• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II : PERKEMBANGAN HUBUNGAN EKSEKUTIF DAN

D. Hubungan Eksekutif dan Legislatif Periode Masa Orde

Orde Reformasi ditandai dengan kejatuhan Soeharto dari singgasana kekuasaan presiden yang berkuasa hampir 32 tahun lebih yang merupakan model kekuasaan absolut, korup, menindas dan menekan. Kekuasaan yang bersifat absolut pada kekuasaan rezim Orde Baru tercerai berainya menjadi semacam kebebasan yang cenderung kebablasan. Pada masa Reformasi inilah demokrasi kian terbuka, kebebasan pers dijamin, demonstrasi dijamin oleh negara, dan orang bebas berekpresi dalam bentuk mendirikan partai politik, dan organisasi

kemasyarakatan, bagian terakhir yang kedua sulit di bayangkan bakal terealisasi

pada era Soeharto.4

Penulis memilih era kepemimpinan pemerintahan KH. Abdurrahman karena disebabkan banyak bentuk-bentuk suatu kebijakan yang dirasa oleh sebagian besar masyarakat Indonesia sangat tidak lazim dan bertentangan dengan apa yang dinginkan oleh rakyatnya. Dan ini adalah suatu fenomena yang sangat menarik sehingga membuat penulis tertarik juga untuk memasukkannya dalam tulisan ini.

Era pemerintahan orde reformasi yang ketika dibawah kepemimpinan Gus Dur berusaha mencoba menampilkan strategi demokratisasi yang khas yang

dikenal sebagai “demokrasi bawah”, yaitu suatu demokrasi dan upaya

demokratisasi Negara yang memprioritaskan upaya pemberdayaan dan keberdayaan masyarakat. Menurut Gus Dur upaya menciptakan demokrasi hamper identik dengan upaya pembangunan civil society, melalui saluran komunikasi yang dimilikinya, ia mencoba memberikan satu kerangka kerja bagi petani, buruh, pedagang kecil, bahkan pegawai pemerintah untuk menyalurkan dan menata diri mereka masing-masing. Kepemimpinan Gus Dur juga terkandung charisma hal ini karena eksistensinya dirinya, juga karena Gus Dur termasuk keluarga dari ulama yang sangat terkenal, baik dari orang tuanya maupun dari

4

Kari Mannheim. Freedom, Power and Democratic Planning. (London: Routledge & Keegan Paul Ltd, 1951), h. 51

28

mertuanya. Namun karena pemikirannya yang democrat, didalam praktek kepemimpinannya lebih cenderung ke arah transformasional.

Kepemimpinan dengan pola transformasional, pola pemikir pemimpin ini

lebih tertuju pada perubahan (shift) darikeyakinan – keyakinan, nilai-nilai,

kebutuhan –kebutuhan dan kemampuan pengikut. Ia mampu menyampaikan visi

dan misi serta mampu membangkitkan motivasi para pengikut untuk menjadi seorang individu yang seutuhnya dan mampu mengaktualisasikan diri. Dari aspek intelektual, pemimpin transformasional tidakpuas dengan pemecahan masalah yang bersifat parsial, meneriam keadaan status quo, atau melakukan seperti apa yang biasa di lakukan, ia sukamencari cara-carabaru, dalam berfikir lebih proaktif, gagasannya lebih kreatif, inovatif ; didalam ideology labih radikal dan reaksioner dibandingkan konservatif ; serta tidakmengalami hambatan berfikir dalam upaya mencari pemecahan masalah. Atribut-atribut diatas dapatlah di proyeksikan sebagai kepemimpinan yang ditetapkan oleh Gus Dur. Mengingat Gus Dur pemikirannya lebih democrat. Proactive dan inovatif. Namun pemimpin yang demikian harus diimbangi dengan para pembantu yang dimiliki daya persepsi tinggi, sebab apabila tidak maka sang pemimpin akan berjalan sendiri meninggalkan para pembantunya, sehingga para pembantunya tersebut akan berjalan ditempat atau menjadi bingung sendiri mengejar pemimpinnya. Yang dikhawatirkan adalah akibat kelebihan intelektualitas sang pemimpin, maka ia

