BAB III GAMBARAN UMUM PANTI SOCIAL DEVELOPMENT
K. Hubungan Lembaga dengan Masyarakat Sekitar
Hubungan lembaga dengan masyarakat sekitar terjalin dengan baik, pihak panti selalu memberikan kontribusi terhadap kegiatan yang dilakukan oleh masyarakat. Memang masih ada sebgian masyarakat yang merasa risih dengan keberadaan anak jalanan, maka dari itu pihak panti selalu berusaha mengawasi secara intensif keberadaan anak jalanan.
Pihak panti juga menjalin kerja sama dengan masyarakat sekitar yaitu masyarakat di izinkan untuk menanam di lahan panti yang kosong, hal ini bertujuan agar hubungan masyarakat dengan pihak panti selalu terjalin dengan baik.
BAB IV
ANALISIS DAN TEMUAN LAPANGAN
Sesuai dengan hasil wawancara dan observasi yang dilakukan peneliti kepada kepala panti, pengurus, instruktur dan anak jalanan yang menjadi sampel, maka dapat dianalisa dari upaya meningkatkan life skill yang dilakukan di Social Development Center (SDC) sebagai wadah dimana bertugas sebagai pengganti orang tua yang menjalankan fungsi keluarga bagi anak-anak jalanan serta berupaya meningkatkan pelayanan sosial yang berupa pembinaan mental, pendidikan, serta pelatihan keterampilan bagi anak-anak jalanan yang kurang mampu agar anak dapat tumbuh kembang secara wajar dan siap mandiri guna memperoleh masa depan yang cerah dan bermanfaat bagi dirinya. Seperti wawancara penulis kepada kepala panti :
“Di SDC anak-anak tidak hanya diberi pembinaan mental, sikap dan perilakunya saja akan tetapi mereka semua diberi berbagai macam pelatihan keterampilan seperti: menjahit, salon, otomotif dan las. Pelatihan ini diharapkan akan menjadi modal untuk masa depan anak agar dapat berfungsi sebagaimana mestinya”.58
Program peningkatkan Life skill melalui pelatihan keterampilan yang membuat anak-anak dapat mengembangkan kemampuan yang mereka miliki,
39; : ( ) 5 * 0 :) 2, , - % * "3
bakat dan minat mereka dapat tersalurkan serta dapat menciptakan jiwa yang kreatif dan mandiri untuk anak asuh. Karena keterampilan merupakan berbagai kemampuan untuk beradaptasi dan berperilaku positif yang memungkinkan seseorang mampu menghadapi berbagai tuntunan dan tantangan dalam kehidupan sehari-hari secara efektif.59
Dalam upaya meningkatkan life skill anak jalanan pihak panti selalu memberikan motivasi dan dorongan untuk anak, agar mereka berkeinginan dalam mengikuti berbagai macam keterampilan yang ada, karena dengan adanya program keterampilan sangat bermanfaat bagi diri anak, seperti penuturan Bapak Muhamad Tohar (Ketua SDC) :
”Jadi pendamping selalu memberikan motivasi kepada anak jalanan, dan untuk memotivasi anak jalanan dengan tidak harus dikumpulkan kemudian diberi motivasi. Kita pakai trik agar mereka tidak merasa terkekang, yaitu dengan cara mengajaknya ngobrol, terkadang pendamping mendatangi ke kamar anak dan memberikan keyakinan kepada anak bahwa dengan mengikuti keterampilan yang ada di SDC, suatu saat akan berguna untuk masa depan anak jalanan”.60
Dengan adanya program keterampilan otomotif di SDC bertujuan agar anak dapat mengembangkan potensi serta mengasah kemampuan yang mereka miliki serta dapat merubah perilaku anak ke arah yang bermanfaat. Selain itu, SDC berharap anak –anak dapat mengikuti dan memanfaatkan keterampilan yang ada di panti. Melalui keterampilan otomotif anak jalanan mampu menyalurkan minat, bakat dan mampu beradaptasi dan berprilaku positif dalam kehidupan sehari-hari
3 4 ) 4 4 ) = ( : * 2 4 ( (
( +
%#; : ( ) 5 * = 0 :) < 2, , - % *5
dengan teman, pendamping dan orang-orang di sekeliling mereka secara efektif dan juga dengan adanya program keterampilan otomotif merupakan suatu daya tarik untuk anak agar tidak turun ke jalan kembali.
