• Tidak ada hasil yang ditemukan

Hubungan Perilaku Merokok dengan Karboksihaemoglobin (HbCO) pada Perokok Aktif di Lingkungan I Kelurahan Wek V Kota Padang pada Perokok Aktif di Lingkungan I Kelurahan Wek V Kota Padang

Lingkungan I Kelurahan Wek V Kota Padang Sidempuan

(%) 1 Jenis Rokok

5.4. Hubungan Perilaku Merokok dengan Karboksihaemoglobin (HbCO) pada Perokok Aktif di Lingkungan I Kelurahan Wek V Kota Padang pada Perokok Aktif di Lingkungan I Kelurahan Wek V Kota Padang

Sidempuan

5.4.1. Pengetahuan

Pengetahuan adalah kemampuan responden dalam hal pemahamannya tentang rokok. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 28 responden yang mempunyai pengetahuan baik mayoritas memiliki karboksihaemoglobin (HbCO) rendah sebanyak 18 responden (60,0%) sedangkan responden yang memiliki karboksihaemoglobin (HbCO) tinggi sebanyak 10 responden (33,3%).

Hasil uji chi square didapat nilai p = 1,000 (p > 0,05), artinya tidak ada hubungan yang signifikan antara pengetahuan dengan kadar karboksihaemoglobin (HbCO).

Pengetahuan merupakan hasil tahu dan ini terjadi setelah seseorang melakukan penginderaan terhadap suatu objek tertentu (Notoatmodjo, 2003). Dengan pengetahuan yang baik, maka diasumsikan seseorang mengetahui tentang bahaya merokok. Pengetahuan akan berubah menjadi sikap dan sikap berubah menjadi tindakan (Maulana, 2009). Namun, banyak faktor yang mempengaruhi perilaku seseorang seperti keyaninan, ras, kepercayaan masyarakat disekitar lingkungan.

5.4.2. Sikap

Sikap dalam penelitian ini adalah Tanggapan responden tentang rokok.Hasil penelitian menunjukkan bahwa 27 responden yang mempunyai sikap baik mayoritas memiliki karboksihaemoglobin (HbCO) rendah sebanyak 17 responden (56,7%) dibandingkan dengan responden yang memiliki karboksihaemoglobin (HbCO) tinggi sebanyak 10 responden (33,3%).

Hasil uji chi square didapat nilai p = 1,000 (p > 0,05), artinya tidak ada hubungan yang signifikan antara sikap dengan kadar karboksihaemoglobin (HbCO). Menurut Azwar (2005), sikap dapat dipengaruhi oleh factor-faktor lain seperti lingkungan, budaya, adat istiadat atau pun pengalaman. Sehingga walaupun dengan pengetahuan yang baik belum tentu sikapnya baik pula.

5.4.3. Tindakan

Tindakan dalam penelitian ini adalah Suatu bentuk perbuatan atau aktivitas nyata dari responden tentang rokok. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 22 responden yang mempunyai tindakan baik memiliki karboksihaemoglobin (HbCO) rendah sebanyak 11 responden (36,7%) sebanding dengan responden yang memiliki karboksihaemoglobin (HbCO) tinggi sebanyak 11 responden (36,7%).

Hasil uji chi square didapat nilai p = 0,014 (p < 0,05), artinya ada hubungan yang signifikan antara tindakan dengan kadar karboksihaemoglobin (HbCO). Tindakan yang baik diasumsikan memiliki tingkah laku kesehatan yang baik, yakni tidak melakukan tindakan yang merugikan kesehatan seperti merokok, namun masih banyak faktor lain yang mempengaruhi tindakan seseorang. Tindakan diasumsikan

berkaitan dengan tingkah laku kesehatan perorangan, faktor-faktor sosial, ekonomi dan lingkungan yang lebih besar, seperti jaringan dukungan sosial, pekerjaan, penghasilan, dan perubahan (Maulana, 2009).

5.4.4. Jenis Rokok

Jenis Rokok dalam penelitian ini adalah bentuk sediaan rokok yang dihisap responden. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 19 responden yang mempunyai jenis rokok non filter mayoritas memiliki karboksihaemoglobin (HbCO) rendah sebanyak 12 responden (40,0%) dibandingkan dengan responden yang memiliki karboksihaemoglobin (HbCO) tinggi sebanyak 7 responden (23,3%).

Hasil uji chi square didapat nilai p = 1,000 (p>0,05), artinya tidak ada hubungan yang signifikan antara jenis rokok dengan kadar karboksihaemoglobin (HbCO). Hal tersebut diasumsikan bahwa tidak ada perbedaan antara rokok filter dan non filter terhadap kadar karbokhemoglobin dalam darah perokok. Kedua jenis rokok tersebut memberi pengaruh yang tidak baik bagi perokok.

