• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV HASIL PENELITIAN

3. Hubungan Stres Kerja dengan Kepuasan Kerja

Stres kerja yang dirasakan dapat berdampak pada kepuasan kerja yang dimiliki oleh karyawan. Hal ini sesuai dengan apa yang diungkapkan oleh Brief, Schuler dan sell (dalam Sutarto Wijono, 2011) bahwa kepuasan kerja kerap dikaitkan sebagai pengaruh psikologis yang dirasakan jika terjadi stres kerja. Ini berarti bahwa jika stres kerja meningkat, maka kepuasan kerja akan menurun. Sekiranya tingkat stres terus meningkat, maka seseorang itu akan mengalami ketegangan psikologis seperti masalah psikosomatik, bimbang, murung dan marah. Kemudian Antara perasaan stres dengan kepuasan kerja menunjukkan hubungan negatif dimana dengan meningkatnya kepuasan kerja akan mengurangi dampak negatif stres (Kreitner & Kinicki, 2001)

Sejalan dengan itu, Panji Anogara (2009) mengatakan bahwa “stres yang dialami karyawan dan kepuasan kerja yang didambakan adalah dua kondisi yang bukan saja berkaitan, tetapi sekaligus antagonis karena memang terjadi suatu interaksi kompleks antara stres manusia, pekerjaan dan kepuasan”. Menurut Panji Anogara stres pekerjaan adalah bagian dari stres kehidupan, dan kepuasan kerja adalah bagian dari kepuasan dalam kehidupan. Stres yang begitu hebat yang melampaui batas-batas toleransi akan berkaitan langsung dengan gangguan psikis dan ketidakmampuan fisis.

4. Implikasi dalam Layanan Bimbingan dan Konseling

Bentuk layanan dalam bimbingan dan konseling industri adalah layanan yang dapat diberikan berupa layanan informasi sehingga konselor dapat memberikan informasi yang dapat dibutuhkan karyawan. Selain itu, bidang bimbingan konseling yang dapat diberikan antara lain :

a. Bidang pengembangan pribadi

Bimbingan pribadi bisa dimaknai sebagai suatu bantuan dari konselor kepada karyawan dalam mengatasi masalah-masalah yang bersifat pribadi. Dalam hal ini bidang pengembangan pribadi dilakukan untuk membantu konselor dalam membina dan mengembangkan potensi yang dimiliki oleh karyawan.

b. Bidang pengembangan sosial

Dalam hal ini, bidang pengembangan sosial dilakukan untuk membantu konselor dalam mengembangkan dan meningkatkan hubungan sosial yang baik antar sesama karyawan di perusahaan, baik hubungan antara karyawan dengan atasan maupun antar sesama karyawan.

c. Bidang pengembangan karir

Adapun bidang pengembangan karir disini adalah bantuan konselor kepada karyawan yang mengalami masalah dalam hal penempatan kerja, penyesuaian kerja, kepuasan kerja, dan kepindahan kerja.

B. Kajian Penelitian yang Relevan

1. Hasil penelitian terdahulu yang dilakukan oleh Charisma dkk (2014) tentang pengaruh stres kerja dan kepuasan kerja terhadap kinerja karyawan pada bagian tenaga penjualan Ud Surya Raditya Negara. Variabel independennya stres kerja dan kepuasan kerja, variabel dependennya penelitian ini menggunakan desain penelitian kuantitatif kausal. Data dikumpulkan dengan menggunakan metode kuisioner,pencatatan dokumen dan wawancara. Data dianalisis dengan menggunakan analisis jalur. Hasil penelitiannya mengatakan bahwa: 1) ada pengaruh positif dan signifikan stres kerja dan kepuasan kerja terhadap kinerja karyawan, 2) ada hubungan negatif dan signifikan stres kerja dengan kepuasan kerja karyawan, 3) ada pengaruh negatif dan signifikan stres kerja terhadap kinerja karyawan dan 4) ada pengaruh positif dan signifikan kepuasan kerja karyawan terhadap kinerja karyawan pada bagian tenaga penjualan UD Surya Raditya Negara.\

