V. DESKRIPSI LOKASI DAN SAMPEL PENELITIAN
5.4. Hubungan Persepsi Rumahtangga terhadap Kondisi
Penjelas
Setiap rumahtangga memiliki persepsi berbeda terhadap kondisi kelayakan lingkungan tempat tinggal di dekat jalur KRL. Hal ini dipengaruhi oleh beberapa variabel, yaitu tingkat pendidikan, luas lahan, lama tinggal, jarak ke sumber bising dan status kepemilikan rumah.
Semakin tinggi tingkat pendidikan rumahtangga, maka mereka menyatakan bahwa tempat tinggal mereka tidak layak. Hal ini dikarenakan semakin tinggi tingkat pendidikan seseorang maka persepsi seseorang mengenai kondisi kelayakan lingkungan tempat tinggal menjadi lebih baik. Semakin luas lahan, maka mereka menyatakan layak. Hal ini dikarenakan semakin luas lahan mereka maka kondisi rumah mereka lebih layak dibandingkan luas lahan yang sempit dimana kepadatan penghuninya lebih tinggi.
Semakin lama rumahtangga tinggal di wilayah ini, maka mereka menyatakan pemukiman mereka layak. Hal ini dikarenakan jika mereka menyatakan pemukiman ini tidak layak, dipastikan mereka telah pindah dari dulu. Semakin jauh jarak pemukiman ke sumber bising, maka menurut rumahtangga rumah mereka layak untuk ditempati karena tidak mengalami risiko sebesar risiko rumahtangga yang tinggal di dekat jalur KRL.
Jika status kepemilikan rumah suatu rumahtangga adalah milik sendiri, maka rumahtangga menilai rumah mereka layak sebagai tempat tinggal karena telah membeli rumah tersebut. Hubungan kondisi kelayakan lingkungan tempat tinggal di dekat jalur KRL dan variabel penjelas (tingkat pendidikan, luas lahan, lama tinggal, jarak ke sumber bising dan status kepemilikan rumah) dapat dilihat pada Tabel 8.
Tabel 8. Hubungan Persepsi Rumahtangga terhadap Kondisi Kelayakan Lingkungan Tempat Tinggal di Dekat Jalur KRL dan Variabel Penjelas
Variabel Penjelas
Kelayakan Tempat Tinggal (Rumahtangga)
Layak Tidak Layak
Tingkat Pendidikan ≤ SLTP > SLTP 20 61 1 28 Luas Lahan (m2) ≤ 20 6 2 21-40 39 14 41-60 37 12 61-80 7 1 > 80 2 - Lama Tinggal (Tahun) ≤ 20 60 20 21-40 29 9 > 40 2 - Jarak ke Sumber Bising (m) ≤ 20 > 20 40 49 18 11 Status Kepemilikan Rumah Milik Sendiri 48 12 Sewa 43 17
5.5. Hubungan Kesediaan Rumahtangga Menerima Ganti Rugi Pemukiman dan Variabel Penjelas
Setiap rumahtangga memiliki keinginan berbeda mengenai kesediaan menerima ganti rugi pemukiman tempat tinggal mereka. Hal ini dipengaruhi oleh beberapa variabel, yaitu jumlah anggota rumahtangga, luas lahan, tingkat pendidikan, jarak ke sumber bising dan status kepemilikan rumah. Semakin banyak anggota rumahtangga, maka rumahtangga semakin tidak bersedia menerima ganti rugi pemukiman karena banyak hal yang mereka urus untuk masing-masing anggota rumahtangga. Semakin luas lahan rumahtangga, maka mereka menyatakan tidak bersedia menerima ganti rugi pemukiman. Hal ini dikarenakan semakin luas lahan mereka maka kondisi rumah mereka lebih nyaman dibandingkan luas lahan yang sempit dimana kepadatan penghuninya lebih tinggi.
Semakin tinggi tingkat pendidikan rumahtangga, maka mereka menyatakan bahwa mereka bersedia menerima ganti rugi pemukiman (WTA) karena semakin tinggi tingkat pendidikan maka seseorang mengerti mengenai pemukiman menjadi lebih baik dan bersedia menerima ganti rugi pemukiman (WTA). Semakin jauh jarak pemukiman ke sumber bising, maka rumahtangga tidak bersedia menerima ganti rugi pemukiman (WTA) karena rumah yang mereka tempati tidak mengalami risiko sebesar risiko rumahtangga yang tinggal di dekat jalur KRL. Jika status kepemilikan rumah suatu rumahtangga adalah milik sendiri, maka rumahtangga tidak bersedia menerima ganti rugi pemukiman karena mereka menganggap mereka telah membeli rumah tersebut sesuai dengan keinginan. Hubungan kesediaan rumahtanga menerima ganti rugi pemukiman dan variabel penjelas (jumlah anggota rumahtangga, luas lahan, pendidikan, jarak ke sumber bising dan status kepemilikan rumah dapat dilihat pada Tabel 9.
