BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
4.2. Pembahasan
4.2.3. Hubungan Jenis Kontainer Dengan Keberadaan
Jenis kontainer merupakan macam-macam/ berbagai tempat penampungan air, baik itu penampungan sehari-hari maupun tidak. Adapun jenis konatiner tempat penampungan air sehari-hari yaitu bak kamar mandi, drum, ember, tempayan, dsb dan bukan tempat penampungan air sehari hari yaitu ban bekas, kaleng bekas, penampungan air lemari pendingin, dsb.
Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan, menunjukkan bahwa responden dengan jenis kontainer Non TPA tidak terdapat jentik nyamuk sebesar 1 responden dengan persentase 7,1% dan responden dengan jenis kontainer TPA sehari-hari dan terdapat keberadaan jentik nyamuk sebesar 22 responden dengan persentase 24,7%. Hasil penelitian ini juga menunjukkan bahwa adanya hubungan antara jenis kontainer dengan keberadaan jentik nyamuk Aedes Sp dan nilai p = 0,000 atau kurang dari = 0,05.
Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian Junus Widjaja (2011) jenis kontainer yang paling banyak ditemukan sebagai tempat nyamuk berkembangbiak merupakan Tempat Penampungan air sehari-hari berupa bak kamar mandi/ wc. Hal ini juga sejalan dengan penelitian Joharina dan Widiarti (2014) secara umum bak mandi merupakan kontainer paling disukai nyamuk untuk meletakkan telur.
Berdasarkan hasil observasi yang dilakukan, seluruh responden memiliki kebiasaan yang lebih senang mandi menggunakan gayung dari pada shower, nyamuk Ades Sp sendiri menyukai tempat perkembangbiakan yang tidak terkena sinar matahari langsung dan tidak dapat hidup di tempat perkmebangbiakan yang kontak langsung dengan tanah. Barang-barang
47 bekas yang sudah tidak terpakai dan terdapat genangan air dapat menjadi tempat perkembangbiakan nyamuk.
4.2.4. Hubungan Bahan Kontainer Dengan Keberadaan Jentik Nyamuk Aedes Sp
Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan, menunjukkan bahwa responden yang memiliki bahan kontainer tidak beresiko (permukaan dan dinding licin) tapi tidak terdapat jentik Aedes Sp sebesar 52 dengan persentase 88,1%, dan sedangkan responden dengan bahan kontainer beresiko (permukaan dan dinding kasar) tapi terdapat jentik nyamuk Aedes Sp sebesar 28 dengan persentase 63,6%. Hasil penelitian ini juga menunjukkan bahwa adanya hubungan antara bahan kontainer dengan keberadaan jentik nyamuk Aedes Sp dan nilai p = 0,000 atau kurang dari = 0,05.
Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Salim (2007) yang menyatakan bahwa bahan dasar tempat penampungan air yang positif jentik Aedes dengan bahan dnding dan lantai merupakan semen.
Hal ini juga sejalan dengan penelitian badrah dan hidayah (2011) jenis bahan kontainer berisiko terhadap keberadaan jentik Aedes yaitu semen.
Hsail observasi yang telah dilakukan, sebagian besar tempat penampungan air yang paling banyak digunakan oleh masyarakat merupakan bak mandi dengan bahan keramik dan masih terdapat pula bak mandi dengan penggunaan bahan semen kasar sehingga dari permukaan kasar dan berpori-pori tersebut mudah ditumbuhi lumut. Menurut Badrah dan Hidayah (2011) bahan dasar dari kontainer yang berisiko terhadap keberadaan jentik nyamuk Aedes yaitu semen kemudian keramik, tanah, logam dan plastik. Permukaan yang kasar lebih sulit untuk dibersihkan, mudah berlumut dan memiliki refleksi cahaya yang rendah. Refleksi cahaya yang rendah dan permukaan dinding yang berpori-pori mengakibatkan suhu dalam air menjadi rendah.
Bahan kontainer dari keramik dan plastik memiliki angka positif jentik jentik Aedes yang rendah karena bahan ini tidak mudah berlumut, mempunyai
permukaan yang halus dan licin serta tidak berpori sehingga lebih mudah untuk dibersihkan dibandingkan bahan dari semen dan tanah.
