• Tidak ada hasil yang ditemukan

Hubungan Pola Asuh, Tingkat Pendidikan Orang Tua dengan Kemampuan Sosialisasi Anak Prasekolah

Dalam dokumen BAB II TINJAUAN PUSTAKA (Halaman 32-38)

Menurut pendapat Sudardja (1988) dan Sigelman & Shaffer (1995) berpendapat bahwa keluarga merupakan unit sosial terkecil yang bersifat universal, artinya terdapat pada setiap masyarakat di dunia (universe) atau suatu sistem sosial yang terpancang (terbentuk) dalam sistem sosial yang lebih besar (Yusuf, 2004). Keluarga merupakan organisasi sosial yang paling penting dalam kelompok sosial. Keluarga sebagai tempat yang paling pertama dan utama dalam mengembangkan, mengasuh atau membimbing anak demi kelangsungan hidupnya. Hal itu karena di dalam keluargalah anak pertama-tama mengenal dunia dan lingkungan atau masyarakat yang lebih luas.

Salah satu fungsi keluarga yaitu keluarga sebagai fungsi sosialisasi, keluarga merupakan faktor penentu (determinan factor) yang sangat

mempengaruhi kualitas generasi yang akan datang. Keluarga berfungsi sebagai miniatur masyarakat yang mensosialisasikan nilai-nilai atau peran-peran hidup dalam masyarakat yang harus dilaksanakan oleh para anggotanya.

Keluarga merupakan lembaga yang mempengaruhi perkembangan kemampuan anak untuk menaati peraturan (disiplin), mau bekerja sama dengan orang lain, bersikap toleran, menghargai pendapat orang lain, mau bertanggung jawab dan bersikap matang dalam kehidupan yang heterogen (etnis, budaya, dan agama).

Pola asuh dapat diartikan seluruh cara perlakuan orang tua yang diterapkan pada anak. Banyak ahli mengatakan pengasuhan anak adalah bagian penting dan mendasar, menyiapkan anak untuk menjadi masyarakat yang baik. Pengasuhan terhadap anak merupakan suatu proses interaksi antara orang tua dengan anak yang mencakup perawatan seperti dari mencukupi kebutuhan makan, mendorong keberhasilan dan melindungi, maupun mensosialisasi yaitu mengajarkan tingkah laku umum yang diterima oleh masyarakat (Jas & Rachmadiana, 2004). Pola asuh orang tua yang penuh kasih sayang dan pendidikan tentang nilai-nilai kehidupan, baik agama maupun sosial budaya yang diberikan merupakan faktor yang kondusif untuk mempersiapkan anak menjadi pribadi dan anggota masyarakat yang sehat (Yusuf, 2004).

Pendidikan merupakan suatu kegiatan dinamis yang mempengaruhi seluruh aspek kepribadian dan kehidupan individu. Tingkat pendidikan juga sangat menentukan perilaku seseorang dalam kehidupan sehari-hari meskipun

pendidikan bukan merupakan unsur utama dalam membentuk watak dan kepribadian manusia. Manusia dengan tingkat pendidikan yang lebih tinggi akan mempunyai pandangan yang lebih luas dari pada orang yang tingkat pendidikannya lebih rendah (Dwi Nugroho, 1988). Hal ini disebabkan cara mengatasi dan daya penalaran terhadap suatu masalah berbeda. Oleh karena itu pendidikan orang tua sangat penting bagi perkembangan dan pertumbuhan anaknya, karena pendidikan tersebut akan berpengaruh di dalam pola pengasuhan anaknya.

Kemampuan bersosialisasi pada anak berawal dari keluarga serta dipengaruhi oleh pola asuh dan tingkat pendidikan orang tua. Di dalam keluarga, orang tualah yang berperan dalam mengasuh, membimbing dan membantu mengarahkan anak untuk bersosialisasi. Masa anak-anak merupakan masa yang paling penting dalam proses perkembangan sosial, maka pemahaman dan kesempatan yang diberikan orang tua kepada anak-anaknya dalam meningkatkan kemampuan bersosialisasi amatlah krusial.

