Bab 5 HASIL DAN PEMBAHASAN
5.1.4 Hubungan perilaku caring perawat dengan tingkat
pasien kanker payudara di RSUP H.Adam Malik Medan.
Analisa hubungan perilaku caring perawat dengan tingkat kecemasan pasien kanker payudara diiukur dengan uji korelasi
Spearman. Hal ini dikarenakan saat melakukan uji normalitas didapatkan nilai signifikansi untuk variabel caring 0.44 . Jika nilai
p<0.05 maka diinterpretasikan bahwa sebaran data tidak normal. Berdasarkan hasil uji korelasi nilai koefisien korelasi spearman rho’
atau r sebesar 0.027 dan nilai signifikansi p 0.86 . Hal ini menunjukkan bahwa tidak ada hubungan antara perilaku caring perawat dengan tingkat kecemasan pasien kanker payudara di RSUP H.Adam Malik Medan.
Tabel 5. 1.4. Hasil analisa hubungan perilaku caring perawat dengan tingkat kecemasan pasien kanker payudara di RSUP H.Adam Malik Medan.
(n=40)
Variabel r P (Value)
Perilaku Caring 0.027 0.868
5.2 Pembahasan
5.2.1 Perilaku Caring perawat pada pasien kanker payudara di ruangan rawat inap RSUP H. Adam Malik Medan
Dari hasil analisis deskriptif perilaku caring perawat (pada tabel 4) menunjukkan bahwa sebagian besar pasien (50%) menyatakan perilaku
caring perawat sudah berada pada kategori baik dalam melakukan asuhan keperawatan di ruang rawat inap di RSUP H.Adam Malik Medan. Watson (1985 dalam Kozier, 2010) yang menggambarkan caring sebagai inti dari keperawatan yang digambarkan dalam sebuah kesatuan nilai-nilai kemanusian yang universal (kebaikan, kepedulian dan cinta terhadap diri sendiri dan orang lain) dan juga oleh Watson (1999 dalam Alligood & Tomey, 2006) yang menyatakan bahwa caring merupakan hubungan antara dua individu yang unik yaitu perawat dan pasien sudah ditunjukkan dengan baik oleh perawat di RSUP H.Adam Malik Medan.
Namun, dari 40 responden masih terdapat 3 orang responden (7.5%) responden yang menyatakan bahwa perilaku caring perawat masih berada dalam kategori buruk. Hal ini mungkin terjadi dikarenakan responden masih baru menderita kanker payudara yaitu < 1 tahun sehingga pasien masih sangat membutuhkan peran perawat dalam menghadapi penyakitnya. Krujiver (2000) menyatakan bahwa pasien kanker payudara mengalami penderitaan dan kecemasan terutama pada awal didiagnosis berkisar antar 2-3 bulan sehingga peran perawat sangat dibutuhkan. Peran yang dibutuhkan terlebih komunikasi terapeutik oleh perawat yang dapat
ditunjukkan dengan sikap empati, memberikan sentuhan untuk menenangkan dan memberikan rasa aman dan nyaman.
Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Qomariah (2012) tentang hubungan kecerdasan spiritual dengan perilaku
caring perawat di ruang rawat Inap RSUP Haji Adam Malik Medan, dari hasil analisa data deskriptif diketahui bahwa mayoritas perawat (53,5 %) memiliki perilaku caring yang baik. Begitu juga penelitian yang dilakukan oleh Arlinda (2008) tentang perilaku caratif caring perawat RSUP H. Adam Malik Medan, maka diketahui bahwa secara keseluruhan pelaksanaan caratif caring perawat (58 %) sudah baik.
Sebaliknya, penelitian yang dilakukan oleh Ardiana (2010) di RSU Dr H Koesnadi Bondowoso tentang persepsi pasien terhadap perilaku
caring perawat, masih ditemukan hampir sebagian perawat (46 %) kurang
caring terhadap pasien. Perawat dinilai kurang dapat melakukan komunikasi terapeutik dengan baik (60%) dan juga perawat belum dapat membantu pasien secara maksimal dalam memenuhi kebutuhan dasar seperti BAK, BAB dan lain-lain.
Watson (1979) juga menekankan dalam sikap caring ini harus tercermin sepuluh faktor. Watson (1985 dalam Tomey, 1994) mengidentifikasi sepuluh carative faktor sebagai pondasi dan kerangka kerja dalam praktik keperawatan. Dalam setiap komponen menjelaskan hubungan yang dilakukan antara perawat dengan pasien. Watson (1979) juga menekankan dalam sikap caring ini harus tercermin sepuluh faktor
caratif yang berasal dari perpaduan nilai-nilai humanistik dengan ilmu pengetahuan dasar dalam memberikan asuhan (Asmadi, 2008).
