4.4 Hubungan antara SPL dan Klorofil-a terhadap Hasil
4.4.2 Hubungan klorofil-a terhadap hasil tangkapan
Hubungan klorofil-a terhadap CPUE pada masing-masing DPI dapat dilihat di Lampiran 5. Dari Gambar 32 terlihat bahwa jumlah hasil tangkapan ikan teri berkisar antara 150-350 kg/setting. Jumlah hasil tangkapan cenderung tinggi, yaitu 240-350 kg/setting pada perairan yang kandungan klorofilnya 0,5-1,0 mg/m³. Sebaliknya hasil tangkapan cenderung rendah juga ditemukan pada perairan yang kandungan klorofilnya 0,8-1,0 mg/m³. Hal ini menunjukkan bahwa kandungan klorofil-a tidak berpengaruh terhadap hasil tangkapan teri.
60
Jumlah hasil tangkapan kembung perempuan berkisar antara 10-150 kg/setting, yang tertangkap pada perairan dengan konsentrasi klorofil-a berkisar dari 0,5-1,6 mg/m³. Hasil tangkapan terbesar 120-150 kg/setting tertangkap pada perairan dengan konsentrasi klorofil-a sebesar 0,7-0,9 mg/m³. Akan tetapi hasil tangkapan yang jumlahnya rendah justru tertangkap pada perairan dengan konsentrasi klorofil-a yang berkisar dari 0,5-1,6 m/m³. Hal ini berarti bahwa konsentrasi klorofil-a diduga tidak berpengaruh terhadap hasil tangkapan ikan kembung perempuan.
Jumlah hasil tangkapan ikan keke berkisar dari 150-500 kg/setting dan tertangkap pada perairan dengan kandungan klorofil-a berkisar dari 0,5-1,6 mg/m³. Hasil tangkapan cenderung tinggi sebesar 300-500 kg/setting tertangkap pada perairan dengan konsentrasi klorofil-a sebesar 0,5-1,6 mg/m³, sebaliknya hasil tangkapan cenderung rendah juga tertangkap pada kisaran tersebut di atas, terutama pada perairan dengan kandungan klorofil-a berkisar dari 0,6-1,2 mg/m³. Hal ini berarti bahwa konsentrasi klorofil-a tidak berpengaruh terhadap hasil tangkapan ikan keke.
Jumlah hasil tangkapan belado kuning berkisar antara 30-88 kg yang tertangkap pada perairan dengan konsentrasi klorofil-a berkisar antara 0,5-1,6 mg/m³. Hasil tangkapan terbesar 72-88 mg/m³ tertangkap pada perairan dengan kandungan klorofil-a berkisar dari 0,5-1,6 mg/m³, tetapi jumlah hasil tangkapan rendah juga tertangkap pada kisaran tersebut, yaitu pada perairan dengan konsentrasi klorofil-a berkisar antara 0,7-0,9 mg/m³. Berarti kandungan klorofil-a tidak berpengaruh terhadap hasil tangkapan.
Jumlah hasil tangkapan buncilak berkisar dari 48-84 kg/setting yang tertangkap pada perairan dengan konsentrasi klorofil-a berkisar antara 0,5-1,6 mg/m³. Hasil tangkapan terbesar 70-84 kg/setting tertangkap pada perairan dengan kandungan klorofil-a sebesar 0,5-1,0 mg/m³ sedangkan hasil tangkapan terendah ditemukan pada peraira dengan kandungan klorofil-a yang tinggi. Hal ini berarti bahwa kandungan klorofil-a tidak berpengaruh terhadap hasil tangkapan buncilak.
61 0 50 100 150 200 250 300 350 400 450 500 550 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 Akuisasi Data H a s il T a n g k a p a n (K g ) 0 0.2 0.4 0.6 0.8 1 1.2 1.4 1.6 1.8 C h lo ro fi l- a (m g /m ³)
keke teri layang kembung perempuan
parang-parang belado kuning buncilak Chlorofil-a
Gambar 32 Hubungan klorofil-a terhadap CPUE pada masing-masing DPI. Jumlah hasil tangkapan ikan layang tinggi pada kandungan klorofil-a berkisar antara 0,6-1,6 mg/m³, tetapi jumlah hasil tangkapan rendah juga ditemukan pada kisaran tersebut terutama pada kandungan klorofil-a sebesar 0,7- 1,2 mg/m³. Hal ini menunjukkan bahwa kandungan klorofil-a tidak berpengaruh terhadap jumlah hasil tangkapan ikan layang.
