BAB IV. HASIL PENELITIAN
B. Analisis Statistik
5. Hubungan Perilaku Seksual dan Kanker Serviks Invasif
Data yang telah diambil dalam penelitian ini diolah menggunakan uji analisis regresi logistik ganda, dengan uji tersebut maka dapat diketahui apakah hubungan antarvariabel secara statistik bermakna.
Tabel 4.9 Hasil analisis regresi logistik ganda hubungan usia coitarche, riwayat jumlah pasangan seksual, riwayat penyakit menular seksual dan riwayat kontrasepsi dengan kejadian kanker serviks invasif Variabel bebas Adjusted Odds Ratio (AOR) CI 95% p Batas bawah Batas atas Usia coitarche th 1.34 0.43 4.08 0.624 Pernah PMS 11.37 1.37 94.28 0.024 Riwayat KB-hormonal Pasangan seksual 4.11 0 0.82 0 20.70 . 0.087 1 N observasi = 80 Nagelkerke R² = 27.3% -2 loglikehood ratio =73.69
Tabel 4.9 menunjukkan wanita yang pernah menderita Penyakit Menular Seksual (PMS) memiliki risiko untuk mengalami kanker serviks invasif 11.37 kali lebih besar dibanding dengan wanita yang tidak pernah menderita PMS (AOR = 11.37; CI 95% = 1.37 s.d 94.28; p = 0.024). Hubungan ini telah mengontrol pengaruh usia coitarche, riwayat pasangan seksual, dan riwayat kontrasepsi.
Nagelkerke R2 = 27.3% artinya dengan model analisis regresi logistik ganda, variabel riwayat usia coitarche, riwayat penyakit menular seksual, riwayat pasangan seksual dan riwayat kontrasepsi secara bersamaan di dalam model regresi logistik mampu menjelaskan tingkat kejadian kanker serviks sebesar 27.3%.
commit to user
35 BAB V PEMBAHASAN
Penelitian dengan judul “Hubungan Perilaku Seksual dan kejadian Kanker Serviks Invasif” dilakukan di RSUD Dr. Moewardi sejak bulan Juni - September 2012. Dari total responden tersebut telah dilakukan pemisahan dengan cara pengeluaran dari penelitian untuk yang memenuhi syarat ekslusi dan dimasukkan dalam penelitian untuk yang memenuhi syarat inklusi. Berdasarkan pemisahan ini didapatkan 60 pasien kanker serviks invasif dan 20 pasien kanker ginekologis selain kanker serviks.
A. Hubungan Usia Coitarche dan Kejadian Kanker Serviks Invasif
Banyak faktor yang mempengaruhi kejadian kanker serviks. Usia pertama melakukan hubungan seksual dan jumlah pasangan seksual juga berpengaruh terhadap kejadian kanker serviks. Menurut Rasjidi (2008) berhubungan seksual sebelum usia 18 tahun dapat meningkatkan risiko kanker serviks. Pada penelitian ini, terdapat hubungan antara usia pertama melakukan hubungan seksual (coitarche) dan kejadian kanker serviks invasif. Hasil analisis data menunjukkan bahwa usia coitarche dapat meningkatkan risiko mengalami kanker serviks invasif tetapi tidak bermakna secara statistik (OR = 1.069; CI 95% = 0.387 s.d 2.955; p = 0.897 ). Wanita yang menikah usia <20 tahun memiliki risiko mengalami kanker serviks 5 kali lebih besar (Setyarini, 2009). Penelitian Irvianty (2011) juga menunjukkan bahwa usia coitarche <20 tahun meningkatkan risiko mengalami kanker serviks 2.286 kali lebih besar
commit to user
36
dibanding pasien dengan usia coitarche >20 tahun serta tidak memiliki hubungan bermakna dengan kejadian kanker serviks (OR = 2.286; p = 0.056).
B. Hubungan Riwayat Jumlah Pasangan Seksual dan Kejadian Kanker Serviks Invasif
Kahn (2009) menyebutkan infeksi HPV bisa didapat beberapa bulan setelah berhubungan seksual: sebuah studi universitas di Amerika Serikat melaporkan bahwa wanita yang baru pertama melakukan hubungan seksual dengan pasangan tunggal, 30% menjadi HPV positif dalam satu tahun. Hasil penelitian Franceschi (2009) menunjukkan berganti pasangan seksual
mempunyai OR = 1,5. Individu yang sering berganti pasangan seksual (multisexualpatner) akan meningkatkan risiko terkena kanker serviks. Hal ini disebabkan perilaku seksual berganti pasangan seksual akan meningkatkan penularan penyakit kelamin. Hasil analisis menunjukkan hubungan tidak signifikan (OR = 0.74; CI 95% = 0.65 s.d 0.85; p = 0.308). Belum dapat dikatakan bahwa riwayat satu pasangan seksual dapat mengurangi risiko terkena kanker serviks sebab dalam penelitian ini belum menggali informasi secara terbuka mengenai jumlah sebenarnya riwayat pasangan seksual responden. Pada penelitian Khasbiyah (2004) juga gagal menunjukkan hubungan pasangan seksual dan kejadian kanker serviks (p > 0.05).
