BAB IV. HASIL DAN PEMBAHASAN
4.6 Analisis Hubungan PDSI dengan Karakteristik Kekeringan
4.6.7 Hubungan PDSI dengan Peluang Hari Kering Setelah
Kering (P00)
Fluktuasi indeks kekeringan Palmer dengan P00 hari berturut-turut pada masing- masing 40 stasiun memiliki bentuk regresi linear dan regresi kuadratik yang juga tidak berpola. Sama seperti fluktuasi antara PDSI dengan jumlah hari kering, peluang DHK≥5, DHK≥10, dan DHK≥15 fluktuasi antara PDSI dengan P00 juga memiliki garis regresi linear seluruhnya (40 stasiun) tergambar garis semakin ke kanan, semakin menurun. Hal ini dapat dikatakan semakin meningkatnya P00 maka semakin rendah nilai indeks Palmernya. Sedangkan untuk garis regresi kuadratiknya terbentuk garis dengan tiga pola, yaitu garis setengah lingkaran dengan puncak menghadap ke atas, garis setengah lingkaran dengan puncak menghadap ke bawah, dan garis yang hampir mengikuti garis regresi linear. Terdapat stasiun yang memiliki nilai RP
2
P
sama antara linear dengan kuadratiknya yaitu di Stasiun Gardutanjak.
Nilai RP
2
P
dari hubungan P00 dan indeks kekeringan pada setiap stasiun dapat dilihat pada Lampiran 10. Hasil regresi antara P00 dengan nilai indeks kekeringan secara linear dan kuadratik menunjukkan adanya pengaruh yang cukup erat di stasiun Kalimati (Gambar 18). Hal ini ditunjukkan dengan nilai RP
2
P
terbesar, terdapat pada stasiun tersebut sebesar 0.2448 untuk linear dan 0.3429 untuk kuadratik, dimana nilai curah hujan tahunannya 1116 mm/tahun. Nilai linear dan kuadratik terendah ada pada stasiun Ciboleger. Mungkin hal ini dapat disebabkan oleh curah hujan yang sedikit di stasiun Ciboleger.
y = -14.809x + 12.95 R2 = 0.2448 y = -49.965x2 + 64.932x - 17.731 R2 = 0.3429 -8 -6 -4 -2 0 2 4 6 8 0.000 0.200 0.400 0.600 0.800 1.000 P00 PD SI
Gambar 18. Grafik Linear dan kuadratik stasiun Kalimati
Membandingkan nilai RP
2
P
linear dan kuadratik dari hasil yang diperoleh secara manual dengan RP 2 P di tabel 0.05 (RP 2 P linear sebesar 0.030 dan RP 2 P kuadratik sebesar 0.047) pada data ≤125 bulan, yang terdapat di stasiun Banjaririgasi, Bojong Manik, Cicinta, Cisalak Baru, Ragas Hilir diketahui bahwa nilai RP
2
P
linear dan kuadratik manualnya mendekati nilai RP
2
P
tabelnya. Kecuali di stasiun Ciboleger, dimana nilai RP
2
P
linearnya lebih kecil (0.0011) dari RP
2
P
tabelnya (0.0303) dan stasiun Babadan nilai RP
2
P
linear (0.0103)dan kuadratik (0.0261) manualnya lebih kecil dari RP
2
P
tabel linear (0.030276) dan kuadratiknya (0.046656). Pada data 125-150 bulan, dengan RP
2
P
di tabel 0.05 (RP
2
P
linear sebesar 0.025 dan 0.030 kemudian RP
2
P
kuadratik sebesar 0.039 dan 0.047) yang terdapat di stasiun Banyawakan, Bobojong, Kalimati, Pamanuk, Rancasumur, serta pada data 150-200 bulan, dengan RP
2
P
di tabel 0.05 (RP
2
P
linear sebesar 0.025 dan 0.019 kemudian RP
2
P
kuadratik sebesar 0.039 dan 0.030) yang terdapat di stasiun Balaraja, Bumi Ayu Benda, Gunung Tunggal, Karang Kobong, Kosambi, Panancangan, Pipitan, Sepatan, Serpong, Toge, pada data 200-300 bulan, dengan RP
2 P di tabel 0.05 (RP 2 P
linear sebesar 0.019 dan 0.013 kemudian RP
2
P
kuadratik sebesar 0.030 dan 0.020) yang terdapat di stasiun Baros, Bengkok Ciminyak, Batu Bantar Cimanuk, Cikasungka, Cikomara, Cimarga, Ciomas, Citeureup, Gardutanjak, Kosambi Dalam, Kalenpetung, Pamarayan, Pasir Ona Cijoro, Petir, Sampai Suka Rendah, Sampang Peundeuy, Taktakan, Telagasari, diketahui bahwa nilai RP
2
P
linear dan kuadratik dari hasil yang diperoleh secara manual hampir selalu lebih besar dan ada nilai yang mendekati RP
2
P
tabel. hasil analisis regresi nilai RP
2
P
linear dan kuadratik pada seluruh stasiun dari hasil yang dihitung secara manual selalu lebih besar dan hal ini dinyatakan memiliki nilai yang signifikan terhadap RP
2
P
tabel 0.05 hampir di seluruh stasiun. Kecuali RP
2
P
linear dan kuadratik pada stasiun Babadan, Panancangan, Ciboleger, yang tidak signifikan serta RP
2
P
kuadratik yang tidak signifikan di stasiun Toge.
