• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.3 Hubungan Infeksi STH Dengan Perkembangan Kognitif

STH merupakan cacing parasit yang menginfeksi manusia melalui media tanah yang sudah terkontaminasi. Kejadian infeksi ini banyak ditemukan ditempat yang lembab dengan sanitasi dan kebersihan yang buruk. Seseorang yang terinfeksi STH pada awalna tidak menunjukkan gejala, namun pada infeksi berat dapat menyebabkan masalah kesehatan seperti nyeri abdomen, diare, kehilangan darah- protein, prolapse rectal dan gangguan tumbuh kembang (CDC, 2019a).

Infeksi STH dapat mempengaruhi perkembangan kognitif anak. Efek cacing terhadap perkembangan kognitif anak dapat terjadi secara langsung maupun secara tidak langsung. Infeksi STH dapat mengganggu nutrisi secara tidak langsung dan menyebabkan retardasi pertumbuhan, defisiensi vitamin dan penurunan fungsi kognitif (Zaph et al., 2014).

Cacing yang hidup pada lumen usus dapat menyebabkan inflamasi dan perdarahan pada mukosa usus dan mendapatkan makanan, berupa sari-sari makanan dan darah, yang berasal dari tubuh. Infeksi yang disebabkan Ascaris lumbricoides awalnya hanya akan menunjukan gejala yang tidak signifikan, seperti hilangnya nafsu makan. Keadaan ini menyebabkan penurunan makanan yang masuk bagi anak. Parasit cacing yang terdapat di mukosa usus akan menyebabkan peradangan pada dinding usus, pelebaran dan pemendekan villi. Hal tersebut akan menyebabkan terjadinya gangguan absorbsi makanan. Indikator malnutrisi dinilai berdasarkan pemeriksaan biokimia yang terdiri dari hemoglobin, analisis

mikronutrien dan status inflamasi. Pemeriksaan yang dilakukan yaitu status anemia, hemoglobin, vitamin A, level ferritin, retinol bindin protein (RBP), C- reactive protein (CRP) dan α-1-acid-glyco-protein (AGP) (Suchdev et al., 2014).

Status inflamasi diperlihatkan dari nilai keabnormalan RBP, CRP dan AGP secara tidak langsung menggambarkan proses penurunan fungsi kognitif dengan cara respon imun terhadap infeksi STH.

Defisiensi zat besi, akibat perdarahan atau penurunan secara langsung karena parasit yang menghisap darah dan nutrisi, akan mengakibatkan penurunan kognitif pada anak. Zat besi adalah kunci modulator dalam proses eritropoietin dan eritropoiesis pada sumsum tulang. Selain itu, zat besi berperan dalam pembentukan toxin oxygen radicals yang dapat menyerang semua molekul biologi tubuh, yaitu destruksi oksidatif komponen sel saraf pusat (Iqbal et al., 2015). Terjadinya defisiensi vitamin A dapat menyebabkan gangguan dari sintesis pigmen sel retina yang fotosensitif. Gangguan ini menyebabkan terjadinya kesulitan dalam menginput stimuli berupa informasi, integritas sel yang terganggu akan menyebabkan keadaan sel menjadi rentan akan kerusakan oksidatif dari sel itu sendiri maupun dari luar, kompetensi sistem kekebalan, serta pertumbuhan (Zaph et al., 2014).

Pada Trichuris trichiura, cacing akan merusak mukosa usus karena bagian kepala cacing yang menempel pada dinding usus akan menyebabkan reaksi imun.

Pada keadaan ini, mukosa usus akan mengalami perdarahan. Selain perdarahan yang menyebabkan reaksi imun, cacing ini juga akan menghisap darah penderita untuk memenuhi kebutuhan untuk bertahan hidup. Efek infeksi Trichuris trichiura akan menyebabkan penurunan insulin like growth factor (IGF-1) yaitu hormon pertumbuhan yang memiliki sifat anabolik dan berfungsi untuk pertumbuhan skeletal dan hematopoiesis (Arisman, 2009). Penurunan IGF-1 akan mengakibatkan gangguan pertumbuhan dan anemia karena menurunnya proses hematopoiesis.