commit to user
37
C. Hubungan Riwayat Penyakit Menular Seksual dan Kejadian Kanker Serviks Invasif
Berdasarkan hasil analisis data juga terdapat hubungan yang kuat dan secara statistik signifikan antara riwayat penyakit menular seksual dan kejadian kanker serviks invasif (AOR = 13.57; CI 95% = 1.70 s.d 108.13; p = 0.002). Hasil analisis menunjukkan bahwa wanita dengan riwayat pernah mengalami PMS memiliki risiko 13.57 kali lebih besar mengalami kanker serviks dibanding wanita tanpa riwayat PMS. Hasil ini sesuai dengan teori Rasjidi (2008) yang menyebutkan penyakit menular seksual non-HPV yang dialami dapat meningkatkan risiko terjadinya infeksi sekunder oleh HPV karena adanya lesi pada organ genital pasien. Selain itu Saputra (2011) juga menyebutkan bahwa virus HPV hidup di daerah yang lembab, persisnya dalam cairan vagina yang diidap oleh penderita keputihan (leukorea) akan mempermudah terjadinya infeksi HPV. Keputihan yang dibiarkan terus-menerus tanpa diobati serta Penyakit Menular Seksual (PMS) yaitu penyakit-penyakit yang ditularkan melalui hubungan seksual antara lain sifilis, gonore, herpes simpleks, HIV-AIDS, kutil kelamin dapat meningkatkan risiko terjadinya kanker serviks (Arisusilo, 2012). Dalam penelitiannya Suraiya (2011) didapatkan bahwa infeksi seksual (factor loading
0.694) bersama usia pertama kali melakukan hubungan seksual, dan pemakaian kontrasepsi merupakan faktor pendukung yang mempengaruhi peningkatan penderita kanker serviks di RS Pirngadi Medan sebesar 1.528.
commit to user
38
D. Hubungan Riwayat Kontrasepsi dan Kejadian Kanker Serviks Invasif Dari hasil penelitian ini didapat bahwa riwayat kontrasepsi hormonal meningkatkan risiko terkena kanker serviks invasif dan signifikan secara statistik (OR = 5.21; CI 95% = 1.103 s.d 24.607; p = 0.024). Riwayat kontrasepsi hormonal meningkatkan risiko mengalami kanker serviks 5.21 kali lebih tinggi dibanding pasien tanpa riwayat kontrasepsi hormonal. Kontrasepsi hormonal yang dimaksud meliputi pil kontrasepsi kombinasi, pil progestin, suntik progestin, suntik kombinasi, susuk, koyo KB. Hasil penelitian Setyarini (2009) di RSUD Dr. Moewardi menunjukkan ada hubungan antara penggunaan kontrasepsi oral dengan kejadian kanker serviks dan meningkatkan risiko mengalami kanker serviks sebesar 0.20 kali. Has (2009) dalam penelitiannya juga didapat bahwa menggunakan kontrasepsi pil meningkatkan risiko mengalami kanker serviks sebesar 5.445 kali lebih besar. Pasien dengan riwayat pemakaian kontrasepsi hormonal kombinasi memiliki risiko mengalami kanker serviks 17,9 kali lebih besar dibanding dengan pasien yang tidak menggunakan kontrasepsi hormonal kombinasi (Pratiwi, 2010).
Kontrasepsi hormonal per-oral berperan sebagai alat yang mempengaruhi karsinogenesis serviks (Bicho, 2009). Hal ini terjadi sejak diketahuinya peran estrogen yang memiliki efek trophic dalam meningkatkan pertumbuhan sel.
commit to user
39
E. Hubungan Usia Coitarche, Riwayat Jumlah Pasangan Seksual, Riwayat Penyakit Menular Seksual, Riwayat Kontrasepsi dan Kejadian Kanker Serviks Invasif
Hasil analisis regresi logistik ganda menunjukkan wanita yang pernah penderita Penyakit Menular Seksual (PMS) memiliki risiko untuk mengalami kanker serviks invasif 11.37 kali lebih besar dibanding dengan wanita yang tidak pernah menderita PMS (AOR = 11.37; CI 95% = 1.37 s.d 94.28; p = 0.024). Hubungan ini telah mengontrol pengaruh usia coitarche, riwayat pasangan seksual, dan riwayat kontrasepsi.
Nagelkerke R2 = 27.3% artinya dengan model analisis regresi logistik ganda, variabel riwayat usia coitarche, riwayat penyakit menular seksual, dan riwayat kontrasepsi secara bersamaan di dalam model regresi logistik mampu menjelaskan tingkat kejadian kanker serviks sebesar 27.3%.
commit to user
40
BAB VI PENUTUP
A. Simpulan
Berdasarkan hasil analisis data regresi logistik ganda, dapat disimpulkan: 1. Terdapat hubungan positif antara usia coitarche dan kejadian kanker
serviks invasif. Usia coitarche
kanker serviks sebesar 1.34 kali
2. Riwayat jumlah pasangan seksual belum dapat digunakan untuk menunjukkan hubungan dengan kejadian kanker serviks invasif sebab lembar pengumpul data dalam penelitian ini belum menggali informasi secara terbuka mengenai jumlah sebenarnya riwayat pasangan seksual responden
3. Terdapat hubungan positif antara riwayat kontrasepsi yang meliputi pil kontrasepsi kombinasi, pil progestin, suntik progestin, suntik kombinasi, susuk, dan koyo KB terhadap kejadian kanker serviks invasif. Riwayat kontrasepsi hormonal meningkatkan risiko mengalami kanker serviks invasif sebesar 4.11 kali
4. Terdapat hubungan positif antara riwayat penyakit menular seksual dan kejadian kanker serviks invasif. Pernah menderita PMS meningkatkan risiko mengalami kanker serviks invasif sebesar 11.37 kali
commit to user
41 B. Saran
1. Mengadakan penelitian lebih lanjut mengenai hubungan perilaku seksual terhadap kejadian kanker serviks invasif dengan jumlah sampel yang representatif, populasi yang lebih luas, dan lebih mengontrol variabel perancu.
2. Pemberian edukasi mengenai faktor-faktor yang berpengaruh terhadap kejadian kanker serviks kepada wanita pada umumnya