A. Upaya Meningkatkan Life Skill Anak Jalanan Melalui Pelatihan Keterampilan Otomotif Bagi Klien Anak Jalanan di SDC Bambu Apus Jakarta Timur
Dari hasil observasi penulis, dalam upaya meningkatkan life skill anak jalanan melalui program keterampilan otomotif dilaksanakan oleh seorang instruktur ahli dan berpengalaman dalam bidangnya. Teknik pengajarannya terdiri dari: tahapan, proses pelaksanaan keterampilan otomotif, serta hasil dari program keterampilan otomotif.
Upaya yang dilakukan oleh SDC dalam meningkatkan life skill anak jalanan melalui keterampilan otomotif dilakukan dengan beberapa tahapan. Seperti penuturan Bapak Muhamad Tohar (Ketua SDC) yang mengatakan bahwa :
”Ya jadi gini de...kebanyakan kan anak jalanan berasal dari latar belakang keluarga yang memiliki pendidikan rendah, jika anak langsung praktek dilapangan maka hasilnya akan tidak efektif. Maka dari itu SDC melakukan tahapan-tahapan mulai dari yang sangat dasar, setelah anak menguasai tahapan dasar tersebut, maka tahapan berikutnya akan diberikan oleh instruktur kami”.61
Beerikut ini adalah teknik pengajaran yang dilakukan di SDC, diantaranya sebagai berikut:
a) Tahapan Dalam Keterampilan Otomotif
1. Mengenalkan Peralatan/Kunci dan Spare Part dalam dunia otomotif Tahapan yang pertama dalam pelatihan otomotif di SDC anak akan dikenalkan dengan peralatan yang digunakan dalam otomotif, yaitu mengenal kunci-kunci dan bagian dalam motor (Spare Part) dalam otomotif selama satu bulan. Kemudian akan dilakukan ujian kembali dimana anak-anak tersebut akan diuji daya ingatnya terhadap bagian dalam motor (Spare Part) dalam otomotif. Hal ini diharapkan agar anak mampu beradaptasi dengan lingkungan otomotif, memang agak sulit mengajarkannya karena sebelumnya anak jalanan tidak pernah mengenal peralatan dalam dunia otomotif. Untuk itu pelatihan otomotif diadakan setiap hari terkecuali hari jum’at hal ini agar anak dapat mudah menghapal Spare Part. Hasil wawancara dengan Instruktur Otomotif sebagai berilut :
”Memang agak sulit sekali mengenalkan alat-alat dalam otomotif, ya saya sebagai instruktur memaklumi dan selalu berusaha karena sebelumnya mereka tidak pernah kenal dengan alat-alat otomotif. Belum lagi anak-anak jalanan banyak yang pelupa sehingga harus sabar mengenalkanya.”
2. Memberikan Teori Tentang Otomotif Kepada Anak Jalanan
Setelah tahapan pengenalan alat-alat dan Spare Part, tahapan berikutnya ialah anak-anak jalanan diberikan teori dasar tentang otomotif dimana anak akan dilatih untuk menerapkan apa yang telah dipelajari mulai dari yang sangat dasar yaitu anak di tes untuk naik motor satu persatu, anak jalanan diberikan teori yang disertai dengan praktek walaupun prakteknya masih yang sangat dasar selama satu bulan. Hal ini diharapkan dapat membantu anak jalanan dalam peroses praktek di lapangan.
Hasil wawancara dengan Instruktur Otomotif adalah :
”Jadi sebelum memulai praktek dilapangan seperti biasanya anak-anak akan di kasih bekal dahulu tentang dunia otomotif, teori ini akan diterapkan langsung walaupun praktiknya masih sekali-sekali, hal ini diharapkan dapat mempermudah si anak untuk kedepannya dan akan mempermudah jalananya praktek dilapangan.”