Jumlah hasil tangkapan ikan parang-parang berkisar dari 15-70 kg/setting yang tertangkap pada perairan dengan kandungan klorofil-a berkisar antara 0,5- 1,6 mg/m³. Hasil tangkapan terbesar 50-70 kg/setting tertangkap pada perairan dengan kandungan klorofil-a sebesar 0,6-1,0 mg/m³, tetapi pada kisaran tersebut juga ditemukan hasil tangkapan rendah, yaitu pada kisaran 0,5-1,6 mg/m³. Hal ini berarti bahwa kandungan klorofil-a tidak berpengaruh terhadap hasil tangkapan ikan parang-parang.
62
5 PEMBAHASAN
Hasil tangkapan terbanyak ditemukan di perairan Barus (DPI3), Sorkam
(DPI4) dan Murshala (DPI5-8), sedangkan di perairan Barus (DPI1-2), Sorkam
(DPI9-10) dan Murshala (DPI11) hasil tangkapan lebih sedikit. Hal ini
mengindikasikan bahwa penyebaran ikan bervariasi secara temporal dan spasial. Namun penyebaran ini tidak dipengaruhi oleh suhu dan kandungan klorofil-a. Untuk itu perlu dilakukan pengamatan terhadap parameter-parameter oseanografi yang lain seperti arus dan salinitas dengan menggunakan data time series yang lebih akurat.
Arus adalah faktor penting yang menyebabkan perubahan lokal pada lingkungan laut. Ikan diduga mempunyai respons secara langsung pada perubahan tersebut, baik disebabkan oleh arus maupun orientasi ikan terhadap arus. Laevastu dan Hayes (1981) menyatakan bahwa, arus berpengaruh terhadap penyebaran ikan sebagai berikut :
(1) Arus mengalihkan telur-telur dan anak-anak ikan pelagis dari spawning
ground (daerah pemijahan) ke nursery ground (daerah pembesaran) dan ke
feeding ground(tempat mencari makan).
(2) Migrasi ikan-ikan dewasa dapat disebabkan oleh arus sebagai alat orientasi ikan dan sebagai bentuk rute alami.
(3) Tingkah laku diurnal ikan dapat disebabkan oleh arus khususnya arus pasut. (4) Arus, khususnya secara langsung dapat mempengaruhi distribusi ikan-ikan
dan secara tidak langsung mempengaruhi pengelompokkan makanan atau faktor lain yang membatasinya (suhu).
Menurut pendapat Baskoro et al. (2004), suhu dapat mempengaruhi penyebaran ikan dikarenakan: (1) sebagai pengatur proses metabolisme (dapat mempengaruhi permintaan kebutuhan makanan dan tingkat penerimaan serta tingkat pertumbuhan), (2) sebagai pengatur aktifitas gerakan tubuh (kecepatan renang) dan (3) sebagai stimulus syaraf. Namun dalam penelitian ini suhu perairan tidak berpengaruh terhadap hasil tangkapan. Kondisi ini kemungkinan disebabkan karena variasi suhu yang terjadi masih dapat ditolerir oleh ikan yang ada di
63
perairan Tapanuli Tengah, sehingga ikan-ikan tersebut tidak perlu bermigrasi akibat perubahan suhu yang terjadi.
Berdasarkan Gambar 31 menunjukkan bahwa fluktuasi suhu permukaan laut tidak begitu signifikan dalam menentukan banyak atau tidaknya hasil tangkapan. Hal ini dapat dinyatakan bahwa pada dasarnya suhu permukaan laut dengan kelimpahan dan distribusi ikan tidak dapat dimutlakkan sebagai suatu hubungan linear, akan tetapi setiap ikan mempunyai batas toleransi atau kondisi optimum terhadap lingkungan yang ditempatinya. Laevastu dan Hayes (1981) mengatakan bahwa, perubahan suhu perairan menjadi di bawah suhu normal/suhu optimum menyebabkan penurunan aktifitas gerakan dan aktifitas makan serta menghambat berlangsungnya pemijahan.