Penelitian ini didukung dengan hasil penelitian Repine (1997) yang mengatakan rokok yang menggunakan filter dapat mengalami penurunan kandungan tar sekitar 5-15 mg. Walaupun rokok diberi filter, efek karsinogenik tetap bisa masuk dalam paru-paru ketika pada saat merokok hirupannya dalam-dalam, menghisap berkali-kali dan jumlah rokok yang digunakan bertambah banyak.

Menurut Caldwell (2001) mengatakan bahwa tidak ada perbedaan yang mendasar antar berbagai merek rokok termasuk rokok yang mempunyai filter tidak memberikan perlindungan apapun dari bahaya merokok. Rokok yang mengandung

filter hanya mengurangi kadar nikotin 25-50%, yang menurut pakar itu tidak berarti apa-apa. Kadar nikotin 25% dalam rokok sudah cukup membuat jantung berdebar lebih cepat. Semua jenis rokok menimbulkan iritasi pada mulut, hidung, tenggorokan dan sinus.

5.4.5. Lama Merokok

Lama merokok dalam penelitian ini adalah waktu pertama kali merokok sampai responden diwawancarai. Hasil penelitian menunjukkan bahwa mayoritas dari 28 responden yang mempunyai lama merokok > 10 tahun diantaranya 18 responden (60,0%) memiliki karboksihaemoglobin (HbCO) rendah.

Hasil uji chi square didapat nilai p = 1,000 (p>0,05), artinya tidak ada hubungan yang signifikan antara lama merokok dengan kadar karboksihaemoglobin (HbCO). Banyaknya perokok yang merokok >10 tahun menunjukkan bahwa sudah menjadi kebiasaan masyarakat di daerah kelurahan Wek V merokok bersama jika ada acara adat, maupun perkumpulan untuk sekedar berbincang-bincang. Tidak ada hubungan yang bermakna antara lama merokok dengan kadar karbokhaemoglobin dalam darah merokok diasumsikan bahwa CO bukan merupakan racun yang kumulatif. Ikatan Hb dengan CO bersifat reversible dan setelah Hb dilepaskan oleh CO, sel darah merah tidak mengalami kerusakan (Alviventiasari, 2012).

5.4.6. Jumlah Rokok yang Dihisap

Jumlah rokok yang dihisap adalah banyaknya rokok yang dihisap responden per hari. Hasil penelitian menunjukkan bahwa mayoritas responden yang mempunyai

jumlah rokok yang dihisap 10-20 batang per hari memiliki karboksihaemoglobin (HbCO) rendah sebanyak 16 responden (53,3%).

Hasil uji chi square didapat nilai p = 1,000 (p>0,05), artinya tidak ada hubungan yang signifikan antara jumlah rokok yang dihisap dengan kadar karboksihaemoglobin (HbCO).

Penelitian ini didukung penelitian Killinc (2004) menunjukkan bahwa perokok memiliki hitung eritrosit lebih banyak daripada non perokok. Penelitian lain yang mendukung adalah penelitian Underwood (1996) dan Narayanan (2003) yang menyatakan bahwa peningkatan hitung eritrosit pada perokok berhubungan dengan lamanya merokok dan jumlah rokok yang dihisap tiap hari. Peningkatan dalam parameter ini merupakan adaptasi terhadap adanya karbon monoksida yang terkandung dalam asap rokok.

5.4.7. Cara Menghisap Rokok

Cara menghisap rokok dalam penelitian ini adalah teknik responden dalam menghisap rokok. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 14 responden yang mempunyai menghisap rokok dimulut mayoritas memiliki karboksihaemoglobin (HbCO) rendah sebanyak 8 responden (26,7%) dibandingkan dengan responden yang memiliki karboksihaemoglobin (HbCO) tinggi sebanyak 6 responden (20,0%).

Hasil uji chi square didapat nilai p = 0,643 (p > 0,05), artinya tidak ada hubungan yang signifikan antara cara menghisap rokok dengan kadar karboksihaemoglobin (HbCO).

Penelitian ini didukung oleh penelitian Sitepoe (1997), menyatakan bahwa dalam rokok terdapat CO sejumlah 2%-6% pada saat merokok, sedangkan CO yang dihisap oleh perokok paling rendah sejumlah 400 ppm sudah dapat meningkatkan kadar karboksihemoglobin dalam darah sejumlah 2-16%. Jumlah nikotin yang dihisap dipengaruhi oleh berbagai faktor kualitas rokok, jumlah tembakau setiap batang rokok, dalamnya isapan, lamanya isapan, dan menggunakan filter rokok atau tidak.

5.5. Pengaruh Kandungan Asap Rokok terhadap Karboksihaemoglobin

Dokumen terkait