Cacing tambang (Necator americanus dan Ancylostoma duodenale) dapat menyebabkan gangguan absorbsi dan anemia. Gangguan absorbsi diakibatkan karena rusaknya mukosa saluran pencernaan dan anemia diakibatkan karena perdarahan dan penyerapan darah oleh cacing tambang. Gangguan absorbsi yang terjadi dapat mengakibatkan defisiensi nutrisi, baik makronutrien maupun mikronutrien (PE dan MS, 2003). Kekurangan nutrisi tersebut akan menyebabkan penurunan dari fungsi organ-organ tubuh.

Akibat hilangnya protein, karbohidrat, lemak, vitamin dan darah dalam jumlah besar, penderita akan lebih rentan terserang penyakit infeksi dan secara tidak langsung akan memberi pengaruh yang kurang baik terhadap pertumbuhan dan perkembangan anak. Defisiensi nutrisi yang terjadi pada kejadian anemia adalah defisiensi zat besi. Kekurangan dari zat besi ini akan menjadi pengaruh terhadap proses metabolik pada perkembangan otak seperti, transpor elektron pada perkembangan otak, sintesis dan degradasi neurotransmitter, sintesis protein dan organogenesis (Siregar, 2006).

Penurunan kognitif anak juga dapat terjadi akibat respon imun. Infeksi yang diakibatkan cacing merupakan infeksi yang disebabkan oleh parasit ekstraseluler sehingga tidak terjadi proses fagositosis tetapi proses opsonisasi dan respon imun humoral dapat terjadi. STH menyebabkan inflamasi pada usus dan hipersensitifitaas. Pada fase akut terjadi peningkatan IgE dan eosinofil untuk melawan parasit (Respon imun tipe 2). Respon imun tipe 2 menyebabkan sekresi sitokin yaitu interleukin (IL)-4, IL-13 dan IL-5, sel B, IgE, hematopoiesis eosinofil dan basofil, serta aktifnya makrofag, sel goblet dan mast cell (Jáuregui-Lobera, 2014). Saat sudah dalam fase kronik maka akan terjadi inflamasi kronik dimana akan terbentuk granuloma akibat aktivitas makrofag dan respon dari sel B sehingga terjadi pelepasan sitokin. IL-4 dan IL-13 memiliki fungsi yaitu memproduksi IgE, kontraksi usus, produksi mukus. IL-5 memiliki fungsi untuk mengaktivasi kerja dari eosinophil dan IL-9 yang menyebabkan spasme pada usus sehingga terjadi ekspulsi cacing pada lumen (Wilson, and Maizels, 2005).

Peningkatan sitokin dalam tubuh dapat mengakibatkan penurunan kognitif.

Walaupun belum dapat dijelaskan secara pasti, tetapi terdapat beberapa penelitian yang mengatakan terdapat hubungan antara perkembangan intelektual anak dengan level sitokin dalam tubuh. Sitokin berfungsi dalam proses regulasi, proliferasi dan pertumbuhan sel jaringan saraf, serta memodulasi respon terhadap infeksi, cidera, inflamasi dan penyakit-penyakit idiopatik (Ehrenstein et al., 2012). Sitokin berperan dalam perkembangan neurologi dan berperan dalam fungsi otak. Jumlah sitokin akan berpengaruh terhadap neurogenesis, pematangan sinaptik dan perkembangan otak. Overekspresi dan defisiensi sitokin mempengaruhi kondisi patologi dan fisiologi dari hippocampus yang memiliki hubungan erat dengan memori (Manzardo et al., 2012). Jumlah sitokin yang berlebih dapat menyebabkan hiperaktivitas dari mikroglia yang berada di sel otak yang menyebabkan sifatnya berubah menjadi toksik dan merusak sel-sel otak (McAfoose dan Baune, 2009).

