• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN

2.3 Hubungan Sosial

Masalah keadaan sosial meliputi pelaksanaan hubungan dan kerukunan antara sesama, dalam kehidupan sosial antara masyarakat setempat sebelumnya masih sangat erat, Misalnya saja dalam suatu pelaksanaan tradisi, seperti perkawinan maupun khitanan, maka warga lain ikut membantu mencari kayu bakar dan mencari kayu untuk membuat tiang-tiang yang digunakan sebagai teratak nantinya yang biasa dilakukan oleh laki-laki, sedangkan untuk bagian perempuan yang membantu didapur untuk mempersiapkan di hari H, dan acara tradisi lainnya selalu menggunakan cara saling tolong menolong dan memberikan sumbangan baik berupa materi maupun non materi yang juga dilakukan dengan tanpa pamrih, bahkan pada saat pembangunan PLTMH di desa ini penduduk setempat khususnya laki-laki ikut dan bekerja secara sukarela walaupun pada saat pembangunan PLTMH sudah didatangkan pekerja dari luar desa21.

Seiring berjalanya waktu tatanan masyarakat sudah mulai terjadi perkembangan dan perubahan, kekeluargaan dan keguyuban pada masyarakat setempat tidak berjalan seharmonis dulu, itu semua disebabkan oleh perubahan jaman dengan pengaruh budaya yang sangat spektakuler, mulai dari cara berfikir, berpakaian, pergaulan, dan semacamnya. Salah satu misal pengaruh budaya tersebut dibawa oleh banyaknya anak muda yang sudah banyak berpengalaman keluar masuk kota-kota besar yang kental dengan semaraknya parade modernisasi yang kian melaju ke desa Gonting Malaha. Walaupun demikian dalam memecahkan suatu masalah baik

21 Wawancara, Praktek, 11 Oktober 2018.

masalah desa, masyarakat, dan sebagainya selalu diselesaikan dengan cara bermusyawarah.

Kegiatan yang selalu dilakukan yang bertahan hingga saat ini adalah pemungutan beras sebanyak satu mug22 setiap kepala keluarga (KK ), dan tidak ada petugas khusus yang diperintakan untuk meminta pungutan beras ini ke setiap rumah, hanya saja dilakukan oleh seseorang atau beberapa orang warga secara sukarela.

Pemungutan ini dilakukan ketika terdapat salah satu anggota keluarga warga setempat ada yang meninggal dunia, meskipun keluarga yang meninggal tidak tinggal di desa yang sama. Kegiatan ini disebut dengan jimpitan, tujuan dari jimpitan ini sendiri adalah untuk membantu keluarga yang ditinggalkan.

Manusia pada dasarnya tidak lepas dari kehidupan sosial, karena manusia tidak mampu untuk hidup secara sendiri-sendiri atau pribadi. Terutama hidup di lingkungan pedesaan, kegiatan partisipasi masyarakat sangat diperlukan dalam kelancaran pembangunan sosial pada diri manusia secara pribadi dan nantinya akan dapat berkembang menjadi kehidupan sosial kemasyarakatan yang baik.

22 Mug merupakan takaran banyaknya beras , biasanya masyarakat setempat menggunakan kaleng susu ukuran 375 ml. jadi 1 mug beras sebanyak 1 kaleng susu ukuran 375 ml.

BAB III

LATAR BELAKANG BERDIRINYA PLTMH DI DESA GONTING MALAHA

3.1 Faktor Alam Yang Mendukung di Bangunnya PLTMH di Desa Gonting Malaha

Hal yang terpenting dalam pembuatan Pembangkit Listrik Tenaga Mikro Hydro ( PLTMH ) ini adalah aliran sungai yang mendukung, mempunyai debit air yang dapat memutar turbin agar menghasilkan listrik untuk dialirkan ke rumah-rumah warga. Aliran sungai yang layak untuk dijadikan sebagai sumber pengerak pada mikro hydro adalah aliran sungai yang mengalir sepanjang tahun, karakter utama aliran sungai yang paling berpengaruh adalah debit aliran dan kemiringan sungai, akan tetapi yang menjadi syarat pertama adalah sungai yang akan digunakan menjadi sumber air adalah sungai yang mengalir sepanjang tahun23.