2. Helmi Haryanto (2011) dalam penelitiannya yang berjudul pengaruh stres kerja terhadap kepuasan kerja dan kineja karyawan pada PT Nagamas Putera Jaya Bandung menyimpulkan bahwa stres kerja karyawan masuk kedalam kriteria tinggi dan kepuasan kerja karyawan masuk dalam kriteria puas serta tingkat kinerja karyawan masuk kedalam kriteria tinggi. Stres kerja berpengaruh signifikan dan negatif terhadap kepuasan kerja sebesar -0,335 masuk kedalam kategori lemah. Stres kerja berpengaruh signifikan dan negatif terhadap kinerja karyawan sebesar -0,451 masuk dalam kategori sedang. Kepuasan kerja berpengaruh signifikan dan positif erhadap kinerja

karyawan sebesar 0,644 masuk kategori tinggi. Secara tidak langsung stres kerja berpengaruh terhadap kinerja karyawan melalui kepuasan kerja adalah sebesar 4,8%, artinya pengaruh langsung stres kerja terhadap kepuasan lebih besar dari pada pengaruh langsung stres kerja terhadap kinerja karyawan.Selanjutnya

3. Penelitian yang dilakukan oleh Rocky Potale & Yantje Uhing (2015) yang berjudul pengaruh kompensasi dan stres kerja terhadap kepuasan kerja karyawan pada PT. Bank Sulut Cabang Utama Manado menunjukkan bahwa stres kerja memiliki pengaruh signifikan terhadap kepuasan kerja karena tingkat signifikansi yang ditunjukkan lebih besar dari 0,05 yaitu 0,000. Hasil ini menunjukkan bahwa kompensasi memiliki arti lebih dalam mengukur kepuasan kerja pada kepuasan kerja karyawan PT. Bank Sulut Cabang Utama.

4. Penelitian yang dilakukan oleh Edi Suharto (2009) dengan judul pengaruh stres kerja dan iklim organisasi terhadap turnover intention dengan kepuasan kerja sebagai variabel intervening menunjukkan bahwa nilai CR sebesar -5,796 dan dengan probabilitas sebesar 0,001. Kedua nilai tersebut diperoleh memenuhi syarat untuk penerimaan H1 yaitu nilai CR sebesar negatif 5,796 yang lebih besar dari ±1,96 dan probabilitas yang lebih kecil dari 0,05. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa hipotesis H1 menyatakan bahwa stres berpengaruh negatif terhadap kepuasan kerja, dapat diterima.

5. Mona Tiorina (2012) dalam penelitiannya yang berjudul analisis pengaruh beban kerja, stres kerja dan motivasi kerja terhadap turnover intention karyawan PT Geogiven Visi Mandiri Semarang menyimpulkan bahwa pengaruh antara beban kerja, stres kerja dan motivasi kerja terhadap turnover intention karyawan PT Geo Given Visi Mandiri Semarang secara bersama-sama memiliki pengaruh yang positif dan signifikan. Hal ini dibuktikan dengan hasil analisis uji simultan bahwa F hitung memiliki nilai sebesar 147,681 sehingga nilai F hitung >F tabel sebesar 2,66 serta nilai uji signifikansi sebesar 0,000< 0,05.

Berdasarkan beberapa hasil penelitian diatas, maka dapat disimpulkan bahwa stres kerja ada kaitannya dengan kepuasan kerja karyawan.

C. Kerangka Berpikir

Untuk menggambarkan alur pemikiran secara jelas, maka dapat dibuat suatu kerangka konsep seperti tampak pada gambar berikut:

Gambar 1. Kerangka konseptual hubungan stres kerja dengan kepuasan kerja

Berdasarkan kerangka berpikir di atas, dapat dijelaskan bahwa penelitian ini bertujuan untuk mencari hubungan antara variabel stres kerja (X)

Stres Kerja (X) : 1. Physiology (fisiologi) 2. Psychology (psikologikal) 3. Behavior (tingkah laku)