Terjadinya gangguan pada nutrisi dan respon dari sistem imun terhadap infeksi STH merupakan beberapa faktor yang dapat menyebabkan penurunan pada perkembangan kognitif seorang anak secara tidak langsung. Secara langsung juga dapat terjadi gangguan berupa akibat dari penurunan konsentrasi anak yang positif terinfeksi STH pada saat kegiatan belajar mengajar. Gangguan penurunan konsentrasi ini terjadi akibat dari gejala-gejala dari manifestasi infeksi STH, seperti nyeri abdomen, mual dan muntah (Xu et al., 2015).

Perkembangan kognitif dapat terganggu dengan terjadinya infeksi STH pada anak. Dengan terganggunya kognitif anak, bukan hanya performa anak dalam belajar yang terganggu melainkan dapat mengganggu juga dalam kegiatan sehari- hari. Jika infeksi STH tidak segera ditangani, bukan hanya pertumbuhan yang dapat terhambat melainkan perkembangan juga dapat ikut terhambat. Dengan demikian, penting sekali untuk melakukan pencegahan dan penatalaksanaan awal agar tidak terjadi infeksi berat pada anak (Lizar, 2016).

33

Faktor-faktor yang mempengaruhi aspek kognitif:

1. Herediter

2. Kondisi Kesehatan dan Gizi

2. Prestasi di Sekolah 2.4 KERANGKA TEORI

34

Infeksi STH Gangguan Perkembangan

Kognitif 2.5 KERANGKA KONSEP

Variabel Independen Variabel Dependen

Gambar 2.18 Kerangka konsep.

2.6 HIPOTESIS

Infeksi STH mempengaruhi perkembangan kognitif pada anak usia sekolah dasar.

35

BAB III

METODE PENELITIAN

3.1 KRITERIA INKLUSI

Pemilihan studi yang digunakan untuk telaah sistematik ini menggunakan beberapa kriteria inklusi dan eksklusi yang telah disusun sebagai berikut.

Tabel 3.1 Kriteria inklusi dan ekslusi seleksi studi

Criteria Decision

Jika keyword pada PICO ditemukan seluruhnya atau minimal 2 pada bagian keyword, judul atau abstrak.

Jika terdapat prevalensi atau intensitas seluruhnya atau minimal 1 spesies STH

Inklusi Inklusi Jurnal menjelaskan tipe penilaian perkembangan kognitif Inklusi Jurnal diterbitkan pada publikasi yang scientific peer-reviewed. Inklusi Jurnal diterbitkan dalam bahasa Inggris atau Indonesia Inklusi Jurnal dipublikasikan pada tahun 2000-2020 Inklusi Menggunakan desain studi randomized controlled trials dan cross-

sectional

Inklusi Terdapat beberapa jurnal yang sama pada hasil pencarian Eksklusi Jurnal yang tidak dapat diakses, review papers dan meta data Eksklusi Jurnal yang tidak menggunakan data primer Eksklusi

3.2 PENELUSURAN LITERATUR

Penelusuran dilakukan secara online dan melakukan pencarian secara menyeluruh yang bersumber dari Pubmed, Cochrane, Clinical Key, Science Direct dan Google Scholar dengan menggunakan kata kunci yang telah disusun berdasarkan metode PICO pada Tabel 3.2. Kata kunci menggunakan MeSH (Medical Subject Heading) word sebagai berikut: (“Soil Transmitted Helminth” OR

“Helminths” OR “STH Infection” OR “Hookworm” OR “Necator americanus” OR

“Whipworm” OR “Trichuris trichiura” OR “Roundworm” OR “Ascaris lumbricoides”) AND (“Educational Measurement” OR “Educational Status” OR