Di desa Gonting Malaha terdapat sungai yang mendukung mempunyai kriteria sesuai yang dinginkan untuk dijadikan sebagai pembangkit listrik, aliran sungai ini tidak jauh dari pemukiman rumah warga yang berjarak sekitar ± 500 m², sungai ini juga terdapat air terjun yang disebut dengan air terjun aek jalit, air terjun ini mempunyai ketinggian 9 m², dan aliran sungai ini disebut juga dengan sungai aek jalit, aliran sungai aek jalit inilah yang digunakan untuk pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Mikro Hydro ( PLTMH ). Bagian samping kanan dan kiri aliran

23 Hunggul Yudono Setio Hadi Nugroho,dkk., PLTMH ( Pembangkit Listrik Tenaga Mikro Hidro ) Panduan Lengkap Membuat Sumber Energi Terbarukan Secara Swadaya.

Yogyakarta : Penerbit Andi, 2015. hlm 13

sungai aek jalit terdapat tebing-tebing tinggi sehingga masyarakat lebih mudah untuk membuat bendungan.

Secara umum unit mikro hydro terdiri dari beberapa komponen yaitu, bendungan, saluran terbuka, bak penenang, pipa pesat, turbin dan rumah turbin, jaringan kabel dan instalasi kabel rumah24, aliran sungai aek jalit ini dibangun sebuah bendungan, awal pembuatan bendungan hanya sederhana keseluruhan bendungan tidak dibangun secara permanen hanya bagian sampingnya saja sedangkan penutup bawahnya menggunakan beronjongan25, akan tetapi karna beronjongan tidak kuat untuk menahan air sehingga lama-kelamaan rusak dan bendungan dibangun kembali secara permanen dengan pasangan batu yang mempunyai ketinggian 12 m² dengan lebar 7 m². Adapun tujuan dari pembendungan aliran sungai dibuat, yaitu : menaikan permukaan air, mengarahkan aliran, dan membagi aliran26.

Terdapat bak penenang yang berfungsi sebagai penghubung dengan pipa pesat sekaligus sebagai penampung air dalam volume yang stabil pada suatu posisi dengan beda tinggi tertentu dari posisi turbin27. Pada pintu masuk air bak penenag ini dipasang saringan untuk mencegah sampah, batu, atau benda-benda lain yang terbawa oleh arus air karena jika masuk ke dalam pipa pesat dapat mengganggu atau merusak fungsi turbin, pipa pesat ini sendiri berfungsi untuk menyalurkan dan mengalirkan air ke cerobong turbin. Salah satu ujung pipa pesat ini dipasang pada bak penenang

24Ibid., hlm. 12

25. Keranjang dari bambu atau anyaman kawat yang diisi batu-batu untuk penahan arus air ( banjir, gelombang laut dan sebagainya )

26. Bentuk bendungan dapat dilihat dilampiran

minimal 10 cm di atas lantai dasar kolam penenang, sedangkan ujung yang lainnya diarahkan pada cerobong turbin28, turbin terletak didalam rumah pembangkit29 yang berjarak ± 35 m² dari kolam penenang, pada PLTMH Gonting Malaha pipa pesat dipasang pada bak penenang setingga 10 m² dari lantai dasar kolam penenang, dan pipa pesat mempunyai panjang 35 m².

