C. Analisa Bivariat
5. Hubungan Status Kesehatan dengan Kecemasan
Persentase status kesehatan diketahui lebih dari setengah responden yang diteliti merupakan ibu dengan status kesehatan normal (84.8%). Dimana diketahui bahwa proporsi status kesehatan ibu dengan kecemasan antara ibu yang status kesehatannya tidak normal (58.3%) dengan ibu yang status kesehatannya normal (51.5%) adalah seimbang. Namun pada penelitian ini, tidak ada hubungan yang bermakna antara status kesehatan ibu dengan kecemasan dalam menghadapi persalinan.
Hasil penelitian tersebut dapat menunjukkan bahwa status kesehatan ibu tidak banyak mempengaruhi kecemasan dalam menghadapi persalinan. Padahal bagi seorang ibu yang mengalami gangguan kesehatan tentunya akan lebih banyak mengalami kecemasan (Burger dkk dalam Jayalangkara (2005)).
Tapi ternyata hasil penelitian tidak semuanya sama dengan teori yang ada. Hal ini disebabkan karena distribusi sampel yang kurang merata dimana jumlah ibu dengan status kesehatan tidak normal lebih sedikit daripada ibu dengan status kesehatan normal yaitu 15.2%. Selain itu, kemungkinan status kesehatan yang dialami ibu hamil tidak terlalu mempengaruhi kecemasan karena mereka sudah memeriksakan kehamilannya secara teratur dan sesuai dengan prosedur yang dianjurkan oleh tenaga kesehatan.
3. Hasil penelitian didapat bahwa dari lima variabel yang diteliti, tiga variabel ternyata tidak dapat membuktikan adanya hubungan yaitu umur (p=0.873), pekerjaan (p=0.133), dan status kesehatan (p=0.692) dengan kecemasan dalam menghadapi persalinan. Sedangkan variabel yang lain, yaitu graviditas (p=0.005) dan tingkat pendidikan (p=0.05) secara statistik dapat membuktikan adanya hubungan yang signifikan dengan kecemasan dalam menghadapi persalinan.
Saran
1. Untuk Poliklinik Kebidanan dan Kandungan RSUP Fatmawati
Agar menyediakan jasa konsultasi yamg berguna bagi ibu hamil untuk dapat terhindar dari kecemasan dalam menghadapi persalinan 2. Untuk Tenaga Kesehatan
a. Meningkatkan peran serta perawat/bidan dalam memberikan promosi kesehatan kepada
ISSN: 2356-5454 Nomor 02 Tahun 2011
Hal | 30 Jurnal Ilmiah Kebidanan Akademi Kebidanan Panca Bhakti
jikk
ibu hamil pada saat antenatal care tentang proses kehamilan dan persalinan.
b. Menganjurkan pada ibu hamil khususnya primigravida dan ibu berpendidikan rendah untuk melakukan pemeriksaan kehamilan secara teratur, sehingga ibu hamil tersebut lebih mengetahui informasi mengenai kehamilan dan kesehatannya.
c. Perawat maupun tenaga kesehatan lainnya disarankan untuk meningkatkan caring dan empati pada ibu hamil, terutama bagi primigravida dan ibu berpendidikan rendah yang sangat membutuhkan informasi lebih mengenai kehamilan dan persalinannya untuk mengatasi kecemasan.
3. Untuk Pendidikan Keperawatan
Lebih meningkatkan dan mengembangkan ilmu khususnya ilmu keperawatan maternitas dan keperawatan jiwa tentang kecemasan pada ibu hamil trimester III dalam menghadapi persalinan agar dapat memberikan asuhan keperawatan secara optimal. 4. Untuk Peneliti Lain
Disarankan perlu adanya penelitian lebih lanjut tentang kecemasan ibu hamil trimester III dalam menghadapi persalinan dengan desain yang berbeda (misalnya Kohort) dan variabel-variabel yang belum diteliti dalam penelitian ini (misalnya dukungan keluarga, pengetahuan, kepercayaan, keyakinan, perubahan fisiologis, dan psikologis) yang diduga berhubungan erat dengan kecemasan dalam menghadapi persalinan.
PENUTUP
Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan, dapat disimpulkan bahwa:
1. Dalam penelitian ini, ibu hamil trimester III di Poliklinik Kebidanan dan Kandungan RSUP Fatmawati yang menjadi sampel pada umumnya mengalami kecemasan dalam menghadapi persalinan (52.5%) dan sisanya tidak mengalami kecemasan (47.5%).
