BAB I PENDAHULUAN
2.1. Tinjauan Teori dan Konsep 8
2.2.3. Hubungan Kredit dengan Pendapatan Petani 18
Sumber modal usaha tani padi terdiri atas modal sendiri dan modal dari luar (kredit). Kredit dapat diartikan sebagai suatu fasilitas keuangan yang memungkinkan seseorang atau badan usaha untuk meminjam uang untuk membeli produk, yang dalam hal ini input-input pertanian, dan membayarnya kembali dalam jangka waktu yang ditentukan (Ramadhani, 2010). Keberadaan kredit dapat digunakan sebagai tambahan untuk menutupi kekurangan dalam hal permodalan petani, oleh karena itu dengan adanya kredit, maka petani menjadi lebih potensial untuk melakukan peningkatan penggunaan input, baik kuantitas atau kadarnya, maupun kualitas atau mutunya.
Beberapa hasil penelitian menunjukkan bahwa ketersediaan kredit memberi kesempatan bagi petani untuk membeli input atau modal lainnya, yang pada akhirnya akan meningkatkan produksi dan pendapatan (Adebayo et al. 2008;
Nwaru et al. 2011; Rosmiati 2012; Saleem 2011; Yehuala 2008; Saboor et al. 2009, dalam Iski, dkk., 2016). Sementara itu, Asian Developmet Bank (dalam Ashari &
Friyatno, 2006) menyebutkan bahwa dukungan iklim usaha, terutama terkait dengan ketersediaan fasilitas keuangan (berupa kredit perbankan, koperasi) dapat memberikan kesempatan bagi petani untuk (1) membeli input produksi, (2) membeli alat dan mesin pertanian, (3) melaksanakan pengolahan pascapanen untuk meningkatkan nilai tambah produk pertanian, dan (4) melaksanakan diversifikasi usaha antara pertanian dan nonpertanian.
Namun kredit tidak hanya diperuntukkan untuk melakukan pembelian input produksi, tapi juga untuk konsumsi rumah tangga. Beberapa hasil penelitian menyatakan bahwa rumah tangga petani tidak hanya mengalokasikan kredit untuk kegiatan produksi tetapi juga untuk konsumsi keluarga. Dengan demikian,
peningkatan pendapatan usahatani akan bergantung kepada seberapa besar kredit yang dialokasikan untuk pembelian input, dan besar peningkatan produktivitas dan produksi akibat penambahan input usahatani.
2.3. Tinjauan Empirik
Menurut hasil penelitian Sinulingga, dkk. (2013), diketahui bahwa ada perbedaan pendapatan petani setelah mendapatkan bantuan dengan sebelum mendapatkan bantuan (berupa pupuk, benih, dan pestisida) dari PT. Perkebunan Nusantara III, yaitu perubahan peningkatan secara signifikan terhadap pendapatan petani di kelompok tani “Mekar Wangi” Deli Serdang. Produktivitas padi di daerah penelitian juga meningkat, karena bantuan yang diberikan yaitu benih, pupuk, dan pestisida memiliki kualitas yang tinggi sehingga mempercepat pertumbuhan dan meningkatkan produksi. Selain peningkatan produktivitas, biaya produksi juga berkurang karena sebagian benih, pupuk, dan pestisida sudah diberikan. Metode analisis yang digunakan untuk mengetahui perbedaan pendapatan petani setelah mendapat bantuan dengan sebelum mendapat bantuan adalah dengan menggunakan uji statistik t-hitung sampel berpasangan.
Menurut hasil penelitian Inten (2017), pendapatan petani berbanding searah dengan peran penyuluh. Semakin meningkat peran penyuluh dalam mendampingi petani maka semakin meningkat juga pendapatan petani untuk kasus di kecamatan Tanjung Palas, Kalimantan Utara. Pengaruh peran penyuluh terhadap tingkat pendapatan petani adalah sebesar 69,6% sisanya sebesar 30,4%
dipengaruhi faktor lain diluar model. Peran penyuluh ini dapat dilihat dari sejauh mana penyuluh memberikan bimbingan, mengevalusi kegiatan petani selama budidaya tanaman padi, memfasilitasi usahatani serta kemampuan penyuluh untuk berdiskusi sehingga petani bersedia untuk berkonsultasi mengenai
20
permasalahan yang dihadapi selama berusaha tani. Penelitian tersebut dilakukan dengan menggunakan model analisis regresi linier sederhana.