Tabel 9. Hubungan Kesediaan Rumahtangga Menerima Ganti Rugi Pemukiman dan Variabel Penjelas
Variabel Penjelas
Kesediaan Menerima Ganti Rugi (Rumahtangga)
Bersedia Tidak Bersedia Jumlah Anggota Rumahtangga (Orang) ≤ 2 20 7 2-4 38 28 5-6 9 13 > 6 1 4 Luas Lahan (m2) ≤ 20 6 2 21-40 34 20 41-60 24 23 61-80 4 5 > 80 - 2 Tingkat Pendidikan ≤ SLTP 9 19 > SLTP 59 33 Jarak ke Sumber Bising (m) ≤ 20 34 26 > 20 34 26 Status Kepemilikan Rumah Milik Sendiri 24 36 Sewa 44 26
5.6. Hubungan Willingness to Accept (WTA) dan Variabel Penjelas
Nilai WTA yang didapatkan dari rumahtangga memiliki nilai yang berbeda-beda. Perbedaan nilai WTA ini dipengaruhi oleh variabel-variabel penjelas yaitu luas lahan, lama tinggal, tingkat pendidikan, pengeluaran rumahtangga, status kepemilikan rumah dan jarak ke sumber bising. Variabel-variabel tersebut merupakan karakteristik setiap rumahtangga. Hubungan WTA dan variabel-variabel penjelas tersebut akan dijelaskan sebagai berikut :
1. Hubungan Luas Lahan dan Lama Tinggal dan Nilai Besarnya WTA
Tabel 10 menunjukkan secara umum semakin luas lahan maka semakin besar nilai WTA rata-rata yang diberikan oleh rumahtangga, nilai WTA rata-rata turun pada saat luas lahan 31-60 m2, namun nilai WTA rata-rata naik saat luas lahan lebih dari 60 m2 dan nilai WTA rata-rata yang didapatkan lebih besar dari pada nilai WTA rata-rata saat luas lahan kurang dari sama dengan 30 m2. Sedangkan semakin lama tinggal maka besarnya nilai WTA rata-rata semakin kecil yang diberikan oleh rumahtangga, nilai WTA rata-rata naik pada lama tinggal 21-40 tahun, namun nilai WTA rata-rata turun pada lama tinggal lebih dari 40 tahun dan nilai WTA rata-rata yang didapatkan lebih rendah dari pada nilai WTA rata-rata yang didapatkan pada lama tinggal kurang dari sama dengan 20 tahun.
Tabel 10. Hubungan Luas Lahan dan Lama Tinggal dan WTA (Rp)
Lama Tinggal Luas
≤ 30 m2 31-60 m2 > 60 m2 Rata-rata
≤ 20 Tahun 1 534 000 1 619 642 1 600 000 1 584 547
21-40 Tahun 1 750 000 1 475 000 1 775 000 1 666 667
>40 Tahun - 1 350 000 - 1 350 000
2. Hubungan Tingkat Pendidikan dan Pengeluaran Rumahtangga dan WTA Tabel 11 menunjukkan semakin tinggi tingkat pendidikan rumahtangga maka semakin besar nilai WTA rata-rata yang diberikan oleh rumahtangga, walaupun nilai WTA rata-rata naik-turun. Sedangkan semakin besar pengeluaran rumahtangga maka semakin besar nilai WTA rata-rata yang diberikan oleh rumahtangga.
Tabel 11. Hubungan Tingkat Pendidikan dan Pengeluaran Rumahtangga
dan WTA (Rp) Pengeluaran per Tahun (Rp) Pendidikan SD SLTP SMA PT Rata-rata ≤ 40 000 000 1 425 000 1 983 333 1 376 363 1 680 000 1 292 939 40 000 001- 80 000 000 - 1 500 000 1 575 000 1 726 190 1 600 397 > 80 000 000 - - - 1 800 000 1 800 000 Rata-rata 1 425 000 1 741 667 1 475 682 1 735 397 1 275 549
3. Hubungan Status Kepemilikan Rumah dan Jarak dari Sumber Bising dan WTA
Tabel 12 menunjukkan jika status kepemilikan rumah adalah milik maka nilai WTA lebih besar daripada status kepemilikan rumah sewa dan semakin jauh dari jarak ke sumber bising maka nilai WTA semakin besar.
Tabel 12. Hubungan Status Kepemilikan Rumah dan Jarak ke Sumber
Bising dan WTA (Rp)
Status Kepemilikan Rumah
Jarak dari Sumber Bising ≤ 20 m > 20 m Rata-rata
Milik sendiri 1 665 384 1 681 818 1 673 601
Sewa 1 578 571 1 580 434 1 579 503
Rata-rata 1 621 978 1 631 126 1 626 552
VI. ANALISIS PERSEPSI RUMAHTANGGA TERHADAP KONDISI