HASIL PE ELITIA
5.2 Hasil Analisis Bivariat
5.2.1 Hubungan Karakteristik responden dengan komplikasi persalinan a. Umur Responden
Hasil uji statistik menggunakan chi6square menunjukkan bahwa ada hubungan bermakna antara umur dengan kejadian komplikasi persalinan pada tingkat kepercayaan 95% dengan nilai ρ =0,000 artinya terdapat perbedaan proporsi terjadinya komplikasi persalinan antara responden umur <20 dan >35 tahun dengan yang berumur 20635 tahun.
Rochjati (2003) menyatakan bahwa ibu yang hamil kurang dari 20 tahun merupakan kehamilan yang sangat berisiko, baik terhadap dirinya maupun terhadap bayi yang dikandungnya karena pertumbuhan linear (tinggi badan) pada umumnya baru selesai pada usia 16618 tahun dan dilanjutkan dengan pematangan pertumbuhan rongga panggul beberapa tahun setelah pertumbuhan linear selesai yaitu pada usia 20 tahun, akibat terhadap dirinya (hamil pada usia kurang dari 20 tahun) meliputi
komplikasi persalinan dan gangguan penyelesaian pertumbuhan. Oleh sebab itu sangat dianjurkan apabila seorang perempuan belum berusia 20 tahun untuk menunda perkawinannya. Apabila sudah terlanjur menjadi pasangan suami istri yang masih dibawah usia 20 tahun, maka dianjurkan untuk menunda kehamilan, dengan menggunakan alat kontrasepsi (BKKBN, 2008).
Hamil pada umur lebih dari 35 tahun juga beresiko, menurut Detiana, P (2010), dengan bertambahnya usia mengakibatkan penurunan kualitas rongga dan otot6otot panggul. Hal ini membuat rongga panggul tidak mudah lagi menghadapi dan mengatasi komplikasi yang berat seperti perdarahan.
Selain hal tersebut ibu yang berumur di atas 35 tahun juga mudah terserang penyakit, organ kandungan sudah menua, ditambah jalan lahir juga sudah tambah kaku, sehingga ada kemungkinan lebih besar mendapatkan anak cacat, terjadi persalinan macet dan perdarahan (Rochyati, 2003). Penelitian ini sesuai dengan penelitian yang dilakukan Senewe, dkk (2001) yang menyatakan bahwa umur memiliki hubungan dengan komplikasi persalinan.
b. Paritas Responden
Paritas menunjukkan jumlah anak yang pernah dilahirkan oleh seorang wanita. Hasil uji statistik menggunakan menunjukkan bahwa ada hubungan bermakna antara paritas dengan terjadinya komplikasi persalinan pada tingkat kepecayaan 95% dengan nilai ρ=0,018 artinya ada perbedaan antara responden yang paritas 0 dan ≥4 cendrung mengalami komplikasi persalianan, sebaliknya paritas 163 cendrung tidak mengalami komplikasi persalinan. Proporsi responden paritas 0 dan
≥4 yang mengalami komplikasi persalinan sebanyak 72,2%, sementara paritas 163 sebanyak 37,5% yang mengalami komplikasi persalinan.
Paritas merupakan faktor penting dalam menentukan nasib ibu dan janin baik selama kehamilan maupun selama persalinan. Pada ibu dengan primipara (wanita yang melahirkan bayi hidup) pertama kali, karena pengalaman melahirkan belum pernah, maka kemungkinan terjadinya kelainan dan komplikasi cukup besar pada kekuatan his ( " ), jalan lahir ( ) dan kondisi janin ( ). Informasi
yang kurang tentang persalinan dapat pula mempengaruhi proses persalinan. Rochjati (2003) menyatakan bahwa semakin tinggi paritas maka semakin besar risiko ibu mengalami komplikasi persalinan. Ibu yang pernah melahirkan anak 4 kali atau lebih, maka kemungkinan akan banyak ditemui keadaan : 1) Kesehatan terganggu, anemia, kurang gizi. 2) Kekendoran pada dinding perut dan dinding rahim. 3) Tampak ibu dengan perut menggantung. Selain hal tersebut bahaya yang dapat terjadi yakni antara lain : 1) Kelainan letak, persalinan letak lintang. 2) Robekan rahim pada kelainan letak lintang. 3) Persalinan lama. 4) perdarahan pasca persalinan (Rochyati, 2003).