2. Gambaran variabel menurut karakteristik ibu hamil trimester III yaitu:
a. Menurut umur, ibu yang tergolong high risk (<20 th dan >35 th) sebanyak 15.8% dan low risk (20-35 tahun) sebanyak 84.2%
b. Menurut graviditas yaitu primigravida (43%) dan multigravida (57%)
c. Menurut tingkat pendidikan, ibu dengan pendidikan dasar (SD-SLTP) sebanyak 12%, pendidikan menengah (SMA sederajat) sebanyak 39.2%, dan pendidikan tinggi (Akademi-PT) sebanyak 48.7%
d. Menurut pekerjaan yaitu ibu hamil yang tidak bekerja (58.9%) dan ibu hamil yang bekerja (41.1%)
e. Menurut status kesehatan yaitu status kesehatan normal (84.8%) dan status kesehatan tidak normal (15.2%)
REFERENSI
Al-Atiq, M. Hamil tanpa masalah. Diunduh dari:
http://baitijannati.wordpress.com/2007/05
/28/hamil-tanpa-masalah/ (diakses 1 Juni
2009), 2007.
Amir, Achsin. Untukmu ibu tercinta. Bogor: Prenada, 2003.
Aprianawati, R.B. Hubungan antara dukungan keluarga
dengan kecemasan ibu hamil menghadapi kelahiran anak pertama pada masa triwulan ketiga. Diunduh dari:
http://74.125.153.132/search?q=cache:lUaWi
hA6M_sJ:rac.uii.ac.id/ (diakses 10 Juni 2009),
2007.
Arikunto, S. Prosedur penelitian, suatu pendekatan
praktek. Jakarta: Rineka Cipta, 2002.
Astuti, Ratna. Faktor-faktor penyebab kecemasan
primigravida di Puskesmas Tanjung Sari Sumedang (Skripsi). Bandung: Fakultas
Ilmu Keperawatan Universitas Padjajaran, 2005.
Benson, R.C., Psychologic aspects of obstetric and
gynecology in Current Obstetric and Gynecology Diagnosis and Treatment, 6 th Ed.
California: Lange Medical, 1984.
Bobak, L.M; D.L Lowdermilk; and M.D Jensen.
Keperawatan maternitas Edisi 4. Alih bahasa
Wijayarini, M.A & Anugerah, P. I. Jakarta: EGC, 2004.
Nomor 02 Tahun 2011 ISSN: 2356-5454
jikk
Danang. Tanda bahaya kehamilan. Diunduh dari:
http://masdanang.co.cc/?p=22 (diakses 21
April 2009), 2008.
Depkes RI. Indonesia sehat 2010. Jakarta, 1999.
Dinkes Jabar. Akibat "Beban Ganda" Perempuan rentan
Stres. Diunduh dari:
http://www.google//pikiranrakyatbandu
ng.com (diakses 1 Agustus 2009), 2003.
Dinkes Kaltim. Diunduh dari:
http://dinkeskaltim.com/ (diakses 1
Agustus 2009), 2008.
Farrer, Helen. Perawatan maternitas Edisi 2. Jakarta: EGC, 2001.
Gorrie, T.M., McKinney, E.S., & Murray, S.
Foundations of maternal newborn/ /nursing/. 2 nd Ed. United States of America: W.B. Saunders
Company, 1998.
Hamilton, Persis Mary. Dasar-dasar keperawatan
maternitas Edisi 6. Alih bahasa Asih, Ni Luh
Gede Yasmin. Jakarta: EGC, 1995.
Hasuki, I. Trauma kehamilan dan pengaruhnya
pada janin. Diunduh dari:
http://www.tabloid-nakita.com/artikel.php3?edisi=05234&rub
rik=kecil (diakses 15 Mei 2009), 2007.
Hidayat, A. Aziz Alimul. Metode penelitian
keperawatan dan teknik analisis data. Jakarta:
Salemba Medika, 2008.
Jayalangkara, A. Gangguan jiwa pada kehamilan.
Diunduh dari:
http://74.125.153.132/search?q=cache:OjjSB
xtA3sYJ:med.unhas.ac.id/ (diakses 27 Mei
2009), 2005.
Kaplan, H.I and Saddock, B.J. Ilmu kedokteran jiwa
darurat. Jakarta: Widya Medika, 1998.