akan melakukan sesuatu kebijakan yang “uncontrollable” yang dapat

Terjadi apa yang menjadi kekhawatiran ini terjadi dengan sesungguhnya, dimana pada kenyataannya dilapangan, Presiden Gus Dur dengan kelebihan intelektualitasnya dan wisdomnya berjalan dengan sendiri jauh di depan para pembantunya sehingga menelorkan kebijakan-kebijakan atau pernyataan yang controversial di tengah-tengah masyarakat dan bahkan di sana-sini menimbulkan konflik kelembagaan sebagaimana yang ditampilkan oleh mekanisme kerja yang tidak serasi antar DPR dan pemerintah, demikian juga dalam perkara Bank kesemuanya ini menyebabkan pemerintahan dan kelembagaan negara tidak berjalan dengan efektif dan bahkan cenderung menghasilkan keruntuhan hidup berbangsa dan bernegara Kesatuan Republik Indonesia.

Menjelang satu dekade konsolidasi demokrasi di Indonesia, hubungan politik kedua lembaga ini semakin menampakkan performa yang sebenarnya. Legislatif yang diwakili oleh orang-orang partai lebih banyak memainkan kepentingan partai politik ketimbang rakyat yang diwakilinya. Sementara presiden (eksekutif) yang juga representasi partai politik, meskipun dipilih langsung oleh rakyat sedikit banyak juga memiliki ikatan historis dengan partai politik yang ada di parlemen, juga memikirkan kepentingan partai politiknya. Akibatnya yang menonjol dari hubungan eksekutif dan legislatif tersebut adalah

konflik kepentingan (conflict of interest) antarpartai politik yang ada. Kasus

keluarnya surat yang ditulis sekretaris wakil presiden yang mencuat ke permukaan beberapa minggu terakhir ini adalah manifestasi konflik yang tersembunyi di antara keduanya.

30

Dalam sistem pemerintahan presidensial keberadaan lembaga eksekutif adalah sejajar dengan legislatif. Artinya, wewenang, tugas, dan kewajiban eksekutif baru akan dapat berjalan, jika yang diberi kekuatan hukum oleh lembaga legislatif. Dan dalam menjalankan wewenang, tugas dan kewajibannya tersebut selalu mendapatkan pengawasan oleh DPR sehingga sesuai dengan keinginan rakyat. Selain itu, implementasi wewenang, tugas, dan kewajiban pemerintah juga memerlukan pembiayaan yang disusun sesuai ketentuan yang

berlaku yang harus melibatkan lembaga legislatif. Inilah makna mekanisme check

and balances dalam sistem pemerintahan presidensial. Hubungan kedua lembaga tinggi negara tersebut sebenarnya mencerminkan adanya kemitraan yang serius dan saling membutuhkan. Jika salah satu lembaga tersebut tidak berfungsi sebagaimana mestinya, maka demokrasi berjalan pincang.

Menurut penulis, hubungan eksekutif dan legislatif yang tidak menunjukkan sinyal positif disebabkan oleh keegoisan di masing-masing pihak dimana mereka sama-sama merasa mempunyai legitimasi yang kuat karena dipilih langsung oleh rakyat. Hal ini seharusnya tidak boleh terjadi. Seharusnya eksekutif dan legislatif selalu bekerjasama di mana yang satu menjadi pelaksana dan yang satu menjadi kontrol terhadap pelaksanaan kebijakan. Hal ini tentunya akan lebih baik dibandingkan hubungan yang saling menjatuhkan dan ujungnya sebenarnya tidak berpihak kepada rakyat hanya kepentingan kelompok masing-masing saja. Namun, terlepas dari itu semua, hubungan antara eksekutif dan legislatif ini memang sedang mencari jati dirinya karena kita semua sedang

belajar tentang demokrasi. Justru hubungan yang mulai membaik antara kedua lembaga tinggi negara terjadi pada masa reformasi. Konsolidasi demokrasi yang berlangsung cepat terutama sejak mundurnya rezim Orde Baru memberikan suasana baru dalam penyelenggaraan pemerintahan. Dan, yang menarik pada masa ini justru terjadi pergeseran dominasi dan determinasi kekuasaan yang selama ini ada di lembaga eksekutif ke lembaga legislatif. Penilaian anggota legislatif terhadap kegagalan Presiden Habibie menjalankan reformasi adalah awal perwujudan dominasi legislatif atas eksekutif. Sejarah juga mencatat dominasi lembaga legislatif atas eksekutif yang monumental adalah ketika Presiden Abdurrahman Wahid dimundurkan dari jabatannya tahun 2001.