“Psychology, Educational” OR “Underachievement” OR “Achievement” OR

“Intelligence Test” OR “Intelligence” OR “Learning” OR “Learning Disorder” OR

“Intellectual Disability” OR “Memory Disorder” OR “Mild Cognitive Impairment”

OR “Neurobehavioral Manifestations” OR “Social Behavior” OR “Literacy” OR

“Communication Disorders” OR “Language” OR “Emotional Intelligence” OR

36

“Motor Skills” OR “Psychomotor Performance” OR “Psychomotor” OR “School Test” OR “School Functioning” OR “Grade Scores” OR “School Performance” OR

“School Assessment” OR “ Examination Failure” OR “Cognitive Development”

OR “Developmental Disorder” OR “Developmental Delays” OR “Cognitive Ability”) AND (“Child” OR “Children” OR “School Age Children” OR “Primary School Children” OR “Students” OR “School”). Perlu diperhatikan MeSH word hanya dapat digunakan pada database PubMed dan Cochrane Library.

Tabel 3.2 Metode PICO untuk menentukan keysearch terms

Population Anak-anak berusia sekolah dasar, School- aged children, primary school children Interventions Infeksi Soil-Transmitted Helminth (STH),

Soil-Transmitted Helminthiasis, Ascaris lumbricoides, Trichuris trichiura, hookworm, Ancylostoma duodenale, Necator americanus Comparisons Anak-anak usia sekolah dasar yang tidak

terinfeksi STH

Outcomes Gangguan domain perkembangan kognitif – mis: gross motor function, fine motor function, social functioning, social interaction, intelligence quotient, memory, learning, language, function literacy.

3.3 TELAAH KUALITAS JURNAL

Untuk telaah kualitas jurnal, peneliti menggunakan kriteria Jadad sebagai alat untuk mentelaah kualitas jurnal penelitian dengan desain studi randomized controlled trial dan JBI Critical Appraisal Tools untuk mentelaah kualitas jurnal penelitian dengan desain studi cross-sectional analitik. Sebelum dilakukan penilaian terhadap kriterianya masing-masing, setiap jurnal yang diambil harus memiliki perhitungan jumlah sampel dan uji hipotesis yang benar secara statistik.

Evaluasi kualitas studi dilakukan oleh dua reviewer (Christian Sihombing dan dr.

Yoan Carolina Panggabean, MKT). Setiap jurnal diberi nilai skor secara keseluruhan dan nilai tersebut akan digunakan untuk mengelompokkan jurnal-jurnal tersebut.

37

Tabel 3.3 Kriteria Jadad

Jurnal Skor

Tabel 3.4 JBI Checklist untuk studi cross-sectional analitik

Jurnal Ya Tidak Tidak cara yang valid dan reliable

Terdapat objektif dan kriteria standar yang digunakan untuk mengukur

menggunakan cara yang valid dan reliable

Dilakukan analisis statistik yang sesuai

3.4 METODE PENGUMPULAN DATA

Semua data yang dikumpulkan menggunakan standar pengumpulan data yang telah ditetapkan oleh dua reviewer (Christian Sihombing dan dr. Yoan Carolina Panggabean, MKT). Hubungan infeksi Soil-Transmitted Helminths (STH) dengan perkembangan kognitif pada anak usia sekolah dasar mencakup semua

Ya Tidak

Dilakukan secara random 1 0

Dilakukan secara double-blind 1 0

Memiliki penjelasan tentang withdrawal dan drop-out 1 0 Metode randomisasi dilakukan dengan benar 1 -1

Metode blinding dilakukan dengan benar 1 -1

38

domain-domain kognitif. Kriteria inklusi jurnal sudah dijelaskan pada tabel 3.1 meliputi PICO yang terdapat pada tabel 3.2 dan sudah melewati tes kualitas jurnal.

