5.4. Hubungan Paparan Kadmium dengan Tekanan Darah
5.4.2. Hubungan Durasi Pajanan dengan Tekanan Darah
Berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa Hasil analisis statistik dengan uji Fisher’s Exact dan uji korelasi dibuktikan tidak ada hubungan yang bermakna antara durasi pajanan dengan tekanan darah. Durasi pajanan yang
dimaksud adalah lamanya waktu responden mengkonsumsi air sumur yang mengandung Cd dalam satuan tahun. Untuk durasi pajanan responden dengan air sumur dengan rentang antara 7 sampai 64 tahun dengan nilai rata-rata responden mengalami pajanan dengan air sumur selama 19 tahun setelah dikategorikan diketahui bahwa durasi pajanan mayoritas kurang atau sama dengan 19 tahun sebanyak 65,6 persen.
Rerata durasi pajanan air sumur yang mengandung kadmium di lokasi penelitian adalah 19,08 tahun dengan durasi pajanan terendah 7 tahun dan terlama 64 tahun. Hasil penelitian Ashar (2015) membuktikan bahwa proteinuria telah ditemukan pada 48 orang responden (60%). Proteinuria yang ditemukan adalah berupa protein dengan berat molekul rendah yaitu B2MG urin. Protein lain yang diperoleh adalah albumin yang juga terdapat pada 6 orang responden (7,5%). Dari hasil analisis statistik tidak ditemukan korelasi yang signifikan antara durasi pajanan dan kadar B2MG urin dan tidak ditemukan perbedaan yang signifikan antara durasi pajanan berdasarkan ada tidaknya albuminuria.
Pada penelitian ini rata-rata masyarakat Namo Bintang telah terpajan kadmium melalui air sumur selama 19 tahun. Responden yang paling lama terpajan adalah 64 tahun sedangkan yang paling singkat 7 tahun. Nilai rata-rata terpajan kadmium masyarakat Namo Bintang masih dibawah nilai default yang ditetapkan US-EPA (1991) untuk risiko nonkanker yaitu 30 tahun. Pada saat ini rata-rata durasi pajanan baru 19 tahun hal ini menunjukkan tingkat risiko kesehatan bagi populasi dan individu masyarakat Namo Bintang masih aman dari gangguan kesehatan yang diakibatkan oleh kandungan kadmium dalam air sumur
yang dikonsumsi oleh mereka setiap hari. Pemajanan kadmium dengan konsentrasi yang rendah dalam jangka waktu yang lama akan menimbulkan kasus keracunan kronis akibat kadmium. Ginjal adalah organ kritis yang lebih sering diserang oleh kadmium tetapi pada kondisi tertentu (waktu pajanan yang pendek) menyebabkan radang paru-paru (WHO, 1992). Kadmium yang terakumulasi di dalam ginjal sepanjang waktu, dan mencapai konsentrasi yang toksik sesudah bertahun-tahun terpapar dapat menyebabkan penyakit ginjal (Kusnoputranto, 1995). Pada keracunan kronis yang disebabkan oleh kadmium umumnya berupa kerusakan-kerusakan pada banyak sistem fisiologis tubuh. Sistem-sistem tubuh yang dapat dirusak oleh keracunan kronis logam kadmium adalah pada sistem urinaria (ginjal), sistem respirasi (pernafasan/paru-paru), sistem sirkulasi (darah) dan jantung. Di samping semua itu, keracunan kronis tersebut juga merusak kelenjar reproduksi, sistem penciuman dan bahkan dapat mengakibatkan kerapuhan pada tulang (Palar, 2004).