32 BAB III

SKETSA TENTANG PARTAI KEBANGKITAN BANGSA

A. Sejarah Lahirnya PKB

Berbagai peristiwa mulai dari diskusi terbatas, unjuk rasa, unjuk keperihatinan, pembentukan kelompok, histigosah akbar dan lain sebagainya, mengantarkan bangsa dan negara Indonesia kepada peristiwa bersejarah. Pada tanggal 21 Mei 1998 soeharto yang telah memimpin bangsa dan negara lebih dari tiga puluh tahun mengatakan berhenti dari jabatanya. Maka berakhirlah era pembangunan. Bangsa dan negara Indonesia memasuki era baru yang sering di

sebut adalah era reformasi.1

Era reformasi di tandai dengan upaya mewujudkan kehendak rakyat untuk mengubah tatanan semua aspek kehidupan, ideologi, politik, ekonomi, social, budaya dan pertahanan keamanan. Rakayat tidak menghendaki adanya yang mengatasnamakan kekuasaan kehidupan dan berbangsa harus dikembalikan pada rakyat sebagai pemegang kedaulatan.

Warga Nahdlatul Ulama sebagai bagian dari bangsa Indonesia, tak mau ketinggal dalam arus perubahan itu. Apa lagi jauh hari sebelum pihak dan kalangan lain meneriakkan perunya perubahan di semua aspek kehidupan, telah dengan gigih memeperjuangkannya. Hal itu bukan tanpa resiko yang di alami jamaah dan NU adalah di pinggirkan dalam kehidupan bangsa dan bernegara.

1

NU terus di upayakan untuk ditiyadakan NU dianggap tidak ada. Bagi NU ini dirasakan sungguh menyakitkan, NU tidak kecil jumlahnya pada pemilu yang pertama dalam kehidupan yang bersejarah bagi bangsa dan negara Indonesia, yakni pemilu 1955, NU memperoleh suara 18 persen lebih suara pemilihan.

Demikian pula pada pemilu yang kedua atau dalam pemilu yang pertama pada masa orde baru yakni pemilu 1971 dalam suasana pelaksanaan yang penuh dengan intimidasih suara yang di proleh NU sedikit meningkat di banding suara pemilu yang pertama.

Banyak yang berpendapat andai saja pemilu 1971 dilaksanakan dengan jujur dan adil, di pastikan NU memperoleh suara lebih besar lagi dengan perhitungan angka penambahan penduduk yang alami dengan hasil pemilu 1971 saja, saat ini diperkirakan warga NU mencapai 40 juta orang lebih. Oarganisasi yang sebesar itu dianggap tidak ada ini sungguh tidak dapat dipahami oleh warga

NU. 2

Sehari setelah peristiwa bersejarah itu pengurus besar Nahdlatul Ulama (PBNU) mulai kebanjiran usulan dari warga NU di seluruh pondok tanah air. Usulan yang masuk ke PBNU membentuk parpol, ada yang mengusulkan nama parpol. Tercatat ada 39 nama parpol yang di usulkan nama terbanyak yang

2

34

diusulkan adalah Nahdlatul Ummah, Kebangkitan Umat dan Kebangkitan

Bangsa.3

Ada juga yang mengusulkan lambang parpol. Unsur-unsur yang terbanyak yang diusulkan untuk lambing parpol adalah gambar bumi, bintang, sembilan dan warna hijau. Ada yang mengusulkan bentuk hubungan dengan NU, ada yang mengusulkan visi dan misi parpol, AD/ART parpol, nama-nama untuk menjadi pengurus parpol, ada yang mengusulkan semuanya. Diantara yang usulannya paling lengkap adalah Lajnah Sebelas Rembang yang diketuai KH.M Cholil Bisri dan PBNU Jawa Barat.