4.2.5. Hubungan Warna Kontainer Dengan Keberadaan Jentik Nyamuk Aedes Sp
Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan, menunjukkan bahwa responden yang memiliki warna kontainer terang tapi tidak terdapat jentik nyamuk Aedes Sp sebesar 51 responden dengan persentase 91,1 %, dan sedangkan responden dengan warna kontainer gelap tapi terdapat jentik nyamuk Aedes Sp sebesar 30 responden dengan persentase 63,8%. Hasil penelitian ini juga menunjukkan bahwa adanya hubungan antara bahan kontainer dengan keberadaan jentik nyamuk Aedes Sp dan nilai p = 0,000 atau kurang dari = 0,05.
Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian Novelani (2007) yang menyatakan bahwa kontainer yang positif jentik lebih banyak dijumpai pada kontainer berwarna gelap, hal ini dikarenakan warna tempat penampungan air yang gelap memberikan rasa aman dan tenang bagi nyamuk untuk bertelur.
Hal ini juga didukung oleh penelitian Sari (2012) yang menyatakan bahwa tempat penampungan air yang berwarna gelap paling banyak ditemukan di lokasi penelitian.
Menurut Depkes RI (2005) berdasarkan dari warna tempat penampungan air, nyamuk Aedes terutama yang betina lebih menyukai tempat penampungan air yang berwarna gelap dibandingkan dengan warna terang, baik untuk beristirahat atau bertelur. Warna kontainer yang gelap menyebabkan cahaya matahari tidak menembus dinding kontainer dari segala arah dan berisiko terhadap keberadaan jentik nyamuk. Hal ini karena nyamuk mempunyai reseptor panas yang berfungsi sebagai sensor suhu dan kelembaban. Reseptor tersebut mampu membedakan panas yang dipancarkan oleh berbagai benda yang akan menarik nyamuk datang.
49 Hasil obeservasi yang dilakukan, sebagian besar responden memiliki kontainer dengan warna terang seperti putih, biru laut, dsb. Sehingga kecil kemungkinan untuk ditemukan jentik nyamuk pada kontainer tersebut, tetapi ada sebagian masyarakat yang memiliki kontainer berwarna terang terdapat jentik nyamuk, ini terjadi karena kontainer tersebut jarang/ terambat dalam melakukan pembersihan dan pengurasan air sehingga kontainer kotor dan terdapat lumut.
4.2.6. Hubungan Letak kontainer Dengan Keberadaan Jentik Nyamuk Aedes Sp
Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan, menunjukkan bahwa responden yang memiliki letak kontainer di luar rumah tapi tidak terdapat jentik Aedes Sp sebesar 2 responden dengan persentase 12,5%,dan sedangkan responden dengan letak kontainer di dalam rumah tapi terdapat jentik nyamuk Aedes Sp sebesar 21 responden dengan persentase 24,1%. Hasil penelitian ini juga menunjukkan bahwa adanya hubungan antara letak kontainer dengan keberadaan jentik nyamuk Aedes Sp dan nilai p = 0,000 atau kurang dari = 0,05.
Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh setiawan (2002) yang menyatakan bahwa letak tempat penampungan air dapat mempengaruhi keberadaan jentik nyamuk Aedes. Pernyataan ini juga diperkuat dengan penelitian arif budiyanto (2012), bahwa tempat perindukan nyamuk Aedes sebagian besar terletak di dalam gedung dengan persentase 92,3% . Hal ini sesuai dengan perilaku hidup nyamuk Aedes yang lebih suka beristirahat ditempat yang gelap, lembab dan tersembunyi didalam rumah/
bangunan, dan juga perilaku makan nyamuk Aedes sangat antropofilik.
Hasil observasi yang dilakukan, sebagian besar responden memiliki tempat penampungan air berada di dalam rumah, karena di peruntukkan untuk sehari-hari. Terdapat pula beberapa tempat penampungan air yang berada di luar rumah yang diperuntukkan sebagai penampungan air hujan.
4.2.7. Hubungan Kondisi Kontainer Dengan Keberadaan Jentik Nyamuk Aedes Sp
Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan, menunjukkan bahwa responden dengan kondisi kontainer tertutup tapi tidak terdapat jentik Aedes Sp sebesar 24 responden dengan persentase 85,7%,dan sedangkan responden dengan kondisi kontainer terbuka terdapat jentik nyamuk Aedes Sp sebesar 31 responden dengan persentase 41,3%. Hasil penelitian ini juga menunjukkan bahwa adanya hubungan antara kondisi kontainer dengan keberadaan jentik nyamuk Aedes Sp dan nilai p = 0,019 atau kurang dari = 0,05.
Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Eka (2009) yaitu sebagian besar responden tidak memiliki penutup pada kontainernya. Hal ini juga didukung oleh penelitian Aniq (2015) yang menyatakan bahwa ada hubungan antara keberadaan tutup kontainer dengan keberadaan jentik Aedes.
Menurut Hasyimi dkk (2010) keberadaan penutup kontainer kaitannya sangat erat dengan keberadaan jentik nyamuk. Penggunaan tutup pada kontainer dengan benar memiliki dampak yang signifikan untuk mengurangi keberadaan larva dan pupa nyamuk dibandingkan dengan kontainer tanpa penutup. Kegiatan PSN dengan pengelolaan lingkungan hidup yaitu 3M salah satunya dilakukan dengan menutup kontainer rapat-rapat agar nyamuk tidak dapat masuk untuk meletakkan telurnya. Nyamuk akan mudah untuk meletakkan telurnya pada kontainer yang terbuka. Ada kecenderungan yang signifikan 84% kontainer yang terbuka menyebabkan nyamuk bebas masuk ke dalam kontainer untuk berkembangbiak sedangkan kontainer yang tertutup 7% terdapat jentik.
Hasil observasi yang dilakukan, hampir seluruh responden memiliki kondisi tempat penampungan air dengan tidak memiliki penutup. Untuk responden yang terdapat tutup tetapi masih ada jentik, hal ini dapat terjadi diakibatkan saat responden menggunakan tempat penampungan air untuk keperluan sehar-hari dibiarkan terbuka/ lupa untuk menutupnya kembali sehingga nyamuk Aedes dapat meletakkan telurnya. Hal ini sejalan dengan
51 penelitian yang dilakukan oleh Aniq (2015) yang menyatakan bahwa salah satu penyebab kontainer yang mempunyai penutup masih tetap terdapat jentik Aedes disebabkan oleh perilaku warga atau masyarakat yang sering lupa untuk menutup kembali kontainer setelah di buka.
52 BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN 5.1. KESIMPULAN
Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan, maka dapat disimpulan sebagai berikut:
1. Responden di Kelurahan Payo Selincah 51,5% memiliki pengetahuan kurang mengenai demam berdarah.
2. Responden di Kelurahan Payo Selincah 71,8% memiliki sikap yang positif mengenai demam berdarah.
3. Responden di Kelurahan Payo Selincah 86,4% dominan terdapat jenis TPA dengan penggunaan sehari hari, seperti bak mandi, ember dan drum.
4. Responden di Kelurahan Payo Selincah 57,3% bahan TPA yang digunakan memiliki permukaan licin sehngga tidak beresiko.
5. Responden di Kelurahan Payo Selincah 54,4% kontainer yang di gunakan lebih ke warna terang seperti putih.
6. Responden di Kelurahan Payo Selincah 84,5% letak kontainer berada di dalam rumah.
7. Responden di Kelurahan Payo Selincah 72,8% kondisi kontainer tidak memiliki tutup/ tidak di tutup.
8. Dari 103 responden, diketahui 66,0% rumah responden tidak ditemukan larva nyamuk Aedes sp.
9. Ada hubungan antara tingkat pengetahuan masyarakat, sikap masyarakat jenis, bahan, warna, letak, dan kondisi kontainer dengan keberdaaan jentik nyamuk Aedes Sp di Kelurahan Payo Selincah.
5.2. SARAN
Saran yang dapat diberikan berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan yang dilakukan antara lain sebagai berikut:
1. Bagi Masyarakat
Untuk Masyarakat terutama di Kelurahan Payo Selincah diharapkan lebih giat dalam meningkatkan kesadaran terhadap memperhatikan kondisi
53 kontainer atau Tempat Penampungan Air (TPA) dan meningkatkan perilaku terhadap kegiatan Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN DBD) dengan gerakan 3M Plus secara bersama-sama, serta membiasakan diri menguras kontainer tempat penampungan air minimal seminggu sekali dan memperhatikan kondisi kontainer untuk senantiasa tetutup.
2. Bagi Instansi Kesehatan
Untuk intansi kesehatan untuk dapat meningkatkan keaktifan Juru Pemantau Jentik (Jumantik) pada setiap Rukun Tetangga (RT) dan secara intensif melakukan penyuluhan tentang DBD. Penyuluhan ini dapat dilakukan melalui organisasi kemasyarakatan yang ada seperti: PKK, Dasa Wisma, Karang Taruna, Posyandu atau perkumpulan masyarakat lainnya.