Debit air yang diperlukan untuk memutar turbin ini adalalah 1800 rpm sesuai dengan kapasitas turbin yang digunakan, yang menjadi bagian terpenting dari unit pembangunan PLTMH ini adalah turbin yang mempunyai fungsi mengubah aliran air menjadi energi kinetik yang akan memutar rotor ( kincir ), jenis turbin yang digunakan oleh PLTMH ini adalah jenis crossflow dengan beda tinggi dibawah 10 meter, turbin jenis crossflow ini mempunyai efisiensi yang paling rendah dibandingkan dengan turbin lainnya, akan tetapi masyarakat lebih memilih jenis turbin ini karena turbin crossflow lebih sederhana dan murah, serta relatif mudah dibuat oleh bengkel kecil sehingga jika terjadi kerusakan pada turbin tidak perlu membawanya ke pusat kota untuk memperbaikinya, karna mengingat keadaan desa yang tidak memadai pada saat itu, akan tetapi tidak pernah terjadi kerusakan maupun pergantian turbin dari awal pembangunan hingga PLTMH ini tidak digunakan lagi.

28. Oddang Rewu, Proyek PLTA: Risalah Studi Kelayakan Investasi, Edisi pertama. Cetakan kesatu. Yogyakarta : Teknosain, 2016. hlm 34.

29. Fungsi rumah pembangkit adalah untuk melindungi generator, turbin dan peralatan lain dari hujan ataupun gangguan-gangguan lainnya, rumah pembangkit ini dibangun dengan luas 5x5 m² yang bentuknya menyerupai rumah dan diberi atap, didalam rumah pembangkit ini terdapat ruangan kecil dibagian atas yang digunakan untuk tempat istrahat, selain itu dirumah pembangkit ini juga terdapat lemari kecil tempat penyimpanan peralatan, seperti kunci-kunci, gemuk, oli, cadangan belt, dan buku-buku catatan daya ataupun buku-buku catatan rekapan kerusakan pada peralatan yang digunakan oleh operator.

debit air yang dihasilkan dapat berubah-ubah dari musim ke musim dan dari hari ke hari, yang dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor, misalnya oleh curah hujan, keadaan geologi, flora, tempratur, dan laim-lain. Pengukuran debit sungai sangat penting untuk dapat menentukan tenaga yang dihasilkan oleh pusat listrik tenaga air30, tetapi sangat disayangkan PLTMH di desa Gonting Malaha tidak memiliki alat khusus untuk mengukur debit air, sehingga tidak bisa mengetahui dengan pasti debit air setiap detiknya. Ketika musim hujan persediaan air dibendungan akan melimpah dan listrik dapat digunakan dalam waktu 24 jam, tetapi jika musim kemarau persediaan air akan berkurang sehingga ketika musim kemarau listrik dipadamkan menunggu persediaan air cukup, untuk mengisi air dalam bendungan membutuhkan waktu sekitar 6 jam lamanya, sehingga pada saat proses pengisian air kebendungan sebagai persediaan maka listrik dipadamkan mulai dari pukul 08.00 wib, setelah persediaan air cukup maka listrik dihidupkan kembali sekitar pukul 14.00 wib atau pukul 16.00 wib, setelah itu listrik berjalan kembali normal31.

3.2 Minimnya Ekonomi Masyarakat Desa Gonting Malaha

Pada tahun 1992 karet merupakan penghasilan utama bagi masyarakat desa Gonting Malaha, dimana setiap bulanya per orang rata-rata hanya mendapatkan penghasilan Rp 200.000 dengan harga karet Rp 500, Penanaman karet dilakukan dengan cara yang masih sederhana, masyarakat desa tergolong petani tradisional dan belum

30. Artono Arismunandar,dkk., Buku pegangan Teknik Tenaga Listrik. Jilid I : Pembangkit Dengan Tenaga Air. Cetakan kedelapan. Jakarta : PT. Pradnya Paramita, 2004. hlm 9.

