Ekonomi merupakan kata serapan dari bahasa Inggris, yaitu economy , sementara kata economy itu sendiri berasal dari bahasa Yunani, yaitu oikonomike yang berarti pengelolaan rumah tangga. Adapun yang di maksud dengan ekonomi sebagai pengelolaan rumah tangga adalah suatu usaha dalam pembuatan keputusan dan pelaksanaannya yang berhubungan dengan pengalokasian sumber daya rumah tangga yang terbatas di antara berbagai anggotanya, dengan mempertimbangkan kemampuan, usaha dan keinginan masing-masing. Oleh karena itu, suatu ruah tangga selalu dihadapkan pada banyak keputusan dan pelaksanaannya. Suatu masyarakat harus memutuskan pekerjaan-pekerjaan apa saja yang harus dikerjakan, siapa, bagaimana dan dimana mengerjakannya ? suatu masyarakat membutuhkan orang-orang untuk menghasilkan pangan, orang yang membauat sandang, orang yang membangun rumah, orang yang membuat kendaraan dan seterusnya. Setelah masyarakat mengalokasikan tenaga kerjanya untuk melakukan berbagai pekerjaan, masyarakat harus mengalokasikan output, yaitu keluaran atau hasil dari suatu proses produksi yang menggunakan tenaga kerja atau sumber daya lainnya, barang dan jasa yang mereka hasilkan. Dengan demikian, ekonomi merupakan suatu usaha dalam pembuatan keputusan dan pelaksanaannya yang berhubungan dengan pengalokasian sumber daya masyarakat (rumah tangga dan pebisnis/perusahaan) yang terbatas diantara berbagai anggotanya, dengan mempertimbangkan kemampuan, usaha dan keinginan masing-masing. Atau dengan kata lain, bagaimana masyarakat
(termasuk rumah tangga dan pebisnis/perusahaan) mengelola sumber daya yang langka melalui suatu pembuatan kebijaksanaan dan pelaksanaannya.
Pusat perhatian dari kajian para ekonomi adalah pertukaran ekonomi, pasar dan ekonomi. Sedangkan masyarakat dianggap sebagai “sesuatu yang diluar”, dia dipandang sebagai sesuatu yang telah ada (given). Sebaliknya, sesiologi memandag ekonomi sebagai bagian integral dari masyarakat. Oleh sebab itu, sosiolog tidak terbiasa melihat kenyataan dengan melakukan ceteris paribus terhadap faktor-faktor yang dipandang berpengaruh terhadap suatu kenyataan sosial. Tetapi sebaliknya, sosiolog terbiasa melihat kenyataan secara holistik, melihat kenyataan saling kait-mengait antar berbagai faktor. Dengan demikian, sosiolog ekonomi selalu memusatkan perhatian pada :
1. Analisis sosiologis terhadap proses ekonomi, misalnya proses pembentukan harga antara pelaku ekonomi, proses terbentuknya kepercayaan dalam suatu tindakan ekonomi, atau proses terjadinya perselisihan dalam tindakan ekonomi.
2. Analisis hubungan dan interaksi antara ekonomi dan institusi lain dari masyarakat, seperti hubungan antara ekonomi dan agama, pendidikan, stratifikasi sosial, demokrasi atau politik.
3. Studi tentang perubahan institusi dan parameter budaya yang menjadi konteks bagi landasan ekonomi dari masyarakat, contohnya semangat kewirausahaan di kalangan santri, kapital budaya, (cultural capital) pada masyarakat nelayan atau etos kerja di kalangan pekerja tambang.
D. Landasan Teori Sosiologi 1. Globalisasi (Anthony Giddens)
Globalisasi adalah penyebaran praktik, relasi, kesadaran, dan organisasi diseluruh penjuru dunia. Hampir setiap bangsa dan hidup jutaan orang diseluruh dunia mengalami transformasi seringkali secara deramastis, yang disebabkan globalisasi. Tingkat dan arti penting dari dampaknya dapat dirasakan dihampir semua tempat, meski yang paling tampak adalah protes-protes biasa yang terjadi sekarang yang menyertai berbagi pertemuan tingkat tinggi organisasi Global World Trade, Organization (WTO) atau Internasional Monetary Fund (IMF) (G.Thomas, 2007).