Meskipun dunia sekolah juga turut berperan dalam memberikan kesempatan kepada anak untuk bersosialisasi, keluarga tetap merupakan pilar utama dan pertama dalam pembentukan anak untuk bersosialisasi.

Beberapa sikap orang tua yang berkaitan dengan kemampuan sosilisasi seorang anak : (Hurlock,1997).

a. Melindungi secara berlebihan

Perlindungan orang tua yang berlebihan mencakup pengasuhan dan pengendalian anak yang yang berlebihan. Hal ini menumbuhkan

ketergantungan pada semua orang, bukan pada orang tua saja, kurangnya rasa percaya diri dan frustasi.

b. Permisivitas

Permisivitas terlihat pada orang tua yang membiarkan anak berbuat sesuka hati, dengan sedikit kekangan. Hal ini menciptakan suatu rumah tangga yang ”berpusat pada anak”. Jika sikap permisif ini tidak terlalu berlebihan, mendorong anak untuk menjadi cerdik, mandiri dan berpenyesuaian sosial yang baik.

c. Memanjakan

Permisivitas berlebihan, memanjakan membuat anak egois, menuntut, dan sering tiranik. Mereka menuntut perhatian dan pelayanan dari orang lain, perilaku yang menyebabkan penyesuaian sosial yang burukdi rumah dan di luar rumah.

d. Penolakan

Penolakan dapat dinyatakan dengan mengabaikan kesejahteraan anak dan dengan menuntut terlalu banyak dari anak dan bersikap bermusuhan yang terbuka. Hal ini menumbuhkan rasa dendam, perasaan tak berdaya, frustasi, perilaku gugup, dan sikap permusuhan terhadap orang lain, terutama terhadap mereka yang dan kecil.

e. Penerimaan

Penerimaan orang tua ditandai oleh perhatian besar dan kasih sayang pada anak orang tua yang menerima, memperhatikan kemampuan perkembangan kemampuan anak dan memperhitungkan minat anak. Anak

yang diterima umumnya bersosialisasi dengan baik, kooperatif, ramah, loyal, secara emosional stabil, dan gembira.

f. Dominasi

Anak yang didominasi oleh salah satu atau kedua orang tua bersifat jujur, sopan, dan berhati-hati tetapi cenderung malu, patuh, dan mudah dipengaruhi orang lain, mengalah dan sangat sensitif. Pada anak yang didominasi sering berkembang rasa rendah diri dan perasaan menjadi korban.

g. Tunduk pada anak

Orang tua yang tunduk pada anaknya membiarkan anak mendominasi mereka dan rumah mereka. Anak memerintah orang tua dan menunjukkan sedikit tenggang rasa, penghargaan atau loyalitas pada mereka. Anak belajar untuk menentang semua yang berwewenang dan mencoba mendominasi orang di luar lingkungan rumah.

h. Favoritisme

Meskipun mereka berkata bahwa mereka mencintai anak dengan sama rata, kebanyakan orang tua maempunyai favorit. Hal ini membuat mereka lebih menuruti dan mencintai anak favoritnya dari pada anak lain dalam keluarga. Anak yang disenangi cenderung memperlihatkan sisi baik mereka pada orang tua tetapi agresif dan dominan dalam hubungan dengan kakak adik mereka.

i. Ambisi orang tua

Hampir semua orang tua mempunyai ambisi bagi anak mereka, sering kali sangat tinggi sehingga anak tidak relistis. Ambisi ini sering dipengaruhi oleh ambisi orang tua yang tidak tercapai dan hasrat orang tua supaya anak mereka naik ditangga status sosial. Bila anak tidak bisa memenuhi ambisi orang tua, anak cenderung bersikap bermusuhan, tidak bertanggung jawab dan berprestasi di bawah kemampuan. Tambahan pula mereka memiliki perasaan tidak mampu yang sering di warnai perasaan di jadikan orang yang dikorbankan yang timbul akibat kritik orang tua terhadap rendahnya prestasi mereka.

Dalam dokumen BAB II TINJAUAN PUSTAKA (Halaman 32-38)

Dokumen terkait