Kartono, K. Psikologi Wanita: Mengenal wanita
sebagai ibu dan nenek. Bandung: Mandar
Maju, 1992.
Kushartanti, W., Soekamti, E. R., & Sriwahyuniati, C. F. Senam hamil:
menyamankan kehamilan, mempermudah persalinan. Yogyakarta: Lintang Pustaka, 2004.
Lestaringsih, S. Peran pria dalam kehamilan. Diunduh dari: http://www.ayahbunda.com (diakses 10 Juni 2009 ), 2006.
Manuaba, Ida Bagus Gede. Ilmu Kebidanan, Penyakit
kandungan dan keluarga berencana untuk pendidikan Bidan. Jakarta: EGC, 1998.
Maramis, Willy F. Catatan ilmu Kedokteran jiwa
Cetakan 9. Surabaya: Airlangga University
Press, 2005.
Nursalam. Konsep dan penerapan metode penelitian
ilmu keperawatan. Jakarta: Salemba Medika,
2008.
Notoatmodjo, S. Metode penelitian kesehatan. Jakarta: Rineka Cipta, 2002.
_____, Pendidikan dan perilaku kesehatan, Jakarta : Rineka Cipta, 2003.
Simkin, Penny. Panduan lengkap kehamilan,
Melahirkan, dan Bayi Edisi Revisi. Jakarta:
Arcan, 2007.
Stuart, G.W and Sundeen, S.J; alih bahasa Ramona,dkk. Buku saku keperawatan Jiwa Edisi 3. Jakarta: EGC, 1998.
Sulaiman, Sastra Winata. Obstetri fisiologi. Bandung: Universitas Padjajaran, 1983.
Suririnah. Stres dalam kehamilan berpengaruh buruk.
Diunduh dari:
http://www.infoibu.com/mod.php?mod= publisher&op=viewarticle&artid=27
(diakses 1 Juni 2009), 2004.
Tobing, Nia L., Hamil di usia 20, 30, atau 40 an.
Diunduh dari:
http://ww3.yuwie.com/blog/?id=67503
(diakses 10 Juni 2009), 2007. Wangmuba. Pengertian kecemasan. Diunduh dari:
http://wangmuba.com/2009/02/13/peng
ertian-kecemasan/ (diakses 21 April 2009),
2009.
Wiknjosastro, H. Ilmu kebidanan Edisi 3 Cetakan 2. Jakarta: Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo, 1992.
Yuliana, Stefania Wednesdya. Gambaran tingkat
kecemasan ibu Hamil trimester III di UPT Ibrahim Adjie Kota Bandung (Skripsi).
Bandung: Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Padjajaran, 2008.
Zung, W.W.K. Rating Anxiety for anxiety disorder
physychosomatic. USA: Mosby Company,
ISSN: 2356-5454 Nomor 02 Tahun 2011
Hal | 32 Jurnal Ilmiah Kebidanan Komunitas Akademi Kebidanan Ar Rahmah - Bandung
jikk
GAMBARAN PENGETAHUAN KELUARGA TENTANG PERILAKU HIDUP BERSIH DAN SEHAT (PHBS) DALAM RUMAH TANGGA
oleh
Yuliustina
ABSTRAK
Untuk mewujudkan sebuah bangsa yang lebih sehat, masyarakat diajak berkomitmen untuk melakukan hidup sehat melalui perilaku hidup bersih dan sehat. Perilaku Hidup Bersih Dan Sehat adalah upaya untuk memberikan pengalaman belajar atau menciptakan suatu kondisi bagi perorangan, keluarga, kelompok dan masyarakat, dengan membuka jalur komunikasi, memberikan informasi dan melakukan edukasi, untuk meningkatkan pengetahuan, sikap dan perilaku, melalui pendekatan pimpinan (Advokasi), bina suasana (Social Support) dan pemberdayaan masyarakat (Empowerment). Sehingga keluarga dan masyarakat itu dapat menolong dirinya sendiri dan berperan aktif dalam kegiatan-kegiatan kesehatan di masyarakat. Dengan menerapkannya terlebih dahulu di lingkungan rumah tangga, maka otomatis akan lebih mudah menerapkan ke lingkungan yang lebih luas lagi, yaitu masyarakat. Karena kondisi sehat dapat dicapai dengan mengubah perilaku dari yang tidak sehat menjadi perilaku sehat, dan menciptakan lingkungan sehat di rumah tangga. Oleh karena itu kesehatan perlu dijaga, dipelihara dan ditingkatkan oleh setiap anggota rumah tangga serta diperjuangkan oleh semua pihak secara keseluruhan (totalitas).
