• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

1. Hubungan Hukum Para Pihak dalam

Perikatan adalah suatu hubungan hukum antara dua orang atau lebih subjek hukum. Perikatan bersumber dari 2 (dua) hal yaitu perjanjian dan undang-undang. Perikatan yang timbul karena perjanjian terjadi ketika pihak debitur dan kreditur dengan sengaja bersepakat saling mengikatkan diri untuk melakukan suatu hal tertentu, sedangkan perikatan yang timbul karena undang-undang ketika hak dan kewajiban debitur dan kreditur telah ditetapkan oleh undang-undang. Dalam hubungan hukum hak dan kewajiban pihak yang satu akan berhadapan dengan hak dan kewajiban pihak yang lain. Dengan demikian hukum memberikan suatu hak kepada subjek hukum untuk berbuat sesuatu dan menuntut sesuatu yang diwajibkan oleh hak tersebut atau dalam kata lain hubungan hukum adalah hubungan yang mengatur hak dan kewajiban para pihak. Pada akhirnya terlaksananya hak dan kewajiban itu dijamin oleh hukum.

Setiap hubungan hukum mempunyai dua segi yaitu hak/kewenangan (beveogdheid) dan kewajiban (plicht). Hak dan kewajiban timbul dari suatu peristiwa hukum dan lenyapnya hak dan kewajiban juga bersamaan. Hubungan hukum memiliki tiga unsur yaitu

40 adanya para pihak, objek, dan hubungan antara pemilik hak dan pengemban kewajiban atau adanya hubungan atas objek yang bersangkutan. Jadi dapat disimpulkan bahwa hubungan hukum ada apabila adanya dasar hukum yang mengatur hubungan hukum itu dan timbulnya peristiwa hukum.

1. Hubungan Hukum PT. Aplikasi Karya Anak Bangsa (AKAB), PT. Gojek Indonesia (GI) dan Mitra berdasarkan Perjanjian Elektronik Kerjasama Kemitraan

PT. Go-Jek Indonesia adalah sebuah perusahaan penyedia aplikasi transportasi. Tanggungjawab yang ada dalam pelaksanaan jasa transportasi berbasis aplikasi bermacam-macam. Tanggungjawab tersebut antara lain tanggungjawab terhadap kualitas pelayanan, keamanan transportasi, privasi pengguna jasa dan asuransi.

Berdasarkan perjanjian elektronik kerjasama kemitraan dapat diketahui bahwa aplikasi Go-Jek yang digunakan oleh konsumen tidak hanya diurus oleh satu pihak melainkan ada beberapa pihak. Pihak dalam perjanjian tersebut adalah AKAB, GI dan Mitra. Dalam perjanjian elektronik kerjasama kemitraan yang dibuat antara pihak AKAB, GI dan Mitra dapat dilihat hubungan kerja sama antara para pihak. Hal ini sangat penting untuk mengetahui siapa saja yang bertanggungjawab atas pelaksanaan layanan terkait dengan aplikasi Go-Jek.

41 Peraturan Pemerintah Nomor 82 tahun 2012 tentang Penyelenggaraan Sistem dan Transaksi Elektronik (PP PSTE) Pasal 47 ayat 2 mengatur bahwa kontrak elektronik dianggap sah apabila:

a. Terdapat kesepakatan para pihak;

b. Dilakukan oleh subjek hukum yang cakap atau berwenang mewakili sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan;

c. Terdapat hal tertentu; dan

d. Objek transaksi tidak boleh bertentangan dengan peraturan perundang-undangan, kesusilaan, dan ketertiban umum.

Setiap mitra yang telah mendaftar dan memenuhi syarat administratif dari GI dapat mengakses aplikasi Go-Jek pada telepon seluler mereka sebagai mitra. Sebelum dapat mengakses seluruh informasi yang ada dalam aplikasi terlebih dahulu mitra harus menyetujui perjanjian kerjasama kemitraan yang muncul pada saat pertama kali aplikasi dibuka.