3. Bagi Peneliti Lain
Perlu adanya penelitian lebih lanjut dengan memperluas jumlah sampel penelitian. Variabel yang tidak berhubungan pada penelitian ini yaitu pelaksanaan pengurasan tempat penampungan air dan sumber air kontainer perlu diteliti kembali untuk memastikan dan lebih mengetahui karakteristik kontainer lain yang berhubungan dengan keberadaan jentik Aedes Sp.
DAFTAR PUSTAKA
1. Alexander Lucas Slamet Ryadi. Ilmu Kesehatan Masyarakat. Vol 1.
Yogyakarta: Nuha Medika; 2016.
2. Depkes RI. Demam Berdarah Dengue. Bul Jendela Epidemiol. 2010;2.
3. Kemenkes RI. Pencegahan Dan Pengendalian Demam Berdarah Dengue Indonesia. Vol 5. Jakarta; 2017.
4. Widoyono. Penyakit Tropis: Epidemiologi, Penularan, Pencegahan Dan Pemberantasannya. Vol 1. Jakarta: Erlangga; 2011.
5. Aditama T yoga D. Modul Pengendalian Demam Berdarah Dengue.
Jakarta: Direktorat Jenderal Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan; 2011.
6. Kementrerian Kesehatan RI. Profil Kesehatan Indonesia Tahun 2018.
Indonesia : Kementrian Kesehatan RI. 2018.
https://pusdatin.kemkes.go.id/resources/download/pusdatin/profil-kesehatan-indonesia/PROFIL_KESEHATAN_2018_1.pdf.
7. Depkes. Profil Kesehatan Indonesia Tahun 2019. Kementrian Kesehat Repoblik Indones. 2019;42(4):97-119.
https://pusdatin.kemkes.go.id/resources/download/pusdatin/profil-kesehatan-indonesia/Profil-Kesehatan-indonesia-2019.pdf.
8. Dirjen P2P Kemenkes. Hingga Juli, Kasus DBD di Indonesia Capai 71 Ribu. Kementrian Kesehatan RI. http://p2p.kemkes.go.id/hingga-juli-kasus-
dbd-di-indonesia-capai-71- ribu/%0Ahttps://www.kemkes.go.id/article/view/20070900004/hingga-juli-kasus-dbd-di-indonesia-capai-71-ribu.html. Published June 22, 2020.
9. Pemerintah Daerah Provinsi Jambi. Profil Kesehatan Provinsi Jambi Tahun 2019. 2020:191. http://dinkes.jambiprov.go.id/all_profil_kesehatan.
10. Dinas Kesehatan Kota Jambi. Data Dinas Kesehatan Kota Jambi. Jambi;
2020.
11. Hardayati W, Mulyadi A, Daryono. Analisis Perilaku Masyarakat Terhadap Angka Bebas Jentik Dan Demam Berdarah Dengue Di Kecamatan
Pekanbaru Kota, Riau. J Ilmu Lingkung. 2011;5(1):1-9.
doi:http://dx.doi.org/10.31258/jil.5.01.p.1-9
12. Ishak H, Ane R La, Adifian. Kemampuan adaptasi nyamuk aedes aegypti dan aedes albopictus dalam berkembang biak berdasarkan jenis air
adaptability in breeding of aedes aegypti and aedes albopictus mosquitoes in breeding based on the type of water. 2013.
13. Kementerian Kesehatan RI, Indonesia R. Petunjuk Teknis Jumantik – Psn Anak Sekolah. Direktur Jenderal Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan; 2014.
14. Mansbridge J. Skin substitutes to enhance wound healing. Expert Opin Investig Drugs. 1998;7(5):803-809. doi:10.1517/13543784.7.5.803 15. Pratiwi TY, Anwar MC, Utomo B. Hubungan Karakteristik Tempat
Penampungan Air Dan Perilaku Masyarakat Dengan Keberadaan Jentik Aedes Aegypti Di Kelurahan Karangklesem, Kecamatan Purwokerto Selatan Tahun 2016. Bul Keslingmas. 2018;37(1):56.
doi:10.31983/keslingmas.v37i1.3825
16. Vidiyani A. Related Papers. Over Rim. 2017;1:191-199.
doi:10.2307/j.ctt46nrzt.12
17. Siregar LG. Hubungan Keberadaan Jentik Aedes aegypti pada Tempat Penampungan Air Dengan Demam Berdarah Dengue Di Kecamatan Medan Sungal. Skripsi. 2017:5.