Kata Kunci : pengetahuan keluarga, perilaku hidup bersih dan sehat
PENDAHULUAN
Hidup sehat adalah hal yang seharusnya diterapkan oleh setiap orang, mengingat manfaat yang ditimbulkan akan sangat banyak, mulai dari konsentrasi kerja, kesehatan dan kecerdasan anak sampai dengan keharmonisan keluarga. Menciptakan hidup sehatpun sangatlah mudah serta murah, mengingat biaya yang harus dikeluarkan untuk pengobatan apabila mengalami gangguan kesehatan cukup mahal. Setiap manusia yang hidup di dunia ini memerlukan lingkungan yang bersih dan sehat agar dapat memberikan kenyamanan hidup. Oleh karena itu, manusia wajib peduli terhadap lingkungan dengan cara menjaga, memelihara dan menciptakan lingkungan hidup yang baik.
Perilaku merupakan wujud tindakan seseorang berdasarkan pemahaman dan kemauan terhadap sesuatu yang dihadapi. Sedangkan lingkungan hidup merupakan wahana dimana mahluk dapat bertahan dan berkembang biak.
Untuk mewujudkan sebuah bangsa yang lebih sehat, masyarakat diajak
berkomitmen untuk melakukan hidup sehat melalui perilaku hidup bersih dan sehat. Perilaku Hidup Bersih Dan Sehat adalah upaya untuk memberikan pengalaman belajar atau menciptakan suatu kondisi bagi perorangan, keluarga, kelompok dan masyarakat, dengan membuka jalur komunikasi, memberikan informasi dan melakukan edukasi, untuk meningkatkan pengetahuan, sikap dan perilaku, melalui pendekatan pimpinan (Advokasi), bina suasana (Social Support) dan pemberdayaan masyarakat (Empowerment).
Sehingga keluarga dan masyarakat itu dapat menolong dirinya sendiri dan berperan aktif dalam kegiatan-kegiatan kesehatan di masyarakat. Dengan demikian masyarakat dapat mengenali dan mengatasi masalahnya sendiri, terutama dalam tatanan masing-masing, dan masyarakat/dapat menerapkan cara-cara hidup sehat dengan menjaga, memelihara dan meningkatkan kesehatannya.
Rumah Tangga merupakan unit terkecil dalam lingkungan. Perilaku hidup yang bersih dan sehat selayaknya harus diterapkan dan ditanamkan kepada seluruh
Nomor 02 Tahun 2011 ISSN: 2356-5454
jikk
anggota keluarga. Peranan keluarga dalam sebuah rumah memegang kunci utama untuk meningkatkan kualitas kesehatan sejak dini. Karena jika keluarga sehat, akan membentuk masyarakat yang sehat pula. Untuk itu, Sehat harus diawali dari dalam rumah sendiri.
Dengan menerapkannya terlebih dahulu di lingkungan rumah tangga, maka otomatis akan lebih mudah menerapkan ke lingkungan yang lebih luas lagi, yaitu masyarakat. Karena kondisi sehat dapat dicapai dengan mengubah perilaku dari yang tidak sehat menjadi perilaku sehat, dan menciptakan lingkungan sehat di rumah tangga. Oleh karena itu kesehatan perlu dijaga, dipelihara dan ditingkatkan oleh setiap anggota rumah tangga serta diperjuangkan oleh semua pihak secara keseluruhan (totalitas)
Tujuan
Adapun tujuan dari diselesaikannya makalah ini adalah :
Menyelesaikan dan melengkapi tugas mata kuliah PKIP
Menambah pengetahuan pembaca mengenai Prilaku Hidup Bersih dan Sehat khususnya di dalam rumah tangga
Mengetahui definisi dari Prilaku Hidup Bersih dan Sehat di Rumah Tangga
Mengetahui tujuan dari Prilaku Hidup Bersih dan Sehat di Rumah Tangga
Mengetahui manfaat dari Prilaku Hidup Bersih dan Sehat di Rumah Tangga
Mengetahui sasaran dari Prilaku
Hidup Bersih dan Sehat di Rumah Tangga
Mengetahui indikator-indikator Prilaku Hidup Bersih dan Sehat di Rumah Tangga
Mengetahui persentasse pencapaian rumah tangga yang berPHBS di Indonesia
PEMBAHASAN
Definisi PHBS di Rumah Tangga
Pengertian Perilaku Hidup Bersih Dan Sehat :
Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) adalah semua perilaku kesehatan yang dilakukan atas kesadaran sehingga anggota keluarga atau keluarga dapat menolong dirinya sendiri di bidang kesehatan dan dapat berperan aktif dalam kegiatan – kegiatan kesehatan dan berperan aktif dalam kegiatan– kegiatan kesehatan di masyarakat (Depkes RI, 2007).