Temuan penelitian ini sejalan dengan penelitian Hidayah, N (2002) yang menyatakan bahwa terdapat hubungan paritas ibu dengan kejadian komplikasi persalinan (ρ:0,008). Bedasarkan penelitian Gordon yang dikutip dari Kusumawati (2006) menyimpulkan bahwa primipara dari semua pengalaman umur lebih beresiko terjadi komplikasi kehamilan dan persalinan, dan dari penelitian Muslihah (2001) diperoleh bahwa paritas lebih dari 4 memiliki besar risiko 3 kali untuk mengalami komplikasi persalinan,
c. Jarak Kelahiran
Hasil uji statistik menggunakan menunjukkan bahwa tidak ada hubungan yang bermakna antara jarak kelahiran dengan kejadian komplikasi persalinan pada tingkat 95% dengan nilai ρ= 0,146, artinya tidak ada perbedaan proporsi responden dengan jarak kelahiran 1 dan >5 tahun yang mengalami komplikasi persalinan dibanding dengan jarak kelahiran 265 tahun. Hasil tersebut tidak sama dengan Depkes yang dikutip dari Royyany (2010), yang menyatakan bahwa jarak kelahiran kurang dari dua tahun tergolong resiko tinggi karena dapat menimbulkan komplikasi pada persalinan.
Penelitian Kusumawati (2006) menyatakan bahwa jarak kelahiran/jarak kehamilan merupakan faktor yang mempengaruhi kejadian komplikasi persalinan (ρ =0,022). Namun pada penelitian ini didapat tidak ada hubungan disebabkan variabel jarak kelahiran dilihat dengan variabel yang lain dalam waktu yang bersamaan, dimana variabel lain lebih berperan seperti pemeriksaan kehamilan, pada jarak kehamilan 1 dan >5 tahun yang melakukan pemeriksaan kehamilan <4 sebanyak 64,3% sehingga faktor pemeriksaan kehamilan lebih berperan terhadap kejadian komplikasi persalinan.
d. Graviditas
Graviditas adalah jumlah keseluruhan kehamilan pada seorang pasien. Hasil uji statistik menggunakan menunjukkan bahwa tidak ada hubungan yang bermakna antara graviditas dengan kejadian komplikasi persalinan pada tingkat 95%
dengan nilai ρ= 0,089, berarti nilai ρ Value > 0,05 menunjukkan hubungan yang tidak bermakna antara graviditas dengan komplikasi persalinan
Hasil penelitian ini sama dengan penelitian yang dilakukan Retnowati (2005) yang menyatakan bahwa tidak terdapat hubungan antara graviditas dengan komplikasi persalinan. Hasil penelitian ini tidak menunjukkan hubungan disebabkan karena variabel graviditas dilihat dengan variabel yang lain dalam waktu yang bersamaan, dimana variabel lain lebih berperan seperti variabel umur, pada graviditas 1 dan ≥4 yang memiliki umur <20 dan >35 tahun sebanyak 62,5% sehingga faktor umur lebih berperan terhadap kejadian komplikasi persalinan.
e. Pendidikan
Hasil uji statistik menggunakan menunjukkan bahwa tidak ada hubungan yang bermakna antara pendidikan dengan kejadian komplikasi persalinan pada tingkat 95% dengan nilai p= 0,034, berarti nilaiρ Value < 0,05 menunjukkan hubungan yang bermakna antara pendidikan dengan komplikasi persalinan.
Menurut J.S Leshinki pendidikan dan sosial ekonomi diperhitungkan sebagai faktor resiko karena dapat mempengaruhi cara pemilihan tempat dan penolong persalinan sehingga dapat menimbulkan risiko saat persalinan atau saat hamil (Manuaba, 2006).
Pendidikan yang tinggi juga mempengaruhi usia pernikahan, dimana wanita dengan pendidikan yang tinggi cendrung untuk menikah pada usia yang lebih tua karena lama masa pendidikan yang diperolehnya.
5.2.2 Hubungan Pemeriksaan Kehamilan dengan Komplikasi Persalinan Hasil uji statistik menggunakan menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang bermakna antara pemeriksaan kehamilan dengan kejadian komplikasi persalinan pada tingkat 95% dengan nilai ρ= 0,001, berarti nilai ρ Value < 0,05 menunjukkan hubungan yang bermakna antara pemeriksaan kehamilan dengan komplikasi persalinan.
Hal ini mungkin berhubungan dengan pengetahuan dan informasi yang didapat ibu pada saat kunjungan antenatal karena ibu yang melakukan kunjungan antenatal <4 kali cendrung tidak mengetahui dirinya secara spesifik dan perkembangan janin yang dikandungnya pada setiap tahap. Selain itu ibu yang kunjungan antenatalnya <4 kali cenderung untuk mencari perawatan kehamilan berdasarkan pengalaman.
Hasil penelitian ini sesuai dengan penelitiian Sri Nurlaela, (2003) bahwa terdapat hubungan antara pemeriksaan kehamilan dengan kejadian komplikasi persalinan dimana pada pemeriksaan kehamilan <4 lebih cendrung mengalami komplikasi persalian sebesar 4,52 kali dari pada yang melakukan pemeriksaan ≥4, dan menurut penelitaian Sinurtina (2004) ibu hamil yang tidak melakukan pemeriksaan antenatal akan mengalami komplikasi pada waktu persalinan sebesar 6,04 kali daripada ibu hamil yang melakukan pemeriksaan antenatal.
5.3 Keterbatasan Peneliti