HASIL PENELITIAN
T. Ada Kejadian
5.1. Hubungan Kadar Debu dengan Penyakit TBC
Dari hasil penelitian di lapangan dari 80 responden sebagian besar mengalami penyakit TBC, dimana kejadian TBC sebesar 45 KK (56,3%) dan yang tidak mengalami kejadian sebesar 35 KK (43,8%). Umumnya mereka didiagnosa TBC dari petugas kesehatan dengan hasil pemeriksaan laboratorium. Dari hasil pengukuran kadar debu pada 10 titik di kelurahan Pulau .Buluh Ditemukan 6 titik yang tidak memenuhi syarat, dengan konsentrasi yang paling tinggi sebesar 423 µg/m3, yang menderita sakit 8 KK, yang tidak sakit 3 KK. Konsentrasi yang paling rendah sebesar 246 µg/m3
Sedangkan yang memenuhi syarat ada 4 titik yang di bawah baku mutu, dengan konsentrasi yang paling tinggi sebesar 213 µg/m
yang menderita sakit 6 KK, yang tidak sakit 3 KK.
3, yang menderita sakit 3 KK, yang tidak sakit 4 KK. Konsentrasi yang paling rendah sebesar 159 µg/m3
Hasil penelitian menunjukan bahwa secara keseluruhan kadar debu berhubungan terhadap kejadian penyakit TBC. Dari sepuluh titik pemeriksaan kadar debu enam titik yang tidak memenuhi syarat ada sebanyak 36 KK (69,2%) kejadian yang menderita sakit 2 KK, yang tidak sakit 6 KK. Dapat peneliti analisis dari pengukuran debu tersebut, semakin tinggi konsentrasi debu maka semakin berisiko untuk terjadinya TBC, hal tersebut dapat dilihat dari kadar debu yang semakin tinggi maka kepala keluarga yang menderita TBC semakin tinggi pula.
TBC dari 52 KK . Dari empat titik yang tidak memenhi syarat ada 9 KK(32,1%) kejadian TBC dari 28 KK .. Hasil uji statistik menunjukkan ada hubungan antara kadar debu kejadian penyakit TBC dimana nilai (p =0.000<0.05) dengan RP =2,154 dan 95% CI ( 1,221- 3,800). Dari hasil di atas menunjukkan semakin besar kadar debu yang di hasilkan maka semakin banyak kejadian TBC pada tempat tersebut.
Jika dilihat dari data di atas bahwa yang mengalami kejadian TBC sebagian besar kepala keluarga yang pendapatan, pendidikan rendah dan usia yang di atas 46 tahun. Begitu juga dengan pengetahuan dan sikap KK tentang penyakit TBC yang kurang dalam pencegahan TBC terutama jika sudah mengalami kejadian. Menurut analisis peneliti tentunya hal tersebut dapat mempengaruhi kejadian TBC tinggi.
Kepala keluarga/anggota keluarga yang menderita TBC umumnya telah tinggal lama di Pulau Buluh yaitu di atas 2 tahun.
Sesuai dengan konsep teori simpul yaitu : Manajemen berbasis lingkungan untuk penanggulangan penyakit dimulai dari tingkat hulu menuju hilir. Perhatian utama pada faktor penyebab, media transmisi, dengan memperhatikan faktor penduduk sebagai objek yang terjangkit dan terpajan, sebelum melakukan penanganan pada manusia yang menderita penyakit (Achmadi, 2008).
Jika ditinjau dari penanggulangan TBC dengan konsep teori simpul, penyakit yang disebabkan oleh debu di udara pada hakikatnya dapat diuraikan dalam empat simpul sebagai berikut :
Simpul A merupakan simpul paling hulu, yaitu sumber penyakit dalam hal ini adalah debu yang diakibatkan oleh proses sandblasting oleh perusahan shipyard
di Pulau Buluh. Yang perlu di perhatikan yaitu
Dalam simpul A ini yang harus dilakukan manajemen pengendalian yaitu terhadap pihak manajemen perusahaan untuk dapat lebih memperhatikan tatacara operasional dibagian produksi yang berorientasi pada lingkungan yang sehat, khususnya lingkungan udara.
sumber debu yang berasal dari perusahaan yang menghasilkan kadar debu pada tempat kerja dapat dilakukan dengan menggunakan metode basah dan melakukan proteksi ke pemukiman masyarakat dengan menggunakan pembatas agar debu dapat tertahan pada pembatas tersebut.