Menurut penelitian Widodo (2013), variabel modal dan kredit di kecamatan Turi, kabupaten Sleman berpengaruh terhadap penghasilan petani. Apabila modal mengalami peningkatan satu satuan, maka akan menyebabkan peningkatan penghasilan sebesar 0,054 dengan asumsi variabel independen lainnya konstan.
Apabila kredit mengalami peningkatan satu satuan maka akan menyebabkan peningkatan penghasilan sebesar 0,748 dengan asumsi variabel independen lainnya konstan. Sebesar 78,5 % pendapatan dapat dijelaskan oleh variabel modal dan kredit, sedangkan sisanya dijelaskan oleh faktor lain di luar model. Metode analisis yang digunakan adalah Regresi Linier Berganda.
2.4. Kerangka Pemikiran
Petani pangan di Indonesia umumnya selalu diidentikkan dengan kemiskinan, tidak terkecuali dengan petani pangan yang ada di Sulawesi Selatan, yang notabene daerahnya disebut-sebut sebagai salah satu lumbung pangan nasional, dan struktur PDRB nya banyak disumbang oleh sektor pertanian pangan.
Di Sulawesi Selatan sendiri, mayoritas penduduk miskin lebih banyak diisi oleh petani, dan jumlah kemiskinan tersebut lebih besar dibanding sektor lain, sementara itu dari jumlah petani miskin tersebut, petani panganlah yang mendominasi.
Masalah kemiskinan tersebut perlu diselesaikan, ini merupakan tanggung jawab pemerintah, sesuai dengan amanat yang tertuang dalam pembukaan UUD 1945, bahwa pemerintah berkewajiban untuk melindungi segenap bangsa Indonesia, dan turut ikut serta dalam upaya meningkatkan kesejahteraan umum, tidak terkecuali kesejahteraan para petani pangan. Menyadari hal tersebut,
pemerintah sejak tahun 2013 lalu, telah menerbitkan undang-undang tentang perlindungan dan pemberdayaan petani.
Adapun beberapa kebijakan yang diprogramkan pemerintah guna menyelesaikan masalah kemiskinan tersebut (sesuai dengan UU nomor 19 tahun 2013) adalah 1) menyediakan sarana produksi yang terjangkau secara ekonomi oleh petani, yang diwujudkan melalui pemberian subsidi harga terhadap sarana produksi dan pembagian sarana produksi; 2) memberikan pelatihan, pendampingan, serta kemudahan dalam mengakses informasi dan teknologi, yang dilakukan dengan cara mendistribusikannya melalui kelembagaan penyuluhan; 3) membantu memfasilitasi kebutuhan pembiayaan petani dengan cara mempermudah akses terhadap sarana perkreditan.
Penelitian ini kemudian ditujukan untuk mengetahui pengaruh dari beberapa kebijakan yang keluarkan pemerintah tersebut, seperti: subsidi pemerintah (dalam bentuk pembagian input), penyuluhan, dan kredit terhadap peningkatan kesejahteraan petani pangan (padi), yang diukur melalui besar pendapatan yang diterima petani dari hasil penjualan gabah. Kerangka penelitian ini secara konseptual dapat dilihat pada Gambar 2.1.berikut:
Gambar 2.1. Kerangka Pikir Subsidi
Pemerintah
Pendapatan Petani Padi Penyuluhan
Kredit
22
2.5. Hipotesis Penelitian
Berdasarkan permasalahan dan kajian teoritis yang ada, maka dapat dirumuskan hipotesis sebagai berikut :
1. Subsidi pemerintah berpengaruh positif terhadap pendapatan petani padi.
2. Penyuluhan berpengaruh positif terhadap pendapatan petani padi.
3. Kredit berpengaruh positif terhadap pendapatan petani padi.
23 BAB III
METODE PENELITIAN
3.1. Rancangan Penelitian
Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif untuk mengetahui pengaruh variabel Subsidi Pemerintah, Penyuluhan, dan Kredit terhadap Pendapatan Petani Padi. Data dalam penelitian ini dikumpulkan dengan melakukan survei, dan menggunakan kuesioner dan wawancara sebagai media, yang kemudian hasilnya diolah menggunakan analisis regresi berganda.
