• Tidak ada hasil yang ditemukan

HASIL DAN PEMBAHASAN

4.3 Analisis Bivariat

4.3.2 Hubungan Perilaku Vaping Responden dengan Gejala Depresi

4.3.2.1 Kategori Sedih atau Putus Asa Selama 2 Minggu Berturut-turut Sehingga Tidak Ingin Melakukan Kegiatan Apapun dalam 12 Bulan Terakhir

Tabel 4.10 Hubungan Perilaku Vaping dengan Perasaan Sedih, Putus Asa 2 Minggu Berturut-turut Sehingga Tidak Ingin Melakukan Kegiatan Apapun dalam 12 Bulan Terakhir.

Jenis Perilaku vaping

Merasa sedih, putus asa 2 minggu berturut-turut sehingga tidak ingin melakukan kegiatan apapun dalam

12 bulan terakhir

Berdasarkan tabel 4.10 didapatkan bahwa dari 105 sampel responden vaping, Terdapat 20 responden yang sering vaping dan sering merasa sedih. Hasil dari uji Chi-Square yang diambil adalah nilai p = 0,000 atau p<0,05 menunjukkan bahwa secara statistik terdapat hubungan bermakna antara perilaku vaping berupa jumlah hari vaping dalam 30 hari dengan gejala depresi berupa sedih, putus asa 2 minggu berturut-turut dalam 12 bulan terakhir pada pelajar SLTA provinsi Banten Tahun 2017. Pelajar yang sering vaping berisiko mengalami gejala depresi. Dengan kandungan nikotin dalam Vaping yang bisa disesuaikan, nikotin akan menimbulkan gejala penarikan yang menyebabkan peningkatan gejala depresi seperti sedih dan putus asa.6,7

50

4.3.2.2 Kategori Pernah Mencoba Bunuh Diri dalam 12 Bulan Terakhir

Tabel 4.11 Hubungan Perilaku Vaping dengan Pernah Mencoba Bunuh Diri dalam 12 Bulan Terakhir.

Jenis Perilaku

vaping Pernah mencoba bunuh diri dalam

12 bulan terakhir Nilai P IK (95%) responden yang sering vaping dan sering mencoba bunuh diri. Hasil dari uji Chi-Square yang diambil adalah nilai p = 0,000 atau p<0,05 menunjukkan bahwa secara statistik terdapat hubungan bermakna antara perilaku vaping berupa jumlah hari vaping dalam 30 hari dengan gejala depresi berupa pernah mencoba bunuh diri dalam 12 bulan terakhir pada pelajar SLTA provinsi Banten Tahun 2017.

4.4. Pembahasan

Berdasarkan hasil analisis pada data mengenai hubungan merokok terhadap gejala depresi pada pelajar SLTA di Provinsi Banten, terdapat hubungan bermakna pada perilaku merokok dengan terjadinya gejala depresi berupa merasa sedih, putus asa selama 2 minggu atau lebih berturut-turut sehingga tidak ingin melakukan kegiatan apapun selama 12 bulan terakhir dan percobaan mencoba bunuh diri dalam 12 bulan terakhir. Hal ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh L. Berlin dan RM. Anthenelli sebelumnya yang mengatakan remaja yang merokok lebih rentan terkena depresi dari remaja yang tidak merokok. Hal ini disebabkan nikotin yang bersifat adiktif, saat seseorang telah kecanduan untuk merokok nikotin yang terkandung dalam tembakau merangsang otak untuk melepaskan zat yang memberi

51

rasa nyaman (dopamin), sehingga menyebabkan rasa ketergantungan. Ketika seseorang telah mengalami ketergantungan pada nikotin, maka saat efek withdrawal (putus zat) akan mengalami gangguan psikologis berupa perasaan tidak nyaman seperti cemas, merasa tertekan, sulit mengendalikan diri atau mudah marah, mudah putus asa, dan depresi.13

