• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II. LANDASAN TEORI

D. Kerangka Berpikir

3. Hubungan Minat Membaca Literatur Didaktik dan

Kecerdasan Emosional pada Anak Tahap Akhir

Minat membaca literatur didaktif dan imajinatif tidak akan tumbuh begitu saja dalam diri seorang anak tanpa adanya pengalaman membaca. Orangtua yang mampu mengenalkan anak pada aktivitas membaca, dapat merangsang tumbuhnya minat dalam diri anak. Minat membaca menjadi penting sebab minat akan menjadi modal dalam diri anak agar tercipta aktivitas membaca yang dilakukan tanpa paksaan.

Aspek afektif yang ada dalam minat membaca literatur didaktik dan imajinatif berperan dalam pengasosiasian perasaan senang ketika anak

membaca, sehingga anak akan terus termotivasi untuk membaca dalam berbagai kondisi. Perasaan senang yang terkandung dalam aspek minat membaca ini, akan mendorong anak untuk mengeksplorasi minatnya agar terus berkembang. Minat membaca juga bisa menimbulkan semangat, hasrat dan niat pada anak untuk mau membaca. Aspek afektif dalam minat membaca akan memberikan kesenangan atau kenikmatan dalam diri seorang anak apabila minat tersebut direalisasikan dalam bentuk aktivitas membaca. Rasa senang dalam aspek afektif minat membaca dapat medorong anak untuk memulai dan bahkan menyelesaikan aktivitas membaca buku yang tidak terlalu menarik.

Aspek kognitif minat membaca literatur didaktik dan imajinatif akan berperan dalam pemahaman manfaat baca yang dapat diinternalisasikan dalam diri anak. Harapannya, anak akan termotivasi untuk terus melakukan aktivitas membaca. Minat membaca merupakan sumber motivasi kuat yang dapat membuat anak mampu menganalisa dan mengingat sumber bacaan. Minat mampu mendorong anak untuk dapat mengevaluasi bahan bacaan sehingga dapat digunakan sebagai pengalaman belajar. Minat membaca juga mampu merangsang rasa haus dan rasa ingin tahu yang tinggi akan pengetahuan karena adanya dorongan dalam diri seorang anak yang menuntut anak untuk terus melakukan aktivitas membaca. Aspek kognitif minat membaca akan membuat anak mampu memberikan penilaian yang tinggi terhadap aktivitas membaca yang dilakukannya.

Sandjaja (2008) menyatakan bahwa minat membaca menjadi motivator yang kuat untuk melakukan aktivitas membaca, sehingga aktivitas membaca akan dilakukan atau tidak oleh anak sangat ditentukan oleh minat membaca. Motivasi membaca yang timbul dalam diri anak akan mengarahkan perilaku anak untuk melakukan aktivitas membaca.

Slavin (2009) menegaskan kembali bahwa peningkatan motivasi intrinsik dalam diri seseorang dapat membantu proses belajar. Orang yang memiliki minat membaca akan otomatis membaca dengan sendirinya tanpa ada dorongan atau paksaan dari luar. Minat yang terbina baik dapat meningkatkan rasa ingin tahu dan kepuasan terhadap hal yang diminati.

Minat membaca, yang dikenal sebagai salah satu bentuk motivasi intrinsik, akan mendorong terjadinya aktivitas membaca yang sifatnya cenderung tetap. Minat inilah yang mampu membuat anak melakukan aktivitas tanpa paksaan orangtua. Anak yang mau membaca literatur didaktik dan imajinatif dengan kesadaran pribadi, diharapkan mendapatkan manfaat yang lebih ketika ia mau membaca yaitu salah satunya adalah merangsang kecerdasan emosionalnya.

Kecerdasan emosional pada anak tahap akhir perlu diasah secara maksimal agar anak tidak rentan terhadap stres. Usia anak tahap akhir penuh dengan gejolak emosional karena anak dihadapkan pada banyak tekanan hidup. Tugas perkembangan anak tahap akhir pun membuat anak harus belajar untuk mengatasi gejolak emosi yang dihadapi.

Kepekaan anak dalam mengenali berbagai macam emosi dalam dirinya, akan membuat anak lebih siap menghadapi gejolak emosi. Kepekaan tersebut perlu didasari dengan adanya pengetahuan akan berbagai macam emosi. Salah satu cara yang bisa ditempuh untuk mengenalkan anak dengan berbagai macam reaksi emosi adalah dengan membaca.

Bibliotherapy mempelajari lebih dalam akan manfaat membaca sebagai salah satu terapi perubahan. Bibliotherapy bahkan digunakan untuk meringankan gangguan jiwa. Dalam bahasannya, bibliotherapy mengenalkan pengelompokan bahan bacaan yang bisa digunakan yaitu literatur didaktik dan imajinatif.