Penelitian ini dimulai dari tanggal 06 April 2018 sampai tanggal 06 Mei 2018 3.2. Populasi dan Sampel
Dalam penelitian ini, yang menjadi populasi adalah petani di Kelurahan Leang-leang dan petani di desa Mangeloreng kecamatan Bantimurung kabupaten Maros. Adapun sampelnya adalah perwakilan dari petani tersebut, yang berjumlah 100 orang. Pengambilan sampel didasarkan pada asumsi Hair et al. (2010:102) tentang pengambilan sampel yaitu : “The researcher generally would not factor analyze a sample of fewer than 50 observations and preferably the sample size should be 100 or larger”. Teknik pengambilan sampel yang digunakan dalam penelitian yaitu random sampling, atau dipilih secara acak tanpa memperhatikan strata yang ada dalam populasi itu.
3.3. Jenis dan Sumber Data
Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data primer, yang didapatkan dengan cara melakukan wawancara, dan membagikan kuesioner kepada responden. Adapun pengumpulan data sekunder berupa data-data yang dipublikasikan secara resmi, dari buku-buku, artikel-artikel, dan jurnal-jurnal yang
24
mempunyai relevansi dengan masalah yang diangkat dalam penelitian ini juga dilakukan guna membantu menjelaskan terkait permasalahan dalam penelitian ini.
3.4. Teknik Pengumpulan Data
3.4.1. Penelitian Lapangan (Field Research)
Pengambilan data penelitian dilakukan langsung dengan mendatangi lokasi penelitian dan melakukan kegiatan pengumpulan data dengan cara:
a. Kuesioner
Kuesioner yang digunakan adalah kuesioner terbuka. Maksudnya dalam kuesioner ini berisi pertanyaan-pertanyaan yang masih memberikan kesempatan seluas-luasnya bagi responden untuk memberikan jawaban atau tanggapannya dalam kuesioner.
b. Wawancara
Peneliti juga melakukan pengumpulan data dengan cara tanya jawab sepihak yang dikerjakan secara sistematik dan berlandaskan tujuan penelitian. Wawancara yang dilakukan ini adalah wawancara semiterstruktur, artinya pertanyaan-pertanyaan yang disediakan sudah dipersiapkan sebelumnya, namun hanya berupa garis besar persoalan.
Wawancara ini berguna sebagai pertanyaan lebih lanjut untuk mengklarifikasi beberapa informasi yang telah didapatkan sebelumnya, dan juga untuk mengeksplorasi informasi lebih jauh yang kemungkinan tidak tertangkap dalam kuesioner.
3.4.2. Studi Kepustakaan (Library Research)
Studi kepustakaan (library research) yaitu suatu bentuk penelitian yang menggunakan sarana kepustakaan dengan menelaah bahasan teoretis dari berbagai buku-buku, artikel-artikel, dan karya ilmiah yang berhubungan dengan
tema penulisan. Hal ini dilakukan untuk mendapatkan tambahan pengetahuan mengenai masalah yang sedang dibahas.
3.5. Metode Analisis Data
Alat analisis yang digunakan untuk mengetahui besar pengaruh Subsidi Pemerintah, Penyuluhan, dan Kredit, terhadap Pendapatan petani di kelurahan Leang-leang kecamatan Bantimurung kabupaten Maros, menggunakan Regresi Linear Berganda, yang secara matematis dapat dinyatakan dalam hubungan fungsional sebagai berikut:
Y = f(D1, X2, X3) (3.1)
Selanjutnya secara eksplisit dapat dinyatakan dalam persamaan sebagai berikut:
Y = β0 + β1D1 + β2X2 + β3X3 + µ (3.2) Dimana :
Y = Pendapatan petani (Rupiah) D1 = Subsidi Pemerintah (dummy)
X2 = Penyuluhan (berapa kali setahun terakhir) X3 = Kredit (Rupiah)
β0 = Konstanta
βi = Parameter estimasi µ = error term
3.6. Uji Hipotesis
Uji hipotesis menggunakan taraf signifikansi 5 persen; jika P-Value < 5 persen maka hipotesis awal ditolak, tetapi jika P-Value > 5 persen maka hipotesis awal diterima. Hipotesis dalam penelitian ini diuji menggunakan uji t, sedangkan untuk menguji model regresi digunakan uji F.