Dalam kontrak elektronik antara GI, AKAB dan Mitra mengatur mengenai hubungan hukum antara para pihak. Dengan melakukan tindakan klik pada aplikasi Go-Jek maka mitra memberikan persetujuannya atas syarat dan ketentuan yang tercantum di dalam perjanjian kerjasama secara elektronik. Adapun hubungan hukum antara para pihak dalam perjanjian elektronik adalah:

42 1. Mitra memberikan persetujuannya atas syarat dan ketentuan yang tercantum di dalam perjanjian kerjasama dengan cara melakukan tindakan mengklik persetujuan secara elektronik atas perjanjian elektronik, mengakses dan menggunakan aplikasi Go-Jek, mitra akan diartikan telah setuju untuk terikat oleh persyaratan yang merupakan suatu hubungan kontraktual kerja-sama antara mitra, GI dan AKAB. Mitra mempunyai kewajiban untuk menaati setiap kebijakan dan persyaratan dalam penggunaan dan pemanfaatan aplikasi Go-Jek.

2. AKAB, sebagai pemilik dari aplikasi Go-Jek, atas dasar pertimbangannya sendiri, dapat mengubah atau menambahkan persyaratan dari waktu ke waktu. Perubahan atau penambahan atas persyaratan tersebut akan berlaku setelah AKAB mengumumkan perubahan atau penambahan persyaratan tersebut di lokasi ini yang dapat mencakup perubahan atau penambahan kebijakan yang sudah ada dalam persyaratan atau syarat dan ketentuan tambahan. Mitra menyetujui bahwa akses atau penggunaan mitra yang berkelanjutan atas aplikasi Go-Jek maupun kelanjutan kerjasama mitra setelah tanggal pengumuman atas perubahan persyaratan akan diartikan bahwa mitra setuju untuk terikat oleh persyaratan, sebagaimana telah diubah atau ditambahkan.

43 3. GI, AKAB dan Mitra merupakan mitra kerjasama dimana masing-masing merupakan subjek hukum yang berdiri sendiri dan independen. GI merupakan perusahaan yang mengelola kerjasama dengan mitra dan AKAB merupakan pemilik dan operator aplikasi Go-Jek yang dipergunakan oleh mitra. Perjanjian kerjasama ini tidak menciptakan hubungan ketenagakerjaan, outsourcing atau keagenan diantara masing-masing GI, AKAB dan Mitra.

4. Bergantung pada kepatuhan mitra terhadap persyaratan, GI, melalui hubungan kontraktual kerja-sama ini, memberikan kesempatan kepada AKAB atas nama GI untuk memberi kepada mitra lisensi terbatas, non-eksklusif, tidak dapat disublisensikan, tidak dapat dicabut, dan tidak dapat dialihkan untuk:

i. mengakses dan menggunakan aplikasi Go-Jek pada perangkat ponsel pintar yang dimiliki atau dikuasai oleh mitra semata-mata terkait dengan penggunaan mitra atas aplikasi Go-Jek; dan

ii. mengakses dan menggunakan konten/isi, informasi dan materi terkait yang dapat disediakan melalui aplikasi Go-Jek, dan semata-mata untuk mitra sebagai penggunaan pribadi.

44 5. Aplikasi Go-Jek dan semua hak yang terkait dengan aplikasi Go-Jek merupakan dan akan tetap menjadi milik AKAB. Hak apa pun yang tidak diberikan secara tegas dalam perjanjian merupakan hak AKAB sebagai pemilik dari aplikasi Go-Jek. Penggunaan mitra atas aplikasi Go-Jek maupun pemberian hak oleh GI kepada mitra atas penggunaan aplikasi Go-Jek, tidak dapat diartikan menyatakan atau memberi mitra hak kepemilikan apa pun atas aplikasi Go-jek.