Dalam menyikapi usulan yang masuk dari masyarakat Nahdiyin PBNU menaggapinya secara hati-hati. Ini didasarkan pada adanya kenyataan bahwa hasil muktamar NU ke-27 di Situbondo yang menetapkan bahwa secara organisatoris NU tidak terkait dengan partai politik manapun dan tidak melakukan kegiatan politik praktis.

Namun demikian, sikap yang di tunjukkan PBNU belum memuaskan warga NU. Banyak pihak dan kalangan NU dengan tidak sabar bahkan langsung menyatakan berdirinya parpol untuk mewadahi aspirasi politik warga NU setempat. Diantarnya yang sudah mendeklarasikan sebuah parpol adalah Partai Bintang Sembilan di Purwokerto dan Partai Kebangkitan Umat (perkanu) di Cirebon.

3

Akhirnya PBNU mengadakan Rapat Hariyan Syuriyah dan Tanfidziyah PBNU tanggal 3 Juni 1998 yang menghasilkan keputusan untuk membentuk Tim Lima yang diberi tugas untuk memenuhi aspirasi warga NU. Tim Lima diketuai KH. Ma’ruf Amin (Rais Suriyah/Koordinator Harian PBNU), dengan anggota, KH. Dawam Anwar (Katib Aam PBNU), Dr. KH. Said Agil Siradj, MA.(Wakil Katib Aam PBNU), HM Rozy Munir, SE.,M,Sc.(Ketua PBNU), dan Ahmad Bagdja (Sekretaris Jenderal PBNU). Untuk mengatasi hambatan organisatoris, Tim Lima di bekali dengan surat keputusan dari PBNU.

Selanjutnya untuk memperkuat posisi dan memperkuat kerja Tim Lima seiring semakin derasnya usulan warga NU untuk menginginkan partai politik, maka pada Rapat Hariyan Syuriyah dan Tanfidziyah PBNU tanggal 20 Juni 1998 memberi Surat Tugas Kepada Tim Lima, selain itu juga dibentuk Tim Asistensi yang diketuai oleh Arifin Junaidi (Wakil Sekjen PBNU) dengan anggota H.

Nuhyiddin Arubusman, H.M Fachri Thaha Ma’ruf, Lc., Drs. H. Abdul Aziz, MA,

Drs. Amin Said Husni DAN Muhaimin Iskandar. Tim Asistensi bertugas membantu Tim Lima dalam mengiventarisasi dan merangkul usaha yang ingin membentuk parpol baru, dan membantu warga NU dalam melahirkan parpol baru yang dapat mewadahi aspirasi warga NU.

Pada tanggal 22 Juni 1998 Tim Lima dan Tim Asistensi mengadakan rapat untuk mendefinisikan dan mengelaborisasikan tugas-tugasnya. Tanggal 26-28 Juni 1998 Tim Lima dan Tim Asistensi mengadakan konsinyering di Villa La Citra, Cipanas untuk menyusun rancangan awal pembentukan parpol. Pertemuan

36

ini menghasilakan lima rancangan: Pokok-pokok pikiran NU Mengenai Reformasi Politik, Mabda Siyasiy, Hubungan partai politik dengan NU, AD/ART

dan Naskah Deklarasi.4

Hal-hal pokok yang dirancang dalam pokok-pokok pikiran NU mengenai Reformasi politik adalah perlunya kehidupan yang demokrasi dan di kembalikannya kedaulatan pada rakyat. Mabda Siyasiy antara lain memuat visi dan strategi parpol. Hubungan partai politk dengan NU antara lain memuat hubungan historis, kultular dan aspiratif antara parpol dengan NU, sedangkan