Hasil analisis data perilaku caring perawat berdasarkan sepuluh faktor caratif (tabel 6) dapat dilihat bahwa pada komponen membentuk sistem nilai membentuk nilai humanistik-altruistik, menciptakan kepercayaan dan harapan, dan meningkatkan rasa sensitive pada diri sendiri dan orang lain mayoritas perawat menunjukkan perilaku yang baik (85%). Hal ini sesuai dengan Watson et al (2005 dalam Alligood & Tomey, 2006) yang menyatakan caring sebagai moral ideal keperawatan yang dimiliki perawat dalam membina hubungan interpersonal dan nilai- nilai kemanusian.
Dalam hal membangun hubungan saling percaya dan membantu, didapatkan hasil dalam kategori cukup (67.5). Dari hasil analisa data responden menyatakan bahwa sebagian perawat (52.5 %) tidak pernah menanyakan nama panggilan pasien saat bertemu dan juga perawat tidak pernah memperkenalkan diri kepada pasien saat pertama bertemu (45 %). Responden menyatakan bahwa kemungkinan perawat bisa mengetahui nama responden dari status pasien dan juga dari gelang yang ada ditangan pasien sehingga tidak pernah menanyakan lagi nama panggilan dari pasien. Hal ini belum sesuai dengan Watson (1985 dalam Tomey, 1994) yang menyatakan bahwa pengembangan hubungan saling percaya dan membantu antara perawat dan pasien merupakan hal yang penting sekali dalam pelaksanaan caring. Tanpa adanya rasa percaya antara perawat dan pasien maka hubungan caring yang dibangun akan gagal (Barbara, 1981)
Untuk membangun hubungan saling percaya maka perawat harus bersikap harmonis, menunjukkan sikap empati, bersikap hangat, dan dapat melaksanakan komunikasi terapuetik dengan baik (Potter & Perry, 2009).Dalam melaksanakan komunikasi terapeutik yang baik, pengenalan diri merupakan hal yang penting. Saat perawat tidak memperkenalkan diri ataupun tidak tahu nama pasien akan menyebabkan suatu keraguan dalam suatu interaksi dan memberikan kesan bahwa perawat tidak mengenal baik pasiennya. Memanggil pasien dengan nama panggilannya akan membuat pasien merasa dihormati (Potter & Perry, 2009).
Dalam melaksanakan asuhan keperawatan maka perawat harus siap dalam menerima ekspresi perasaan negatif ataupun positif dari pasien. Hal yang dapat perawat lakukan misalnya memahami setiap ekspresi kekhawatiran klien, cara klien menunjukkan rasa sakitnya, nilai atau budaya yang dimiliki klien berhubungan dengan penyakitnya (Alligood & Tomey, 2006). Hal ini sudah sesuai dengan hasil analisa data pada komponen meningkatkan dan menerima ekspresi perasaan positif dan negative yang sudah berada dalam kategori baik (55%). Swason (1991 dalam Potter & Perry, 2009) juga menyatakan bahwa caring adalah suatu cara pemeliharaan hubungan dengan menghargai orang lain disertai dengan perasaan memiliki.
Dari hasil analisa data diketahui bahwa komponen meningkatkan pembelajaran interpersonal masih dalam kategori kurang (45%). Salah satu aspek dalam pembelajaran interpersonal adalah memberikan edukasi kepada pasien. Lorig (2003 dalam Potter & Perry, 2009) menyatakan
tujuan dari edukasi manajemen diri adalah penyediaan keterampilan bagi klien yang memiliki penyakit kronik untuk menjalani hidup yang aktif dan penuh arti. Pemberian edukasi yang baik pada pasien ataupun keluarga dapat membantu pasien kanker mengadopsi gaya hidup yang lebih sehat dan meningkatkan hasil perawatan pada pasien kanker.
Peneliti menemukan bahwa sebagian besar perawat (57.5%) tidak pernah mendorong pasien untuk bertanya tentang penyakit dan pengobatan yang dijalani pasien, sebagian besar perawat (60%) juga tidak pernah memastikan pasien mengerti tentang penjelasan yang sudah diberikan oleh perawat, dan juga masih banyak perawat ( 72.5 %) yang tidak pernah menanyakan pada pasien tentang hal-hal yang ingin diketahui pasien tentang penyakitnya, reponden juga menyatakan bahwa perawat (37.5 %) tidak pernah mengajarkan pasien tentang cara mengatasi penyakitnya. Hasil penelitian ini sesuai dengan penelitian oleh Ardiana (2010) di RSU Dr H Koesnadi Bondowoso diketahui bahwa dalam meningkatkan pembelajaran interpersonal juga masih dalam kategori kurang. Perawat belum mampu memberikan informasi tentang penyakit, pengobatan dan kondisi pasien dengan bahasa yang dapat dimengerti oleh pasien.