Pengertian (Perilaku Hidup Bersih Dan Sehat) PHBS di Rumah Tangga :
PHBS di Rumah Tangga adalah upaya untuk memberdayakan anggota rumah tangga agar tahu, mau dan mampu melaksanakan perilaku hidup bersih dan sehat serta berperan aktif dalam gerakan kesehatan di masyarakat. PHBS di Rumah Tangga dilakukan untuk mencapai Rumah Tangga Sehat. Rumah tangga sehat berarti mampu menjaga, meningkatkan, dan melindungi kesehatan setiap anggota rumah tangga dari gangguan ancaman penyakit dan lingkungan yang kurang kondusif untuk hidup sehat (Depkes RI, 2007).
PHBS merupakan salah satu strategi yang dapat ditempuh untuk menghasilkan kemandirian di bidang kesehatan baik pada masyarakat maupun pada keluarga, artinya harus ada komunikasi antara kader dengan keluarga/masyarakat untuk memberikan informasi dan melakukan pendidikan kesehatan (Depkes RI, 2007).
Tujuan PHBS di Rumah Tangga
Tujuan Umum :
Meningkatnya rumah tangga sehat di desa kabupaten/kota di seluruh Indonesia. Tujuan Khusus :
Meningkatkan pengetahuan, kemauan dan kemampuan anggota rumah tangga untuk melaksanakan PHBS.
Berperan aktif dalam gerakan PHBS di masyarakat.
ISSN: 2356-5454 Nomor 02 Tahun 2011
Hal | 34 Jurnal Ilmiah Kebidanan Komunitas Akademi Kebidanan Ar Rahmah - Bandung
jikk
Manfaat PHBS bagi rumah tangga :
Setiap rumah tangga meningkatkan kesehatannya dan tidak mudah sakit
Anak tumbuh sehat dan cerdas Produktivitas kerja anggota keluarga
meningkat dengan meningkatnya kesehatan anggota rumah tangga maka biaya yang dialokasikan untuk kesehatan dapat dialihkan untuk biaya investasi seperti biaya pendidikan, pemenuhan gizi keluarga dan modal usaha untuk peningkatan pendapatan keluarga.
Manfaat PHBS bagi masyarakat :
Masyarakat mampu mengupayakan lingkungan yang sehat
Masyarakat mampu mencegah dan menanggulangi masalah-masalah kesehatan
Masyarakat memanfaatkan pelayanan
kesehatan yang ada.
Masyarakat mampu mengembangkan Upaya Kesehatan Bersumber Masyarakat (UKBM) seperti posyandu, jaminan pemeliharaan kesehatan, tabungan bersalin (tabulin), arisan jamban, kelompok pemakai air, ambulans desa dan lain-lain.
Sasaran PHBS di Rumah Tangga
Sasaran PHBS di Rumah Tangga adalah seluruh anggota keluarga yaitu : 1. Pasangan Usia Subur
2. Ibu Hamil dan Ibu Menyusui 3. Anak dan Remaja
4. Usia Lanjut 5. Pengasuh Anak
Indikator PHBS di Rumah Tangga
Pembinaan PHBS di rumah tangga dilakukan untuk mewujudkan Rumah Tangga Sehat. Rumah Tangga Sehat adalah rumah tangga yang memenuhi 7 indikator PHBS dan 3 indikator Gaya Hidup Sehat sebagai berikut :
Tujuh Indikator PHBS di Rumah Tangga :
Pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan adalah pertolongan persalinan dalam rumah tangga yang dilakukan oleh tenaga kesehatan (bidan, dokter, dan tenaga para medis lainnya). Tenaga kesehatan merupakan orang yang sudah ahli dalam membantu persalinan, sehingga keselamatan Ibu dan bayi lebih terjamin.