26
3.6.1. Uji Statistik t
Uji statistik t merupakan suatu pengujian secara parsial yang bertujuan untuk mengetahui apakah masing-masing variabel independen berpengaruh nyata terhadap variabel dependen, dengan menganggap variabel independen lainnya konstan. Kriteria pengujianya adalah apabila t hitung > t tabel maka dapat dikatakan variabel independen mempunyai pengaruh signifikan terhadap variabel dependen dan apabila sebaliknya, jika t hitung < t tabel, maka dapat dikatakan tidak signifikan atau variabel independen tidak memiliki pengaruh terhadap variabel dependen.
3.6.2. Uji Statistik F
Uji F digunakan untuk mengetahui apakah model regresi yang digunakan valid atau tidak. Model tersebut dikatakan valid apabila Fhitung > F tabel, dan sebaliknya apabila Fhitung < F tabel maka model tersebut tidak valid. Lebih mudahnya, dapat dengan melihat probabilitas dan membandingkannya dengan taraf kesalahan (α) yang digunakan yaitu 5 persen atau 0,05. Apabila probabilitasnya < taraf kesalahan (α), maka dapat dikatakan bahwa model regresi yang digunakan valid.
3.7. Variabel Penelitian dan Definisi Operasional 3.7.1. Variabel Penelitian
Dalam penelitian ini terdapat dua macam variabel yang digunakan, yaitu : 1. Variabel Independen
Variabel independen merupakan variabel yang mempengaruhi atau menjadi sebab perubahan variabel dependen, baik berpengaruh positif maupun berpengaruh negatif. Variabel independen dalam penelitian ini adalah Subsidi Pemerintah (D1), Penyuluhan (X2), Kredit (X3).
2. Variabel Dependen
Variabel dependen adalah variabel yang menjadi pusat perhatian utama peneliti. Dalam penelitian ini yang menjadi variabel dependen adalah Pendapatan petani padi (Y).
3.7.2. Definisi Operasional
1. Subsidi Pemerintah (in kind subsidy) adalah bantuan berupa pembagian barang input, yang diperoleh untuk menjalankan usahatani pada musim tanam-panen terakhir (Januari – Maret 2018). Yang diukur dengan cara dummy : mendapat bantuan (1) dan tidak mendapatkan bantuan (0).
2. Penyuluhan adalah intensitas keikutseraan petani dalam kegiatan pendidikan non-formal yang diselenggarakan oleh pihak penyuluh pertanian. Diukur secara kuantitatif berapa kali mengikuti penyuluhan setahun terakhir (Maret 2017 – Maret 2018).
3. Kredit adalah besar jumlah uang yang dipinjam dari lembaga keuangan baik milik pemerintah maupun swasta; atau dari perorangan yang digunakan untuk membiayai usahatani pada musim tanam-panen terakhir (Januari – Maret 2018), dan diukur dalam satuan Rupiah.
4. Pendapatan adalah sejumlah uang yang diterima petani dari hasil penjualan gabah yang telah dikurangi biaya-biaya untuk menjalankan usahatani selama periode musim tanam-panen terakhir (Januari – Maret 2018), dan diukur dalam satuan uang Rupiah.
28 BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1. Gambaran Umum Daerah Penelitian
Kabupaten Maros merupakan salah satu wilayah kabupaten yang memiliki pengusahaan pertanian tanaman pangan yang sangat strategis di provinsi Sulawesi selatan, khususnya pada komoditas padi yang merupakan andalan kabupaten tersebut. Berdasarkan data pemerintah kabupaten Maros, diketahui bahwa luas kawasan budidaya pertanian di Kabupaten Maros yakni sekitar 58 ribu hektar, dengan kawasan yang ditetapkan potensial bagi pengembangan lahan tanaman padi atau persawahan sekitar 28,7 ribu hektar (Nawasis, 2012). Adapun pada tahun 2016, terhitung luas areal panen sawah di kabupaten Maros adalah 60.408 hektar, dengan nilai produksi yakni 448,9 ribu ton padi (Badan Pusat Statistik, 2017b), jumlah tersebut cukup besar kontribusinya bagi produksi padi provinsi Sulawesi Selatan secara keseluruhan.
