BAB 4. HASIL PENELITIAN
4.3.6. Hubungan Besar Risiko (Risk Quotient, RQ)
No Berat Badan Parkinson Like Syndrome n PR p- value 95% CI Ada Tidak Ada
n % n %
1. ≤ 54 kg 4 7,55 49 92,45 53 3,097 0,009 1,386-10,957 2. > 54 kg 15 29,41 36 70,59 51
4.3.6. Hubungan Besar Risiko (Risk Quotient, RQ) dengan Parkinson Like Syndrome
Dari 79 orang responden yang mempunyai nilai RQ ≤ 1 , terdapat 4 orang (5,06%) yang mengalami Parkinson Like Syndrome, sedangkan dari 25 orang yang mempunyai nilai RQ>1, terdapat 15 responden (60%) yang mengalami Parkinson Like Syndrome.
Dari hasil uji statistik diperoleh nilai p = 0,000 (<0,050) dan nilai interval kepercayaan yang tidak mencakup nilai 1 (4,329 – 32,440) yang menunjukkan adanya hubungan antara besar risiko (RQ) dengan timbulnya Parkinson Like Syndrome. Nilai Prevalence Ratio (PR) adalah 11,85, hal ini berarti bahwa responden yang mempunyai nilai RQ>1 mempunyai peluang 11,85 kali lebih besar untuk mengalami Parkinson Like Syndrome dibandingkan dengan responden yang mempunyai nilai RQ tidak melebihi 1.
Tabel 4.20. Hubungan Besar Risiko (Risk Quotien, RQ) dengan Parkinson Like Syndrome No RQ Parkinson Like Syndrome n PR p- value 95% CI Ada Tidak Ada
n % n %
1. > 1 15 60,0 10 40,0 25 11,85 0,000 4,329-32,44 2. ≤ 1 4 5,06 75 94,94 79
4.4. Analisis Multivariat
Analisis multivariat adalah untuk melihat pengaruh seluruh variabel yang diteliti yaitu : konsentrasi mangan dalam air sumur, laju asupan, durasi pajanan, frekuensi pajanan, jenis kelamin, dan berat badan terhadap variabel Parkinson Like Syndrome sehingga diketahui variabel mana yang paling berpengaruh terhadap adanya Parkinson Like Syndrome.
Uji yang digunakan dalam analisis multivariat ini adalah uji regresi logistik berganda yaitu untuk mencari pengaruh yang paling dominan terhadap adanya Parkinson Like Syndrome. Variabel yang akan dimasukkan ke dalam model analisis regresi logistik berganda ini adalah variabel yang pada analisis bivariat mempunyai nilai p<0,25, yaitu variabel konsentrasi mangan pada air sumur, durasi pajanan, laju asupan, dan berat badan responden. Variabel yang mempunyai nilai p>0,25 yaitu jenis kelamin akan dikeluarkan dari model.
Hasil dari analisis multivariat dengan uji regresi logistik berganda dapat dilihat pada tabel 4.21 di bawah ini.
Tabel 4.21. Pengaruh Konsentrasi Mangan , Durasi Pajanan, Laju Asupan, dan Berat Badan Responden terhadap Parkinson Like Syndrome di Desa Amplas Kecamatan Percut Sei Tuan Kabupaten Deli Serdang
No. Variabel B p- value Exp(B) 95% CI
1 Konsentrasi mangan 3,426 0,002 30,741 3,486 – 271,119
2 Durasi pajanan 0,848 0,227 2,336 0,590 – 9,242
3 Laju asupan 1,825 0,016 6,203 1,410 – 27,295
4 Berat badan 0,900 0,219 2,459 0,585 – 10,338
Constant - 5,673 0,045 0,003
Dari tabel 4.21. di atas dapat dilihat bahwa keempat variabel memberikan nilai p-value<0,25, sehingga keempat variabel tersebut dapat dijadikan sebagai kandidat model . Dari keempat variabel tersebut di atas, kita lakukan seleksi selanjutnya dengan mengeluarkan variabel dengan nilai p-value > 0,05, dimulai dari p-value terbesar, yaitu variabel durasi pajanan. Setelah kita lakukan kembali uji regresi logistik berganda, didapatkan data pada tabel 4.22 di bawah ini.
Tabel 4.22. Pengaruh Konsentrasi Mangan, Laju Asupan, dan Berat Badan Responden terhadap Parkinson Like Syndrome di Desa Amplas Kecamatan Percut Sei Tuan Kabupaten Deli Serdang
No. Variabel B p- value Exp(B) 95% CI
1 Konsentrasi mangan 3,268 0,003 26,259 3,107 – 221,941
2 Laju asupan 1,824 0,014 6,194 1,454 – 26,386
3 Berat badan 1,083 0,129 2,953 0,728 – 11,969
Constant - 7,277 0,000 0,001
Dari ketiga variabel tersebut di atas, kita lakukan seleksi selanjutnya dengan mengeluarkan variabel dengan nilai p-value > 0,05, yaitu variabel berat badan. Setelah kita lakukan uji regresi logistik berganda, didapatkan data pada tabel 4.23 di bawah ini.
Tabel 4.23. Pengaruh Konsentrasi Mangan dan Laju Asupan terhadap Parkinson Like Syndrome di Desa Amplas Kecamatan Percut Sei Tuan Kabupaten Deli Serdang
No. Variabel B p- value Exp(B) 95% CI
1 Konsentrasi mangan 3,310 0,002 27,394 3,230 – 232,343
2 Laju asupan 2,258 0,001 9,560 2,467 – 37,049
Constant - 6,553 0,000 0,001
Kedua variabel di atas sudah menghasilkan nilai p < 0,05 sehingga kita bisa mengambil kesimpulan, bahwa dari keempat variabel di atas, terlihat bahwa variabel yang paling dominan mempengaruhi timbulnya Parkinson Like Syndrome adalah variabel konsentrasi mangan pada air sumur, dengan nilai Exp (B) tertinggi yaitu 27,394.