6. Untuk dapat disetujui menjadi mitra, mitra diwajibkan untuk memenuhi persyaratan yang ditentukan oleh GI sebagai berikut:

a. Mampu mengendarai kendaraan bermotor roda dua dan memiliki Surat Ijin Mengemudi (SIM) yang sesuai dan masih berlaku dan perijinan lainnya yang sah untuk

mengemudikan dan memberikan jasa

pengangkutan/pengantaran dengan kendaraan roda dua, serta jasa lainnya yang terkait lainnya melalui aplikasi Go-Jek (sebagaimana ditentukan oleh peraturan perundang-undangan yang berlaku);

b. Memiliki atau menguasai kendaraan bermotor roda dua yang memenuhi persyaratan yang ditentukan berdasarkan hukum yang berlaku serta aman dan nyaman untuk dikendarai di jalan;

45 c. Memiliki rekening pada bank yang direkomendasikan

oleh AKAB;

d. Mempunyai catatan prestasi yang baik dan tidak pernah masuk dalam daftar hitam Kepolisian Republik Indonesia; e. Berjanji untuk, pada setiap saat, memenuhi semua syarat dan ketentuan sebagaimana dinyatakan dalam bagian "Kode Etik dan Kewajiban Mitra" dalam Perjanjian ini dan kualifikasi minimum GI yang akan dijelaskan secara terpisah namun tetap menjadi kesatuan yang tidak terpisahkan dalam perjanjian ini.

7. Dalam bab mengenai penggunaan aplikasi poin f pada perjanjian juga ditekankan mengenai hubungan kerjasama antara ketiga pihak bahwa mitra mengakui bahwa GI merupakan pihak yang mengelola penyedia jasa pihak ketiga yang disediakan melalui aplikasi Go-Jek dan AKAB merupakan pihak penyedia aplikasi Go-Jek dan masing-masing GI maupun AKAB bukan merupakan perusahaan penyedia layanan transportasi dan bahwa semua layanan transportasi yang disediakan oleh mitra kepada konsumen melalui aplikasi Go-Jek disediakan oleh mitra sebagai kontraktor pihak ketiga independen yang bukan merupakan afiliasi dari GI maupun AKAB dan tidak dipekerjakan oleh GI maupun AKAB.

46 Berdasarkan pada klausul perjanjian elektronik di atas yang merupakan sumber hubungan hukum , dapat kita pahami bahwa hubungan hukum para pihak merupakan suatu hubungan mitra kerjasama. GI, AKAB dan Mitra masing-masing merupakan subjek hukum yang berdiri sendiri dan independen. Berdasarkan klausul perjanjian di atas juga dapat diketahui mengenai batasan hak dan kewajiban para pihak.

Isi perjanjian tersebut menjelaskan bahwa AKAB atas nama GI memberikan hak kepada mitra hanya hak untuk mengakses dan menggunakan aplikasi Go-Jek pada akun pribadinya. Akun tersebut adalah akun atas nama mitra yang diperoleh setelah mitra mendaftarkan diri melalui aplikasi Go-Jek. Dari akun tersebut mitra dapat mengakses isi, informasi dan materi mengenai pelayanan yang dibutuhkan oleh konsumen. Informasi tersebut dapat berupa nama, alamat, pelayanan yang dibutuhkan oleh konsumen dan tarif jasa pelayanan.

Berdasarkan perjanjian elektronik kerjasama kemitraan diketahui bahwa AKAB adalah pihak yang membuat, memiliki dan mengurus aplikasi Go-Jek. Aplikasi yang dibuat oleh AKAB menghubungkan mitra sebagai pelaku usaha dengan konsumen. Teknologi aplikasi yang digunakan untuk memesan barang dan jasa menggunakan sistem dan jaringan elektronik.

47 Penggunaan teknologi dalam aplikasi Go-Jek termasuk penggunaan uang elektronik, penyimpanan data elektronik dan unsur lain yang merupakan bagian dari perdagangan elektronik atau e-commerce.