18. Santoso S, Margarety I, Taviv Y, Wempi IG, Mayasari R, Marini M.
Hubungan Karakteristik Kontainer dengan Keberadaan Jentik Aedes aegypti pada Kejadian Luar Biasa Demam Berdarah Dengue : Studi Kasus di Kabupaten Ogan Komering Ulu. J Vektor Penyakit. 2018;12(1):9-18.
doi:10.22435/vektorp.v12i1.229
19. Kemenkes RI. Demam Berdarah Dengue Indonesia. Vol 5. Jakarta; 2017.
20. World Health Organization. Dengue Guidelines For Diagnosis, Treatment, Prevention And Control.; 2009.
21. Hsiung GD, Chang PW. Parainfluenza viral infection. Handb Zoonoses, Second Ed Sect B Viral Zoonoses. 2017;11(3):409-421.
doi:10.1201/9780203752463
22. Burke DS, Nisalak A, Johnson DE, Scott McN. R. A prospective study of dengue infections in Bangkok. Am J Trop Med Hyg. 1988;38(1):172-180.
doi:10.4269/ajtmh.1988.38.172
23. Henchal EA, Putnak JR. The Dengue Viruses. Clin Microbiol Rev.
1990;3(4):376-396. doi:10.1128/CMR.3.4.376
24. CDC. Dengue and the Aedes aegypti mosquito. Aegypti Fact Sheet.
https://www.cdc.gov/dengue/resources/30jan2012/aegyptifactsheet.pdf.
Published 2012. Accessed December 1, 2021.
25. Foster WA, Walker ED. Mosquitoes (culicidae). In: Mullen GR, Durden LABT-M and VE (Third E, eds. Medical and Veterinary Entomology.
Academic Press; 2018:261-325. doi:10.1016/B978-0-12-814043-7.00015-7 26. Killick-Kendrick R. Medical entomology for students. Trans R Soc Trop
Med Hyg. 1996;90(5):590. doi:10.1016/s0035-9203(96)90345-4
27. Chin J. Manual Pemberantasan Penyakit Menular. Penerjemah Kandun I.N,. Ed. 17, Ce. Jakarta: Infomedika; 2000.
28. I S, SA A. Buku Ajar Parasitologi Kedokteran FK UI. Kedua. Jakarta: CV.
Sagung Seto; 2016.
https://opac.perpusnas.go.id/DetailOpac.aspx?id=1145496.
29. Soepardi J. Demam Berdarah Dengue. Vol 2. Jakarta: Yayasan Penerbitan Ikatan Dokter Indonesia; 2010.
http://www.depkes.go.id/folder/view/01/structure-publikasi-pusdatin-buletin.html.
30. Fallis A. Entomologi Kedokteran. Vol 53. 1st ed. (Widiyatmoko J, ed.).
Yogyakarta: CV. Andi Offset; 2013.
31. Notoatmodjo S. Kesehatan Masyarakat: Ilmu & Seni. 1st ed. Jakarta:
Rineka Cipta; 2011.
32. Notoadmodjo 2010. Metodologi Penelitian Kesehatan. Jakarta: Rineka Cipta; 2010.
33. Nugrahaningsih M. Hubungan Faktor Lingkungan Dan Perilaku
Masyarakat Dengan Keberadaan Jentik Nyamuk Penular Demam Berdarah Dengue (Dbd) Di Wilayah Kerja Puskesmas Kuta Utara. Ecotrophic J Environ Sci. 2015;5(2):93-97.
34. Cecep Triwibowo. Pengantar Dasar Ilmu Kesehatan Dan Kebidanan. 1st ed. Yogyakarta: Nuha Medika; 2015.
35. Achmadi UF. Dasar-Dasar Penyakit Berbasis Lingkungan. Jakarta:
Rajawali Pers; 2011.
36. Ayuningtyas ED. Perbedaan Keberadaan Jentik Aedes aegypti berdasarkan Karakteristik Kontainer di Daerah Endemis Demam Berdarah Dengue.
Univ Negeri Semarang. 2013:18-44.
http://lib.unnes.ac.id/17922/2/6411409122.pdf.
37. Iriani Y. Association between Rainfall and Increased Cases of Child Dengue Hemorrhagic Fever in Palembang City. Sari Pediatr.
2012;13(6):26.
38. Kementerian Kesehatan RI. InfoDatin Situas Demam Berdarah Dengue. J Vector Ecol. 2018;31(1):71-78.
https://www.kemkes.go.id/download.php?file=download/pusdatin/infodatin /InfoDatin-Situasi-Demam-Berdarah-Dengue.pdf.