Model persamaan regresi logistik yang diperoleh adalah (Dahlan, M. S., 2011) P(x) = ß0 + ß1X1 + ß2X2
atau Y = - 6,553 + 3,310X1 + 2,258X2
Keterangan :
P(x) = probabilitas Parkinson Like Syndrome X1
X
= konsentrasi mangan
2
Hasil persamaan regresi logistik berganda menunjukkan bahwa jika konsentrasi mangan dan laju asupan harian meningkat, maka akan menyebabkan peningkatan Parkinson Like Syndrome di desa Amplas Kecamatan Percut Sei Tuan Kabupaten Deli Serdang.
Selanjutnya dapat dihitung ramalan probabilitas responden untuk mengalami Parkinson Like Syndrome. Sebagai contoh kita ambil responden nomor 2 yang mempunyai nilai RQ < 1 yang mengkonsumsi air sumur dengan konsentrasi mangan 0,26864 mg/L dengan laju asupan 1,5 liter/hari. Perhitungannya adalah sebagai berikut :
y = - 6,553 + 3,310 (konsentrasi mangan) + 2,258 (laju asupan) y = - 6,553 + 3,310 (0,26864) + 2,258 (1,5)
= -2,277
Dengan nilai probabilitasnya adalah:
p =
1 1+�−�p = 1
1 + 2,7−(−2,277) = 0,0944
Dengan demikian, probabilitas responden nomor 2 untuk mengalami Parkinson Like Syndrome adalah 9,44%.
Sebagai perbandingan, kita ambil contoh responden nomor 102 yang mempunyai nilai RQ>1 yang mengkonsumsi air sumur dengan konsentrasi mangan 2,41162 mg/L dengan laju asupan 3 liter/hari. Perhitungannya adalah sebagai berikut y = - 6,553 + 3,310 (konsentrasi mangan) + 2,258 (laju asupan)
y = - 6,553 + 3,310 (2,41162) + 2,258 (3) = 8,203
p =
1 1+�−�p = 1
1 + 2,7−(8,203) = 0,9997
Dengan demikian, probabilitas responden nomor 102 untuk mengalami Parkinson Like Syndrome adalah 99,97%.
4.5. Analisis Risiko
Dalam penghitungan besar risiko atau Risk Quotient (RQ), terlebih dahulu dihitung besar jumlah asupan atau intake (I), untuk selanjutnya dibandingkan dengan nilai referensi atau Reference of Dose (RfD).
Jumlah asupan atau intake (I) dihitung dengan persamaan berikut :
�= ��������� �������
Dimana nilai C, R, fe, Dt, dan Wb didapatkan dari kuesioner, sedangkan nilai
tavg
Sebagai contoh perhitungan, kita ambil data dari responden nomor 104 dengan berat badan (W
didapatkan dari referensi dimana untuk zat non karsinogenik adalah 30 tahun x 365 hari/tahun = 10950 hari. Selanjutnya untuk penghitungan nilai RQ, tinggal dibandingkan nilai intake di atas dengan nilai RfD untuk mangan yaitu 0,047 (US EPA, 2003).
b) 65 kilogram yang telah mengkonsumsi air sumur dengan
konsumsi perhari (R) 2 liter. Waktu tinggal responden tersebut dalam setahun (frekuensi pajanan, fe) nya adalah 365 hari/tahun. Jika diketahui nilai tavg
Nilai RQ yang tidak melebihi 1 menunjukkan bahwa responden tersebut belum mempunyai risiko mengalami Parkinson Like Syndrome. Tapi dengan pemaparan terus menerus, suatu saat responden tersebut akan mengalami risiko mengalami Parkinson Like Syndrome. Untuk meramalkan kapan risiko akan muncul kita lakukan dengan perhitungan berikut :
Dt =���� ������� ������
=0,047 � 65 � 10950
2,41162 � 2 � 365 = �������
untuk zat non karsinogenik adalah 10950 hari, maka dengan perhitungan di atas didapatkan nilai RQ untuk responden tersebut adalah 0,63152.
Ini berarti, efek dari paparan mangan berupa Parkinson Like Syndrome diperkirakan akan ditemukan pada orang dewasa dengan berat badan 65 kg yang telah mengkonsumsi air minum mengandung 2,41162 mg/L mangan selama 19 tahun dengan laju konsumsi 2 L/hari selama 365 hari/tahun. Dengan kata lain, jika tidak dilakukan langkah-langkah manajemen risiko, responden nomor 104 akan mengalami Parkinson Like Syndrome sekitar 7 tahun lagi, karena sudah mengkonsumsi air tersebut selama 12 tahun. Data lengkap nilai RQ keseluruhan responden dan estimasi kapan responden yang belum mempunyai risiko akan mengalami risiko terkena Parkinson Like Syndrome dapat dilihat pada lampiran 4.
Dari hasil pada lampiran 4 terlihat bahwa dari 85 orang responden yang belum mempunyai Parkinson Like Syndrome, 64 orang (75,3%) di antaranya diramalkan akan mengalami risiko Parkinson Like Syndrome di atas 30 tahun ke depan, atau dengan kata lain, tanpa dilakukan manajemen risiko pun tidak akan membahayakan responden yang bersangkutan, karena risiko baru terjadi jauh di masa depan. Sedangkan 21 orang (24,7%) lainnya diramalkan akan mengalami risiko Parkinson Like Syndrome tidak sampai 30 tahun ke depan, sehingga harus dilakukan langkah- langkah manajemen risiko supaya risiko tersebut tidak terjadi.
BAB 5