struktur dan lambang parpol di muat dalam rancangan AD/ART.5

Setelah dibahas dalam berbagai diskusi yang intensif, rancangan-rancangan itu di bawa keforum Silaturrahmi Nasional Ulama dan Tokoh NU di Bandung, tanggal 4-5 Juli 1998 untuk memperoleh masukan silaturrahmi yang di hadiri peserta dari 22 PW NU, penggagasan, ulama dan para tokoh NU itu mengahsilkan banyak masukan pada Tim Lima dan Tim Asistensi, mengenai nama parpol, silaturrahmi memberikan masukkan tiga anternatif, yakni Nahdlatul Ummah, Kebangkitan Umat dan Kebangkitan Bangsa. Untuk lima rancangan yang di siapkan oleh Tim Lima dan Tim Asistensi, silaturrahmi ini cukup banyak masukan. Namun silaturrahmi menyerahkan sepenuhnya pada Tim Lima dan Tim

Asistensi untuk melakukan perumusan akhir.6

4

Abdurrahman Wahid. Deklarasi Partai Kebangkitan Bangsa (NU Jawa Timur, 2000) h.28

5

http://www.blogspot.com/sejarah Partai Kebangkitan Bangsa. Diakses Tgl 9/11/10

6

Setelah melakukan diskusi verifikasi pada tanggal 30 Juni 1998 dan pertemuan finalisasi pada tanggal 17 Juli 1998, dan konsultasi dengan berbagai pihak Tim Lima dan Tim Asistensi menyerahkan hasil rancangan kepada Rapat Harian Syuriyah dan Tanfidziyah PBNU pada tanggal 22 Juli 1998. Rapat tersebut telah menerima rancangan yang telah disiapkan oleh Tim Lima dan Tim Asistensi untuk di serahkan pada pengurus parpol sebagai dokumen histories dan aturan main parpol.

Sangat disadari bahwa apa yang disiapkan oleh Tim Lima dan Tim Asistensi masih jauh dari sempurna dan belum memuaskan semua pihak, meski telah diupayakan untuk menampung aspirasi semua pihak.

Namun dengan kesadaran penuh pula bahwa sesuai aspirasi warga NU, PBNU hanya membidani lahirnya parpol, dan apa yang di rancang oleh Tim Lima DAN Tim Asistensi bersifat sementara maka bagi pihak-pihak belum puas dapat ikut aktif untuk menyempurnakannya setelah parpol lahir, melalui mekanisme yang telah di tetapkan dan di sepakati bersama.

Akhirnya parpol yang diharapkan dapat menampung aspirasi warga NU pada khususnya dan bangsa Indonesia pada umumnya, yang diberi nama Partai Kebangkitan Bangsa, pada tanggal 23 Juli 1998 di deklarasikan di kediaman H. Abdurrahman Wahid, Ciganjur Jakarta Selatan.

Sesuai harapan warga NU dan bangsa Indonesia, Partai Kebangkitan Bangsa diharap dapt bersama komponen bangsa lainnya dalam membangun masyarakat, serta bangsa dan negara Indonesia untuk mencapai cita-cita.

38

B. Visi dan Misi Partai Kebangkitan Bangsa 1. Visi Partai Kebangkitan Bangsa

a. Partai Kebangkitan Bangsa berpandangan bahwa tanah air Indonesia dan

kemerdekaan bangsa Indonesia adalah rahmat dan amanat Allah SWT kepada seluruh rakyat Indonesia yang wajib dijaga dan dipelihara untuk dapat di manfatkan sebaik-baiknya bagi kemakmuran seluruh rakyat

Indonesia tanpa terkecuali dan tanpa memandang asal-usul.7

b. Partai Kebangkitan Bangsa mencita-citakan memperjuangkan tegaknya

kedaulatan rakyat, terwujudnya kehidupan Demokrasi secara nyata, tercapainya keadilan sosial, kemandirian dan kemajuan.

c. Partai Kebangkitan Bangsa mencita-citakan terbentuknya masyarakat

madani yang adil dan makmur, beradap dan sejahtera serta diridhai Allah SWT yang dapat mewujudkan:

1) Nilai kejujuran, kebenaran, kesungguhan, dan keterbukaan yang

bersumber pada nurani (ash –shidqu)