39. Wirayoga MA. The Relationship between Dengue Hemorrhagic Fever and Climate in Semarang From 2006 to 2011. Unnes J Public Heal.
2013;2(4):1-9.
40. Sugiyono. Metode Penelitian Kualitatif Dan Pembelajaran. Vol 1.
Bandung: Alfabeta; 2016.
41. Setiawan D. Faktor Faktor Yang Berhubungan Dengan Keberadaan Jentik Aedes Pada TPA Di Rumah Tangga Di Kecamatan Bekasi Selatan, Tahun 2001. 2002.
Lampiran 1. Lembar Kuesioner dan Lembar Observasi
KUESIONER
HUBUNGAN KARAKTERISTIK KONTAINER DAN PERILAKU MASYARAKAT TERHADAP KEBERADAAN JENTIK NYAMUK AEDES SP
DI KELURAHAN PAYO SELINCAH
A. IDENTITAS RESPONDEN 1. No. Responden : 2. Nama :
3. Umur : Tahun
4. Alamat : RT … /RW…
5. Jenis Kelmain* :
1. Laki-Laki 2. Perempuan 6. Pekerjaan* :
1. Pegawai Swasta 4. IRT (Ibu Rumah Tangga) 2. Perdagangan/Wiraswasta 5.
3. PNS/Polisi/TNI
7. Pendidikan* :
1. Tidak Sekolah 4. SLTP
2. Tidak Tamat SD 5. SLTA
3. SD 6. Diploma/Sarjana
Ket: *) Beri tanda “√” pada jawaban
B. PENGETAHUAAN
Ket: Beri tanda “X” pada jawaban
1. Menurut saudara, apa yang dimaksud dengan penyakit DBD (Demam Berdarah Dengue)?
a. Penyakit yang ditularkan melalui gigitan nyamuk yang sudah menggigit penderita DBD (Demam Berdarah Dengue)
b. Penyakit yang ditularkan melalui cacing
c. Penyakit yang ditularkan melalui batuk / dahak dari penderita DBD (Demam Berdarah Dengue)
d. Tidak tahu
2. Menurut saudara, penyakit DBD (Demam Berdarah Dengue) disebabkan oleh apa?
a. Gigitan nyamuk
b. Makanan dihinggapi kecoa c. Makanan dihinggapi lalat d. Tidak tahu
3. Menurut saudara, apa bahaya penyakit DBD (Demam Berdarah Dengue) bagi penderita?
a. Menyebabkan kematian
b. Menularkan pada anggota keluarga lain c. Menyebabkan kebutaan
d. Tidak tahu
4. Menurut saudara, bagaimana ciri-ciri nyamuk yang menyebabkna penyakit DBD (Demam Berdarah Dengue Dengue)?
a. Warna hitam bintik-bintik putih b. Warna cokelat bintik-bintik putih c. Warna abu-abu bintik-bintik putih d. Tidak tahu
5. Dimana saja tempat yang disenangi, tempat hinggap, dan tempat istirahat nyamuk DBD (Demam Berdarah Dengue)?
a. Pakaian yang digantung dibelakang pintu b. Kolam
c. Sumur d. Tidak tahu
6. Dimana saja nyamuk DBD (Demam Berdarah Dengue) dapat meletakkan jentik/telur sebagai tempat perkembangbiakannya?
a. Bak Mandi, Ember, Drum b. Bak Mandi, Selokan, Kolam
c. Drum, Sumur d. Tidak tahu
7. Menurut anda, apa yang dimaksud dengan pemberantasan sarang nyamuk?
a. Kegiatan untuk memberantas telur, jentik, dan pupa nyamuk Aedes aegypti penular penyakit DBD di tempat-tempat perkembang biakannya
b. Kegiatan untuk membasmi sarang nyamuk
c. Kegiatan membasmi nyamuk di tempat-tempat perkembanng-biakannya d. Tidak tahu
8. Apa yang dimaksud dengan 3M dalam pemberantasan sarang nyamuk DBD (Demam Berdarah Dengue)?
a. Mengubur, Menutup, Menguras b. Menguras, Menggali, Mengubur c. Menguras, Menutup, Menyiram d. Tidak tahu
9. Menurut anda, apa manfaat melakukan pemberantasan sarang nyamuk?
a. Mengurangi tempat perkembangbiakan nyamuk dan mencegah terjadinya penyakit DBD
b. Agar kondisi tempat tinggal bersih c. Agar nyamuk-nyamuk menghilang d. Tidak tahu