4.6.8 Hubungan PDSI dengan Peluang Hari Kering Setelah Hari Sebelumnya Hujan (P10)
Fluktuasi indeks kekeringan Palmer dengan P10 hari berturut-turut pada masing- masing 40 stasiun memiliki bentuk regresi
linear dan regresi kuadratik yang juga tidak berpola. Sama seperti fluktuasi antara PDSI dengan jumlah hari kering, peluang DHK≥5, DHK≥10, DHK≥15 dan P00 fluktuasi antara PDSI dengan P10 juga memiliki garis regresi linear seluruhnya (40 stasiun) tergambar garis semakin ke kanan, semakin menurun. Hal ini dapat dikatakan semakin meningkatnya P10 maka semakin rendah nilai indeks Palmernya. Sedangkan untuk garis regresi kuadratiknya terbentuk garis dengan tiga pola, yaitu garis setengah lingkaran dengan puncak menghadap ke atas, garis setengah lingkaran dengan puncak menghadap ke bawah, dan garis yang hampir mengikuti garis regresi linear. Terdapat stasiun yang memiliki nilai RP
2
P
sama antara linear dengan kuadratiknya yaitu di Stasiun Gunung Tunggal.
Nilai RP
2
P
dari hubungan P10 dan indeks kekeringan pada setiap stasiun dapat dilihat pada Lampiran 10. Hasil regresi antara P10 dengan nilai indeks kekeringan secara linear dan kuadratik menunjukkan adanya pengaruh yang cukup erat di stasiun Gardutanjak dan Kalimati (Gambar 19). Hal ini ditunjukkan dengan nilai RP
2
P
terbesar, terdapat pada stasiun tersebut sebesar 0.2104 untuk linear dan 0.3081 untuk kuadratik, dimana nilai curah hujan tahunan untuk stasiun Gardutanjak yaitu sebesar 3638 mm/tahun. Nilai linear dan kuadratik terendah ada pada stasiun Petir dan Kosambi Dalam. Mungkin hal ini dapat disebabkan oleh banyaknya data yang hilang di stasiun Petir. y = 3.9709x - 1.9987 R2 = 0.171 y = -14.008x2 + 17.529x - 2.9488 R2 = 0.3081 -8 -6 -4 -2 0 2 4 6 8 0.000 0.200 0.400 0.600 0.800 1.000 P10 PD S I
Gambar 19. Grafik Linear dan kuadratik stasiun Kalimati
Membandingkan nilai RP
2
P
linear dan kuadratik dari hasil yang diperoleh secara manual dengan RP 2 P di tabel 0.05 (RP 2 P linear sebesar 0.030 dan RP 2 P
kuadratik sebesar 0.047) pada data ≤125 bulan, yang terdapat di stasiun Babadan, Cicinta, Cisalak Baru, Ragas Hilir diketahui bahwa nilai RP
2
P
linear dan kuadratik manualnya lebih kecil dari nilai RP
2
P
Manik, Banjaririgasi, Ciboleger, dimana nilai RP
2
P
linear manualnya lebih besar dari RP
2
P
tabelnya. Namun di stasiun bojong Manik, juga mengalami nilai RP
2
P
kuadratik manualnya lebih kecil dari RP
2
P
tabelnya. Pada data 125-150 bulan, dengan RP 2 P di tabel 0.05 (RP 2 P linear sebesar 0.025 dan 0.030 kemudian RP
2
P
kuadratik sebesar 0.039 dan 0.047) yang terdapat di stasiun Banyawakan, Bobojong, Kalimati, Pamanuk, Rancasumur, serta pada data 150-200 bulan, dengan RP 2 P di tabel 0.05 (RP 2 P linear sebesar 0.025 dan 0.019 kemudian RP
2
P
kuadratik sebesar 0.039 dan 0.030) yang terdapat di stasiun Balaraja, Bumi Ayu Benda, Gunung Tunggal, Karang Kobong, Kosambi, Panancangan, Pipitan, Sepatan, Serpong, Toge, pada data 200-300 bulan, dengan RP
2 P di tabel 0.05 (RP 2 P
linear sebesar 0.019 dan 0.013 kemudian RP
2
P
kuadratik sebesar 0.030 dan 0.020) yang terdapat di stasiun Baros, Bengkok Ciminyak, Batu Bantar Cimanuk, Cikasungka, Cikomara, Cimarga, Ciomas, Citeureup, Gardutanjak, Kosambi Dalam, Kalenpetung, Pamarayan, Pasir Ona Cijoro, Petir, Sampai Suka Rendah, Sampang Peundeuy, Taktakan, Telagasari, diketahui bahwa nilai RP
2
P
linear dan kuadratik dari hasil yang diperoleh secara manual 50% nilainya selalu lebih kecil dari nilai RP
2
P
tabel. Hasil analisis regresi menunjukkan bahwa hasil analisis regresi nilai RP
2
P
linear dan kuadratik pada seluruh stasiun dari hasil yang dihitung secara manual selalu lebih besar dan hal ini dinyatakan memiliki nilai yang signifikan terhadap RP
2
P
tabel 0.05 hampir di seluruh stasiun. Kecuali RP
2
P
linear dan kuadratik pada stasiun Bumi Ayu Benda, Cisalak Baru, Kosambi Dalam, Panancangan, Petir, yang tidak signifikan dan RP
2
P
linear yang tidak signifikan di stasiun Babadan, Baros, Bengkokciminyak, Ciomas, Kalenpetung, Pamanuk, Pasir Ona Cijoro, Pipitan, Ragashilir, Rancasumur, Sampai Suka rendah, Sepatan, Serpong, Taktakan, Telagasari, serta RP
2
P
kuadratik yang tidak signifikan di stasiun Bojong Manik.
4.7 Analisis Korelasi dan Regresi Linear