Dalam menjalankan kegiatannya dibidang yang berbasis sistem elektronik, AKAB harus mematuhi regulasi yang terdapat dalam Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (UU ITE). Pasal 15 UU ITE mewajibkan kepada penyelenggara sistem elektronik untuk menyelenggarakan sistem elektroniknya secara andal, aman serta bertanggungjawab terhadap beroperasinya sistem elektronik sebagaimana mestinya.

Penyelenggara sistem elektronik wajib mengoperasikan sistem elektronik yang dapat menampilkan kembali informasi dan dokumen elektronik secara utuh. Melindungi ketersediaan, keutuhan, keotentikan, kerahasiaan, keteraksesan informasi serta dapat beroperasi sesuai prosedur. Prosedur atau petunjuk yang diumumkan dengan bahasa, informasi, atau simbol yang dapat dipahami oleh para pihak yang bersangkutan dengan penyelenggara sistem elektronik tersebut. Penyelenggara sistem elektronik juga harus memiliki mekanisme yang berkelanjutan untuk menjaga kebaruan, kejelasan dan kebertanggungjawaban prosedur atau petunjuk tersebut.

Kegiatan perdagangan barang dan jasa melalui sistem elektronik harus tunduk dan patuh terhadap Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2014 tentang Perdagangan (UU Perdagangan). Pasal 65 UU Perdagangan

48 mengatur bahwa setiap pelaku usaha yang memperdagangkan barang dan/ atau jasa dengan menggunakan sistem elektronik wajib menyediakan data atau informasi secara lengkap dan benar dan tidak memperdagangkan barang yang dilarang. Data dan informasi sebagaimana yang dimaksud meliputi identitas dan legalitas pelaku usaha, persyaratan teknis barang atau jasa yang ditawarkan, harga dan cara pembayaran barang dan jasa, serta cara penyerahan barang.

UU ITE Pasal 10 ayat (1) juga mengatur bahwa perusahaan yang menyelenggarakan sistem dan transaksi elektronik sebagai media bisnis menentukan bahwa setiap pelaku usaha yang menyelenggarakan transaksi elektronik dapat disertifikasi oleh Lembaga Sertifikasi Keandalan.

Jadi menurut anggapan penulis dalam penyelenggaraan sistem transaksi elektronik PT Go-Jek Indonesia dapat dinilai dari dimiliki atau tidaknya sertifikasi yang dikeluarkan oleh Lembaga Sertifikasi Keandalan kepada perusahaan. Mengacu pada UU ITE Pasal 15 ayat (1) bahwa penyelenggara sistem elektronik secara andal, aman dan bertanggungjawab terhadap beroperasinya sistem elektronik sebagaimana mestinya.

Dalam perjanjian pihak mitra dianggap sebagai penyedia layanan yang digunakan oleh konsumen, namun mitra tidak dapat menentukan tarif jasa layanan secara pribadi. Berdasarkan perjanjian, tarif jasa layanan telah ditentukan oleh pihak AKAB dengan menghitung jarak tempuh

per-49 kilometer melalui aplikasi yang dikelola oleh AKAB. Jika mitra telah menerima pesanan pelayanan jasa melalui aplikasi Go-Jek, maka mitra dianggap sanggup untuk menjalankan pelayanan jasa tersebut dan secara otomatis sepakat dengan harga yang ditentukan.51

Selain itu AKAB dan GI juga memonitor kinerja mitra dalam melakukan pelayanan jasa, baik itu memonitor posisi mitra saat melakukan pelayanan dan tanggapan konsumen terhadap kualitas layanan yang diberikan oleh mitra. AKAB dan GI memiliki tanggungjawab hukum terbatas terhadap jasa transportasi yang dijalankan.