Sektor pertanian merupakan salah satu sektor unggulan dan potensial kabupaten Maros (Pusat Studi Potensi Daerah Dan Pemberdayaan Masyarakat, 2012). Apabila dilihat dari segi kotribusi sektor usaha terhadap PDRB, sumbangsih sektor Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan pada tahun 2016 yakni sekitar 15,25 persen, dengan tanaman pangan sebagai komoditi utama. Nilai sumbangsih sektor pertanian menempati urutan ketiga setelah industri transportasi dan pergudangan; dan industri pengolahan, yang masing-masing berkontribusi sebanyak 41,79 persen dan 18,14, dengan jasa angkutan udara dan industri pengolahan bahan galian non-logam (salah satunya industri semen) sebagai penyumbang terbesar (Badan Pusat Statistik, 2017d). Hal tersebut berarti, selain sektor pertanian, keberadaan Bandara Sultan Hasanuddin dan PT. Semen
Bosowa juga memberi banyak kontibusi terhadap pembentukan PDRB kabupaten Maros.
Apabila ditinjau dari segi tingkat penyerapan tenaga kerja, sektor Pertanian, Kehutanan, Perburuan dan Perikanan setidaknya menyerap 31,9 persen tenaga kerja, lebih besar dibanding sektor lain (Badan Pusat Statistik, 2017b). Berdasarkan data pada Tabel 4.1., dapat dilihat bahwa kontribusi masing-masing sektor dalam penciptaan lapangan kerja tidak merata.
Tabel 4.1. Perbandingan Distribusi PDRB dan Lapangan Pekerjaan Per Sektor
Lapangan Pekerjaan Utama % PDRB
2015
% Pekerja 2015 Pertanian, kehutanan, perburuan, dan perikanan 15,86 31,89
Industri pengolahan 19,82 12,90
Perdagangan besar, eceran, rumah makan, dan
hotel 3,09 21,74
Jasa kemasyarakatan, sosial, dan perorangan 5,90 17,51
Lainnya 55,06 15,96
Total 100 100
Sumber: BPS, 2017b, 2017d.
Sektor Pertanian, Kehutanan, Perburuan dan Perikanan menyerap tenaga kerja sebanyak paling banyak namun hanya berkontribusi terhadap PDRB sebanyak 15,86 persen; begitu pun dengan sektor Perdagangan besar, Eceran, Rumah makan, dan Hotel; serta sektor Jasa kemasyarakatan, sosial dan perorangan memiliki tingkat penyerapan tenaga kerja yang tinggi, namun berkontribusi lebih kecil terhadap PDRB kabupaten Maros. Sedangkan industri pengolahan menyerap tenaga kerja 12,9 persen, namun kontribusinya lebih besar terhadap PDRB, yakni sebesar 19,8 persen (Badan Pusat Statistik, 2017b, 2017d).
Hal ini berarti terdapat ketimpangan produktivitas antara sektor yang satu dengan yang lain. Sektor industri pengolahan merupakan sektor yang paling produktif,
30
karena jumah tenaga kerja sedikit, namun kontribusi ekonominya besar (Pusat Studi Potensi Daerah Dan Pemberdayaan Masyarakat, 2012).
Daerah dengan luas panen padi dan jumlah produksi yang paling besar di kabupaten Maros adalah kecamatan Bantimurung. Pada tahun 2016, luas panen padi kecamatan Bantimurung 11.178 hektar atau 18,5 persen dari luas panen total kabupaten Maros, lebih luas dibanding kecamatan lain. Adapun jumlah produksi padi pada tahun 2016 yakni 100,2 ribu ton padi atau sekitar 22,3 persen dari jumlah produksi total kabupaten Maros, dengan produktivitas yakni 89,6 kuintal per hektar, lebih besar dari produktivitas rata-rata kabupaten Maros yang hanya 72,2 kuintal per hektar (Badan Pusat Statistik, 2017b). Hal tersebut membuktikan bahwa kecamatan Bantimurung merupakan daerah dengan potensi besar dalam menunjang produksi padi kabupaten Maros pada khususnya, dan provinsi Sulawesi Selatan pada umumnya.
Secara spesifik, daerah dengan luas lahan sawah yang paling besar di kecamatan Bantimurung adalah desa Mangeloreng dan kelurahan Leang-leang, yakni masing-masing 616,8 hektar dan 532 hektar (Badan Pusat Statistik, 2017c).
