9. Yang dilakukan di tempat kost : -Bercerita
5.3. Hubungan Sikap dengan Seksual Pranikah Pada Remaja Putri di Tempat Kost
Hasil statistik uji pearson chi-square diperoleh bahwa nilai p=0,000 < α=0,05
menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang bermakan antara sikap dengan hubungan seksual pranikah sehingga Ho ditolak menunjukkan adanya korelasi positif yang signifikan. Artinya, bahwa sikap responden remaja putri sangat berhubungan dalam hubungan seksual pranikah. Notoatmodjo (2007), menyebutkan bahwa keyakinan akibat perilaku merupakan pengetahuan yang berasal dari diri sendiri yang positif maupun negitif. Dari hal tersebut akan menghasilkan sikap selanjutkan akan menumbuhkan minat sesorang untuk melakukan perilaku tertentu. Sikap secara nyata menunjukkan konotasi adanya kesesuaian reaksi terhadap stimulus tertentu dalam kehidupan sehari-hari merupakan reaksi yang bersifat emosional terhadap stimulus sosial. Newcomb, salah seorang ahli psikologis sosial, menyatakan bahwa sikap itu merupakan kesiapan atau kesediaan untuk bertindak, dan bukan merupakan pelaksana motif tertemtu. Sikap belum merupakan suatu tindakan atau aktivitas, akan tetapi, merupakan predisposisi tindakan suatu perilaku. Sikap itu merupakan reaksi tertutup, bukan merupakan reaksi terbuka atau tingkah laku yang terbuka. Sikap merupakan kesiapan untuk bereaksi terhadap objek di lingkungan tertentu sebagai suatu
penghayatan terhadap objek. Dan dari hasil penelitian yang dilakukian kepada remaja putri yang tinggal di kost Lingkungan V Padang Bulan memilki rata-rata memiliki sikap cukup dan melakukan hubungan seksual pranikah. Hal ini perlu diperhatikan karena bisa jadi suatu sikap menjadi dasar seseorang bertindak/bertingkah laku jika ada faktor pendukung atau kondisi yang memungkinkan.
Hasil penelitian ini tidak sejalan dengan penelitian Kitting dan Jawiah yang menunjukkan bahwa ada hubungan yang bermakna antara sikap dan perilaku seksual remaja. Dari penelitian Kitting (2004), didapatkan remaja yang setuju perempuan boleh melakukan hubungan seksual sebelum menikah lebih sedikit (6,25%) laki-laki dan 8,47% perempuan) dibandingkan dengan yang setuju laki-laki boleh melakukan hubungan seksual sebelum menikah (8,33% laki-laki dan 10,7% perempuan). Remaja yang setuju dengan pernyataan hubungan seksual boleh dilakukan karena menikah lebih besar (25,63% laki-laki dan 10,0% perempuan) dibandingkan yang setuju karena saling mencintai (20% laki-laki dan 8% perempuan).
5.4. Hubungan Keterpaparan Sumber Informasi dengan Seksual Pranikah Hasil statistik uji pearson chi-square diperoleh bahwa nilai p=0,000 < α=0,05
menunjukkan bahwa terdapat pengaruh yang bermakna antara keterpaparan sumber informasi dengan seksual pranikah sehingga Ho ditolak menunjukkan adanya kolerasi positif yang signifikan. Artinya, bahwa adanya keterpaparan sumber informasi berhubungan dalam melakukan hubungan seksual pranikah pada remaja putri.
Dari penelitian yang dilakukan pada remaja putri yang tinggal di kost dapat diketahui keterpaparan sumber informasi yang di peroleh dari media cetak, media elektronik, internet, VCD porno dan dari pacar disalah gunakan oleh remaja putri
yang tinggal di kost sehingga timbul rasa ingin tahu dan keinginan untuk melakukan kegiatan-kegiatan seksual di temapat kost bersama pasangannya yang tidak sada pengawasan dari ibu kost.
Menurut Mohammad 1998, media cetak dan elektronik merupakan media yang paling banyak di pakai sebagai penyebarluasan pornografi. Perkembangan hormonal pada remaja dipacu oleh paparan media massa yang mengandung rasa ingin tahu dan keinginan untuk bereksperimen dalam aktivitas seksual, sedangkan yang menentukan pengaruh tersebut bukanlah frekuensi tapi isi media itu sendiri.
Sebagaimana yang dijelaskan oleh Bungin tahun 2001, sifat media informasi mengandung nilai manfaat, tetapi selain itu sering tidak sengaja menjadi media informasi yang ampuh untuk menyebarkan nilai-nilai baru yang muncul di masyarakat. Media cetak dan elektronik mempunyai peran besar dalam memberikan informasi seksual. Remaja yang belum pernah mengetahui masalah seksualitas dengan lengkap akan mencoba dan meniru apa yang mereka lihat, dengan ataupun baca.
Selain sumber informasi yang diperoleh dari orang tua di lingkungan rumah, guru di lingkungan sekolah, teman sebaya di lingkungan kost, juga diperoleh informasi positif mengenai kesehatan reproduksi dan pendidikan seksual dari petugas kesehatan bidang Kesehatan Reproduksi Remaja (KRR) untuk membantu memberi informasi kepada remaja. Sejalan dengan penelitian Budisuari (2002), petugas kesehatan berperan dalam pemberian informasi kesehatan reproduksi seperti yang dilakukan di puskesmas daerah Semarang melakukan penyuluhan tentang kesehatan
reproduksi di sekolah yang berada di wilayah kerja puskesmas, dilakukan setiap 6 bulan sekali.