Sesuai dengan pendapat yunus (1997) bahwa sumber debu diturunkan serendah mungkin dengan memperbaiki teknik pengolahan bahan, misalnya pemakaian air untuk mengurangi debu yang berterbangan.
Simpul B merupakan komponen lingkungan yang merupakan media transmisi penyakit tersebut dalam hal ini udara.
Media transmisi yang menyebabkan debu berterbangan ini yaitu udara, karena melalui udara ini debu terpapar melalui inhalasi/terhirup pada masyarakat yang tinggal di Pulau .Buluh. Manajemen yang perlu dilakukan dalam simpul B ini dengan merubah perilaku dan kebiasaan sehat masyarakat dengan tidak membiasakan keluar di malam hari karena aktivitas perusahaan pada malam hari, bila memang kebiasaan mencari nafkah pada malam hari sebagai profesi nelayan sebaiknya memakai masker, agar tidak terhirup debu yang dibawa melalui udara, karena udara sebagai faktor lingkungan fisik tidak dapat dikendalikan karena itu bersifat alamiah dan berkaitan dengan musim.
Hal tersebut di atas sesuai dengan pendapat Mangkunegoro (2003) yang menrutut pandapatnya semakin tinggi konsentrasi partikel debu dalam udara dan semakin lama paparan berlangsung, jumlah partikel yang mengendap di paru juga semakin banyak.
Simpul C adalah masyarakat yang berisiko terpapar suatu penyakit dalam hal ini adalah kepala keluarga yang pekerjaannya sebagai nelayan yang tinggal sekitar kawasan industri. Berdasarkan hasil pengamatan dari 80 KK yang mengalami gangguan kesehatan dengan gejala TBC sebanyak 45 KK. Untuk menentukan penyakit TBC pada nelayan maka dilakukan dengan pemeriksaan biomarker yaitu dilakukan pemeriksaan dahak pada KK dengan 3 kali perlakuan, artinya terdapat Mycobacterium tuberclosis pada dahak KK. Jadi pada simpul C ini perlu dilihat biomarker atau indikator pada organ tubuh, atau cairan tubuh seseorang dengan melakukan pemeriksaan baik melalui laboratorium maupun rontgen, yang berguna untuk penegakan diagnosa suatu penyakit positif atau tidak seseorang terpaparnya suatu penyakit. Menurut Depkes (2005) diagnosis TB Paru pada orang dewasa yakni dengan pemeriksaan dahak sacara mikroskopis. Hasil pemeriksaan dinyatakan positif apabila dua dari tiga spesimen SPS BTA hasilnya positif. Dari teori di atas hal tersebut salah satu penegakan diagnosis penyakit TBC dengan pemeriksaana biomarker KK yaitu dahak, sehingga bila dinyatakan positif dapat ditentukan tindakan selanjutnya
Simpul D atau simpul paling hilir yaitu nelayan dalam keadaan sakit atau terganggu kesehatannya akibat pajanan oleh komponen lingkungan dalam hal ini
udara yang mengandung debu. Dari hasil simpul C tadi setelah hasil pemeriksaan biomarker yaitu dahak yang positif ditambah dengan gejala-gejala klinis TBC maka dipastikan kepala keluarga/anggota keluarga menderita TBC. Jadi pengendalian yang dilakukan pada simpul D ini adalah dengan melakukan pengobatan terhadap kepala keluarga yang menderita yang penyakit TBC. Terapi suportif terdiri dari obat penekan batuk, bronkodilator dan oksigen. Jika terjadi infeksi, bisa diberikan antibiotik (Depkes RI, 2001).
Kemudian melakukan pencegahan terhadap anggota keluarga yang belum terkena penyakit sebelum tertular. Hal ini sejalan dengan petunjuk Depkes RI (2001) yaitu : Memelihara kebersihan diri, rumah dan lingkungan, makan makanan yang sehat dan bagi penderita TB Paru untuk tidak makan dengan piring dan gelas yang sama dengan anggota keluarga yang lain, cara hidup sehat dan teratur dan penderita tidak tidur sekamar dengan anggota keluarga lainnya, meningkatkan daya tahan tubuh dan menghindari kontak dengan sumber penularan penyakit, segera periksa bila timbul batuk lebih dari 3 minggu, vaksinasi B.C.G. pada anak-anak umur 0-14 tahun, Chemoprophylactic dengan I.N.H. pada keluarga penderita atau orang-orang yang
pernah kontak dengan penderita. Menghilangkan sumber penularan dengan mencari dan mengobati semua penderita dalam masyarakat, kesadaran berobat si penderita dan penyuluhan penderita tuberkulosis.