Desa Mangeloreng dan kelurahan Leang-leang dapat disebut sebagai kawasan pertanian, sebab jika dilihat dari struktur mata pencaharian masyarakatnya, penduduk yang pekerjaannya sebagai petani cukup mendominasi; dan jika dilihat dari segi lahan menurut penggunaannya, lahan yang peruntukannya sebagai sawah di daerah tersebut cukup luas.
Tabel 4.2. Jumlah Kepala Keluarga dan Petani di Desa Mangeloreng dan Kelurahan Leang-Leang, tahun 2017
Desa / Kelurahan Jumlah KK Petani
Mangeloreng 722 429
Leang-leang 701 426
Sumber: Profil desa Mangeloreng dan kelurahan Leang-leang, 2017.
Desa Mangeloreng, dominan penduduknya bekerja sebagai petani, jumlah petani di desa Mangeloreng sebanyak 429 jiwa atau 59,41 persen dari jumlah kepala keluarganya. Adapun jumlah petani di kelurahan Leang-leang yakni sekitar 60,77 persen dari jumlah kepala keluarga di daerah tersebut, atau sekitar 426 jiwa.
Hal itu berarti, kedua daerah tersebut banyak penduduk yang perekonomian rumah tangganya bergantung pada sektor pertanian, khususnya pada usaha padi.
Tabel 4.3. Luas Lahan Menurut Penggunaannya di Desa Mangeloreng dan Kelurahan Leang-Leang, tahun 2017
Luas Lahan menurut
Penggunaannya Mangeloreng Leang-Leang
Pemukiman dan Bangunan 52,31 ha 50 ha
Sawah 648,81 ha 500 ha
Ladang / Tegalan 273,17 ha -
Perkebunan - 35 ha
Hutan 150,11 ha 1.015 ha
Sumber: Profil desa Mangeloreng dan kelurahan Leang-leang, 2017.
Jika melihat luas lahan menurut jenis atau peruntukannya, maka diketahui pada desa Mangeloreng, areal yang dijadikan persawahan mendominasi, yakni 648,81 hektar. Adapun pada kelurahan Leang-leang, luas areal persawahannya adalah sekitar 500 hektar. Luas hutan lindung di kelurahan Leang-leang lebih dominan, itu terjadi karena pada daerah tersebut sebagian lahannya adalah termasuk kawasan Taman Nasional Bantimurung-Bulusaraung, yang merupakan areal konservasi yang peruntukannya tidak dapat diubah untuk hal lain.
4.2. Karakteristik Responden
Berdasarkan data yang telah terkumpul, diketahui bahwa rata-rata umur responden pada saat dilakukan penelitian adalah 50 tahun, dan lama bertani responden tersebut yakni rata-rata sudah 30 tahun. Profesi petani telah digeluti sejak muda, bahkan ada yang dari kanak-kanak. Secara spesifik umur rata-rata responden mulai bertani yakni 19 tahun, adapun jika meninjau distribusi umur
32
responden diketahui bahwa sekitar 63,27 persen responden yang dari rentang umur 9 sampai 19 tahun sudah mulai bertani.
Tabel 4.4. Luas Lahan Sawah Yang Diusahakan Responden
Luas Lahan Jumlah Responden
Kurang dari 1 Hektar 45
1 Hektar 19
Lebih dari 1 Hektar 36
Sumber: Data Primer, 2018.
Berdasarkan Tabel 4.4. dapat dilihat distribusi luas lahan yang diusahakan oleh responden. Jumlah reponden yang memiliki luas lahan kurang dari 1 hektar lebih banyak, yakni sekitar 45 persen; responden yang memiki lahan 1 hektar 19 persen; dan yang lahannya lebih dari 1 hektar sekitar 36 persen. Secara spesifik, diketahui bahwa luas lahan sawah responden bervariasi dari yang terkecil yakni 15 are dan paling luas 14 hektar. Jumlah petani gurem atau petani yang memiliki lahan dengan luas kurang dari 0,5 hektar adalah 19 persen.
Tabel 4.5. Jenis Lahan Sawah Yang Diusahakan Responden
Jenis Lahan Jumlah Responden
Irigasi 36
Tadah Hujan 97
Sumber: Data Primer, 2018.
