DAFTAR SINGKATAN
2.7 Hubungan Antar Variabel Penelitian
2.7.4 Hubungan Creative Leadership dengan Absorptive Capacity
Berbagai faktor mempengaruhi perilaku inovatif. Salah satu faktor yang berperan paling penting dalam proses inovasi adalah kepemimpinan (Damanpour, 1991; Mumford et al., 2008). Menurut Dahlgaard et al. (1997),
50
diperlukan pemimpin visioner dan berani, siap menanggung risiko terjadinya kegagalan. Pemimpin harus dapat menerima kesalahan yang dilakukan oleh karyawan, tanpa penerimaan ini perubahan tidak mungkin terjadi dan organisasi akan kehilangan vitalitasnya. Pemimpinkreatifadalahpemimpin penuh ide untuk memecahkan masalah dan perbaikan berkelanjutan, memiliki gambaran yang jelas tentang masa depan perusahaan dan memahami bagaimana bekerja efisien untuk mencapaivisi.
Kepemimpinan kreatif mengeksplorasi knowledge sharing. Elemen-elemen ini terdiri atas platform pemahaman dari mana ide-ide baru berkembang (Rickards & Moger 2000). Diperlukan intervensi manajerial untuk mendorong dan memfasilitasi knowledge sharing yang sistematis (Hsu, 2008). Kreativitas dan
knowledge sharing berhubungan positif (Reychav et al., 2012). Dukungan manajemen untuk knowledge sharing telah terbukti berhubungan secara positif (Wang & Noe, 2010). Inovasi hanya dapat berubah menjadi sukses jika didukung oleh manajemen puncak. Selain itu, tim kreatif inovatif dikembangkan dari karyawan yang berpengetahuan dan hanya dengan sharing pengetahuan mereka pada pelaksanaan inovasi (Hana, 2013). Pemimpin mendorong pendistribusian pengetahuan suatu perusahaan ke dalam inisiatif yang diharapkan dapat menjadi sumber keunggulan kompetitif (Menkhoff et al., 2005).
Davenport dan Prusak (1998) menyatakan bahwa knowledge sharing harus didukung oleh kemampuan menyerap pengetahuan. Jika tidak, pengetahuan tidak akan ditransfer. Inovasi memerlukan transformasi dan eksploitasi pengetahuan
51
yang ada (Lawson & Samson, 2001). Cohen dan Levinthal (1990) berpendapat bahwa kemampuan perusahaan untuk mengenali nilai baru, informasi eksternal, mengasimilasi, dan menerapkannya untuk tujuan komersial sangat penting untuk kemampuan inovatif. Menurut Lane dan Lubatkin (1998), perusahaan hendaknya lebih memperhatikan kemampuannya dalam mengelola pengetahuan seperti halnya mengelola aset fisik. Di samping itu, juga harus mengembangkan pemahaman yang menyeluruh tentang pengetahuan yang dimiliki dan proses mengonversi pengetahuan menjadi kapasitas mereka untuk memenuhi tuntutan lingkungannya.
Zahra dan George (2002) mendefinisikan absorptive capacity sebagai seperangkat rutinitas dan proses organisasi, sehingga bisa memperoleh, mengasimilasi, mentransformasi dan mengeksploitasi pengetahuan untuk menghasilkan kemampuan organisasi yang dinamis. Absorptive capacity adalah fungsi dari sumber daya organisasi yang ada, seperti pengetahuan tacit dan eksplisit, rutinitas, kompetensi manajemen, dan budaya. Tsai (2001) menyatakan bahwa unit organisasi dengan tingkat absorptive capacity yang tinggi cenderung memanfaatkan pengetahuan baru dari unit lain untuk membantu kegiatan inovatif mereka. Akses pengetahuan eksternal dan kapasitas belajar internal sangat penting untuk meningkatkan inovasi dan kinerja. Liao et al. (2007) menyatakan bahwa
knowledge sharing berpengaruh pada absorptive capacity. Gao et al. (2008), menyatakan bahwa absorptive capacity yang tinggi dikaitkan dengan keberhasilan mengeksploitasi pengetahuan baru untuk menghasilkan lebih banyak inovasi.
52
Sehubungan dengan terdapatnya pengaruh creative leadership terhadap
knowledge sharing, pengaruh knowledge sharing terhadap absorptive capacity
maka, diharapkan terdapat hubungan antara creative leadership dengan absorptive capacity. Melalui dimensi-dimensi dari variabel laten creative leadership dan dimensi-dimensi variabel laten absorptive capacity, dapat diamati bubungan diantara kedua variabel. Adapun konstruk creative leadership terdiri atas tiga dimensi yg dikembangkan dari konsep Avolio dan Bass (1995), Dahlgaard et al.