Apabila terdapat kelainan dapat diketahui dan segera ditolong atau dirujuk ke Puskesmas atau rumah sakit. Persalinan yang ditolong oleh tenaga kesehatan menggunakan peralatan yang aman, bersih, dan steril sehingga mencegah terjadinya infeksi dan bahaya kesehata lainnya.
Apa tanda – tanda persalinan :
Ibu mengalami mulas-mulas yang timbulnya semakin sering dan semakin kuat
Rahim terasa kencang bila diraba
terutama pada saat mulas
Keluar lendir bercampur darah dari jalan lahir
Keluar cairan ketuban yang berwarna
jernih kekuningan dari jalan lahir
Merasa seperti mau buang air besar Bila ada salah satu tanda persalinan tersebut, yang harus dilakukan adalah :
Segera hubungi tenaga kesehatan
(bidan/dokter)
Tetap tenang dan tidak bingung
Ketika merasa mulas bernapas panjang, mengambil napas melalui hidung dan mengeluarkan melalui mulut untuk mengurangi rasa sakit. .Tanda bahaya persalinan :
Bayi tidak lahir dalam 12 jam sejak
terasa mulas
Keluar darah dari jalan lahir sebeium melahirkan
Tali pusat atau tangan/kaki bayi terlihat pada jalan lahir
Tidak kuat mengejan
Mengalami kejang-kejang
Air ketuban keluar dari jalan lahir
Nomor 02 Tahun 2011 ISSN: 2356-5454
jikk
Air ketuban keruh dan berbau
Setelah bayi lahir, ari-ari tidak keluar Gelisah atau mengalami kesakitan
yang hebat
Bayi diberi ASI eksklusi
Adalah bayi usia 0-6 bulan hanya diberi ASI saja sejak lahir sampai usia 6 bulan. ASI adalah makanan alamiah berupa cairan dengan kandungan gizi yar cukup dan sesuai untuk kebutuhan bayi, sehingga bayi tumbuh dan berkembang dengan baik. Air Susu Ibu pertama berupa cairan bening berwarna kekuningan (kolostrum), sangat baik untuk bayi karena mengandung zat kekebalan terhadap penyakit
Apa saja keunggulan ASI :
a) Mengandung zat gizi sesuai kebutuhan bayi untuk pertumbuhan dan perkembangan fisik serta kecerdasan.
b) Mengandung zat kekebalan. c) Melindungi bayi dari alergi.
d) Aman dan terjamin kebersihannya, karena langsung disusukan kepada bayi dalam keadaan segar.
e) Tidak akan pemah basi, mempunyai suhu yang tepat dan dapat diberikan kapan saja dan di mana saja.
f) Membantu memperbaiki refleks menghisap, menelan dan pernapasan bayi.
Kapan dan bagaimana ASI diberikan :
a) Sebelum menyusui ibu harus yakin mampu menyusui bayinya dan mendapat dukungan dari keluarga.
b) Bayi segera diteteki/disusui sesegera mungkin paling lambat 30 menit setelah melahirkan untuk merangsang agar ASI cepat keluar dan menghentikan pendarahan.
c) Teteki/susui bayi sesering mungkin sampai ASI keluar, setelah itu berikan ASI sesuai kebutuhan bayi, waktu dan lama
menyusui tidak perlu dibatasi, dan berikan ASI dari kedua payudara secara bergantian. d) Berikan hanya ASI saja hingga
bayi berusia 6 bulan. Setelah bayi berusia 6 bulan, selain ASI diberikan pula Makanan Pendamping ASI (MP-ASI) dalam bentuk makanan lumat dan jumlah yang : sesuai dengan perkembangan umur bayi. 5.Pemberian ASI tetap dilanjutkan hingga bayi berusia 2 tahun. :
Bagiamana cara menyusui yang benar : a) Sebelum menyusui bayi, terlebih
dahulu ibu mencuci kedua tangannya dengan menggunakan air bersih dan sabun sampai bersih. b) Lalu bersihkan kedua puting susu
dengan kapas yang telah direndam terlebih dahulu dengan air hangat. c) Waktu menyusui bayi, sebaiknya
ibu duduk atau berbaring dengan santai, pikiran ibu harus dalam keadaan tenang (tidak tegang). d) Pegang bayi pada belakang
bahunya, tidak pada dasar kepala. e) Upayakan badan bayi menghadap
kepada badan ibu, rapatkan dada bayi dengan dada ibu atau bagian bawah payudara ibu.