Hasil analisis hubungan vaping terhadap gejala depresi pada pelajar SLTA di Provinsi Banten, terdapat hubungan bermakna pada perilaku vaping dengan terjadinya gejala depresi berupa merasa sedih, putus asa selama 2 minggu atau lebih berturut-turut sehingga tidak ingin melakukan kegiatan apapun selama 12 bulan terakhir, dan percobaan mencoba bunuh dalam 12 bulan terakhir. Hal ini sesuai dengan penelitian yang dilakukan pada vaporizer Surabaya terdapat anggapan bahwa rokok elektrik lebih aman dan tidak mengandung nikotin didalamnya. Awal mula penggunaan vaping sebagai terapi untuk menghentikan kecanduan pada perokok dengan kadar nikotin yang disesuaikan, tetapi disalahgunakan dengan penggunaan kadar nikotin yang lebih tinggi sehingga menimbulkan efek negatif berupa rasa nyaman yang kemudian memunculkan efek withdrawal yang menyebabkan kecemasan.6,14

Kategori merokok yang berhubungan secara signifikan terhadap terjadinya gejala depresi yang diteliti di antaranya adalah:

a. Jumlah hari merokok dalam 30 hari dengan terjadinya gejala depresi berupa sedih dan putus asa 2 minggu berturut-turut dalam 12 bulan terakhir (p=0,000).

b. Jumlah hari merokok di lingkungan sekolah dalam 30 hari dengan terjadinya gejala depresi berupa sedih dan putus asa 2 minggu berturut-turut dalam 12 bulan terakhir (p=0,000).

c. Jumlah hari merokok dalam 30 hari dengan terjadinya gejala depresi berupa pernah mencoba bunuh diri dalam 12 bulan terakhir (p=0,000).

d. Jumlah hari merokok di lingkungan sekolah dalam 30 hari dengan terjadinya gejala depresi berupa pernah mencoba bunuh diri dalam 12 bulan terakhir (p=0,000).

52

Kategori vaping yang berhubungan secara signifikan terhadap terjadinya gejala depresi yang diteliti di antaranya adalah:

1. Jumlah hari vaping dalam 30 hari dengan terjadinya gejala depresi berupa sedih dan putus asa 2 minggu berturut-turut dalam 12 bulan terakhir (p=0,000).

2. Jumlah hari vaping dalam 30 hari dengan terjadinya gejala depresi berupa pernah mencoba bunuh diri selama 12 bulan terakhir (p=0,000).

Pada penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh Danang Prasetyo Wibowo yang melakukan penelitian pada tahun 2013 tentang Perbandingan Tingkat Depresi antara mahasiswa Perokok dengan Mahasiswa Non-Perokok. Menyatakan bahwa jumlah responden yang diteliti berjumlah 32 orang. Terdiri dari 16 orang mahasiswa perokok dan 16 orang mahasiswa non-perokok. Didapatkan 6,3%

responden non perokok menderita depresi ringan. Terdapat perbedaan secara signifikan antara kedua kelompok dalam hal etnis/suku bangsa (p=0,004). Tidak terdapat perbedaan secara signifikan pada autoritas responden terhadap control orangtua dan lingkungan (p=1,000).32 Selain faktor lain pada penelitian tersebut yang melatarbelakangi depresi pada pelajar SLTA, merokok dan vaping yang terdapat kandungan nikotin juga memberikan efek negatif berupa rasa nyaman dengan meningkatkan mood yang kemudian memunculkan efek withdrawal yang menimbulkan gejala depresi.30

Pelajar yang sering merokok dan vaping berisiko mengalami gejala depresi.

Pikiran untuk bunuh diri dapat timbul sekitar 2 per 3 pasien depresi dan 10-15%

diantaranya melakukan bunuh diri. Bunuh diri dan perasaan bersalah yang berlebihan seperti merasa sedih atau putus asa selama 2 minggu berturut-turut termasuk salah satu gejala depresi yaitu mood terdepresi dan pikiran bunuh diri yang sesuai kriteria diagnosis gangguan depresi berat pada Diagnostic and Statitical Manual of Mental Disorder, 4th edition.20

53 4.5 Kelebihan Penelitian

1. Penelitian lebih luas karena selain membahas mengenai hubungan perilaku merokok dan vaping dengan kejadian gejala depresi, penelitian ini juga membahas mengenai prevalensi merokok, prevalensi vaping dan prevalensi kejadian gejala depresi pada pelajar SLTA di provinsi Jawa Barat tahun 2017.

2. Penelitian ini merupakan penelitian YRBS mengenai perilaku berisiko pada remaja yang pertama kali dilakukan di Indonesia.

Dokumen terkait