Fluktuasi hasil tangkapan ikan pada suatu daerah penangkapan ditentukan oleh kondisi oseanografi optimum pada perairan baik suhu permukaan laut, klorofil-a maupun parameter lainnya. Oleh karena itu, setiap organisme perairan akan bergerak mengikuti sebaran kondisi yang sesuai, disamping faktor mencari makanan. Kondisi optimum suatu perairan juga dapat meningkatkan preferensi
untuk jenis ataupunschoolingikan yang selanjutnya akan mendorong peningkatan intensitas armada penangkapan karena dianggap merupakan daerah penangkapan ikan potensial.
Sebaran SPL secara temporal dari tanggal 7, 10, 12, 15, 17 dan 19 Juli 2007 bervariasi karena curah hujan, kecepatan angin dan radiasi matahari terhadap permukaan perairan berbeda-beda untuk setiap waktu penelitian di perairan Tapanuli Tengah. Curah hujan dan radiasi matahari yang diduga berperan terhadap suhu permukaan laut ternyata cukup berfluktuasi pada waktu penelitian. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada Lampiran 9.
Pada tanggal 12 dan 17 Juli 2007 terjadi intensitas penyinaran matahari sangat tinggi pada permukaan laut tenang yang menyebabkan penyerapan panas ke dalam air laut lebih tinggi sehingga suhu air naik. Menurut pendapat Sverdrup
et al. (1942), proses-proses seperti absorbsi radiasi dari matahari, aliran bahang
dari dalam bumi melalui dasar laut, perubahan bentuk energi kinetik menjadi energi bahang, aliran bahang dari atmosfer melalui udara ke laut dan kondensasi dari uap air yang disertai dengan terjadinya pelepasan bahang yang terjadi di laut
64
akan menaikkan suhu air laut. Selanjutnya proses-proses radiasi balik dari permukaan laut, aliran bahang (konveksi) ke atmosfer dan evaporasi dapat menurunkan suhu air laut pada lapisan permukaan perairan.
Pada tanggal 7, 15 dan 19 Juli 2007, suhu perairan di daerah pantai lebih rendah dibandingkan dengan perairan yang lebih jauh dari pantai. Diduga karena munculnya kabut atau awan di daerah pantai, seperti terlihat pada citra tanggal 19 Juli 2007 (Gambar 24). Dengan adanya awan tersebut maka sebagian energi radiasi matahari akan terserap, sehingga perairan yang berada di bawah awan menjadi lebih dingin.
Sebaran SPL untuk tanggal 7 Juli 2007 lebih bervariasi, massa air panas cenderung ke arah utara perairan Tapanuli Tengah sedangkan massa air dingin cenderung ke arah pantai dan arah selatan perairan Murshala. Hal ini berbeda dengan tanggal 9 Juli 2007, yaitu bervariasi, massa air panas cenderung ke arah utara perairan Tapanuli Tengah serta ke arah pantai Sibolga dan sebagian panas ke arah selatan perairan Murshala sedangkan massa air dingin cenderung ke arah pantai Murshala.
Sebaran SPL untuk tanggal 15 Juli 2007 lebih fluktuatif, massa air dingin cenderung ke arah pantai perairan Tapanuli Tengah sedangkan massa air panas terjadi di perairan Tapanuli Tengah. Berbeda halnya dengan sebaran SPL untuk tanggal 19 Juli 2007, yaitu bervariasi, massa air dingin cenderung lebih banyak ke arah pantai perairan Tapanuli Tengah dan Murshala sedangkan sebagian massa air panas cenderung ke arah laut perairan Tapanuli Tengah dan ke arah selatan perairan Murshala.