mengenal teknologi pertanian modern, tidak hanya itu mereka juga kurang mengetahui cara untuk merawat tanaman karet yang dimiliki, sehingga berpengaruh pada hasil karet yang mereka sadap32. Penduduk masyarakat desa Gonting Malaha tergolong berpendapatan rendah atau di bawah standart hidup. Tingkat pendidikan desa ini juga tergolong masih rendah 63% tamat SD, hal ini disebabkan oleh pandangan masyarakat desa yang masih memandang pendidikan bukan suatu hal yang penting, selain itu minimnya sarana dan prasarana di desa dan keterbatasan biaya juga menjadi faktor pendukung dari rendahnya tingkat pendidikan masyarakat desa Gonting Malaha, karena tingkat pendidikan yang rendah juga mempengaruhi pendapatan dimana jika pendidikan lebih tinggi maka pekerjaan jauh lebih baik, Selain itu tingkat pendidikan yang rendah akan sangat mempengaruhi cara berfikir seseorang dalam menghadapi berbagai persoalan.

Perlu diketahui juga yang menjadi salah satu faktor penghambat berkembangnya perekonomian desa Gonting Malaha ini adalah prasarana (jalan) dan transportasi yang kurang memadai. Kondisi jalan desa yang jelek dan tidak adanya angkutan ini menjadikan letak desa Gonting Malaha menjadi semakin jauh dari pusat ibukota kecamatan Bandar Pulau dengan jarak sejauh 43 km. Selain itu mahalnya biaya yang harus disediakan penduduk desa untuk melakukan perjalanan keluar atau masuk desa, menjadikan masyarakat desa benar – benar perlu pertimbangan dan perhitungan jika ingin melakukan perjalanan. Keadaan seperti ini menjadikan desa Gonting Malaha jarang dikunjungi orang luar termasuk aparat pemerintah sehingga

32 Wawancara, Sammah Sihombing, 22 februari 2018

desa tersebut lambat untuk melakukan perubahan yang lebih baik. Dengan keadaan ekonomi yang minim pengahsilan hanya cukup untuk keperluan sehari-hari sehingga sulit bagi masyarakat setempat untuk menggunakan PLN sebagai sumber penerangannya33.

3.3 Desa Gonting Malaha belum mendapatkan Suplai Listrik Dari Pemerintah

Listrik merupakan salah satu kebutuhan yang sangat berperan penting bagi masyarakat desa Gonting Malaha, di Indonesia pemasok Listrik terbesar di Indonesia adalah PLN. Akan tetapi peran PLN belum dapat dinikmati oleh sebagian masyarakat terutama pada daerah yang terpencil hal ini juga dialami oleh desa Gonting Malaha.

Pada tahun 1992 desa Gonting Malaha masih tertutup terhadap masyarakat luar dan hingga pada tahun ini juga desa Gonting Malaha belum mempunyai penerangan yang layak34.

Sebelum adanya PLTMH di desa ini, penduduk setempat masih menggunakan penerangan yang sederhana seperti lampu sentir, lampu teplok, lampu petromak, ada juga beberapa warga yang ekonominya lebih mampu menggunakan aliran listrik dari seorang warga yang mempunyai mesin genset. Disaat salah satu warga mempunyai

33 Wawancara, Praktek, 11 Oktober 2018

34 Pada tahun 1992 desa Gonting Malaha memang belum disentuh dalam pembangunan desa oleh pemerintah berdasarkan wawancara dengan Sekertaris Desa Gonting Malaha Fauziah Harlina yang dilakukan pada tanggal 28 Juli 2018.

hajatan atau pesta yang digunakan sebagai penerangan adalah lampu petromak, jika tidak memiliki lampu tersebut maka harus meminjam dengan cara menyewanya.

Karena infrastruktur desa yang kurang memadai sehingga sangat sulit bagi masyarakat untuk pergi ke pusat kota, kendaraan yang akan digunakan untuk menuju pusat kota juga tidak mendukung karna hanya segelintir orang saja yang mempunyai kendaraan pribadi dan kendaraan umum juga jarang ditemukan, sehingga bagi anak-anak warga setempat yang melanjutkan pendidikan ke kota saat ingin kembali bersekolah setelah liburan, mereka harus bangun pagi-pagi buta untuk menunggu angkutan umum, pukul 05.00 pagi mereka harus sudah menunggu angkutan karena jika lewat dari pukul 05.00 pagi akan tertinggal, itupun sudah dipadati oleh penumpang lain.