Kepuasan Kerja (Y) : 1. pekerjaan itu sendiri 2. gaji

3. Promosi

4. pengawasan/supervisi 5. kelompok kerja 6. lingkungan kerja

dilihat dari tiga aspek yaitu 1) physiology, 2) psychology dan 3) behavior dengan variabel kepuasan kerja (Y) dari enam aspek yaitu 1) pekerjaan itu sendiri, 2) gaji, 3) Promosi, 4) pengawasan/supervisi, 5) kelompok kerja, dan 6) lingkungan kerja

D. Hipotesis

Hipotesis yang diajukan dalam penelitian ini adalah :

Ha : Terdapat hubungan yang signifikan negatif antara stres kerja dengan kepuasan kerja karyawan bagian service di perusahaan Auto200 Bukittinggi. Ini berarti bahwa jika stres kerja meningkat, maka kepuasan kerja akan menurun.

BAB III

METODOLOGI PENELITIAN A. Jenis Penelitian

Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan pendekatan analisis deskriptif korelasional yang bertujuan untuk menggambarkan suatu keadaan atau suatu situasi tertentu sebagaimana adanya secara sistematis, aktual, akurat kemudian ditentukan hubungan antar variabel yang akan diteliti. Zuriah (2009) pendekatan analisis deskriptif adalah penelitian yang diarahkan untuk memberikan gejala-gejala, fakta-fakta atau kejadian-kejadian secara sistematis dan akurat, mengenai sifat-sifat populasi atau daerah tertentu. Tujuannya adalah untuk membuat deskripsi, gambaran atau lukisan secara sistematis, faktual dan akurat mengenai fakta-fakta, sifat-sifat serta hubungan antar fenomena yang diselidiki.

Selanjutnya menurut Yusuf (2005) pendekatan korelasi onal merupakan suatu tipe penelitian yang melihat hubungan antara satu atau beberapa variabel yang lain. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi hubungan prediktif dengan menggunakan teknik korelasi atau teknik statistik yang lebih canggih.

Dengan demikian penelitian ini menggambarkan hubungan antara variabel yang diteliti, variable penelitian ini terdiri dari dua, yaitu: stres kerja (X) merupakan variable bebas dan kepuasan kerja (Y) merupakan variabel terikat.

32

B. Defenisi Operasional 1. Stres Kerja

Stres kerja merupakan suatu keadaan yang timbul dalam interaksi di antara manusia dengan pekerjaan. Stres kerja yang peneliti maksud dalam penelitian ini adalah berupa ketegangan atau tekanan emosional yang dialami oleh karyawan bagian service yang bekerja di Perusahaan Auto2000 Bukitinggi. ketegangan atau tekanan emosional dalam penelitian ini memiliki tiga aspek, yaitu : Physiology, Psychology dan Behavior.

2. Kepuasan Kerja

kepuasan kerja merupakan suatu tingkat emosi yang positif dan menyenangkan bagi individu. Dengan kata lain, kepuasan kerja adalah suatu hasil perkiraan individu terhadap pekerjaan atau pengalaman positif dan menyenangkan dirinya. Bentuk kepuasan kerja yang peneliti maksud dalam penelitian ini adalah kepuasan kerja yang dirasakan oleh karyawan bagian service yang bekerja di perusahaan Auto2000. Adapun kepuasan yang dimaksud dalam penelitian ini terdiri dari enam aspek yaitu 1) pekerjaan itu sendiri, 2) gaji, 3) Promosi, 4) pengawasan/supervisi, 5) kelompok kerja, dan 6) lingkungan kerja

Instrumen yang digunakan dalam mengumpulkan data pada penelitian ini adalah angket. Menurut Sugiyono (2012) angket merupakan teknik pengumpulan data yang dilakukan dengan cara memberi seperangkat pertanyaan atau pernyataan tertulis kepada responden untuk dijawab. Sejalan dengan itu Arikunto (2006) mengemukakan angket adalah sejumlah pertanyaan tertulis yang digunakan untuk memperoleh informasi dari responden. Jadi, angket adalah seperangkat pernyataan yang harus dijawab responden dan digunakan untuk memperoleh keterangan

yang diperlukan. Angket yang diberikan adalah angket tertutup yang mana sudah terdapat alternatif jawaban yang dapat dipilih.