Citra perusahaan sangat dipengaruhi dari kualitas pelayanan mitra. Sebab apabila pelayanan jasa yang dilakukan oleh mitra buruk maka akan berdampak pada reputasi penyedia aplikasi yang buruk. Hal ini menunjukkan pentingnya menjaga kualitas mitra yang bekerjasama dengan perusahaan. Untuk menjaga kualitas pelayanan, pihak GI yang mengelola hubungan kerjasama dengan mitra perlu mengadakan pelatihan, memperketat syarat dan ketentuan kepada mitra.

Mitra yang kualitas pelayanannya buruk berdasarkan penilaian konsumen pada aplikasi akan diberikan peringatan, suspend akun bahkan tidak dapat bekerjasama lagi dengan AKAB maupun GI. Hal ini bertujuan

50 untuk menjaga kualitas, keamanan dan nama baik aplikasi Go-Jek di masyarakat.52

Pemisahan tanggungjawab antara pelaku usaha teknologi aplikasi dengan penyedia layanan membuat perusahaan teknologi aplikasi tidak dapat dimintai pertanggungjawaban apabila terjadi kesalahan yang dilakukan oleh penyedia layanan. Namun menurut mitra perjanjian elektronik kerjasama kemitraan yang telah mereka setujui untuk dapat bekerjasama dengan GI dan AKAB tidak adil bagi pihak mitra. Sebab di dalam perjanjian tersebut pihak mitra hanya dituntut untuk menjalankan pelayanan jasa kepada konsumen dengan baik. Dalam perjanjian tersebut tidak dijelaskan mengenai tanggungjawab pihak AKAB dan GI kepada mitra apabila mitra mengalami kerugian akibat tidak beroperasinya sistem aplikasi dengan baik.

Berdasarkan uraian tersebut seharusnya dalam membuat perjanjian masing-masing pihak harus menunjukkan asas kesetaraan dalam melakukan perjanjian. Namun dalam praktiknya pada perjanjian kontraktual, klausula telah ditentukan secara sepihak oleh pihak pertama. Sedangkan pihak kedua tentunya harus mematuhi ketentuan yang tertuang dalam kontrak tersebut sehingga sebenarnya tidak terjadi kesetaraan.

Hubungan antara mitra sebagai pelaku usaha yang mengadakan pelayanan jasa kepada konsumen diatur di dalam Undang-Undang Nomor

51 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen (UUPK). UUPK mengatur mengenai hak dan kewajiban dari konsumen dan pelaku usaha. Hak-hak konsumen menurut UUPK Pasal 4 adalah:

a. hak atas kenyamanan, keamanan, dan keselamatan dalam mengkonsumsi barang dan/atau jasa;

b. hak untuk memilih barang dan/atau jasa serta mendapatkan barang dan/atau jasa tersebut sesuai dengan nilai tukar dan kondisi serta jaminan yang dijanjikan;

c. hak atas informasi yang benar, jelas, dan jujur mengenai kondisi dan jaminan barang dan/atau jasa;

d. hak untuk didengar pendapat dan keluhannya atas barang dan/atau jasa yang digunakan;

e. hak untuk mendapatkan advokasi, perlindungan, dan upaya penyelesaian sengketa perlindungan konsumen secara patut;

f. hak untuk mendapat pembinaan dan pendidikan konsumen;

g. hak untuk diperlakukan atau dilayani secara benar dan jujur serta tidak diskriminatif;

h. hak untuk mendapatkan kompensasi, ganti rugi dan/atau penggantian, apabila barang dan/atau jasa yang diterima tidak sesuai dengan perjanjian atau tidak sebagaimana mestinya;

i. hak hak yang diatur dalam ketentuan peraturan perundang-undangan lainnya.

52 Selain mengatur tentang hak-hak dari konsumen, UUPK juga mengatur mengenai kewajiban konsumen, kewajiban konsumen menurut UUPK Pasal 6 adalah :

a. membaca atau mengikuti petunjuk informasi dan prosedur pemakaian atau pemanfaatan barang dan/atau jasa, demi keamanan dan keselamatan;

b. beritikad baik dalam melakukan transaksi pembelian barang dan/atau jasa;

c. membayar sesuai dengan nilai tukar yang disepakati;

d. mengikuti upaya penyelesaian hukum sengketa perlindungan konsumen secara patut.