Ketidaksetujuan antara kedua reviewer tersebut diatasi dengan cara berdiskusi dengan investigator senior (pihak ketiga). Selanjutnya, informasi yang dapat diambil pada setiap data, yaitu nama penulis pertama, tahun penerbitan, negara penelitian, jenis parasit yang menginfeksi, rentang umur subjek penelitian, tipe alat pengukuran kognitif, hasil atau efek penelitian, study design, study features dan sample size.

3.5 ANALISIS DATA

Metode yang digunakan pada penelitian ini berupa sintesis data kualitatif.

Sintesis data kualitatif memiliki 2 pendekatan, yaitu meta-agregasi dan meta- etnografi. Pada penelitian ini saya akan menggunakan pendekatan meta-agregasi yang bertujuan untuk menjawab pertanyaan penelitian (review question) dengan merangkum berbagai hasil penelitian (summarizing), sedangkan meta-etnografi bertujuan untuk mengembangkan teori baru dalam rangka teori yang sudah ada (Siswanto, 2010).

Pada penelitian sintesis data kualitatif dengan pendekatan meta-agregasi ini saya mengambil semua sumber literatur yang masuk kedalam kriteria inklusi dengan tema yang sudah saya tentukan, yaitu perkembangan kognitif (dengan tes pengukuran kognitif) pada anak dengan infeksi STH. Tema tersebut akan dilakukan pencarian jurnal penelitian yang relevan dan selanjutnya akan dibandingkan dan dirangkum antara jurnal dengan jurnal lainnya.

39

3.6 DEFINISI OPERASIONAL

3.6.1 Variabel Independen 1. Infeksi STH

Infeksi STH yang diteliti adalah infeksi yang disebabkan oleh cacing Ascaris lumbricoides, Trichuris trichiura dan hookworm (Ancylostoma duodenale dan Necator americanus).

Parameter yang dinilai dari infeksi STH, yaitu:

1. Tidak terinfeksi STH, jika hasil pemeriksaan terhadap tinja negatif.

2. Terinfeksi STH, jika hasil pemeriksaan terhadap tinja positif.

3.6.2 Variabel Dependen 1. Perkembangan Kognitif

Perkembangan kognitif yang dinilai merupakan keadaan kognitif seseorang saat sedang dilakukan penelitian. Keadaan kognitif dapat dilihat berdasarkan domain-domain kognitif. Yang dapat diekstrak adalah apakah ada gangguan atau penurunan pada data-data domain-domain kognitif seperti memori, fungsi motorik, sosial-emosi, bahasa, fungsi eksekutif, kemampuan persepsi, atensi, pemecahan masalah, menentukan pilihan, fungsi eksekutif, tes kognitif, seperti tes IQ dan dilihat dan diamati performa, kehadiran dan prestasi disekolahnya.

40

BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

Setelah dilakukan penelusuran literatur, ditemukan 2.551 literatur.

Dilakukan screening judul dan didapatkan 28 judul yang terduplikasi. Literatur yang terduplikasi dieleminasi dan tersisa 2.523 literatur. Setelah melakukan screening judul dan abstrak, 2.489 dieksklusikan berdasarkan beberapa alasan yaitu ketidak sesuaian judul, meneliti aspek yang berbeda, antara lain penyakit yang berbeda atau spesies yang berbeda, menggunakan metode studi yang berbeda, subjek penelitian tidak sesuai dengan kriteria inklusi, meneliti kerentanan penyakit berdasarkan genetik sampel, meneliti faktor resiko STH, merupakan review dari jurnal penelitian. Pada 34 literatur yang tersisa diteliti secara teliti dan menyeluruh, 15 literatur merupakan review article, 2 dari 13 literatur, merupakan jurnal dengan studi RCT, tidak memenuhi kriteria jadad sebagai penelitian berkualitas tinggi dan 3 dari 9 literatur, dengan studi cross-sectional, tidak memenuhi JBI Critical Appraisal Tool sebagai ketentuan kriteria inklusi pada penelitian telaah sistematis ini. Penelitian ini terdapat total 17 literatur penelitian, 11 literatur menggunakan metode berupa studi RCT dan 6 literatur menggunakan metode cross-sectional.