Pada tanggal 7, 9, 15 dan 19 Juli 2007 terjadi percampuran massa air hangat dan massa air dingin dari arah utara perairan Tapanuli Tengah sampai ke arah selatan perairan Mentawai sehingga berganti dengan massa air hangat yang mulai mendominasi hampir seluruh citra daerah penelitian. Hal ini diduga akibat pola pergerakan massa air (arus) dari arah selatan perairan Mentawai ke perairan Tapanuli Tengah membawa massa air yang bersuhu hangat. Arus merupakan pergerakan atau perpindahan suatu massa air dari suatu tempat ke tempat lain yang dapat disebabkan oleh tiupan angin atau karena adanya perbedaan densitas air laut atau karena gerakan bergelombang panjang oleh pasang surut. Karena laut
65
merupakan medium yang tak pernah berhenti bergerak baik di permukaan maupun di bawahnya menyebabkan terjadinya sirkulasi air baik berskala kecil maupun skala besar. Penampilan yang paling mudah terlihat dari arus ini adalah arus permukaan laut (Nontji 1993).
Konsentrasi klorofil-a pada tanggal 7 dan 12 Juli 2007 terkonsentrasi di daerah pantai disebabkan karena banyaknya daerah terumbu karang di sekitar perairan pantai Tapanuli Tengah. Terumbu karang dapat menahan plankton yang terbawa arus dari perairan lepas ke perairan pantai Tapanuli Tengah. Menurut LIPI (2007), perairan Tapanuli Tengah memiliki banyak sekali terumbu karang, yaitu berjumlah 4.422,829 ha dan mangrove memiliki luas 1.823,436 ha yang terdapat di daerah daratan Sibolga, Pulau Murshala dan sekitarnya sehingga menyebabkan para nelayan pukat ikan menangkap ikan di sekitar perairan Tapanuli Tengah.
Selanjutnya Parson et al. (1984) mengemukakan bahwa, tidak mudah untuk menjelaskan kondisi yang berlaku umum tentang penyebaran fitoplankton secara horizontal di laut. Disebabkan oleh perbedaan kondisi ekologi pada bagian-bagian laut yang berbeda, seperti di daerah pantai dan estuari, pesisir dan laut lepas. Ada kecenderungan penyebaran fitoplankton bersifat lebih mengelompok di daerah neritik dibanding dengan daerah oseanik (lepas pantai).
Sebaran konsentrasi klorofil-a secara spasial untuk tanggal 7 Juli 2007 cenderung bergerak dari arah perairan pantai Sokam menuju perairan laut Tapanuli Tengah sedangkan pada tanggal 19 Juli 2007, sebaran konsentrasi klorofil-a bergerak secara luas dari daratan ke perairan pantai Barus, Sorkam, Sibolga dan Murshala mengarah ke arah perairan laut Tapanuli Tengah (Gambar 25 dan 30).
Tingginya klorofil-a di perairan pantai Tapanuli Tengah untuk tanggal 7 dan 19 Juli 2007 dibandingkan dengan tanggal lainnya kemungkinan besar disebabkan adanya faktor fisik dan kimia. Menurut pendapat Arinardi et al. (1997), plankton di laut pada umumnya tidak tersebar secara merata melainkan hidup secara berkelompok. Sebagai akibat adanya proses fisik dan kimia di perairan pantai, berkelompoknya plankton lebih sering dijumpai perairan neritik (terutama perairan yang dipengaruhi estuari) daripada perairan oseanik. Produktivitas
66
perairan pantai ditentukan oleh beberapa faktor seperti arus pasang surut, morfogeografi dan proses fisik dari lepas pantai. Selain itu Sujoko et al (2002) mengatakan bahwa, arus permukaan laut dapat membawa fitoplankton dan nutrien lainnya mengikuti kecepatan dan pola pergerakan arus atau diakibatkan arus yang dibentuk oleh arus itu sendiri dengan arus lainnya di sekitarnya. Hal ini dapat ditetapkan bahwa densitas fitoplankton dipengaruhi oleh arus permukaan laut.