Rata-rata jenis lahan yang dimiliki responden adalah sawah tadah hujan.
Pada Tabel 4.5. dapat dilihat bahwa terdapat 36 responden yang jenis sawahnya adalah irigasi, dan sebanyak 97 responden memiliki lahan tadah hujan. Total responden sebanyak 100 orang, namun di antaranya terdapat responden yang sebagian lahannya adalah irigasi dan sebagian tadah hujan. Adapun jumlah responden yang jenis lahannya sebagian irigasi dan sebagian lainnya tadah hujan berjumlah 33 orang.
Tabel 4.6. Status Kepemilikan Lahan Sawah Yang Diusahakan Responden
Keterangan Jumlah Responden
Milik Sendiri 86
Bagi Hasil 32
Sumber: Data Primer, 2018.
Lahan sawah yang diusahakan oleh responden rata-rata berstatus milik sendiri. Berdasarkan Tabel 4.6. dapat dilihat bahwa terdapat 86 orang yang lahannya berstatus milik sendiri, dan 32 orang yang lahannya berstatus bagi hasil.
Jumlah responden sebanyak 100, beberapa di antaranya memiliki sebagian lahan dengan status milik sendiri dan sebagian lainnya berstatus bagi hasil. Adapun jumlah responden yang sebagian lahannya berstatus milik sendiri dan sebagianya berstatus bagi hasil sebanyak 18 responden.
4.2.1. Distribusi Responden Berdasarkan Pendapatan yang Diterima Per Satu Kali Panen
Pada Tabel 4.7. dapat dilihat distribusi responden menurut pendapatannya.
Pendapatan tersebut merupakan hasil dari gross income (jumlah output yang dijual dikali harga output), dikurang semua biaya yang dikeluarkan untuk memproduksi output. Output yang dihasilkan oleh petani tidak semuanya yang dijual, sehingga gross income dapat diperoleh dengan menghitung hasil kali jumlah output yang dijual (bukan jumlah output yang dihasilkan) dengan harga output.
Tabel 4.7. Distribusi Responden Menurut Pendapatan Pendapatan Bersih (Rupiah/Panen) Jumlah
Responden Persentase (%)
< 5,000,000 32 32,00
5,000,000 - 10,000,000 28 28,00
> 10,000,000 40 40,00
Sumber: Data Primer, 2018.
Secara spesifik, pendapatan rata-rata responden dari usahatani padi di desa Mangeloreng cenderung lebih tinggi yakni 16,6 juta, dibandingkan dengan
34
kelurahan Leang-leang yang hanya sekitar 6,8 juta, hal tersebut terjadi karena rata-rata lahan responden yang ditemui pada desa Mangeloreng lebih luas.
Adapun petani yang luas lahannya ≤ 50 are (petani gurem) cenderung memiliki pendapatan bersih di bawah Rp. 5.000.000,- dan yang memiliki lahan di atas 1 hektar memiliki pendapatan di atas Rp. 10.000.000,- per satu kali panen. Sekitar 33 persen responden termasuk petani gurem (luas lahan ≤ 50 are).
Selain karena faktor luas lahan, pendapatan petani juga ditentukan oleh faktor alam dan tersedia atau tidaknya sarana produksi. Pada saat penelitian dilaksanakan, musim panen bertepatan dengan datangnya musim hujan.
Responden mengaku, rata-rata pendapatan yang diterima dari panen pada saat musim hujan lebih kecil dibandingkan dengan yang diterima pada saat musim kemarau, hal tersebut sudah menjadi siklus musiman. Menurut petani, kehilangan hasil produksi akibat musim hujan dapat mencapai 20 hingga 50 persen dibandingkan dengan yang biasa didapatkan apabila musim kemarau. Selain itu, menurunnya kualitas gabah pada saat musim hujan akan membuat harga jual gabah turun, yang selanjutnya akan mengurangi pendapatan yang diterima petani.