10. Siapakah yang bertugas melakukan pemberantasan sarang nyamuk?
a. Petugas Kesehatan b. Masyarakat
c. Tokoh Masyarakat d. Semua benar
C. SIKAP
Ket: Beri Tanda “√” Pada Jawaban
No. Pertanyaan Sikap Setuju Tidak
Setuju 1. Demam Berdarah harus dicegah dengan melakukan
pemberantasan sarang nyamuk. √
2. Masyarakat harus melakukan pemberantasan sarang
nyamuk di rumah masing-masing. √
3. Pemberantasan sarang nyamuk adalah tugas/tanggung
jawab masyarakat dan tokoh masyarakat. √ 4. Tokoh masyarakat perlu mengajak masyarakat untuk
melakukan pemberantasan sarang nyamuk. √ 5. Setiap warga perlu mengingatkan tetangganya untuk
melakukan pemberantasan sarang nyamuk. √ 6. Melakukan pemberantasan sarang nyamuk pada
tempat-tempat penampungan air yang menjadi tempat perkembangbiakan jentik nyamuk pembawa penyakit demam berdarah.
√
7. Memberantas sarang nyamuk pada tempat penampungan air dapat mencegah kejadian Demam berdarah.
√
8. Pemberantasan sarang nyamuk dilakukan didalam
rumah dan diluar rumah. √
9. Pemberantasan sarang nyamuk merupakan tugas tenaga
kesehatan dan pemerintah. √
10. Jika ada kerja bakti, Saya akan berpartisipasi dalam
rangka pemberantasan sarang nyamuk. √
LEMBAR OBSERVASI
HUBUNGAN KARAKTERISTIK KONTAINER DAN PERILAKU MASYARAKAT TERHADAP KEBERADAAN JENTIK NYAMUK AEDES SP DI KELURAHAN PAYO SELINCAH
NO. JENIS
KONTAINER
BAHAN KONTAINER WARNA
KONTAINER LETAK KONTAINER KONDISI KONTAINER KEBERADAAAN
JENTIK BERESIKO TIDAK BERESIKO
SEMEN TANAH PLASTIK KERAMIK TERANG GELAP DALAM RUMAH
LUAR
RUMAH TERTUTUP TIDAK
TERTUTUP ADA TIDAK 1. Bak Mandi
2. Ember
3. Tempayan 4. Dsipenser 5. Vas Bunga 6. Tempat Minum
Burung 7. Barang Bekas
Berisi Air 8. Penamungan Air
Belakang kulkas 9. Lainnya
…
…
…
Ket: Beri Tanda “√” Pada Jawaban
Lampiran 2.
LEMBAR PERSETUJUAN (INFORMED CONSENT)
Saya yang bertanda tangan dibawah ini : Nama :
Alamat :
Setelah Mendapat Penjelasan Tentang Maksud Dan Tujuan Serta Hak Dan Kewajiban Sebagai Responden. Dengan Ini Menyatakan Dengan Sungguh-Sungguh Bahwa Saya Bersedia Menjadi Responden Dalam Penelitian Yang Berjudul “Hubungan Karakteristik Kontainer Dan Perilaku Masyarakat Terhadap Keberadaan Jentik Nyamuk Aedes Sp Di Kelurahan Payo Selincah”
Pernyataan ini saya buat dengan sebenarnya dan penuh kesadaran tanpa ada paksaan dari pihak lain.
Jambi, Februari 2022 Responden
(……….……….)