Tidak hanya mengatur hak dan kewajiban konsumen, UUPK juga mengatur tentang pelaku usaha. Hak-hak pelaku usaha dalam UUPK Pasal 6 adalah:

a. Hak untuk menerima pembayaran uang yang sesuai dengan kesepakatan mengenai kondisi dan nilai tukar baranghak untuk menerima pembayaran yang sesuai dengan kesepakatan mengenai kondisi dan nilai tukar barang dan/atau jasa yang diperdagangkan;

b. Hak untuk mendapat perlindungan hukum dari tindakan konsumen yang beritikad tidak baik;

c. Hak untuk melakukan pembelaan diri sepatutnya di dalam penyelesaian hukum sengketa konsumen;

53 d. Hak untuk rehabilitasi nama baik apabila terbukti secara hukum bahwa kerugian konsumen tidak diakibatkan oleh barang dan/atau jasa yang diperdagangkan;

e. Hak- hak yang diatur dalam ketentuan peraturan perundang-undangan lainnya.

Untuk memenuhi hak dari konsumen maka pelaku usaha dalam hal ini mitra dibebankan juga kewajiban sebagaimana diatur dalam UUPK Pasal 7 yang meliputi:

a. beritikad baik dalam melakukan kegiatan usahanya;

b. memberikan informasi yang benar, jelas dan jujur mengenai kondisi dan jaminan barang dan/atau jasa serta memberi penjelasan penggunaan, perbaikan dan pemeliharaan;

c. memperlakukan atau melayani konsumen secara benar dan jujur serta tidak diskriminatif;

d. menjamin mutu barang dan/atau jasa yang diproduksi dan/atau diperdagangkan berdasarkan ketentuan stkonsumenr mutu barang dan/atau jasa yang berlaku;

e. memberi kesempatan kepada konsumen untuk menguji, dan/atau mencoba barang dan/atau jasa tertentu serta memberi jaminan dan/atau garansi atas barang yang dibuat dan/atau yang diperdagangkan;

54 f. memberi kompensasi, ganti rugi dan/atau penggantian atas kerugian akibat penggunaan, pemakaian dan pemanfaatan barang dan/atau jasa yang diperdagangkan;

g. memberi kompensasi, ganti rugi dan/atau penggantian apabila barang dan/atau jasa yang diterima atau dimanfaatkan tidak sesuai dengan perjanjian.

Menurut anggapan penulis berdasar hak dan kewajiban antara konsumen dan pelaku usaha yang di atur di dalam UUPK dapat terlihat secara jelas hubungan hukum yang terjadi antara keduanya. Namun secara sederhana hubungan hukum yang terjadi antara para pihak dalam penyelenggaraan aplikasi Go-Jek antara mitra dan konsumen adalah mitra sebagai pelaku usaha melaksanakan pelayanan dalam bentuk pengangkutan sebagai prestasi, begitu pun dengan konsumen menyerahkan pembayaran sesuai dengan nilai yang telah disepakati. Sehingga apabila salah satu pihak tidak melakukan apa yang telah diperjanjikan maka pihak tersebut telah melakukan perbuatan wanprestasi.