2) Sikap bisa dipercaya, setia, menepati janjin, dan mampu memecahkan

masalah sosial (al-amanah wal yaghfa bil-‘ahdi)

3) Sikap dan tindakan yang adil dalam segalah situasi (al-‘adalah)

4) Sikap tolong menolong dalam kebajikan (at-ta’awun)

5) Sikap konsisten dalam menjalankan ketentuan yang di

sepakatibersama (al-istiqomah)

7

6) Demokrasi persamaan kedudukan di depan hukum (musyawarah)

d. Partai Kebangkitan Bangsa mencita-citakan terwujudnya persatuan dan

kesatuan di atas realitas kemajumukan bangsa, di hormatinya setiap perbedaan, serta berkembangnya solidaritas dan persaudaraan yang

meliputi persaudaraan keagamaan (ukhuwah islamiyah) persaudaraan

kebangsaan (ukhuwah wathaniyah) dan persaudaraan kemanusiaan

(ukhuwah insaniyah).

e. Partai Kebangkitan Bangsa mencita-citakan terwujudnya masyarakat

bangsa Indonesia berdasarkan pancasila yang bersifat keagamaan (religius) yang memberikan tempat utama bagi keberadaan agama di dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, srta menolak berkembangnya sekularisme di Indonesia.

Partai Kebangkitan Bangsa mencita-citakan dan memperjuangkan proses penyadaran menuju pemahaman agama yang ingklusif dan pemahaman

yang mengutamakan kesolehan sosial.8

f. Partai Kebangkitan Bangsa mencita-citakan dan memperjuangkan

pemerataan kesejahteraan sosial melalui pembangunan ekonomi kerakyatan yang berbasis pada pembangunan pedesaan, penguatan sektor pertanian, serta pendayagunaan membayar pajak dan kewajiban agama, seperti zakat (bagi pemeluk agama Islam).

8

40

2. Misi Partai Kebangkitan Bangsa

Melaksanakan kegiatan dan upayah secara maksimal untuk mewujudkan masyarakat ideal yang dicita-citakan sebagai mana tercantum dalam visi partai dengan memperhatikan dan menjamin terpenuhnya hak-hak dasar kemanusiaan yang meliputi:

a. terpeliharanya jiwa dan terpenuhinya hak kemerdekaan, hak atas

penghidupan/ pekerjaan, keselamatan, dan bebas dari penganiayaan

(hifdzun nafs)9

b. terpeliharanya agama dan terjaminnya kebebasan beragama dan larangan

adanya pemaksaan menganut ajaran suatu agama (hifdzuddin)

c. terpeliharnya akal, terjamin kebebasan berekspresi dan berpendapat

(hifdzul aql)

d. terpeliharanya keturunan, terjaminya perlindungan pekerjaan, dan masa

depan keturunan atau generasi penerus (hifdzun nasl)

e. terpeliharanya harta benda dan terjaminya pemilikan harta benda (hifdzul

mal).

Memperjuangkan pelaksanaan pembangunan perekonomian nasional yang menumbuh kembangkan potensi dan sentra-sentra perekonomian rakyat yang pernah berjaya di masa lalu. Mencegah terjadinya bentuk-bentuk pengembangan perekonomian yang menumbuhkan sektor tertentu tetapi berakibat matinya potensi dan sentra-sentra perekonomian rakyat.

9

Memperjuangkan pelaksanaan otonomi daerah dengan warga daerah sebagai perilaku utama pembangunan di daerah yang sebenarnya adalah pembangunan oleh pemerintahan pusat dengan mengambil tempat di daerah.

Memperjuangkan pelaksanaan pembangunan yang memperhatikan upaya menjaga alam Indonesia yang merupakan rahmat Allah SWT kepada bangsa Indonesia yang juga di pertanggung jawabkan oleh generasi penerusnya.

Memperjuangkan terwujudnya birokrasi pemerintahan pusat dan pemerintahan daerah yang efesien dan efektif, bersih, jujur, terbuka, serta

tidak di kuasai menjadi alat dari kekuatan politik tertentu.10

Memperjuangkan terwujudnya negara hukum yang tercermin pada kuat dan kokohnya supermasih hukum dalam segala aspek kehidupan, sesuai dengan cita-cita dan seluruh gagasan sosial, politik, dan ekonomi yang terkandung dalam pembukaan dan Batang Tubuh UUD 1945.

