• Tidak ada hasil yang ditemukan

Hubungan Nilai, Norma, dan Sanksi Pengamalan Pancasila

HUBUNGAN NILAI, NORMA DAN SANKSI PENGAMALAN PANCASILA

Menilai artinya menimbang, yaitu kegiatan manusia menghubungkan sesuatu dengan sesuatu untuk selanjutnya mengambil keputusan. Keputusan ini dapat menyatakan, berguna atau tidak berguna benar atau tidak benar, indah atau tidak indah, baik atau tidak baik, religius atau tidak religius. Ini semua dihubungkan dengan unsur-unsur yang ada pada manusia yaitu jasmani, cipta, karsa, dan rasa serta kepercayaan.

Sesuatu dikatakan mempunyai nilai, apabila berguna (nilai kegunaan), benar (nilai kebenaran/logis), baik (nilai moral dan etis), dan nilai religius (nilai agama). Dengan demikian dapat pula dibedakan nilai material (nilai kebendaan) dan nilai spiritual (nilai kerohanian). Norma (kaedah) adalah petunjuk tingkah laku (perilaku) yang harus dilakukan dan tidak boleh dilakukan dalam hidup sehari-hari, berdasarkan suatu alasan (motivasi) tertentu dengan disertai sanksi (Darmodihardjo dkk, 1978 b : 66).

Sanksi adalah ancaman/akibat yang akan diterima apabila norma (kaedah) tidak dilakukan (Darmodihardjo dkk, 1978 c : 66).

Dari hubungan nilai, norma, dan sanksi dalam pengamalan Pancasila dapat diuraikan sebagai berikut :

1) Bahwa sebelum dilaksanakan pengamalan perlu diperhatikan terlebih dahulu pengertian dari Pancasila. Untuk tidak menimbulkan keraguan dan kekaburan, maka perlu pengertian yang jelas dan harus dipertanggungjawabkan. Pancasila sebagai dasar negara yang merupakan pokok kaedah negara yang fundamental, harus dipertanggungjawabkan secara yuridis konstitusional, artinya dalam pengamalannya harus sesuai dengan peraturan perundangan yang ada dan yang berlaku, yang merupakan tertib hukum (hukum positif) negara. Pelaksanaannya bersifat perintah (imperatif) dalam pengertian harus bersumber dan tidak boleh menyimpang atau melampaui peraturan perundangan tersebut. Bila bertentangan atau menyimpang akan mendapat ganjaran atau sanksi berupa hukuman. Pancasila sebagai pandangan hidup bangsa dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah untuk menjamin objektivitasnya. Segala harus berdasarkan dan berorientasi bukan menyimpang atau membuat tafsiran sendiri.

Pancasila harus dipertanggungjawabkan secara religius, karena Ketuhanan Yang Maha Esa merupakan sila dasar yang meliputi dasar kerohanian dan duniawian, sifat religius lebih menonjol. Pancasila harus dipertanggungjawabkan secara filosofis karena sebagai

filsafat negara dari bangsa untuk mencari kebenaran. Kebenaran yang dituntut disini adalah kebenaran yang kebenaran relatif (nisbi) bukan kebenaran mutlak (absolut).

Kebenaran yang mutlak ada pada Tuhan sesuai dengan sifat Tuhan itu sendiri. Pancasila dipertanggungjawabkan secara sosiologis karena mengatur dan menyangkut manusia dalam segala aspek sesuai dengan kemanusiaan yang merupakan identitas dari manusia itu sendiri. Sebaliknya Pancasila dapat juga dipertanggungjawabkan secara moral/etis, karena Pancasila dipergunakan sebagai petunjuk-petunjuk hidup sehari-hari sesuai dengan norma-norma yang telah ditentukan.

Oleh sebab itu pengamalan Pancasila sebagai pandangan hidup bangsa berarti melaksanakan Pancasila dalam hidup sehari-hari. Pengamalan dalam hidup sehari-hari tidak boleh bertentangan dengan pengamalan dalam kehidupan kenegaraan dan hidup kemasyarakatan dalam negara. Jadi harus serasi dan harmonis.

Karena corak dan ragam dalam kehidupan sehari-hari yang bersifat jamak (pluralistis), bermacam ragam maka sukar dibuat peraturan-peraturan secara terperinci dan menyeluruh, sebagaimana peraturan perundangan negara. Oleh sebab itu pengamalannya diserahkan kepada kesadaran dari masyarakat itu sendiri terhadap Pancasila asal tidak bertentangan dengan norma-norma yang berlaku (norma hukum, norma agama, norma kesusilaan, norma kesopanan, dan adat kebiasaan yang ada).

Pengamalan Pancasila sebagai dasar negara disebut pengamalan Pancasila secara obyektif, sedangkan pengamalan Pancasila sebagai pandangan hidup bangsa disebut pengamalan secara subyektif. Pengamalan Pancasila secara subyektif meliputi bidang yang luas antara lain ekonomi, politik, sosial budaya, hankam, agama, dan kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa. Meliputi juga lingkungan hidup pribadi, hidup keluarga, hidup kemasyarakatan dan lain-lain.

Kesemuanya harus dipertanggungjawabkan secara obyektif, secara filosofis, secara sosiologis, dan secara moral dan etis sesuai dengan keadaan dan kapan dilaksanakan, ditentukan waktu dan tempat, baik sendiri maupun bersama-sama.