3. Memulai Praktek di lapangan
Setelah mengenalkan alat dan memberikan teori kepada anak jalanan tentang dunia otomotif, anak-anak jalanan akan memulai praktek di lapangan. Dalam tahapan ini anak-anak pertama kali diajarkan tentang bagaimana mengetahui cara membongkar dan memasang serta mempelajari kerusakan dan cara penangananya, semua itu dilakukan secara bertahap dan setiap tahap ada ujiannya, dan anak juga diajarkan tentang sistem perapian karena dalam otomotif sumber utama dalam otomotif bermulai dari perapian. Proses ini dilakukan selama empat bulan, dan secara bertahap bagi tiap anak yang belum menguasai tiap tahapnya akan di ulang-ulang hingga menguasai. Hasil wawancara dengan instruktur dan anak jalanan :
”Ya ...praktek di lapangan akan berlangsung selama kurang lebih 4 bulan, anak akan diajarkan secara bertahap mulai dari membongkar, memasang serta mengetahui kerusakan serta bagaimana cara penangananya. Anak akan dilatih sampai bisa karena di setiap tahapannya ada ujiannya jika belum menguasai anak akan diajarkan berulang-ulang...”
”Pada awalnya saya juga buta banget bang tentang otomotif,,,saya harus ngulang-ngulang terus apa yang sudah di ajarkan oleh instruktur...tapi karena emang udah niat jadi saya jalanin aja apa adanya, dan saya akan berusaha sampe saya bisa menguasai semuanya. Kalo belum bisa saya akan terus belajar dan nanya-nanya sama pa instruktur. ” 62
4. Magang/Praktek kerja di luar panti.
Setelah anak-anak diajarkan berbagai macam tahapan untuk proses akhirnya anak jalanan akan di berikan tugas untuk kerja di luar atau magang selama satu bulan. Anak-anak disuruh mencari tempat magang sendiri, sebelum melakukan magang anak jalanan sudah diberikan bekal terlebih dahulu mulai dari mental, sikap dan prilaku agar tidak akan memberikan kesan negatif. Karena masih banyak sebagian orang yang mengangap bahwa anak jalanan adalah sampah masyarakat. Untuk membantah hal tersebut oleh karena itu anak-anak sudah di bekali sebelumnya. Dan tidak lupa juga diberikan materi tentang dunia otomotif. Hasil wawancara dengan Instruktur Otomotif (SDC) adalah :
” iya mas...jadi kami ga mau kecolongan lagi sebab ada anak sebelumnya pas waktu magang dia ga bisa naik motor...maka dari itu saya sebagai instruktur melakukan berbagai macam tahap demi tahapan. Selain itu saya juga mencoba membangun mental para anak sebab banyak yang down ketika praktek magang, hal ini yang sampai sekarang masih saya khawatirkan dan saya akan berusaha sebisa saya agar anak jalanan dapat melakukan magang dengan baik.63
%"; ) * ) ) 2 * ( = 0 :) < 2, , - %
./ 0 "# # 41
%1 5 * ' ( D ) = 0 :) < 2, , - %
b) Proses Pelaksanaan Pelatihan Keterampilan Otomotif
Setelah mengetahui tahapan-tahapan dalam program keterampilan otomotif maka proses pelaksanaannya, dari hasil observasi dan wawancara penulis program keterampilan otomotif dilakukan oleh anak yang tidak mengikuti program pendidikan sekolah. Seperti penuturan Bapak Ahmad Rifki Hidayat S psi (Ketua Rehsosialisasi SDC) :
”Jadi anak-anak yang tidak mengikuti program pendidikan sekolah mereka harus mengikuti program keterampilan yang ada di SDC, memang kebanyakan anak laki-laki memilih program keterampilan otomotif tetapi tidak menutup kemungkinan juga untuk memilih program keterampilan yang lain”.64
Pelaksanaan keterampilan otomotif dilakukan langsung di ruang praktek hal ini dimaksudkan agar mempermudah anak-anak, jadi setelah mendapatkan teori dapat langsung mempraktekannya. Anak jalanan yang mengikuti keterampilan otomotif sangat menekuni keterampilan ini karena pada dasarnya keterampilan otomotif dapat memberikan pengetahuan dan wawasan di luar pendidikan sekolah.