Rendahnya klorofil-a pada tanggal 10, 12, 15 dan 17 Juli 2007 diduga oleh pengaruh fisik dan biologi. Menurut pendapat Arinardi et al. (1997), penyebab terjadinya pengelompokan secara garis besar dibedakan atas pengaruh fisik dan biologi. Pengaruh fisik dapat disebabkan oleh turbulensi atauadveksi(pergerakan massa air yang besar mengandung plankton di dalamnya). Angin dapat pula menyebabkan terkumpulnya plankton pada tempat tertentu seperti sepanjang pantai di bawah angin (leeward side). Pengaruh biologi terjadi apabila terdapat perbedaan pertumbuhan fitoplankton dan kecepatan difusi untuk menjauhi kelompoknya serta adanya pemangsa dari fitoplankton.
Konsentrasi klorofil-a di lautan memiliki nilai yang berbeda secara vertikal, karena dipengaruhi oleh faktor-faktor oseanografi seperti suhu permukaan laut, angin, arus dan lain-lain. Fluktuasi nilai tersebut bisa diamati dengan melakukan pengukuran secara langsung atau dengan penggunaan teknologi inderaja. Konsentrasi klorofil-a di suatu perairan dapat memberikan rona laut yang khas sehingga melalui metode inderaja yang menggunakan wahana satelit, konsentrasi pigmen bisa diduga.
Penyebaran kandungan klorofil-a secara temporal di perairan Tapanuli Tengah umumnya bervariasi. Hal ini sesuai dengan pendapat Parsonset al. (1984) yang menyatakan bahwa, distribusi vertikal klorofil-a di laut pada umumnya berbeda menurut waktu, dan suatu saat ditemukan maksimum di dekat permukaan, namun di lain waktu mungkin lebih terkonsentrasi di bagian bawah kedalaman eufotik. Menurut pendapat Setiapermana et al. (1992) yang kenyataan didapatkan dari penelitiannya bahwa, di Lautan Hindia bagian timur dan Arinardi (1995) di Teluk Jakarta yang menunjukkan adanya perbedaan distribusi klorofil-a pada musim yang berbeda.
67
Selanjutnya Gabric dan Parslow (1989) mengemukakan bahwa, laju produktifitas primer di lingkungan perairan ditentukan oleh faktor fisik. Faktor fisik utama yang mengontrol produksi fitoplankton di perairan eutropik adalah percampuran vertikal, penetrasi cahaya di dalam kolom air dan laju tenggelam sel fitoplankton. Percampuran vertikal massa air sangat berperan dalam menyuburkan kolom perairan yaitu dengan mengangkat nutrien dari lapisan dalam ke lapisan permukaan. Dengan meningkatnya nutrien pada lapisan permukaan dan dibantu dengan penetrasi cahaya matahari yang cukup di dalam kolom perairan dapat meningkatkan laju produktifitas primer melalui aktifitas fotosintesis fitoplankton.
Fitoplankton sebagai tumbuhan yang mengandung pigmen klorofil-a mampu melaksanakan reaksi fotosintesis dimana air dan karbon dioksida dengan adanya sinar surya dan garam-garam hara dapat menghasilkan senyawa organik seperti karbohidrat. Karena kemampuan membentuk zat organik dari zat anorganik maka fitoplankton disebut sebagai sebagai produsen primer (primary producer).
Berdasarkan pendapat Nontji (2002) bahwa, perairan yang produktivitas primer fitoplanktonnya tinggi akan mempunyai sumberdaya hayati yang besar pula. Dalam rantai makanan (food web), fitoplankton akan dimakan oleh hewan herbivora yang merupakan produsen sekunder (secondary primer). Produsen sekunder ini umumnya berupa zooplankton yang kemudian dimangsa oleh hewan karnivora yang lebih besar sebagai produsen tersier (tertiary producer). Demikian seterusnya rentetan hewan karnivor memangsa karnivor lainnya hingga produsen tingkat keempat, kelima dan seterusnya. Jelaslah bahwa fitoplankton, sebagai produsen primer, merupakan pangkal rantai pakan dan merupakan fondamen yang mendukung kehidupan biota laut lainnya.