f) Tempelkan dagu bayi pada payudara ibu.
g) Jauhkan hidung bayi dari payudara ibu dengan cara menekan pantat bayi dengan lengan ibu bagian dalam.
h) Bayi disusui secara bergantian dari susu sebelah kiri, lalu ke sebelah kanan sampai bayi merasa kenyang. i) Setelah selesai menyusui, mulut
bayi dan kedua pipi bayi dibersihkan dengan kapas yang telah direndam air hangat.
j) Sebelum ditidurkan, bayi harus disendawakan dulu supaya udara
ISSN: 2356-5454 Nomor 02 Tahun 2011
Hal | 36 Jurnal Ilmiah Kebidanan Komunitas Akademi Kebidanan Ar Rahmah - Bandung
jikk
yang terhisap bisa keluar dengan cara meletakkan bayi tegak lurus pada ibu dan perlahan-lahan diusap belakangnya sampai bersendawa. Udara akan keluar dengan sendirinya.
Apa manfaat memberikan ASI? a) Bagi Ibu:
Menjalin hubungan kasih sayang antara ibu dengan bayi
Mengurangi pendarahan setelah persalinan,
Mempercepat pemulihan kesehatan ibu.
Menunda kehamilan berikutnya.
Mengurangi risiko terkena kanker payudara.
Lebih praktis karena ASI lebih mudah
diberikan pada setiap saat bayi membutuhkan
b) Bagi bayi :
Bayi lebih sehat, lincah dan tidak cengeng
Bayi tidak sering sakit c) Bagi Keluarga :
Praktis dan tidak perlu mengeluarkan biaya untuk pembelian susu formula dan perlengkapannya.
Tidak perlu waktu dan tenaga untuk menyediakan susu formula, misalnya merebus air dan pencucian peralatan. Bagaimana cara menjaga mutu dan jumlah produksi ASI:
a) Mengkonsumsi makanan bergizi seimbang, banyak makan sayuran dan buah-buahan. Makan lebih banyak dari biasanya.
b) Banyak minum air putih paling sedikit 8 gelas sehari.
c) Cukup istirahat dengan tidur siang/berbaring selama 1 -2 jam dan menjaga ketenangan pikiran,
d) Susui bayi sesering mungkin dan kedua payudara kin dan kanan secara bergantian hingga bayi tenang dan puas.
Penimbangan bayi dan balita
Penimbangan bayi dan balita dimaksudkan untuk memantau pertumbuhan setiap bulan dan mengetahui apakah bayi dan balita berada pada kondisi gizi kurang atau gizi buruk.
Penimbangan bayi dan balita dilakukan setiap buian mulai umur 1 bulan sampai 5 tahun di Posyandu. Manfaat penimbangan balita setiap bulan di Posyandu :
Untuk mengetahui apakah balita tumbuh sehat.
Untuk mengetahui dan mencegah gangguan pertumbuhan balita.
Untuk mengetahui balita yang sakit, (demam/batuk/pilek/diare), berat badan dua bulan berturut-turut tidak naik, balita yang berat badannya BGM (Bawah Garis Merah) dan dicurigai Gizi buruk sehingga dapat segera dirujuk ke Puskesmas.
Untuk mengetahui kelengkapan
Imunitasi.
Untuk mendapatkan penyuluhan gizi.
Mencuci tangan dengan air dan sabun
Mengapa harus mencuci tangan dengan menggunakan air bersih dan sabun :
Air yang tidak bersih banyak mengandung kuman dan bakteri penyebab penyakit Bila digunakan, kuman berpindah ke tangan. Pada saat makan, kuman dengan cepat masuk ke dalam tubuh, yang bisa menimbulkan penyakit.
Sabun dapat membersihkan kotoran dan membunuh kuman, karena tanpa sabun kotoran dan kuman masih tertinggal di tangan.
Manfaat mencuci tangan :
Membunuh kuman penyakit yang ada di tangan.
Mencegah penularan penyakit seperti
Diare, Kolera Disentri, Typhus, kecacingan, penyakit kulit, Infeksi Saluran Pemapasan Akut (ISPA), flu
Nomor 02 Tahun 2011 ISSN: 2356-5454
jikk
burung atau Severe Acute Respiratory Syndrome (SARS)
Tangan menjadi bersih dan bebas dari