Prasarana untuk balai pengobatan seperti puskesmas juga tidak tersedia di desa ini, terdapat klinik yang tidak jauh dari desa ini yaitu di desa Aek Tarum yang merupakan desa tetangga dari desa Gonting Malaha ini akan tetapi klinik tersebut hanya khusus bagi pekerja dari PT Bridgestone Rubber Estate, karna desa Gonting Malaha bukan bagian dari perusahaan ini maka masyarakat desa Gonting Malaha tidak diperbolehkan untuk berobat di klinik tersebut, sehingga masyarakat harus pergi berobat ke desa Aek Song-songan dengan menempuh jarak sekitar ± 37 km, karena hanya di desa inilah terdapat puskesmas yang terbuka untuk umum.

Pada tahun 1999 suplai listrik dari PLN sudah mulai menyentuh desa Gonting Malaha, akan tetapi masyarakat Gonting Malaha yang mempunyai mata pencaharian sebagai petani karet dengan penghasilan hanya cukup untuk kebutuhan sehari-hari, sehingga tidak mampu untuk memasang PLN yang pada saat itu pemasangan PLN yang dikenakan biaya yang cukup mahal35. Masuknya suplai listrik PLN ke desa Gonting Malaha itupun dikarenakan pada saat itu perkebunan karet Goodyear yang ada di desa Aek Tarum menggunakan listrik PLN, pada saat pemasangan instalasi PLN melintasi desa Gonting Malaha tersebut, sehingga bagi masyarakat desa Gonting Malaha yang ekonominya lebih mampu mudah untuk memasang PLN.

BAB IV

PERKEMBANGAN PEMBANGKIT LISTRIK TENAGA MIKRO HYDRO DI DESA GONTING MALAHA 1992-2016

4.1 Perkembangan Pembangkit Listrik Tenaga Mikro Hydro ( PLTMH) Pembangkit Listrik Tenaga Mikro Hydro ( PLTMH ) desa Gonting Malaha dibangun pada tahun 1992 dan mulai difungsikan pada tahun 1995, dalam pembangunan PLTMH dana diperoleh dari Inpres Desa Tertinggal ( IDT ) yang diberikan oleh pemerintah kabupaten kepada desa Gonting Malaha, pada masa pemerintahan Soeharto. Pada saat itu desa Gonting Malaha masih dibawah pimpinan H.KH.A.Pasaribu, dan pada saat pembangunan PLTMH masih berlangsung adanya pergantian kepala desa sehingga pembangunan diselesaikan pada saat desa Gonting Malaha dibawah pimpinan oleh Nazar Panjaitan dan camat dibawah pimpinan Delian Siregar.

Dalam pembangunan PLTMH ini menghabiskan dana sekitar ± RP 300.000.000 dan semua barang-barang yang dibutuhkan seperti turbin, generator, belting, bearing dan bahan lain didatangkan langsung dari kota Medan, pada pemakaian turbin PLTMH Gonting Malaha ini tidak pernah mengganti turbin dan turbin yang digunakan juga tidak pernah mengalami kerusakan, sedangkan untuk generator sering terjadi kerusakan bahkan pernah mengalami pergantian generator, dari tahun 1995-2016 PLTMH desa Gonting Malaha sudah mengganti generator sebanyak 3 kali.