Pajanan kadmium yang berkepanjangan dapat menimbulkan penyakit tulang, yang pertama kali dilaporkan dari sungai Jinzu di Jepang, dimana sekitar 150 kasus penyakit Itai Itai dikenal. Pajanan kadmium berasal dari air sungai yang terkontaminasi yang digunakan untuk irigasi sawah. Penderita Itai Itai kebanyakan adalah perempuan berusia 40 tahun yang tinggal di daerah endemis selama lebih dari 30 tahun. Kandungan kadmium yang ditemukan dalam tulang beberapa kali lebih tinggi dibandingkan masyarakat yang tak terpajan. Dari hasil pemeriksaan
terhadap 46 penderita Itai Itai rerata kadar kadmium dalam tulang adalah 2,7 μg/g
kadmium pada tulang orang-orang yang tidak terpajan masing-masing adalah 0,3
dan 0,6 7 μg/g berat (Gonick, 2008).
Waktu paruh kadmium di dalam tubuh adalah antara 15 sampai 30 tahun. waktu paruh yang begitu lama disebabkan fakta bahwa kadmium tidak seperti bahan toksik orgnik, yang sering terdegradasi secara metabolik menjadi turunan yang kurang toksik, kadmium masih tetap berada dalam bentuk yang utuh di dalam sistem biolologis. Kadmium yang masuk melalui oral ataupun melalui paru-paru akan terdeposit terutama di hati dan ginjal. Kadmium akan bertahan di dalam organ ini dalam waktu yang lama (10 sampai 30 tahun). Kandungan kadmium dalam tubuh akan meningkat seiring dengan pertambahan usia karena eliminasi yang sangat rendah dari tubuh yaitu hanya sekitar 0,001 % per hari (ATSDR, 2008).
Keracunan Cd yang bersifat kronis yang disebabkan oleh daya racun yang dibawa oleh logam Cd, terjadi dalam selang waktu yang sangat panjang. Peristiwa ini terjadi karena logam Cd yang masuk kedalam tubuh dalam jumlah kecil, sehingga dapat diterima oleh tubuh pada saat tersebut. Akan tetapi, karena proses masuknya terjadi secara terus-menerus secara berkelanjutan, maka pada saat tertentu tubuh tidak mampu lagi memberikan toleransi terhadap daya racun yang dibawa oleh Cd. Pemaparan Cd dalam kadar yang rendah akan menimbulkan kasus keracunan kronis akibat Cd. Cd dieksresi sangat lamban dengan waktu paruh sekitar 30 tahun. Efek toksik logam sangat berkaitan dengan tingkat dan lamanya paparan. Umumnya, makin tinggi kadar suatu logam dan makin lama paparan, efek toksik suatu logam akan lebih besar. Cd dalam suatu dosis tunggal
dan besar dapat menginduksi gangguan saluran cerna. Sedangkan asupan Cd dalam jumlah kecil tetapi berulang kali dapat mengakibatkan gangguan fungsi ginjal.
Hasil peneltian ini sejalan dengan penelitian yang dilakuakn oleh Ashar YK (2016) yang menunjukkan hasil bahwa tidak ditemukan hubungan yang signifikan antara durasi pajanan dan kadar kadmium urin. Berdasarkan penjelas tersebut peneliti berasumsi bahwa tidak adanya hubungan durasi pajanan dengan tekanan darah disebabkan oleh durasi pajanan kadmium dalam penelitian ini menunjukkan tingkat risiko kesehatan bagi populasi dan individu masyarakat Namo Bintang masih aman dari gangguan kesehatan yang diakibatkan oleh kandungan kadmium dalam air sumur yang dikonsumsi oleh mereka setiap hari. Namun, pemajanan kadmium dengan konsentrasi yang rendah dalam jangka waktu yang lama akan menimbulkan kasus keracunan kronis akibat kadmium sehingga masyarakat Namo Bintang tetap berisiko mengalami gangguan tekanan darah. Menurut Palar (2004) Pada keracunan kronis yang disebabkan oleh kadmium umumnya berupa kerusakan-kerusakan pada banyak sistem fisiologis tubuh. Sistem-sistem tubuh yang dapat dirusak oleh keracunan kronis logam kadmium adalah pada sistem urinaria (ginjal), sistem respirasi (pernafasan/paru- paru), sistem sirkulasi (darah) dan jantung.
5.4.3. Hubungan Kadar Kadmium Air Sumur dengan Tekanan Darah