• Tidak ada hasil yang ditemukan

TINJAUAN PUSTAKA

E. Hubungan Sains dengan Iman

Dalam rangka menanamkan keyakinan dalam diri manusia tentang akidah tauhid dan pandangan bahwa segala yang ada ini berasal dari Allah, Alquran banyak memperbincangkan fenomena alam baik yang telah tejadi, yang terjadi secara kontinyu maupun yang akan terjadi. Perbincangan Alquran mengenai fenomena alam ini tertentunya berkaitan dengan sains, baik sosial maupun eksakta.

Ilmu pengetahuan yang diperbincangkannya bertujuan menanamkan akidah tauhid. Dengan demikian, tidak ada dikotomi ilmu dalam Islam, demikian pula tidak ada dikotomi fisik dan psikis atau jasmani dan rohani. Tidak ada istilah ilmu Islam dan non-Islam. Semua ilmu itu Islam, karena sumbernya satu yaitu Allah; Islam bersumber dari Allah demikian juga Ilmu juga bersumber dari-Nya.

Pendidikan Islam dibangun atas prinsip tauhid. Dari tauhid-lah terbentuknya sistem pendidikan Islam. Visi dan misi suatu lembaga pendidikan dibangun atau dirancang berdasarkan prinsip tauhid dan keberimanan kepada Allah. Kurikulum yang meliputi tujuan pembelajaran, materi, metode, dan evaluasi dibangun berlatarbelakang tauhid dan juga menuju kepadanya. Maka idealnya, tidak ada mata kuliah atau bidang studi yang diajarkan pada sebuah lembaga pendidikan Islam yang tidak bernuansa iman dan takwa. Tetapi, pada kenyataannya semenjak kemunduran dunia Islam dalam

penguasaan ilmu pengetahuan terjadi dikotomi ilmu dan pemisahan antara ilmu dari iman dan takwa, ilmu telah disekulerkan. Fenomena ini tidak hanya terjadi pada lembaga-lembaga pendidikan pada umumnya, tetapi juga terjadi pada lembaga-lembaga pendidikan Islam itu sendiri.

Ilmu pengetahuan dalam perspektif Islam sangat erat kaitannya dengan iman29; iman dibangun atas dasar ilmu pengetahuan, maka bertambahnya ilmu identik dengan bertambahnya iman. Dalam suratĀli `Imrān

ditegaskan:

Artinya: Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal. (Yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): "Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau

29Farhan, Ishaq Ahmad. Al-Tarbiyah Islāmiyyah bayn Ashālah wa

al-Mu`āsharah., hlm. 30.

menciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka.

Orang berakal (ulu al-albāb) adalah orang yang dapat mengkombinasikan antara zikir dan pikir, atau sebaliknya. Ketika dia berpikir, meneliti atau mengkaji alam sekitar muncullah zikirnya dan ketika dia berzikir muncullah pikirnya. Sehingga setiap kali dia sampai kepada suatu kesimpulan kajiannya, jiwanya yang paling dalam berucap “hal ini Allah ciptakan pasti tidak dengan sia-sia, semuanya berguna dan bermanfaat bagi manusia”. Pendidikan Islam bertujuan ingin membentuk sosok manusia yang memiliki karakter ulu al-albāb ini. Karena begitu eratnya hubungan antara sains baik sosial maupun eksak dengan iman dan pembentukan akhlak mulia, maka al-Qur‟an menafikan kesamaan antara orang yang berilmu dengan orang yang tidak berilmu. Penafian itu tidak hanya berarti keluasan wawasan dan kompetensi serta keterampilan, tetapi yang lebih penting lagi adalah ketidaksamaan antara orang yang berilmu dengan orang yang tidak berilmu mengenai kesadaran diri sebagai makhluk Tuhan dan kemestian menyembah-Nya. Orang yang berilmu menyadari benar bahwa dirinya dan semua yang ada ini mempunyai ketergantungan terhadap Allah. Kesadaran tersebut membuatnya taat dan patuh serta tunduk (tadhallul wa

al-khdu`) terhadap Allah, sehingga lahirlah akhlak mulia

dan prilaku terpuji. Dengan demikian ilmu mesti melahirkan amal saleh, al-Qur‟an berpandangan bahwa belum dikatakan seseorang itu beilmu jika belum melahirkan amal saleh. Al-Qur‟an menegaskan:

Artinya: (Apakah kamu hai orang musyrik yang lebih beruntung) ataukah orang yang beribadat di waktu-waktu malam dengan sujud dan berdiri, sedang ia takut kepada (azab) akhirat dan mengharapkan rahmat Tuhannya? Katakanlah: "Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?" Sesungguhnya orang yang berakallah yang dapat menerima pelajaran. Katakanlah: "Hai hamba-hamba-Ku yang beriman. bertakwalah kepada Tuhanmu". orang-orang yang berbuat baik di dunia Ini memperoleh kebaikan. Dan bumi Allah itu adalah luas. Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas. Katakanlah: "Sesungguhnya aku diperintahkan supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama. Dan Aku diperintahkan supaya menjadi orang yang pertama-tama berserah diri"30.

Ayat ini menafikan kesamaan orang musyrik dengan orang-orang yang taat kepada Allah; orang yang taat beribadah kepada Allah lebih beruntung dari orang-orang musyrik. Selain menafikan kesamaan orang-orang musyrik dengan orang yang taat beribadah kepada-Nya, 30QS. Al-Zumar; 9.

Buku Seri Hasil Penelitian

ayat ini juga menafikan kesamaan orang yang berilmu dengan orang yang tidak berilmu; ilmu semestinya dapat membangun pribadi yang menyadari akan kekuasaan dan kemahabesaran Allah sehingga akhirnya dia menjadi

ulu al-albāb.

Kedalaman ilmu menurut Alquran mestilah berpengaruh terhadap pikiran, perasaan, dan prilaku orang yang berilmu tersebut. Pengaruh inilah yang membuat diri berpredikat saleh, takwa, atau ulu al-albāb. Maka tujuan mempelajari ilmu pengetahuan tidaklah semata-mata penguasaan pengetahuan saja. Penguasaan pengetahuan hanya tujuan sementara, dimana tujuan sementara ini mesti dapat mengantarkan para penuntut ilmu kepada tujuan utama, yaitu pengakuan akan kebesaran Allah, beriman, dan beribadah kepada-Nya. Pembelajaran sains, sebagai salah satu kegiatan pendidikan, beorientasi kepada tujuan utama tersebut. Untuk mencapai tujuan ini, terdapat empat hal yang mesti diperkenalkan kepada peserta didik melalui materi pelajaran yang diajarkan dalam setiap bidang ilmu, yaitu :

a. Memperkenalkan kepada mereka, bahwa manusia secara individu adalah makhluk Allah yang mempunyai tanggung jawab dalam kehidupan ini. b. Memperkenalkan kepada mereka, bahwa manusia

sebagai makhluk sosial adalah anggota masyarakat dan mempunyai tanggung jawab dalam sistem kemasyarakatan di mana dia berada.

memahami hikmah Tuhan menciptakannya. Kemudian menjelaskan pula kepada mereka kemestian manusia melestarikannya.

d. Memperkenalkan Pencipta alam kepada para peserta didik dan mendorong mereka beribadah kepada-Nya31.

Itulah empat hal yang mestinya menjadi target pembelajaran setiap bidang ilmu, baik pembelajaran ilmu-ilmu sosial, eksak, maupun kajian-kajian agama. Berdasarkan ayat 9 surat al-Zumar di atas, maka dapat ditegaskan bahwa ada tiga indikator yang menunjukkan terbentuknya dan ketercapaian tujuan pembelajaran. Atau dengan kata lain ada tiga indikator yang menunjukkan bahwa telah tercapainya tujuan pendidikan pada pribadi peserta didik, yaitu:

Pertama qānitun ānā al-layl sājidan wa qā’iman. Dia

menjadi orang amat taat kepada Allah mengerjakan ibadah-ibadah mahdhah, yaitu sujud dan berdiri menyembah-Nya kapan dan di mana saja walaupun tengah di malam buta. Dia taat melaksanakan ibadah apa saja yang diperintahkan Allah dan Rasul.