(1997), Rickards dan Moger (2000) yaitu dimensi kemampuan kreatif, dimensi
inspirational motivation, dan dimensi individualized consideration. Dimensi kemampuan kreatif, direfleksikan dengan 15 indikator/butir pernyataan dengan mensintesa, mengombinasikan konsep Dahlgaard et al. (1997); Jain dan Sharma (2012); Jung et al. (2003); Pratoom & Savat Somboon (2012); Tang dan Chang (2010); Zhang et al. (2010). Indikator dimensi kemampuan kreatif adalah sebagai berikut: memiliki rasa ingin tahu yang besar, menghasilkan gagasan-gagasan unik melalui integrasi teknologi baru dengan kearifan lokal, mewujudkan gagasan menjadi produk baru yang bernilai bagi konsumen, pendekatan baru untuk meningkatkan kualitas produk, gagasan tentang saluran distribusi baru, gagasan untuk mempercepat proses produksi, memiliki keyakinan diri yang besar, menentang status quo, berani mengambil risiko, hadir ketika karyawan mengalami kesulitan, mencari tahu tentang kendala-kendala yang dihadapi, mengelola krisis dengan keyakinan tinggi, menyelesaikan tugas-tugas yang
53
menantang, percaya diri tatkala berhadapan dengan situasi baru, dan bekerja dengan tekun.
Dimensi inspirational motivation direfleksikan dengan enam indikator/ butir pernyataan berdasarkan indikator yang disampaikan oleh Ancok (2012), Avolio dan Bass (1995), Phipps et al. (2012), Zhang & Bartol (2010) sebagai berikut: mengomunikasikan tujuan secara jelas, menantang karyawan dengan standar tinggi, menginspirasi karyawan, mengikut sertakan karyawan, percaya pada kemampuan karyawan walaupun karyawan membuat kesalahan, mengijinkan karyawan melakukan pekerjaannya dengan cara mereka
Dimensi individualized consideration direfleksikan dengan lima indikator/butir pernyataan berdasarkan indikator yang disampaikan oleh Avolio dan Bass (1995), Phipps et al. (2012) sebagai berikut: memberikan kesempatan belajar kepada karyawan, memandang kesalahan sebagai pengalaman belajar,
meluangkan waktu bagi karyawan untuk belajar, mengidentifikasi kebutuhan karyawan, dan memenuhi kebutuhan karyawan.
Variabel absorptive capacity diukur berdasarkan indikator penelitian yang dilakukan oleh Chen dan Chang (2012); Kohlbacher et al. (2013); Liao (2007); Mahnke et al. (2005); Zahra dan George (2002). Variabel absorptive capacity terdiri atas dimensi akuisisi, dimensi asimilasi, dimensi transformasi, dan dimensi eksploitasi yang direfleksikan dengan indikator sebagai berikut.
54
Dimensi akuisisi dengan indikator: dilengkapi dengan pengetahuan profesional yang sangat baik, memiliki kemampuan untuk mencari pengetahuan, dan dapat mengenali perubahan pasar (misalnya kompetisi, regulasi, demografi). Dimensi asimilasi dengan indikator kemampuan mengidentifikasi nilai pengetahuan eksternal, memahami peluang baru untuk memenuhi keinginan pelanggan, serta dapat menganalisis dan menginterpretasi perubahan permintaan pasar. Dimensi transformasi diukur dengan kemampuan menggunakan pengetahuan yang diperoleh, secara berkala mempertimbangkan konsekuensi dari perubahan permintaan pasar produk baru, mencatat dan menyimpan pengetahuan baru yang diperoleh untuk referensi pada masa mendatang, dan mudah menangkap peluang setelah memperoleh pengetahuan eksternal baru. Dimensi eksploitasi diukur dengan indikator mengetahui bagaimana kegiatan harus dilakukan, mau mendengarkan keluhan pelanggan, dan dapat dengan mudah menerapkan ide baru untuk menghasilkan produk baru.
Dengan memperhatikan masing-masing indikator, dimensi-dimensi variabel creative leadership dan masing-masing indikator, dimensi-dimensi variabel absorptive capacity, maka dapat dikatakan merupakan cerminan terdapatnya hubungan diantara kedua variabel tersebut.