Akan tetapi, dalam penelitian ini bahwa klorofil-a tidak berpengaruh terhadap hasil tangkapan ikan pelagis kecil pemakan plankton seperti teri
(Stolephorus commersonii), layang (Decapterus spp), kembung perempuan
(Rastrelliger brachysoma) karena sebaran kandungan klorofil-a di perairan
Tapanuli Tengah adalah bervariasi sehingga ikan tersebut tidak dapat mentolerir perubahan kandungan klorofil-a secara tiba-tiba pada setiap hari, dan banyaknya pemangsa terutama bagi gerombolan ikan teri yang memiliki tujuan migrasi secara periodik sehingga menyebar secara tidak merata serta mengakibatkan hasil
68
tangkapan nelayan khususnya untuk ikan pelagis kecil lainnya seperti ikan kembung perempuan (Rastrelliger brachysoma), layang (Decapterusspp), belado kuning (Atule mate), buncilak (Alepes djeddaba) dan parang-parang (Chirocentrus
dorab) berkurang.
Reddy (1993) menyatakan bahwa, ikan adalah hewan berdarah dingin yang suhu tubuh selalu menyesuaikan dengan suhu sekitarnya. Selanjutnya dikatakan pula bahwa ikan mempunyai kemampuan untuk mengenali dan memilih kisaran suhu tertentu yang memberikan kesempatan untuk melakukan aktivitas secara maksimum dan pada akhirnya mempengaruhi kelimpahan dan distribusinya. Menurut Laevastu dan Hela (1970), pengaruh suhu terhadap ikan adalah dalam proses metabolisme, seperti pertumbuhan dan pengambilan makanan, aktivitas tubuh seperti kecepatan renang serta dalam rangsangan syaraf.
Hasil tangkapan didominasi oleh ikan pelagis padahal tujuan utama penangkapan dari pukat ikan umumnya adalah ikan demersal karena sewaktu melakukan operasi penangkapan ikan, alat tangkap pukat ikan yang diturunkan ke laut berada di permukaan laut seharusnya di dasar perairan. Cara pengoperasian alat tangkap pukat ikan ini sama halnya dengan trawl, yaitu dapat dioperasikan pada kedalaman perairan yang diinginkan seperti pada permukaan perairan
(surface trawl), pertengahan atau kolom perairan (mid-water trawl) dan dasar
perairan (bottom trawl). Menurut letak jaring dalam air selama operasi penangkapan dilakukan, Ayodhyoa (1979) membagi trawl atas 3 yaitu :
(1) Surface trawl(trawl yang dioperasikan pada permukaan perairan)
(2) Mid-water trawl (trawl yang dioperasikan pada pertengahan atau kolom
perairan)
(3) Bottom trawl(trawl yang dioperasikan pada dasar perairan).
Alat tangkap pukat ikan yang digunakan oleh nelayan Sibolga dan sekitarnya termasuk ke dalam kelompok trawl. Menurut Brandt (1984), trawl diklasifikasikan ke dalam alat tangkap dragged (ditarik). Grup ini terdiri dari semua jaring kantong atau jaring terbentang yang ditarik sepanjang kolom perairan atau dekat dasar perairan atau sesekali ke perairan pelagis untuk waktu yang terbatas. Selanjutnya dikatakan pula oleh King (1995) bahwa, trawl dan
69
pukat adalah alat tangkap yang ditarik sepanjang perairan untuk menjaring
invertebratedan ikan laut.
Kekurangan metode pengumpulan data ini adalah hasil tangkapan yang diperoleh sangat sedikit karena sewaktu melakukan penangkapan ikan, kapal lainnya sudah melakukan penangkapan pada posisi penangkapan yang sama sebelum kapal penelitian kita melakukan penangkapan di posisi daerah penangkapan tersebut dan kapal penelitian kita tidak boleh mengambil hasil tangkapan mereka di posisi yang sama, apabila terjadi bisa menimbulkan konflik. Untuk memperoleh data hasil tangkapan dari kapal penangkapan lainnya diperbolehkan tapi tidak semua hasil tangkapan akan diberitahu.