Adapun pengertian globalisasi menurut para ahli yaitu:
a. Menurut Selo Soemardjan, Globalisasi adalah sebuh proses terbentuknya suatu sistem organisasi dan komunikasi antar masyarakat yang berada di seluruh dunia yang bertujuan untuk mengikuti sistem dan kaidah-kaidah tertentu yang sama.
b. Menurut Emanuel Ritcher, globalisasi adalah suatu jaringan kerja global yang mempersatukan masyarakat di mana mereka sebelumnya berpencar dan terisolasi yang nantinya akan saling memiliki ketergantungan dan mampu mewujudkan persatuan dunia.
c. Menurut Lourence E. Rothemberg, globalisasi adalah percepatan dari intensifikasi integrasi dan interaksi antara orang-orang, perusahaan pemerintah dari negara yang berbeda.
Pandangan Giddens mengenal globalisasi sangat dekat hubungannya dan tumpang tindih dengan pemikirannya tentang Juggernaut modernitas. Giddens juga melihat hubungan dekat antara globalisasi dan risiko, terutama kemunculan apa yang disebutnya sebagai penciptaan risiko. Meski sebagian besar dunia tidak terkendali ini berada di luar kekuasaan kita, Giddens tidak sepenuhnya bersikap pesimis. Kita dapat membatasi sebagai masalah yang di ciptakan oleh dunia tanpa kendali ini, tetapi kita tidak akan mampu menguasainya sepenuhnya. Dia menaruh harapan bagi demokrasi, terutama bentuk demokrasi internasional dan transnasional seperti Uni Eropa.
Giddens adalah salah seorang pemikir yang memberikan penekanan pada peran Barat secara umum, dan Amerika Serikat secara khusus dalam globalisasi. Namun, dia juga menyadari bahwa globalisasi adalah sebuah proses dua arah dengan Amerika dan Barat juga menjadi sangat terpengaruh olehnya. Lebih lanjut lagi, dia berpendapat bahwa globalisasi menjadi semakin tidak terpusat (terdesentralisir) ketika banyak bangsa diluar dunia Barat (misalnya, China dan India) memainkan peran yang semakin besar di dalamnya, dia juga menyadari bahwa globalisasi telah melemahkan budaya local dan membantu menghidupkannya kembali. Dan, dia membuat suatu gagasan yang inovatif bahwa globalisasi “menekan ke samping”, mengahsilkan kawasan-kawasan baru yang akan membelah bangsa-bangsa. Sebagai contohnya dia menawarkan sebuah kawasan disekitar Barcelona di bagian utara Sapnyol yang membentang hingga mencapai Prancis.
Perseteruan utama yang terjadi di level global dewasa ini adalah antara fundamentalisme dan kosmopolitanisme. Di akhir Giddens melihat kemunculan sebuah “masyarakat kosmopolitan global”. Meski demikian, bahkan kekuatan utama yang berlawanan dengannya yakni fundamentalisme juga merupakan produk dari globalisasi. Lebih lanjut, fundamentalisme menggunakan kekuatan global (misalnya, media massa) guna memajukan tujuan-tujuan mereka.
2. Teori Adam Smith
Dalam kilas balik Theory Of Moral Sentiments adalah suatu imagininary machine dari Adam Smith yang menjelaskan hubungan antar manuisa, para pelaku ekonomi, di dalam masyarakat. Apa yang tampaknya tidak teratur pada pelaku antarmanusia di dalam masyarakat, ada prinsip-prinsip yang mempersatukan dalam suatu keteraturan. Pada intinya ada tiga pasang kecenderung moral yang mengatur hubungan antar individu dengan para anggota masyarakat lainnya. Yaitu:
a. Cinta pada diri sendiri dan simpati kepada orang lain
b. Keinginan untuk bebas dan keterkaitan para rasa sopan-santun terhadap orang lain.
c. Kebiasaan untuk bekerja, menghasilkan pertukaran hasil produksi sendiri dengan hasil produksi orang lain.
3. Teori David Ricardo Sewah Tanah (Land Rent)
Ia menjelaskan bahwa tanah berbeda-beda, ada yang subur, kurang subur, hingga tidak tidak subur sama sekali. Produktifitas tanah yang subur lebih
tinggi. Dengan demikian untuk menghasilkan satu-satuan unit produksi diperlukan biaya-biaya (biaya rata-rata dan biaya marginal) yang lebih rendah pula. Makin rendah tingkat kesuburan tanah, jelas makin tinggi pula rat-rata dan biaya marginal untuk mengelolah tanah tersebut. Makin tinggi biaya-biaya dengan sendirinya keuntungan perhektar tanah menjadi semakin kecil pula. Dalam studinya faktor-faktor yang menentukan tinggi rendahnya sewa tanah Ricardo menggunakan analisis yang sama sekali baru dalam membahas ekonomi, yaitu pendekatan analisis marginal (marginal analisis). Analisis marginal ini kemudian hari ternyata sangat penting dalam pengembangan teori-teori ekonomi setelah dikembangkan oleh pakar-pakar neo-klasik.