Seperti yang telah dijelaskan dalam tahapan-tahapan dalam keterampilan otomotif proses pelaksanaannya berlangsung secara bertahap dan dibimbing oleh seorang instruktur ahli, berawal dari pengenalan alat dan spare part, pemberian teori dasar, praktek dilapangan sampai dengan proses magang di luar panti. Dalam prosesnya anak-anak akan diberi ujian dalam setiap tahapannya oleh instruktur, hal ini dimaksudkan agar anak jalanan benar-benar dapat menguasai secara keseluruhan. Berikut penuturan Mas Triyono (Instruktur Otomotif di SDC) :
%8 ; : ( ) ( : * 4 =
”iya mas dalam prosesnya anak-anak kan sudah mengetahui tahap demi tahapannya jadi saya tinggal mengawasi praktek mereka dan memberikan motivasi agar kelak ilmu yang saya ajarkan kepada mereka dapat berguna di masa depan mereka”65
TABEL 4.1
DATA ANAK ASUH YANG MENGIKUTI PROGRAM PELATIHAN KETERAMPILAN OTOMOTIF
No Nama No.
Registra
Yayasan
Sebelumnya Tempat 1 Agam dodit.S 0253/2009 Bina anak pertiwi P3SA/SDC 2 M. Saefudin 0261/2009 Kurnia jakarta P3SA/SDC 3 Andi Putra. P 0249/2009 Bina anak pertiwi P3SA/SDC
4 Rudi Antoro 0265/2009 Himmata P3SA/SDC
5 Slamet Murdyono 0268/2009 Himmata P3SA/SDC
6 Iwan Irawan 0257/2009 Himmata P3SA/SDC
7 Wasrohim 0271/2009 Keluarga P3SA/SDC
8 Ryan Hardiyansah 0267/2009 Lentera Harapan P3SA/SDC 9 Arman Hargadikusuma 0249/2009 Lentera Harapan P3SA/SDC
10 Rudiyanto 0266/2009 YKPIM P3SA/SDC
11 Zainal Abdul.S.R 0273/2009 Himmata P3SA/SDC
12 Ezri 0255/2009 Himmata P3SA/SDC
13 Ipan Efendi 0256/2009 IABRI P3SA/SDC
Sumber : Dokumentasi SDC 66
Pelatihan Otomotif dilaksanakan setiap hari senin-kamis, kegiatan keterampilan otomotif dibagi menjadi dua bagian yaitu waktu pagi dimulai pukul 09.00 s/d 11.00 dan waktu siang dimulai pada pukul 13.00 s/d 15.00, waktu pagi
%3
diberikan untuk anak asuh yang tidak mengikuti pendidikan sekolah dan waktu siang untuk anak asuh yang paginya bersekolah.
Seperti penuturan Bapak Febraldi S.Sos (Staff Fungsional) mengatakan bahwa :
”Ya benar...karena anak-anak asuh di SDC ada yang sekolah dan ada yang tidak, untuk mensiasatinya maka keterampilan otomotif diadakan dua kali yaitu waktu pagi untuk anak yang tidak sekolah dan waktu siang untuk anak yang bersekolah”.
TABEL 4.2
JADWAL KETERAMPILAN OTOMOTIF DI SOCIAL DEVELOPMENT CENTER
No Hari Waktu Instruktur
1 Senin Pagi : 09.00-11.00 Siang : 13,00-15,00 Mas Triyono 2 Selasa Pagi : 09.00-11.00 Siang : 13,00-15,00 -”- 3 Rabu Pagi : 09.00-11.00 Siang : 13,00-15,00 -”- 4 Kamis Pagi : 09.00-11.00 Siang : 13,00-15,00 -”- 5 Jumat s/d minggu Kegiatan lain-lain
Sumber :Dokumentasi SDC 67
c) Hasil/output dari keterampilan Otomotif
Pelaksanaan program keterampilan otomotif akan menghasilkan sesuatu yang bermanfaat bagi anak jalanan jika prosesnya berjalan dengan baik, dengan adanya program keterampilan dapat merubah pola pikir anak jalanan yang tadinya liar menjadi anak-anak yang kreatif dan mempunyai modal keilmuan yang bermanfaat
pada bidang keterampilan otomotif. Dan hasilnya ini akan menjadi sebuah jembatan untuk menuju masa depan yang lebih baik dan cerah. Seperti yang di ungkapkan oleh Bapak Muhamad Tohar ketika penulis mewawancarai, mengatakan bahwa :
”Dengan adanya program keterampilan otomotif di SDC merupakan suatu modal yang sangat besar untuk si anak, setelah ia mendapatkan pelatihan akan mendapatkan peluang untuk masa depan yang lebih baik”68.