C. Asas-Asas Partai Kebangkitan Bangsa

1. Partai Kebangkitan Bangsa beraqidah islam/berasas islam menganut faham

ahlulsunnah wal jama’ah dan menurut faham dari salah satu imam mazhab

empat: Imam Hanafi, Imam Maliki, Imam Syafii, Imam Hambali.11

10

Muhaimin Iskandar, Politik Partai Kebangkitan Bangsa (Jakarta: DPP PKB, 2005) h.70

11

Anggaran Dasar dan Rumah tangga Partai Kebangkitan Bangsa (Hasil Muktamar Ke-31, 2004), h. 2

42

2. Dalam kehidupan berbangsa dan bernegara Partai Kebangkitan Bangsa

berasas pada Ketuhanan Yang Maha Esa, Kemanusian yang adail yang beradap, Persatuan Indonesia, Kerakyatan yang dipimpin oleh hikma kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan dan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia

3. Asas: Kelima Sila dalam Pancasila

Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) muncul sebagai jawaban terhadap usulan warga Nahdlatul Ulama (NU) dari seluruh pelosok negeri yang menginginkan

hadirnya satu wadah yang dapat menampung aspirasi politik kaum nahdliyin.

Pengurus Besar NU (PBNU) lah yang kemudian membidani lahirnya PKB.12

4. Partai ini lahir melalui sebuah rangkaian proses pengkajian yang intensif.

Partai ini adalah "Partainya orang NU" yang sekaligus juga menjadi partai yang bersifat kebangsaan, demokratis, dan terbuka bagi siapa saja dalam artian lintas agama, suku, ras, dan golongan.

5. PKB yang didukung sepenuhnya oleh KH Abdurrahman Wahid, Ketua Umum

PBNU, berciri humanisme religius (insaniyah diniyah) dan amat peduli

dengan nilai-nilai kemanusiaan yang agamis dan berwawasan kebangsaan. Saat ini, perjuangan PKB bermuara pada pengembalian kedaulatan rakyat, keadilan, dan persatuan.

12

43

TERHADAP HUBUNGAN EKSEKUTIF DAN LEGISLATIF DALAM REFORMASI KETATANEGARAAN DI INDONESIA

A. Pandangan PKB terhadap hubungan Eksekutif dan Legislatif

DPR sebagai lembaga legislatif adalah badan atau lembaga yang berwenang untuk membuat Undang-Undang dan sebagai kontrol terhadap pemerintahan atau eksekutif, sedangkan Eksekutif atau Presiden adalah lembaga yang berwenang untuk menjalankan roda pemerintahan. Dari fungsinya tersebut maka antara pihak legislatif dan eksekutif dituntut untuk melakukan kerjasama, apalagi di Indonesia memegang prinsip Pembagian Kekuasaan. Dalam hal ini, maka tidak boleh ada suatu kekuatan yang mendominasi.

Partai Kebangkitan Bangsa berpendapat bahwa dalam setiap hubungan kerjasama pasti akan selalu terjadi gesekan-gesekan, begitu juga dengan hubungan antara eksekutif dan legislatif. Legislatif yang merupakan wakil dari partai tentunya dalam menjalankan tugasnya tidak jauh dari kepentingan partai, begitu juga dengan eksekutif yang meskipun dipilih langsung oleh rakyat tetapi secara historis presiden memiliki hubungan dengan partai, presiden sedikit banyak juga pasti mementingkan kepentingan partainya. Akibatnya konflik yang terjadi dari hubungan eksekutif dan legislatif adalah konflik kepentingan antar partai yang ada.

44

Hubungan atau relasi presiden dengan anggota DPR, bisa juga disebabkan oleh sistem presidensil pada pemerintahan Indonesia. Disini dapat dijelaskan bahwa sistem presidensil yang tidak mengenal adanya mosi tidak percaya, apabila

Dokumen terkait