31 Al-Jamali, Muhammad Fadhil. īd al-Fikr al-Tarbawi al-`Ālam

al-Islāmi. T.tp; Dar al-Tunisiyah. 1978., hlm. 71.

Buku Seri Hasil Penelitian

Kedua yahdhar al-ākhirah (takut kepada azab akhirat).

Dia sangat berhati-hati dalam menjalani kehidupan ini, setiap aktivitas yang dilakukannya selalu dinilai dan diukur dengan kepentingan kehidupan akhirat nantinya. Jika suatu kegiatan yang sedang dihadapinya itu

dapat merugikan atau mengorbankan

kebahagiaan akhiratnya, maka kegiatan itu langsung ditinggalkan. Demikian pula sebaliknya.

Ketiga yarjū rahmata rabbih (mengharap rahmat

Tuhannya). Orientasi kerjanya adalah rahmat Allah. Apapun kegiatan atau aktivitas yang dikerjakan oleh orang saleh, hasil bentukan pendidikan Islam itu, sasaran utamanya adalah rahmat Allah. Maka kegiatan yang tidak mengandung atau tidak beorientasi kepada rahmat Allah tidak menjadi perhatiannya bahkan dia menjauh dari kegiatan tersebut.

Ketiga karakter ini dapat pula membentuk pribadi yang sabar menerima cobaan dari Allah, baik cobaan dalam menghadapi musibah, dalam menghadapi maksiat, ataupun dalam ketaatan kepada-Nya, dimana kesabaran itu perpanjangan dari kesalehan dan ketakwaan. Ayat di atas mengambarkan pula efek atau dampak dari kesalehan atau ketakwaan terhadap pribadi yang saleh, takwa, dan ulu al-albābtersebut, yaitu kebahagiaan di dunia dan balasan di akhirat yang tiada -41- Zarkasih, Kadar, Hasanuddin, dan Susilawati

derajatnya . Dan Allah juga menjanjikan bagi orang yang bertakwa, sebagai hasil bentukan pendidikan Islam itu, akan diberikan kepadanya jalan keluar dari kesulitan yang dihadapi serta rizki yang tidak diduga sumbernya33.

Berdasarkan perbincangan di atas, maka dapat ditegaskan di sini bahwa kompetensi yang diharapkan dimiliki oleh setiap peserta didik setelah melalui proses pendidikan adalah kompetensi al-infi`āl al-insāni – al-ilāhi

(afektif manusiawi sebagai hamba Tuhan), yaitu kesadaran pribadi akan keberadaan Tuhan. Mereka tidak hanya mengetahui dan meyakini, tetapi juga dapat merasakan keberadaan Allah di setiap aspek kehidupan yang dilalui. Tertanam keyakinan dalam jiwanya, bahwa tidak ada fenomena kehidupan ini yang tidak bersumber dari Allah. Alam dan segala isinya, mereka sadari, berasal dan ditentukan oleh Allah. Demikian pula sistem yang berlaku antara satu bagian dengan bagian lainnya; ia ditetapkan dan diatur-Nya, termasuk hal-hal yang berlaku pada diri manusia baik bersifat invidual maupun sosial. Kesadaran semacam ini diharapkan dapat melahirkan prilaku terpuji, yang disebut dengan ibadah.

32Al-Qur'an surat 58 (al-Mujādilah); 11 33Al-Qur'an surat 65 (al-Talāq); 2-3.

Buku Seri Hasil Penelitian

BAB III

Dokumen terkait