Pemberian informasi dan pembelajaran yang jelas oleh perawat dan dimengerti oleh pasien pasti akan membawa dampak yang baik dalam proses pengobatan yang dijalani pasien bahkan dalam proses penyembuhan penyakitnya. Hal ini belum sesuai dengan Watson (1985 dalam Tomey, 1994) yang menyatakan bahwa peningkatan pembelajaran interpersonal merupakan konsep penting yang membedakan antara caring
dan curing. Perawat memberi informasi kepada klien, memfasilitasi proses belajar-mengajar yang diciptakan agar klien dapat meningkatkan kemandiriannya, memenuhi kebutuhan secara mandiri dan memberikan kesempatan untuk pertumbuhan personal klien
Komponen faktor carative yang menyatakan menyediakan lingkungan yang mendukung secara fisik, mental, sosial dan spiritual sebagian besar responden menyatakan cukup (57.5%). Responden menyatakan bahwa mayoritas perawat (75 %) selalu menjaga ruangan dalam keadaan bersih dan rapi, dan sebagian perawat (57.5 %) selalu menjaga privasi perawat dalam melakukan tindakan keperawatan. Nighingale menyatakan bahwa lingkungan yang bersih berpengaruh terhadap kesahatan, dimana kondisi kesehatan sangat dipengaruhi oleh kebersihan perawat, kebersihan pasien dan kebersihan lingkungan (Asmadi, 2008). Oleh karena itu, perawat harus mampu membuat pemulihan suasana fisik dan non fisik serta menciptakan kebersamaan, keindahan, kenyamanan (Tomey, 1994).
Dari data diketahui bahwa dalam hal spiritual hanya sedikit perawat (12.5 %) yang selalu memperhatikan kebutuhan rohani pasien. Watson (2003 dalam Potter & Perry, 2009) bahwa dalam hubungan caring
perawat dan klien saling memahami satu sama lain, dan perawat berperan membantu klien dalam menggunakan sumber sosial, emosional dan spiritual untuk pemulihan keadaan klien.
Pelaksanaan carative factor dalam hal membantu pemenuhan kebutuhan dasar manusia sudah dalam kategori baik (52.5%). Perawat
harus memandang manusia secara holistik dari segi biologis, psikologis, sosial dan spiritual. Setiap manusia memiliki karakteristik yang unik dan untuk dapat membantu memenuhi kebutuhan dasar manusia perawat perlu mengenali karakteristik kebutuhan dasar klien dan menyesuaikannya dengan prioritas masing-masing (Asmadi, 2008).
Mengembangkan faktor kekuatan eksistensial-fenomenologis membantu seseorang dalam mengerti dan menemukan kekuatan atau kenberanian dalam menghadapi kehidupan dan kematian. Dari hasil analisis data komponen mengembangkan faktor kekuatan eksistensial- fenomenologis secara umum responden menyatakan masih dalam kategori cukup (60%). Watson yang mempertimbangkan bahwa faktor ini memang sulit untuk dimengerti oleh perawat, namun hal ini akan membawa perawat untuk memahami dirinya sendiri dan orang lain. Sehingga perawat dapat membantu seseorang untuk memahami kehidupan dan kematian dengan melibatkan kekuatan spiritual (Tomey, 1994).
Dari analisis data terhadap sepuluh faktor carative didapatkan hasil mayoritas komponen faktor carative berada dalam kategori baik. Penelitian yang dilakukan oleh Wahyuni (2008) yang menyatakan bahwa pelaksanaan faktor carative yang baik akan meningkatkan kepuasan pasien, dimana kepuasan pasien merupakan salah satu aspek yang penting dalam penilaian mutu pelayanan kesehatan. Namun hal ini tidak sesuai dengan penelitian oleh Widhiarti (2011) yang melihat kepuasan klien berdasarkan perilaku caring perawat yang mendapatkan hasil bahwa perilaku caring perawat dalam tingkat cukup sudah dapat membentuk
kepuasaan yang baik. Perilaku caring sangat penting dalam mempengaruhi kualitas pelayanan dan kepuasan pasien terutama di rumah sakit, karena kualitas pelayanan menjadi penentu citra institusi pelayanan yang nantinya akan dapat meningkatkan kepuasan pasien (Saputri, 2010).
5.2.2 Kecemasan pasien kanker payudara yang di rawat inap di RSUP