Selain itu masih banyak lagi manfaat yang bisa didapat dengan mengikuti program keterampilan otomotif, ketika ia berada di panti ataupun ketika keluar panti. Ketika ia berada di dalam panti, manfaatnya bisa dirasakan untuk mereka sendiri yaitu ia mempunyai ilmu pengetahuan tentang otomotif yang mungkin tidak di dapat dari pendidikan formal. Menurut penuturan salah satu anak jalanan : ”Banyak banget bang manfaatnya bagi saya, saya yang dulunya liar banget sekarang sudah berubah ke arah yang baikan. Selain itu saya juga mendapatkan ilmu tentang dunia otomotif walaupun ga banyak tetapi lumayan bermanfaat bagi saya. Selain itu ilmu otomotif kan ga didapet kalo belajar di sekolah”69
Sedangkan hasil yang mereka peroleh dalam menekuni program keterampilan otomotif ketika keluar panti, mereka mempunyai keahlian dalam bidang otomotif, dan dapat mengembangkan keahliannya tersebut dengan cara mencoba melamar kerja di bengkel-bengkel besar maupun kecil. Sehingga tidak ada kata percuma ketika di dalam panti mengikuti program keterampilan otomotif, dan agar anak jalanan tidak selalu dipandang sebelah mata oleh masyarakat luas karena masih ada sebagian masyarakat yang menganggap anak jalanan sebagai peresah sosial,
%9
% E * ) ) 2 ( = 0 :) = , , - % *4
sampah masyarakat dan masih banyak lagi pandangan masyarakat yang negatif. Seperti penuturan anak jalanan sebagai berikut :
”iya bang...dengan adanya program keterampilan ini mudah-mudahan dapat merubah keadaan kita, kita banyak dapet pengetahuan yang bermanfaat selama ikut keterampilan dan masyarakat tidak menganggap kami sebagai sampah ibu kota lagi”70
Upaya meningkatkan life skills melalui program keterampilan otomotif dianggap penting bagi anak-anak jalanan, bekal keterampilan yang dimiliki anak dapat memberikan motivasi dalam menjalani hidup dan memberikan inspirasi bahwa anak jalanan bukanlah menjadi sampah untuk masyarakat melainkan dengan kemampuan dan kecakapan yang sekarang mereka miliki, dapat menumbuhkan semangat ingin maju seperti anak-anak normal lainnya.
Dengan adanya bekal keterampilan yang diberikan panti, maka anak dapat mengembangkan potensi dan mempunyai jiwa yang mandiri serta memiliki masa depan yang lebih baik, dan tidak tergantung pada keluarga dan masyarakat. Selain itu juga, dengan adanya program keterampilan otomotif di SDC diharapkan anak-anak dapat memanfaatkan ilmu yang telah didapat selama mengikuti program keterampilan tersebut dan mendapatkan pekerjaan sesuai dengan bidang keterampilan otomotif. Berikut hasil wawancara dengan Mas Prio (Staff Fungsional SDC/Pendamping) :
”jadi gini mas...pihak panti hanya memberi bekal kepada anak jalanan, ya semoga bekal yang telah diberikan di panti dapat dimanfaatkan dengan maksimal oleh anak jalanan. bahkan jika memang sungguh-sungguh menekuni nya merupakan suatumodal yang besar untuk mencari pekerjaan”.71
&#' ( * ) ) 2 ( = 0 :) = , , - % *
4 "% - "# # 41 > <
& 4 5 ) 6 ( *4 ): 6 4 ( ; < 2, , - % 4
B. Faktor Pendukung Dan Penghambat Dalam Upaya Meningkatkan Life