2. Hubungan antara PT Go-jek Indonesia dan Konsumen berdasarkan ketentuan penggunaan layanan aplikasi Go-Jek Hubungan hukum antara PT Go-jek Indonesia dan konsumen adalah PT Go-Jek Indonesia sebagai penyedia aplikasi transportasi penghubung antara pelaku usaha dan konsumen. Ketentuan penggunaan sistem elektronik yang dibuat oleh PT Go-jek tercantum dalam aplikasi

55 Go-Jek yang dibuat dalam bentuk kontrak elektronik. Ketika konsumen melakukan tindakan klik pada aplikasi, maka konsumen dianggap memberikan persetujuan terhadap klausul yang ada dalam perjanjian elektronik tersebut. Ketentuan yang diatur oleh PT Gojek dalam kontrak elektronik berupa ketentuan penggunaan aplikasi, dimana di dalam ketentuan tersebut yang diatur adalah:

1. Hak Konsumen

a. Konsumen hanya dapat menggunakan aplikasi ketika konsumen telah mendaftar pada aplikasi tersebut. Setelah konsumen berhasil mendaftarkan diri, aplikasi akan memberikan konsumen suatu akun pribadi yang dapat diakses dengan kata sandi yang konsumen pilih. b. Informasi yang diberikan oleh aplikasi tidak dapat diartikan sebagai suatu saran atau penawaran, keputusan untuk menggunakan penyedia layanan sepenuhnya berada di tangan konsumen. Konsumen bebas untuk memilih untuk menggunakan penyedia layanan lainnya

c. Konsumen hanya dapat melakukan pemesanan atas makanan yang tersedia di menu makanan restoran-restoran yang ada di layanan pengiriman makanan.

2. Kewajiban Konsumen

a. Konsumen menyatakan dan menjamin bahwa konsumen adalah individu yang secara hukum berhak untuk mengadakan perjanjian yang mengikat berdasarkan hukum Negara Republik Indonesia,

56 khususnya ketentuan penggunaan, untuk menggunakan aplikasi dan bahwa konsumen telah berusia minimal 21 tahun atau sudah menikah dan tidak berada di bawah perwalian. Jika tidak, kami atau penyedia layanan terkait, berhak berdasarkan hukum untuk membatalkan perjanjian yang dibuat dengan konsumen. Konsumen selanjutnya menyatakan dan menjamin bahwa konsumen memiliki hak, wewenang dan kapasitas untuk menggunakan layanan dan mematuhi ketentuan penggunaan. Jika Konsumen mendaftarkan atas nama suatu badan hukum, konsumen juga menyatakan dan menjamin bahwa konsumen berwenang untuk mengadakan, dan mengikatkan diri entitas tersebut pada ketentuan penggunaan ini dan mendaftarkan untuk layanan dan aplikasi.

b. Hanya konsumen yang dapat menggunakan akun konsumen sendiri dan konsumen berjanji untuk tidak memberikan wewenang kepada orang lain untuk menggunakan identitas konsumen atau menggunakan akun konsumen. Konsumen tidak dapat menyerahkan atau mengalihkan akun konsumen kepada pihak lain. Konsumen harus menjaga keamanan dan kerahasiaan kata sandi akun konsumen dan setiap identifikasi yang kami berikan kepada konsumen. Dalam hal terjadi pengungkapan atas kata sandi konsumen, dengan cara apapun, yang mengakibatkan setiap penggunaan yang tidak sah atau tanpa kewenangan atas akun atau identitas konsumen, pesanan yang diterima dari penggunaan

57 yang tidak sah atau tanpa kewenangan tersebut masih akan dianggap sebagai pesanan yang sah, kecuali konsumen memberitahu kami tentang mengenai hal tersebut sebelum penyedia layanan memberikan layanan yang diminta.

c. Konsumen hanya dapat memiliki satu akun Go-Jek.

d. Konsumen berjanji bahwa konsumen akan menggunakan aplikasi hanya untuk tujuan yang dimaksud untuk mendapatkan layanan. Konsumen tidak diperbolehkan untuk menyalahgunakan atau menggunakan aplikasi untuk tujuan penipuan atau menyebabkan ketidaknyamanan kepada orang lain atau melakukan pemesanan palsu.

e. Jika konsumen juga adalah seorang penyedia layanan, konsumen tidak dapat menggunakan akun konsumen konsumen sendiri (atau akun milik konsumen orang lain) untuk melakukan pemesanan

Dokumen terkait