Terdapat 12 domain dari fungsi kognitif yang telah diteliti. Dalam total 12 domain tersebut, terdapat 9 domain yang berhubungan dengan lower-level processes dari fungsi kognitif, termasuk gross motor, fine motor, motor organization dan koordinasi, bahasa dan kemampuan verbal, kemampuan fungsi eksekutif (seperti atensi, konsentrasi dan cognitive inhibition control), processing speed dan memori. Tiga domain lainnya berhubungan dengan higher-level processes dari fungsi kognitif antara lain, intelligence quotient (IQ), scholastic performance (pengetahuan) dan non-scholastic performance, seperti kemampuan belajar, memecahkan masalah dan komprehensi.

41

2.523 literatur yang lolos duplikasi dilakukan screening

Pencarian literatur menggunakan Mesh words pada Pubmed, Cochrane, Clinical Key, Science

Direct dan Google Scholar (n=2.551)

Identi fica tio n

42

3600 Filipina The National Achievement Test

RCT 1997-1998 Hookworm. 600 Tanzania Digit span, Corsi block, Stroop test, Grooved

1190 Sri Lanka Code Transmission Test, Tests of Everyday

319 Filipina Wide Range Assessment of Memory and Learning

(WRAML), Verbal fluency, Philippine

87,50%

43

Hookworm. 358 Tanzania Dynamic tests, Static tests, Academic tests.

4000 Zambia The Zambian Cognitive Assessment Instrument.

44

Hookworm 389 Tanzania Corsi block, Grooved pegboard task, Scholastic

45

808 Filipina Primary Mental Abilities Test for Filipino

46

4.2 STUDI PENGUKURAN FUNGSI KOGNITIF PADA ANAK

Pada literatur yang ditelaah, diketahui memiliki besar sample yang berbeda, terdapat literatur dengan besar sampel 87 orang (Lobato et al., 2012) hingga 4000 orang (Grigorenko et al., 2007). Jumlah domain kognitif yang diteliti bervariasi pada setiap studi. Terdapat 1 studi meneliti 9 domain (Ndibazza et al., 2012), 2 studi meneliti 6 domain (Bhargava et al., 2005; Grigorenko et al., 2006), 1 studi meneliti 5 domain (Jukes et al., 2002), 3 studi meneliti 4 domain (Ezeamama et al., 2005;

Jinabhai et al., 2001; Nga et al., 2011), 4 studi meneliti 3 domain (Jardim-Botelho et al., 2008; Liu et al., 2017, 2015a; Lobato et al., 2012) dan 1 studi meneliti 2 domain (Sari et al., 2012). 6 studi lainnya hanya meneliti satu domain (Belizario et al., 2009; Ebenezer et al., 2013; Grigorenko et al., 2007; Solon et al., 2003;

Ziegelbauer et al., 2010).

Digunakan alat pengukuran fungsi kognitif yang berbeda untuk mengidentifikasi meskipun dalam domain kognitif yang sama. Domain kognitif yang telah diteliti pada anak, diurutkan dari jumlah banyaknya, adalah memori (n=12), non-scholastic performance (n=9), scholastic performance (n=8), atensi (n=7), motor organization dan koordinasi (n=4), IQ (n=2), bahasa dan kemampuan verbal (n=3), kemampuan fungsi eksekutif (n=2), cognitive inhibition control (n=1), gross motor (n=1), fine motor (n=1). Dari studi tersebut, Raven’s Coloured Standard Progressive Matrices test, Wechsler Intelligence Scale for Children III dam Wechsler Intelligence Scale for Children IV merupakan alat pengukuran paling sering digunakan untuk mengukur.