Pada Lampiran 11 terlihat bahwa nilai data SPLinsitu terhadap SPL exsitu
(lapangan) adalah tidak sama. Hal ini mungkin disebabkan oleh waktu perolehan data secara in-situ dengan ex-situ yang berbeda. Data ex-situ dideteksi oleh xatelit NOAA-AVHRR dalam sehari dua kali sedangkan data SPL in-situ yang diukur di lapangan bervariasi antara jam 04.00 sampai 15.00 Wib tergantung waktusetting
pukat ikan. Menurut Nontji (1987), perbedaan antara SPL in-situ dengan ex-situ dapat dipengaruhi oleh awan atau kabut, perbedaan penyinaran matahari (intensitas matahari) yang datang dihambat oleh awan maupun partikel-partikel lainnya yang ada di luar angkasa, arus, penaikan massa air dan pencairan es di kutub. Secara alami suhu permukaan laut merupakan lapisan hangat, karena mendapat sinar matahari pada siang hari. Akan tetapi karena pengaruh angin, pada lapisan teratas sampai kedalaman kira-kira 50-70 meter terjadi pengadukan hingga di lapisan tersebut terdapat suhu hangat (sekitar 28.00oC) yang homogen, sehingga disebut lapisan homogen. Lapisan permukaan umumnya memiliki ketebalan kedalaman sebelum mencapai lapisan bawah yang lebih dingin (Gambar 33).
Air mempunyai sifat spesifik bahang yang baik, artinya bertambah atau berkurangnya panas terjadi secara perlahan-lahan. Permukaan laut dapat mengabsorbsi sejumlah besar energi matahari yang masuk ke dalamnya. Ketika evaporasi, permukaan laut menjadi panas. Pada saat dipanaskan, air hangat tetap dipermukaan sedangkan air dingin tenggelam atau berada di lapisan bawah.
70
Energi yang sampai dipermukaan bumi bervariasi menurut musim, lintang dan topografi (Ingmanson dan Wallace 1973).
A. Lapisan Homogen Hangat, B. Lapisan termoklin, C. Lapisan Homogen Dingin Gambar 33 Sebaran vertikal suhu secara umum di Perairan Indonesia (Nontji 1987).
Suhu air laut di lapisan permukaan sangat tergantung pada jumlah bahang yang diterima dari sinar matahari. Menurut Hela dan Laevastu (1970), perubahan suhu permukaan laut selain disebabkan oleh jumlah bahang yang diterima dari matahari juga dipengaruhi oleh keadaan alam dan lingkungan sekitar di daerah perairan tersebut. Pengaruh arus, keadaan awan, penaikkan massa air dan pencairan es di kutub juga mempengaruhi suhu di permukaan laut.
Sverdrup et al. (1942) mengatakan bahwa, proses-proses seperti absorbsi radiasi dari matahari, aliran bahang dari dalam bumi melalui dasar laut, perubahan bentuk energi kinetik menjadi energi bahang, aliran bahang dari atmosfer melalui udara ke laut dan kondensasi dari uap air yang disertai dengan terjadinya pelepasan bahang yang terjadi di laut akan menaikkan suhu air laut. Selanjutnya proses-proses radiasi balik dari permukaan laut, aliran bahang (konveksi) ke atmosfer dan evaporasi dapat menurunkan suhu air laut pada lapisan permukaan perairan. K ed al am an (E ) Suhu (ºC)
71
6 KESIMPULAN DAN SARAN
6.1 Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan yang diperoleh dari penelitian ini dapat diambil beberapa kesimpulan sebagai berikut :
(1) Sebaran SPL di perairan Tapanuli Tengah bervariasi yang berkisar antara 25°C hingga 31°C dengan kisaran SPL dominan 25°C hingga 30°C. Kandungan klorofil-a bervariasi antara 0,5-2,0 mg/m³ dengan nilai dominan 0,5-0,9 mg/m³.
(2) Jumlah hasil tangkapan selama penelitian sebanyak 31.076 kg terdiri dari 15 spesies, yang didominasi oleh spesies ikan keke (Leiognathus decorus), teri
(Stolephorus commersonii), belado kuning (Atule mate), layang (Decapterus
spp), kembung perempuan (Rastrelliger brachysoma), buncilak (Alepes
djeddaba) dan parang-parang (Chirocentrus dorab).
(3) Sebaran SPL dan klorofil-a tidak berpengaruh terhadap hasil tangkapan.