Generator yang digunakan oleh PLTMH Gonting Malaha adalah yang mempunyai kapasitas 60 Kva dan 100 Kva, Generator merupakan mesin singkron yang mengubah energi mekanik menjadi energi listrik bolak-balik ( AC ). Terdapat dua tipe generator singkron yaitu generator singkron 3 fasa dan generator singkron 1 fasa, PLTMH desa Gonting Malaha menggunakan generator singkron 3 fasa, maksud dari generator singkron 3 fasa adalah adanya 3 kabel yang dapat dialiri listrik dari generator36. Generator diklarifikasikan sebagai bagian yang termahal dan bagian yang lebih banyak mengalami gangguan daripada piranti-piranti kelistrikan lainnya37. Salah satu gangguan yang sering terjadi pada generator adalah gangguan pada penggerak awal, penggerak awal dari generator ini adalah air dimana pada kincir air akan dilengkapi dengan pengaman mekanik. Pengaman ini akan memutuskan generator dari sistem apabila aliran air berkurang atau tidak cukup untuk menghasilkan keluaran tegangan normal yang mengakibatkan aliran listrik terputus.

Tabel. 2 Spesifikasi generator PLTMH desa Gonting Malaha 100 KVA

Kapasitas 100 kva

Kecepatan (rpm ) 1800 rpm Jenis cinnecthing 3 phase

Tegangan ( V ) 380 V

Nilai Frekuensi ( Hz ) 50 Hz

36. Hunggul Yudono Setio Hadi Nugroho,dkk., op. cit. hlm. 27.

37. Edy Supriyadi, Sistem Pengamanan Tenaga Listrik, Edisi pertama, Cetakan pertama,

Nilai Daya 94 kw

Tabel. 3 Spesifikasi generator PLTMH desa Gonting Malaha 60 KVA

Kapasitas 60 kva

Kecepatan (rpm ) 1500 rpm

Jenis cinnecthing 3 phase

Tegangan ( V ) 400 V

Nilai Frekuensi ( Hz ) 50 Hz

Nilai Daya 48 kw

Pada tahun 1995 generator pertama yang digunakan mempunyai kapasitas 60 kva, setelah generator pertama tidak bisa dipakai lagi yang disebabkan karena mengalami kerusakan dan mengingat banyaknya peminat yang ingin menggunakan PLTMH tetapi kapasitas generator yang terbatas, maka terjadi peningkatan kapasitas pada generator yang baru. Untuk generator ke dua dan ke tiga menggunakan generator yang berkapasitas 100 kva38, penggantian generator dilakukan karena terjadi kerusakan dan tidak dapat diperbaiki.

Generator ke dua dan Generator ke tiga yang digunakan PLTMH Gonting Malaha merupakan generator dari bantuan. Generator ke dua merupakan bantuan yang diberikan oleh PNPM kepada desa Gonting Malaha, pada saat itu PNPM tidak

38 Wawancara, Suparman, 8 Agustus 2018

hanya memberikan generator saja tetapi memberikan bantuan dana untuk mengganti pipa air juga. Generator yang ke tiga mendapat bantuan dari pertambangan pertamina39. Sedangkan untuk generator yang pertama merupakan pembelian dari dana Inpres Desa Tertinggal ( IDT ) yang diberikan oleh pemerintah.

Pada tahap pembangunan PLTMH ini pekerja yang digunakan didatangkan langsung dari kota Kisaran, walaupun sudah ada pekerja khusus yang didatangkan akan tetapi pada tahap pembangunan ini dibantu juga dengan cara swadaya yaitu dengan bergotong royong melibatkan masyarakat bertempat tinggal di desa Gonting Malaha. Dalam bergotong royong masyarakat turut serta untuk mengangkut alat-alat keperluan dalam pengoperasian PLTMH seperti mengangkut pipa dan tiang listrik, yang dilakukan secara sukarela. Setelah PLTMH selesai dibangun dan sudah dioperasikan yang menjadi pekerja sebagai operator adalah warga desa setempat, terdapat dua orang pekerja khusus sebagai operator yang mempunyai tugas masing-masing, satu orang sebagai operator bendungan dan seorang lagi sebagai operator mesin.