2) Pancasila sebagai dasar dan arah dalam menyelesaikan masalah-masalah konkrit menggambarkan adanya lompatan dari nilai-nilai filosofis ke nilai praktis. Untuk itu kita menyebutnya sebagai pengamalan Pancasila. Dalam kehidupan sehari-hari kita dapat melihat bahwa suatu pengamalan nilai filosofis itu, memerlukan bentuk-bentuk yang sesuai dengan kebutuhan tempat dan waktu serta keadaan, tanpa menyimpang dari pengertian filosofis yang dijadikan dasar dan arah.

a. Pengamalan obyektif : pengamalan di bidang kehidupan negara/masyarakat yang penjelmaannya berupa ketentuan-ketentuan hukum positif yaitu : pasal-pasal UUD, Ketetapan MPR, Undang-Undang Organik berserta peraturan dan pelaksanaannya termasuk pula kebijaksanaan-kebijaksanaan yang dianut dalam kehidupan masyarakat.

b. Pengamalan subyektif : pengamalan yang dilakukan oleh manusia, manusia sebagai pribadi, warga negara, warga masyarakat, dan penyelenggara negara/pemerintahan. Pengamalan secara subyektif inilah yang utama (primer). Bahkan yang menentukan : artinya pengamalan obyektif hanya dapat berlangsung dengan baik apabila terlebih dahulu pengamalan subyektif dapat baik. Untuk menuju terwujudnya pengamalan subyektif yang baik, maka secara bertahap sebaiknya ditempuh melalui pendidikan.

Sebab melalui pendidikan inilah, kepada para subyek (manusia-manusianya) akan dapat diberikan pengeritan dan pengetahuan yang tepat mengenai arti dan makna daripada Pancasila.

Dan hanya dengan pengetahuannya yang tepat atau yang baik, barulah dapat diharapkan tumbuhnya kesadaran, dan kemudian dari rasa kesadaran diharapkan adanya rasa ketaatan dan kemampuan untuk mengamalkan nilai-nilai Pancasila dalam kenyataan hidup sehari-hari.

Situasi ideal dalam pengamalan Pancasila yang seharusnya dapat kita capai adalah, bagaimana kita semua di dalam mengamalkan Pancasila itu tidak hanya sekedar didasarkan pada kewajiban hukum saja melainkan juga didasarkan pada kewajiban moral atau etis.

Kewajiban moral atau etis di dalam mengamalkan Pancasila mengandung makna bahwa hati nurani kita sendirilah yang mewajibkan diri kita masing-masing untuk selalu berorientasi kepada nilai-nilai Pancasila itu, yaitu bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa menurut agama/kepercayaan kita masing-masing, memandang sesama manusia sebagai makhluk yang sama harkat dan derajatnya, mendahulukan persatuan dan kesatuan masyarakat/bangsa, segala sesuatu dimusyawarahkan demi tercapainya keadilan dimana masing-masing dapat memiliki apa yang memang menjadi haknya.

DAFTAR PUSTAKA

Darmodihardjo, Dardji. 1979. Pancasila Suatu Orientasi Singkat , Cetakan 8. Jakarta : PN Balai Pustaka.

Darmodihardjo, Dardji. 1996. Penjabaran Nilai-Nilai Pancasila dalam Sistem Hukum Indonesia. Jakarta : Penerbit Rajawali.

Departemen Pendidikan Republik Indonesia. 1978. Ketetapan-Ketetapan MPR tahun 1973 dan tahun 1978. Jakarta.

Hazairin. 1983. Demokrasi Pancasila. Jakarta : CV Rineka Cipta.

Ismaun. 1981. Pembahasan Pancasila Sebagai Kepribadian Bangsa Indonesia. Bandung : CV Yulianti.

Ismaun. 1981. Tinjauan Pancasila Dasar Filsafat Negara Republik Indonesia. CV Carya Remaja.

Kaelan. 1996. Filsafat Pancasila. Yogyakarta : Penerbit Paradigma.

Kaelan. 1999. Pendidikan Pancasila Yuridis Kenegaraan. Yogyakarta : Penerbit Paradigma. Krisantono (editor). 1976. Pandangan Presiden Soeharto tentang Pancasila. Jakarta : CSIS Kurdi, Dipoyudo. 1984. Pancasila : Arti dan Pelaksanaannya , Cetakan Kedua. Jakarta :

CSIS

Magnis, Frans von. 1979. Etika Umum. Yogyakarta : Yayasan Kanisius.

Notonagoro, Prof., Drs., S.H. 1976. Beberapa Hal Mengenai Falsafah Pancasila. Notonagoro. 1974. Pancasila Dasar Falsafah Negara. Jakarta : Penerbit Bina Aksara.

Nugroho, Notosusanto. 1976. Naskah Proklamasi yang Otentik dan Rumusan Pancasila yang Otentik. Jakarta : Departemen Hankam Pusat Sejarah ABRI.

Suny, Ismail, M.Sc. 1980. Mekanisme Demokrasi Pancasila. Jakarta : CV Aksara Baru. Yamin, Muhammad. 1971. Naskah Persiapan Undang-Undang Dasar 1945 Indonesia Vol II,

III. Jakarta : Penerbit Sigantang.

Yamin, Muhammad. 1982. Proklamasi dan Konstitusi Republik Indonesia. Jakarta : Ghalia Indonesia.