2.4. Kajian Hukum Terhadap Penerapan Konsep Pertanggungjawaban Pimpinan
2.4.1. Hubungan pimpinan dan bawahan (Superior-Subordinate Relationship)
Relationship)
Yamashita merupakan kasus pertama pasca Perang Dunia Kedua yang berbicara mengenai pertanggungjawaban pimpinan.82 Frank Reel dalam tulisannya yang kontroversial mengkritisi penerapan pertanggungjawaban pimpinan dalam kasus Yamashita yang menurutnya pada saat itu bukanlah suatu hukum internasional yang berlaku. Secara tegas beliau mengatakan:83
“Ruddock [a member of General MacArthur's Judge Advocate] expressed
himself in strong words about the charge. ‘Yamashita is being charged as a war criminal because his men violated the laws of war,’ he said. ‘They have nothing on him at all. They're trying to establish a new theory—that a commanding officer is responsible if his troops violated the laws of war, regardless of whether he ordered the violations or even knew of them. Under such a principle, I suppose even MacArthur should be tried. It is bad law’”
Putusan Komisi dalam kasus Yamashita hanya berbicara sedikit sekali dalam mendefinisikan tingkat kendali yang harus dimiliki oleh seorang pimpinan sehingga ia dapat dianggap bertanggungjawab atas tindakan bawahannya.84 Argumen pembelaan Yamashita mengenai hal ini adalah bahwa situasi pada saat itu sangatlah kacau dan tentara Amerika Serikat pada saat itu memutus rantai komando (chain of
command) dan komunikasi sehingga membuat Yamashita tidak berada dalam kondisi
dapat mengetahui atau mengambil tindakan atas tindak pidana yang dilakukan oleh tentaranya. Terhadap pembelaan Yamashita ini beberapa komentator berpendapat
82
Michael Smidt, “Yamashita, Medina, and Beyond: Command Responsibility in Contemporary Military Operations”, hal. 177, Richard L. Lael, The Yamashita Precedent, War Crimes
And Command Responsibility; A. Frank Reel, The Case Of General Yamashita, hal. 8.
83 A. Frank Reel, The Case of General Yamashita, ibid.
84 Gideon Boas, et al, Forms of Responsibility in International Criminal Law: International
Criminal Law Practitioner Library Series,” Vol. I, (New York: Cambridge University Press, 2007),
hal. 153.
bahwa seorang komandan tidak dapat memakai kondisi bahwa situasi perang mencegahnya untuk menegendalikan tentaranya.85 Professor Quincy Wright mengatakan:86
“The issue is a close one, but it would appear that International Law holds
commanders to a high degree of responsibility for the action of their forces. They are obliged to so discipline their forces that members of those forces will behave in accordance with the rules of war even when military circumstances in considerable measure eliminate the practical capacity of the commander to control them.”
Dalam memutus bahwa Yamashita bersalah, Komisi terlihat tidak begitu mempertimbangkan alasan pembela berkenaan dengan situasi perang yang sangat kacau yang membuat Yamashita kehilangan kendali. Komisi hanya menekankan bahwa kejahatan yang dilakukan oleh para tentara Jepang tidaklah sporadis melainkan secara metodis diawasi oleh pejabat Jepang baik yang ditunjuk maupun tidak ditunjuk. Dengan demikian, Yamashita dianggap telah gagal untuk memberikan kendali yang efektif atas tentaranya sebagaimana diperlukan dalam situasi tersebut terlepas dari apakah ia mempunyai kemampuan untuk mempunyai kendali tersebut atau tidak. Hal yang sama terlihat di dalam putusan Mahkamah Agung Amerika Serikat. Mayoritas hakim Mahkamah Agung berpendapat bahwa posisi Yamashita yang memegang komando secara de jure merupakan dasar yang cukup untuk memperlihatkan adanya hubungan antara pimpinan dan bawahan
(superior-subordinate relationship) antara Yamashita dan tentaranya yang melakukan tindak
pidana.87 Oleh karena itu, pertanyaan apakah Yamashita memegang kendali secara de
facto atau tidak menjadi tidak relevan lagi.
Pendapat mayoritas hakim Mahkamah Agung Amerika Serikat ternyata ditentang secara keras oleh dua hakim di dalam dissenting opinion mereka. Di dalam
85 The United Nations War Crimes, Law Reports of Trials of War Criminals, hal. 94.
86 Ibid.
87 Gideon Boas, et al, Forms of Responsibility in International Criminal Law: International
Criminal Law Practitioner Library Series, hal. 153.
dissenting opinion nya, Justice Murphy mengatakan bahwa tidak ada preseden
apapun dimana seorang komandan didakwa bersalah namun ia tidak berpartisipasi di dalam, memerintahkan, maupun mempunyai pengetahuan akan tindak pidana yang didakwakan.88 Justice Rutledge, sebagaimana juga disetujui oleh Justice Murphy tidak percaya bahwa Komisi memiliki jurisdiksi untuk memutus berkenaan dengan hal tersebut dan mengkritisi putusan Komisi yang menurutnya mengandung cacat hukum.89
Mettraux Guénaël,90 dalam bukunya The Law of Command Responsibility mengatakan Komisi dalam kasus Yamashita terlihat mempunyai pendapat bahwa menurut Komisi berdasarkan teori hukum yang ada, tidak diperlukan bahwa seorang pimpinan mempunyai kemampuan untuk mengendalikan bawahannya.91 Cukup bagi Komisi saat itu bahwa Yamashita gagal dalam menjaga kendalinya atas tentara-tentara bawahannya, terlepas dari apakah sebenarnya pada saat itu ia memiliki kemampuan tersebut atau tidak.92
Sean Libby, Executives Notes and Comment Editor dari Emory International
Law Review, dalam tulisannya juga sependapat akan hal tersebut. Menurutnya,
Mahkamah Agung Amerika Serikat memperkuat putusan Komisi, walaupun Yamashita menyangkal bahwa ia tidak memiliki kemampuan efektif untuk mengendalikan tindakan dari bawahannya.93 Mahkamah Agung Amerika Serikat merujuk pada pengaturan di Hague Convention yang menyatakan bahwa Yamashita
88 The United Nations War Crimes, Law Reports of Trials of War Criminals, hal. 54;
Application of Yamashita, Dissenting Opinion of Mr. Justice Murphy, hal. 28.
89 The United Nations War Crimes, Law Reports of Trials of War Criminals, hal. 57,
Application of Yamashita, Dissenting Opinion of Mr. Justice Rutledge, hal. 47.
90 Mettraux Guénaël adalah Penasihat Hukum Pembela di ICTY dan mantan Asisten Hukum di
chambers ICTY.
91 Mettraux Guénaël, The Law of Command Responsibility, hal. 7.
92 Ibid.
93 Sean Libby, “[D]effective Control: Problems Arising From The Application of Non-Military Command Responsibility by the International Criminal Tribunal for Rwanda”, 23 Emory Int’l L. Rev. 201 (2009), hal. 209.
memiliki “an affirmative duty to take such measures as were within his power and
appropriate in the circumstances to protect prisoners of war and the civilian population.” Namun, Mahkamah Agung dengan sengaja tidak memeriksa apakah
Yamashita memiliki kendali yang sebenarnya (actual control) atas bawahannya.94 Mayoritas Hakim menguatkan putusan Komisi yang menyatakan Yamashita bersalah tanpa adanya bukti bahwa Yamashita memegang kendali secara de facto, tetapi cukup dengan hanya bukti bahwa Yamashita memegang kendal secara de jure, yang mana sampai sekarang masih kontroversial.95