Pembangkit Listrik Tenaga Mikro Hydro ( PLTMH ) ini berada di dusun I desa Gonting Malaha, sehingga tidak jarang pengguna PLTMH kebanyakan warga dari dusun I, dan PLTMH di desa Gonting Malaha ini dikelola atas swadaya masyarakat, peminat untuk menggunakan PLTMH ini sangat banyak namun dikarenakan keterbatasan kekuatan generator dalam menghasilkan arus listrik sehinga

tidak semua dusun yang ada di desa Gonting Malaha mendapat pasokan listrik dari PLTMH tersebut seperti, dusun III, dusun IV,dusun V, dusun VI, dusun VII, dusun VIII, dan dusun IX sedangkan yang mendapatkan pasokan listrik dari PLTMH ini hanya dusun I dan dusun II saja, sehingga dusun yang tidak mendapatkan pasokan listrik dari PLTMH ini belum mempunyai penerangan yang memadai begitu juga dengan desa tetangga yang belum mempunyai penerangan yang layak seperti desa Aek Tarum dan desa Buntu Maraja. Gonting Malah dianggap sebagai desa yang mandiri karna dapat menghasilkan arus listrik tanpa menunggu aliran listrik dari PLN.

Melalui debit air terjun aek jalit turbin menghasilkan arus dan mengaliri kesejumlah rumah-rumah warga desa Gonting Malaha dan pada awal PLTMH selesai dibangun pada tahun 1995 pengguna dari PLTMH ini sebanyak 15 kepala keluarga ( KK ) dari 30 kk dari dusun I dan dusun II dengan kapasitas generator 60 kva, setelah kapasitas generator bertambah menjadi 100 kva pada tahun 2000 pengguna sebanyak 110 kepala keluarga ( KK ) dari 129 kk, setiap tahun terjadi peningkatan pada pengguna dan pada tahun 2005 PLTMH Gonting Malah mampu memasok listrik hingga mencapai sebanyak 175 kepala keluarga ( KK ) dari 185 KK, hingga pada awal tahun 2010 pengguna sebanyak 250 KK, pada tahun 2014 PLTMH desa Gonting Malaha kembali mendapatkan bantuan berupa generator dari PNPM berkapasitas 100 kva akan tetapi pada akhir tahun 2016 pengguna mulai berkurang

menjadi 150 KK40 dari 320 KK, yang disebabkan karena generator kembali mengalami kerusakan, generator inilah yang sangat rentan dan sering mengalami kerusakan, jika generator ini yang mengalami kerusakan akan memakan waktu yang cukup lama untuk memperbaikinya, selain itu juga seringnya terjadi penyumbatan pada aliran air yang mengakibatkan air yang masuk ke turbin tidak mencukupi sehingga listrik yang dihasilkan dan dialirkan kerumah warga pun tidak stabil.

Perekonomian warga setempat yang sudah mengalami peningkatan sehingga lebih mampu untuk memasang PLN maka beberapa warga yang tidak puas dengan pelayanan listrik dari PLTMH mereka mulai beralih menggunakan PLN.

Penggunaan energi listrik meningkat pada waktu tertentu saja yaitu pada pukul 07.00-11.00 hingga 60 volt dan peningkatan pemakaian tertinggi pada pukul 13.00-17.00 hingga mencapai 70 volt41, karena pada waktu tersebut banyak kegiatan yang dilakukam menggunakan alat-alat elektronik, seperti kegiatan memasak didapur yang dilakukan oleh para ibu-ibu yang tak jarang menggunakan alat-alat elektronik,

Penggunaan energi listrik meningkat pada waktu tertentu saja yaitu pada pukul 07.00-11.00 hingga 60 volt dan peningkatan pemakaian tertinggi pada pukul 13.00-17.00 hingga mencapai 70 volt41, karena pada waktu tersebut banyak kegiatan yang dilakukam menggunakan alat-alat elektronik, seperti kegiatan memasak didapur yang dilakukan oleh para ibu-ibu yang tak jarang menggunakan alat-alat elektronik,

Dokumen terkait