Setiap butir soal digunakan untuk mengungkap jawaban-jawaban yang mempunyai makna dalam menguji hipotesis, berisi item pernyataan yang terdiri dari lima skala alternatif jawaban yang dapat dilihat pada tabel berikut:

Tabel 1 Penskoran Pilihan jawaban

Favorable Unfavorable Variabel (X)

Stres Kerja

Variabel (Y) Kepuasan Kerja

Selalu (SL) Sangat sesuai (SS) 5 1

Sering (SR) Sesuai (S) 4 2

Kadang-kadang (KD) Cukup sesuai (CS) 3 3

Jarang (JR) Tidak sesuai (TS) 2 4

Tidak pernah (TP) Sangat tidak sesuai

(STS) 1 5

Berikut ini adalah langkah-langkah dalam pembuatan instrumen yang dipakai dalam penelitian ini:

1. Membaca literatur untuk memperoleh bahan kajian dalam penggunaan konsep-konsep atau variabel yang akan diteliti.

2. Membuat kisi-kisi instrumen berdasarkan literatur yang ada.

Instrumen disusun dengan menjabarkan variabel menjadi beberapa sub variabel, selanjutnya sub variabel diuraikan menjadi beberapa indikator.Seperti yang terlihat pada tabel 2 dan tabel 3.

Tabel 2

Kisi-kisi instrumen penelitian stres kerja Variabel Sub Variabel Indikator

Stres Kerja

Physiology(fisiologi) - Sistem kekebalan tubuh menurun - Tekanan darah tinggi - Gangguan pada

jantung

- Sakit kepala saat bekerja

- Sakit punggung setelah bekerja Psychology

(psikologikal)

- Ketidakpuasan hubungan kerja - Tegang saat bekerja - Rasa gelisah saat

bekerja - Cemas

- Kebosanan dalam bekerja

- Mudah marah - Tindakan agresif Behavior (tingkah

laku)

- Perubahan produktivitas - Ketidakhadiran

dalam jadwal kerja - Perubahan selera

makan

- Meningkatnya

konsumsi rokok, alkohol, dan obat-obatan

- Susah tidur

Tabel 3

Kisi-kisi Instrumen penelitian Kepuasan Kerja Variabel Sub Variabel Indikator

Kepuasan Kerja

Pekerjaan itu sendiri

- Kualitas pekerjaan - Pekerjaan yang dijalani

menarik & menantang

Gaji - Ketepatan waktu dalam

pemberian gaji

- Gaji yang diberikan sesuai

- Tunjangan

Promosi - pengembangan karir Pengawasan

(supervisi)

- Pembinaan profesional pimpinan

Kelompok kerja

- Hubungan rekan-rekan sekerja menunjang Lingkungan

kerja

- Ketersediaan fasilitas kerja

- Kenyamanan ruang kerja dalam bekerja

3. Menyusun pengisian instrumen yang sesuai dengan pernyataan-pernyataan yang disediakan.

4. Mendiskusikan instrumen yang telah disusun dengan dosen pembimbing dan menerima masukan yang diberikan dosen

5. Merevisi instrumen sesuai dengan masukan yang diberikan oleh tiga ahli, yaitu Bapak Mursyid Ridha, S. Ag, M.Pd, Ibu Dra. Zikra, M.Pd.,Kons dan Ibu Dr. Netrawati, S.Pd. M.Pd.,Kons.

6. Melakukan uji coba penelitian.

7. Melakukan uji validitas.

8. Kemudian instrumen direvisi kembali sesuai dengan masukan dan arahan yang diberikan dosen.

9. Mengadministrasikan instrumen kepada sampel penelitin.

Untuk tujuan penelitian ketiga yaitu menguji korelasi antara stres kerja dan kepuasan kerja digunakan Pearson Product Moment Correlational.. Menurut Siregar R (2013) “Pearson Product Moment Correlational adalah untuk mencari hubungan variabel bebas (X) dengan variabel terikat (Y), dan data berbentuk interval dan ratio”.