Ditemukan juga bahwa penurunan kognitif berhubungan dengan infeksi secara langsung maupun tidak langsung. Dalam beberapa penelitian ditemukan bahwa menurunnya sebuah fungsi kognitif dapat disebabkan oleh infeksi cacing yang berbeda. (Ezeamama et al., 2005; Jardim-Botelho et al., 2008; Sari et al., 2012)

47

4.3 HUBUNGAN INFEKSI STH DENGAN PERKEMBANGAN KOGNITIF

Dari hasil penelusuran studi yang dilakukan didapatkan 12 dari 17 studi yang diteliti mengatakan adanya hubungan signifikan antara infeksi STH dan perkembangan kognitif pada anak usia sekolah dasar pada beberapa domain kognitif yang diteliti dalam masing-masing penelitiannya (Belizario et al., 2009;

Ezeamama et al., 2005; Grigorenko et al., 2007, 2006; Jardim-Botelho et al., 2008;

Jukes et al., 2002; Liu et al., 2017, 2015a; Nga et al., 2011; Sari et al., 2012; Solon et al., 2003; Ziegelbauer et al., 2010). Akan tetapi, pada 5 studi lainnya menyimpulkan bahwa tidak ada hubungan yang signifikan dalam berkembangnya fungsi kognitif dengan terjadinya infeksi STH (Bhargava et al., 2005; Ebenezer et al., 2013; Jinabhai et al., 2001; Lobato et al., 2012; Ndibazza et al., 2012).

Memori, sebagai domain kognitif yang berhubungan dalam low-level processes, merupakan domain kognitif yang paling banyak diteliti karena domain kognitif yang memiliki dasar kemampuan memori, terutama working memory, merupakan domain kognitif yang paling sering terkena dampak dari infeksi STH.

Pada 7 dari 12 studi yang menganalisis domain memori mengatakan adanya hubungan terjadinya penurunan kognitif memori pada anak yang terinfeksi STH melalui tes WRAML (Ezeamama et al., 2005), RCSPM (Nga et al., 2011), WISC- III (Jardim-Botelho et al., 2008), WISC-IV (Liu et al., 2015a), Corsi Block, Spanish Learning, Fluency Task (Grigorenko et al., 2006; Jukes et al., 2002), atau Digit Span (Forward) (Grigorenko et al., 2006; Jukes et al., 2002; Sari et al., 2012).

Dalam analisa tersebut ditemukannya hubungan yang signifikan dalam hitung telur dalam tinja dengan penurunan kognitif domain memori (Liu et al., 2017, 2015a).

Pada 4 studi dari 7 studi yang terdapat hubungan signifikan antara infeksi STH dengan memori, ditemukan adanya hubungan penurunan kemampuan memori pada kejadian infeksi STH, terutama Ascaris lumbricoides, dengan intensitas sedang atau tinggi pada hasil tes digit span. (Ezeamama et al., 2005; Jardim-Botelho et al., 2008; Liu et al., 2015a; Nga et al., 2011) dan terdapat 1 studi yang mendapatkan hasil penurunan kognitif yang signifikan pada anak yang terinfeksi dalam hasil tes

48

digit span dibandingkan dengan anak yang diberikan terapi intervensi (Sari et al., 2012). Kecerdasan terdiri dari kemampuan edukatif, seperti kemampuan menganalisis sesuatu yang kompleks, dan kemampuan memori serta mengingat kembali informasi (Jardim-Botelho et al., 2008). Ini dapat terjadi karena Ascaris lumbricoides, sebagai infeksi yang mengakibatkan dengan berkurangnya konsumsi asupan makanan dan terjadinya malabsorbsi karbohidrat, protein dan lemak serta merusak jaringan pada daerah intestinal, dapat menyebabkan malnutrisi kronis sebagai pemicu terjadinya penurunan dalam perkembangan memori dan mengingat kembali informasi, sehingga hasil yang didapatkan pada tes kognitif, terutama pada subtes seperti digit span (forward), akan menunjukan penurunan yang signifikan.