Literatur didaktik dan imajinatif dipercaya bisa memberikan informasi bahkan insight kepada pasien. Informasi dan pengetahuan yang ada dalam literatur didaktik mampu merangsang seseorang untuk dapat berpikir dan menganalisa sikap dan perilaku. Pengalaman hidup yang ada dalam literatur bisa digunakan sebagai contoh penyelesaian masalah untuk membantu seseorang serta meningkatkan kemampuan intelektualnya. Salah satu bahan bacaan yang termasuk dalam literatur didaktik adalah bacaan psikologi populer yang mampu menyajikan berbagai ekspresi tentang perkembangan pribadi. Psikologi populer dirancang untuk memberikan informasi yang bermanfaat untuk memecahkan masalah kehidupan dan mencakup fakta serta prinsip-prinsip praktis untuk penyesuaian diri dalam situasi bermasalah. Selain psikologi, buku-buku lain yang bersifat didaktik dapat memberikan informasi, tips, serta berita terbaru dunia yang dapat dijadikan acuan.

Literatur imajinatif memiliki peranan yang lebih vital dalam biblioterapi. Literatur ini lebih banyak menyajikan berbagai ekspresi tentang perjalanan kehidupan, misalnya konflik emosi, karakter tokoh, dan berbagai peristiwa dalam kehidupan tokoh. Literatur imajinatif biasanya lebih bisa masuk dalam ruang emosi pembacanya sehingga pembaca bisa kembali merasakan pengalaman tersebut sebagai sesuatu yang dialaminya sendiri.

Pengalaman emosi tokoh dalam literatur imajinatif ditambah dengan informasi penjelas yang diperoleh dari literatur didaktif dapat dijadikan contoh kongkrit agar anak memahami berbagai macam bentuk emosi. Pemahaman tersebut dapat meningkatkan kesadaran anak akan berbagai emosi yang dialami dirinya.

Pemahaman berbagai bentuk emosi ini berkaitan erat dengan kemampuan mengelola emosi diri. Konflik yang terjadi dalam dunia nyata maupun dalam cerita dapat dijadikan acuan bagi anak agar dapat mengelola reaksi emosinya. Orangtua dapat membantu mengekplorasi pemahaman akan berbagai macam reaksi emosi dalam literatur agar anak bisa semakin belajar mengelola emosi yang dialami.

Informasi yang membangun dalam literatur didaktif dan imajinatif dapat merangsang anak untuk memiliki motivasi diri sendiri. Berbagai pengetahuan dan pengalaman orang lain dapat dijadikan solusi masalah yang dihadapi anak. Kemampuan untuk mengatasi masalah yang didasari oleh kayanya pengetahuan, akan menjadikan anak yakin pada diri sendiri.

Akibatnya akan muncul niat dalam dirinya untuk mau melakukan suatu usaha penyelesaian masalah.

Penyebaran informasi yang berkembang pesat dewasa ini dapat membantu anak menyadari kondisi lingkungan di sekitarnya. Literatur didaktik dapat memberikan informasi terhangat mengenai berbagai situasi kehidupan, pengetahuan, serta pengalaman hidup orang lain. Kondisi tersebut dapat mengasah kemampuan kognitif anak untuk semakin kritis menghadapi perkembangan zaman dan meningkatkan kepekaan sosialnya. Kesadaran akan kondisi lingkungan sekitar akan menumbuhkan sikap empati dalam diri anak.

Literatur didaktik dan imajinatif mampu membuat seseorang mengerti nilai-nilai kemanusiaan, mengajarkan toleransi, referensi untuk mendiskusikan hal-hal yang tabu, dan juga sebagai sarana katarsis sehingga anak dapat bergaul dengan lebih sehat. Pada akhirnya anak bisa menjalin hubungan yang baik dengan lingkungan sosialnya.

Berbagai kaitan antara literatur didaktik dan imajinatif dengan kecerdasan emosional tidak bisa lepas dari minat membaca literatur. Minat membaca akan mendorong terjadinya aktivitas membaca yang sifatnya cenderung tetap. Minat inilah yang mampu membuat anak melakukan aktivitas tanpa paksaan orangtua. Minat membaca juga bisa menimbulkan hasrat pada anak untuk mau membaca sehingga mampu mengeksplorasi minatnya agar terus berkembang Rasa senang dalam aspek afektif minat membaca dapat medorong anak untuk memulai dan bahkan menyelesaikan aktivitas membaca buku yang tidak terlalu menarik. Anak yang mau membaca

literatur didaktik dan imajinatif dengan kesadaran pribadi, diharapkan akan lebih teratur membaca.

Aspek kognitif dalam minat membaca literatur didaktik dan imajinatif juga akan memotivasi anak sehingga dapat membuat anak mampu menganalisa dan mengingat sumber bacaan. Minat mampu mendorong anak untuk dapat mengevaluasi bahan bacaan sehingga dapat digunakan sebagai pengalaman belajar.

Minat membaca literatur didaktik dan imajinatif pada akhirnya akan memberikan kesenangan atau kenikmatan dalam diri seorang anak apabila minat tersebut direalisasikan dalam bentuk aktivitas yang teratur. Aktivitas yang teratur akan membuat anak bisa semakin merasakan manfaat membaca literatur didaktik dan imajinatif yang pada akhirnya berhubungan dengan kecerdasan emosional anak.

Dokumen terkait