Dengan tingginya paparan media khususnya media elektronik seperti penggunaan internet yang semakin mudah diakses saat ini, banyak manfaat yang bisa diambil dari penggunaan internet tetapi tentunya penggunaan media ini tidak luput dari dampak yang bisa ditimbulkan, salah satunya yaitu kemudahan akses pornografi, yang tidak didampingi dengan pengetahuan kesehatan reproduksi dan seksualitas yang baik menjadikan remaja menjadi rentan terhadap dampak media tersebut.
5.5. Hubungan Lingkungan Kost dengan Seksual Pranikah
Hasil statistik uji pearson chi-square diperoleh bahwa nilai p=0,000< α=0,05
menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang bermakan antara lingkungan kost remaja putri dengan hubungan seksual pranikah. Sehingga Ho ditolak menunjukkan adanya korelasi positif yang signifikan. Artinya, bahwa remaja putri yang tinggal di lingkungan kost sangat berhubungan dalam melakukan hubungan seksual pranikah. Hal ini di karenakan bahwa di tempat kost yang ditempati tidak ada pengawasan dari ibu kost sehingga remaja putri bebas memasukan teman lawan jenisnya atau pasangannya kedalam kost. Di lingkungan tempat mereka tinggal pun tidak terlalu peduli apa yang dilakukan anak kost terutama oleh remaja putri, dan teman sebaya yang tinggal di tempat kost tersebut tidak memperdulikan satu sama lain, mereka mengatakan bahwa selagi tidak di ganggu dan tidak suka menggangu jadi bebas membawa pasangan ketempat kost. Hal ini juga disebabkan karena banyak remaja putri yang menjadikan kost-kostan sebagai tempat melakukan hubungan seksual karena ada kecenderungan pola hubungan sosial sangat renggang antara pemilik kost
dengan penghuni yang bersifat hubungan transaksional. Ini juga menyebabkan tempat kost bebas tanpa ada pengawasan, dan remaja mengatakan bahwa melakukan hubungan seksual di tempat kost tidak perlu mengeluarkan biaya.
Bagi remaja putri yang tinggal di lingkungan kost yang diawasi atau tinggal bersama-sama dengan pemilik kost/ibu kost kemungkinan kecil di tempat kost untuk dapat melakukan hubungan seks bebas, karena adanya peraturan-peraturan yang dibuat oleh ibu kost seperti jam berkunjung yang dibatas, tersedianya tempat untuk menerima tamu dan apabila berpergian tidak boleh terlalu malam (hanya sampai jam 21.00 WIB), dan diberi sanksi (dikeluarkan dan dipanggil orang tua) apabila melanggar peraturan. Tempat kost yang diawasi oleh ibu kost selalu mengontrol anak-anak kost pada waktu tertentu, dan anak-anak kost menganggap ibu kost tersebut pengganti orang tua.
6.1. Kesimpulan
Hasil penelitian pada 86 orang remaja putri yang tinggal di kost Lingkungan V Padang Bulan Medan Tahun 2013 dapat disimpulkan sebagai berikut :
1. Adanya hubungan secara signifikan antara pengetahuan terhadap hubungan seksual pranikah pada remaja putri yang tinggal di kos Lingkungan V Kelurahan Padang Bulan Kecamatan Medan Baru.
2. Adanya hubungan secara signifikan antara sikap terhadap hubungan seksual pranikah pada remaja putri yang tinggal di kos Lingkungan V Kelurahan Padang Bulan Kecamatan Medan Baru.
3. Adanya hubungan secara signifikan antara keterpaparan sumber informasi terhadap hubungan seksual pranikah pada remaja putri yang tinggal di kos Lingkungan V Kelurahan Padang Bulan Kecamatan Medan Baru.
4. Adanya hubungan secara signifikan antara lingkungan kost terhadap hubungan seksual pranikah pada remaja putri yang tinggal di kos Lingkungan V Kelurahan Padang Bulan Kecamatan Medan Baru
6.2. Saran
1. Disarankan kepada Kepala Lingkungan V Kelurahan Padang Bulan Kecamatan Medan Baru untuk lebih tegas memberikan informasi kepada pemilik kost/ibu kost tentang dampak dan akibat melakukan hubungan seksual pranikah pada remaja putri di lingkungan kost tersebut melalui pertemuan yang ada di lingkungan
tersebut, agar mempertimbangkan supaya membuat peraturan-peraturan di tempat kost untuk mencegah hal-hal yang tidak diinginkan.
2. Disarankan agar kepada pemilik kost terutama yang tidak ada pemilik kost dan yang tidak diawasi agar menyediakan ruang khusus untuk tamu agar yang datang tidak masuk kekamar untuk mencegah terjadinya seksual pranikah di tempat kost. 3. Disarankan kepada Lurah Padang Bulan Medan Kecamatan Medan Baru untuk
lebih menekankan peraturan yang harus dipatuhi setiap remaja putri melalui Kepala Lingkungan yang ada di Kelurahan Kecamatan Medan Baru termasuk Lingkungan V Kelurahan Padang Bulan atau pemantauan khusus seperti adanya razia dadakan yang dilakukan tanpa sepengetahuan Kepala Lingkungan pada remaja putri yang tinggal di kost yang tidak diawasi oleh ibu kost di Lingkungan V Kelurahan Padang Bulan Kecamatan Medan Baru.