirnya akan berpengaruh terhadap tingkat profitabilitas perusahaan. Sehingga dapat disimpulkan bahwa tingkat inflasi berbanding terbalik dengan profitabilitas (ROA) perusahaan. Artinya jika inflasi mengalami kenaikan maka ROA akan menurun, dan sebaliknya jika inflasi mengalami penurunan maka ROA akan meningkat.

Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa pada keadaan ekonomi yang diramalkan mengalami pertumbuhan, seorang investor cenderung akan memilih saham yang sensitif terhadap aktivitas perekonomian sehingga memberikan kemungkinan return yang relatif besar, namun sebaliknya pada tahap aktivitas perekonomian diramalkan mengalami penurunan maka investor akan cenderung memilih saham yang tidak sensitif terhadap aktivitas perekonomian. Tingkat kesensitifan saham terhadap aktivitas perekonomian ini akan tercermin pada gejolak harga saham, di mana harga saham tersebut merupakan nilai perusahaan yang tercermin dari profitabilitas perusahaan.

Hal terpenting berdasarkan penjelasan di atas adalah bahwa setiap perusahaan yang diwakili oleh sahamnya memiliki karakteristik masing-masing. Analisis harus dilakukan terhadap profitabilitas perusahaan dan membuat keputusan investasi yang

sesuai dengan karakteristik investasi yang diinginkan dalam suatu situasi perekonomian atau tahap aktivitas perekonomian tertentu.

Dokumen terkait