Adapun apabila ditinjau dari segi produktivitasnya, rata-rata gabah yang dihasilkan petani berkisar 3 sampai 5 ton per hektar. Pada kasus dusun Mangai desa Mangeloreng, terjadi kelangkaan pupuk SP-36 yang menjadi faktor utama penyebab padi rebah, dan rendahnya produktivitas petani. Hasil yang didapatkan pada daerah tersebut hanya sekitar 3 sampai 4 ton per hektar, padahal menurut pengakuan responden, pada waktu pupuk SP-36 masih ada, produktivitas petani dapat mencapai 6 ton per hektar. Itu berarti faktor ketersediaan input juga menjadi hal yang berpengaruh bagi pendapatan petani.
4.2.2. Distribusi Responden Berdasarkan Status Penerima Subsidi Pemerintah
Jumlah responden yang menerima subsidi berupa bantuan input langsung dari pemerintah hanya sekitar 29 persen, dan sisanya 71 persen responden tidak menerima bantuan dari pemerintah, bantuan yang diberikan tersebut berupa pupuk organik dan bibit padi. Adapun bantuan lain yang diberikan oleh pemerintah rata-rata dalam bentuk subsidi harga pupuk dan benih, bukan dalam bentuk bantuan pembagian input secara langsung.
Tabel 4.8. Distribusi Responden Menurut Status Penerima Subsidi Pemerintah Status Responden Jumlah
Responden Persentase (%)
Menerima Subsidi 29 29,00
Tidak Menerima Subsidi 71 71,00
Sumber: Data Primer, 2018.
Menurut pengakuan responden, bantuan input langsung yang diberikan pemerintah sering datang terlambat, sehingga tidak sempat digunakan dalam proses produksi. Hal tersebut yang membuat subsidi dalam bentuk bantuan input tidak menurunkan biaya produksi saat ini, karena pada akhirnya petani melakukan pembelian input. Ditinjau dari segi kualitas pun, bibit yang diberikan pemerintah menurut pengakuan responden kurang baik, selain itu masa tunggunya lama.
Adapun beberapa responden yang menerima bantuan input, mengaku menggunakan input yang tidak sempat digunakan tersebut pada masa tanam selanjutnya. Fakta lain yang ditemukan berdasarkan pengakuan salah seorang responden, bahwa pada suatu kelompok tani ada biaya yang harus dikeluarkan jika ingin mendapatkan bantuan input, yakni biaya angkut barang.
Selain itu, berdasarkan data yang telah terkumpul, diketahui bahwa bantuan pembagian input distribusinya tidak merata di tiap daerah dan tiap kelompok tani. Tidak ada kriteria khusus terkait luas lahan dengan ada atau
36
tidaknya pemberian bantuan input. Bantuan diberikan kepada petani yang masuk kelompok tani dan memiliki kartu tani, sehingga tidak sesuai dengan ketentuan UU No. 19 tahun 2013 tentang Perlindungan dan Pemberdayaan Petani, yakni diutamakan pada petani penggarap tanaman pangan yang tidak memiliki lahan usaha tani dan yang menggarap paling luas 2 (dua) hektare.
4.2.3. Ditribusi Responden Berdasarkan Intensitas Mengikuti Penyuluhan
Pada Tabel 4.9. dapat dilihat distribusi responden menurut intensitasnya mengikuti penyuluhan yang diadakan pihak penyuluh pertanian. Berdasarkan data yang telah terkumpul, diketahui hanya ada sekitar 18 persen responden yang tidak pernah sama sekali mengikuti penyuluhan selama setahun terakhir, sedangkan sisanya 82 persen responden mengaku pernah mengikuti penyuluhan. Beberapa responden yang tidak pernah mengikuti penyuluhan diantaranya mengetahui ada kegiatan tersebut namun tidak mengikutinya, dan sebagian lainnya mengaku memang tidak mengetahui adanya kegiatan penyuluhan tersebut.
Tabel 4.9. Distribusi Responden Menurut Intensitas Mengikuti Penyuluhan Intensitas Keikutsertaan Jumlah
Responden
tidak pernah ikut 18
1 - 3 kali 58
> 3 kali 24
Sumber: Data Primer, 2018.
Secara spesifik, responden di kelurahan Leang-leang lebih sering mengikuti penyuluhan dibanding responden di desa Mangeloreng. Hal tersebut terjadi karena menurut responden, kegiatan penyuluhan yang diselenggarakan pihak penyuluh pertanian di desa Mangeloreng memang jarang diadakan.
Berdasarkan pengakuan responden di desa Mangeloreng, inisiatif mengadakan