Lampiran 3. Surat Izin Penelitian
Lampiran 4. Data Kasus DBD Tahun 2019
Lampiran 5. Hasil Output
Data Umum
GRP_Umur
Frequency Percent Valid Percent Cumulative Percent
Valid
20-25 1 1,0 1,0 1,0
26-30 10 9,7 9,7 10,7
31-35 10 9,7 9,7 20,4
36-40 21 20,4 20,4 40,8
41-45 14 13,6 13,6 54,4
46-50 13 12,6 12,6 67,0
51-55 14 13,6 13,6 80,6
56-60 8 7,8 7,8 88,3
61-65 11 10,7 10,7 99,0
71-75 1 1,0 1,0 100,0
Total 103 100,0 100,0
Jenis_Kelamin
Frequency Percent Valid Percent Cumulative Percent
Valid
Laki-laki 74 71,8 71,8 71,8
Perempuan 29 28,2 28,2 100,0
Total 103 100,0 100,0
Pekerjaan
Frequency Percent Valid Percent Cumulative Percent
Valid
PNS/TNI/Polisi 4 3,9 3,9 3,9
Wiraswasta 15 14,6 14,6 18,4
Pegawai Swasta 11 10,7 10,7 29,1
URT (Urus Rumah Tangga) 15 14,6 14,6 43,7
Pedagang 20 19,4 19,4 63,1
Buruh 18 17,5 17,5 80,6
Supir/Ojek 11 10,7 10,7 91,3
Petani 9 8,7 8,7 100,0
Total 103 100,0 100,0
Pendidikan
Frequency Percent Valid Percent Cumulative Percent
Valid
Tidak Sekolah 5 4,9 4,9 4,9
Tidak Tamat SD 2 1,9 1,9 6,8
SD 16 15,5 15,5 22,3
SLTP/SMP 26 25,2 25,2 47,6
SLTA/SMA 38 36,9 36,9 84,5
Diploma/Sarjana 16 15,5 15,5 100,0
Total 103 100,0 100,0
Univariat
Frequency Table
Kategori_Pengetahuan
Frequency Percent Valid Percent Cumulative Percent
Valid
Pengetahuan Kurang 53 51,5 51,5 51,5
Pengetahuan Baik 50 48,5 48,5 100,0
Total 103 100,0 100,0
Kategori_Sikap
Frequency Percent Valid Percent Cumulative Percent
Valid
Negatif 29 28,2 28,2 28,2
Positif 74 71,8 71,8 100,0
Total 103 100,0 100,0
Jenis Kontainer
Frequency Percent Valid Percent Cumulative Percent
Valid Non TPA 14 13,6 13,6 13,6
Tempat Penampungan Air
Sehari-hari 89 86,4 86,4 100,0
Total 103 100,0 100,0
Bahan Kontainer
Frequency Percent Valid Percent Cumulative Percent
Valid
Beresiko (Permukaan dan
Dinding Kasar) 44 42,7 42,7 42,7
Tidak Beresiko
(Permuakaan dan Dinding Licin)
59 57,3 57,3 100,0
Total 103 100,0 100,0
Warna Kontainer
Frequency Percent Valid Percent Cumulative Percent
Valid
Warna Gelap 47 45,6 45,6 45,6
Warna Terang 56 54,4 54,4 100,0
Total 103 100,0 100,0
Letak Kontainer
Frequency Percent Valid Percent Cumulative Percent
Valid
Outdoor (Luar Rumah) 16 15,5 15,5 15,5
Indoor (Dalam Rumah) 87 84,5 84,5 100,0
Total 103 100,0 100,0
Kondisi Kontainer
Frequency Percent Valid Percent Cumulative Percent
Valid
Terbuka 75 72,8 72,8 72,8
Tertutup 28 27,2 27,2 100,0
Total 103 100,0 100,0
Keberadaan jentik
Frequency Percent Valid Percent Cumulative Percent
Valid
Negatif 68 66,0 66,0 66,0
Positif 35 34,0 34,0 100,0
Total 103 100,0 100,0
Kategori_Pengetahuan * Keberadaan jentik
Crosstab
Keberadaan jentik Total Positif Negatif
Kategori_
Pengetahuan
Pengetahuan Kurang
Count 27 26 53
% within
Kategori_Pengetahuan 50,9% 49,1% 100,0%
Pengetahuan Baik
Count 8 42 50
% within
Kategori_Pengetahuan 16,0% 84,0% 100,0%
Total
Count 35 68 103
% within
Kategori_Pengetahuan 34,0% 66,0% 100,0%
Chi-Square Tests
Value df Asymp. Sig.
(2-sided)
Exact Sig.
(2-sided)
Exact Sig.
(1-sided)
Pearson Chi-Square 14,003a 1 ,000
Continuity Correctionb 12,489 1 ,000
Likelihood Ratio 14,605 1 ,000
Fisher's Exact Test ,000 ,000
Linear-by-Linear Association 13,868 1 ,000
N of Valid Cases 103
a. 0 cells (0,0%) have expected count less than 5. The minimum expected count is 16,99.
b. Computed only for a 2x2 table
Risk Estimate
Value 95% Confidence Interval
Lower Upper
Odds Ratio for Kategori_Pengetahuan (Pengetahuan
Kurang / Pengetahuan Baik) 5,452 2,155 13,794
For cohort Keberadaan jentik = Positif 3,184 1,600 6,334
For cohort Keberadaan jentik = Negatif ,584 ,433 ,788
N of Valid Cases 103