(Tarleton et al., 2006).

Berbeda dengan Ascaris lumricoides, Trichuris trichiura menyebabkan penurunan pada tes domain kognitif lainnya, yaitu verbal fluency. Verbal fluency merupakan bagian dari tes kelancaran (fluency task) yang digunakan sebagai alat untuk mengukur kemampuan verbal (Shao et al., 2014). Terdapat 2 studi yang meneliti verbal fluency secara langsung (Ezeamama et al., 2005; Nga et al., 2011).

Salah satu studi mengatakan adanya hubungan yang signfikan antara infeksi Trichuris trichiura dan hasil tes verbal fluency yang rendah, dengan analisa menggunakan non-WRAML, verbal fluency test, didapatkan hasil bahwa penderita infeksi Trichuris trichiura beresiko menggalami penurunan hasil kognitif dalam tes verbal fluency 4,5 kali lebih besar dari infeksi lainnya tanpa memandang dari intensitasnya (Ezeamama et al., 2005). Hasil dari penelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Nokes et al. (1992), bahwa anak yang terinfeksi Trichuris trichiura memiliki penurunan kognitif domain kemampuan verbal dilihat dari hasil tes fluency dibandingkan dengan anak yang tidak terinfeksi. Dilihat juga setelah dilakukan terapi terhadap infeksi Trichuris trichiura dan penelitian dilanjutkan ditemukan adanya perbaikan pada hasil tes fluency tersebut (Nokes and Bundy, 1994).

Pada 9 studi yang memiliki subjek yang terinfeksi hookworm, ditemukan adanya 5 studi yang memperlihatkan adanya hubungan infeksi STH dengan

49

perkembangan kognitif dengan menggunakan instrumen Zambia Cognitive Assesment Instrument (Z-CAI) (Grigorenko et al., 2007), Dynamic Test dan Static Tests (Grigorenko et al., 2006) , National Achievement Test (NAT) (Belizario et al., 2009), WISC-III (Jardim-Botelho et al., 2008) dan RCSPM (Nga et al., 2011) untuk menilai perkembangan kognitif. Ditemukan 3 studi yang memiliki hasil yang signifikan. Salah satu penelitian tersebut mendapatkan hasil yang signifikan dengan melakukan analisa berupa penggunaan instrumen Dynamic test dan Static tests.

Analisa dilakukannya perbandingan pada 3 grup yaitu grup infeksi diterapi, infeksi tidak diterapi, tidak terinfeksi tidak diterapi. Didapatkan hasil dengan perbedaan signifikan antara grup terinfeksi dengan grup tidak terinfeksi pada saat dilakukan tes untuk kedua kalinya (Grigorenko et al., 2006). Pada hasil analisa dengan dilakukan follow-up per 1 tahun dan waktu observasi 3 tahun, didapatkan perkembangan tiap tahunnya menandakan adanya perbaikan pada infeksi dan perkembangan kognitifnya (Grigorenko et al., 2007). Terdapat juga 1 studi yang menganalisa bahwa infeksi yang disebabkan oleh hookworm memiliki huubungan

Analisa dilakukannya perbandingan pada 3 grup yaitu grup infeksi diterapi, infeksi tidak diterapi, tidak terinfeksi tidak diterapi. Didapatkan hasil dengan perbedaan signifikan antara grup terinfeksi dengan grup tidak terinfeksi pada saat dilakukan tes untuk kedua kalinya (Grigorenko et al., 2006). Pada hasil analisa dengan dilakukan follow-up per 1 tahun dan waktu observasi 3 tahun, didapatkan perkembangan tiap tahunnya menandakan adanya perbaikan pada infeksi dan perkembangan kognitifnya (Grigorenko et al., 2007). Terdapat juga 1 studi yang menganalisa bahwa infeksi yang disebabkan oleh hookworm memiliki huubungan

Dokumen terkait