Untuk menghitung korelasi Pearson Product Moment dapat menggunakan rumus angka kasar sebagai berikut:

r =

Keterangan :

R = Koefisien korelasi

x = Jumlah skor dalam sebaran x

y = Jumlah skor dalam sebaran y

xy = Jumlah hasil kali skor x dengan skor yang berpasangan

 = Jumlah skor yang dikuadratkan dalam sebaran x

 = Jumlah skor yang dikuadratkan dalam sebaran y

N = Banyaknya subjek skor x dan skor y yang berpasangan/

jumlah data (responden

Jika menggunakan komputerisasi untuk melihat hubungan atau korelasi antara masing-masing variabel X dan Y maka diolah dengan program komputer Statistical Product and Service Solution(SPSS) versi 20.0.

  

n

xn2

 

xyx2

 

n

x

y2y

 

y 2

pengolahan data instrumen stres kerja karyawan, dapat dilihat pada pada Tabel 5.

Tabel 5

Stres Kerja Karyawan Auto 2000 Bukittinggi (n=12)

KATEGORI SKOR f %

Sangat tinggi ≥127 0 0

Tinggi 103-126 0 0

Sedang 79-102 1 8,33

Rendah 55-78 10 83,33

Sangat rendah ≤54 1 8,33

JUMLAH 12 100

41

Berdasarkan tabel 5 terlihat bahwa sebanyak 83,33% karyawan mendekati taraf Stres Kerja pada kategori rendah, 8,33% karyawan memiliki Stres kerja sangat rendah, sebanyak 8,33% stres kerja karyawan sedang, dan tidak ada karyawan yang berada pada kategori stres kerja yang sangat tinggi maupun tinggi.

Berdasarkan penjabaran data di atas, Stres kerja karyawan secara keseluruhan dapat dikatakan rendah yaitu berada pada kategori rendah.

Artinya di sini sebagian besar sebagian besar karyawan perusahaan Auto 2000 pada bagian service tidak merasa stres menghadapi pekerjaan yang dijalani saat ini. Selanjutnya akan di deskripsikan Stres kerja karyawan berdasarkan masing-masing aspek, yaitu:

a. Physiology (Aspek fisik)

Berdasarkan hasil penelitian dapat dijelaskan tingkat stres kerja karyawan dari aspek Physiology, dapat dilihat pada tabel 6.

Tabel 6

Tingkat Stres Kerja Aspek Physiology karyawan (n=12)

KATEGORI SKOR f %

Sangat Tinggi ≥26 0 0

Tinggi 21-25 0 0

Sedang 16-20 5 41,67

Rendah 11--15 7 58,33

Sangat rendah ≤10 0 0

JUMLAH 12 100,00

Berdasarkan tabel 6 dapat terlihat bahwa karyawan memiliki stres kerja pada aspek fisik sebanyak 58,33% yaitu pada kategori rendah, 41,67% stres kerja pada aspek fisik dengan kategori sedang. Tidak ada karyawan yang stres kerja pada aspek fisiknya berada pada kategori tinggi, sangat tinggi dan sangat rendah.

b. Psychology (Aspek Psikologi)

Berdasarkan hasil penelitian dapat dijelaskan tingkat stres kerja karyawan dari aspek Psychology, dapat dilihat pada tabel 7.

Tabel 7

Tingkat Stres Kerja Aspek Psychology Karyawan (n=12)

KATEGORI SKOR f %

Sangat Tinggi ≥60 0 0

Tinggi 49-59 0 0

Sedang 38-48 0 0

Rendah 27-37 4 33,33

Sangat rendah ≤26 8 66,67

JUMLAH 12 100

Berdasarkan tabel 7 dapat dilihat bahwa karyawan yang memiliki stres kerja dari aspek psikologi sebanyak 66,67% berada pada kategori sangat rendah. Kemudian pada kategori rendah adalah sebanyak 33,33%. Tidak ada karyawan yang memiliki stres kerja dari aspek psikologi dengan kategori sedang, tinggi dan sangat tinggi.

c. Behavior (Aspek Tingkah Laku)

Berdasarkan hasil penelitian dapat dijelaskan stres kerja karyawan dari aspek Behavior, dapat dilihat pada tabel 8

Tabel 8

Tingkat Stres Kerja Aspek Behavior Karyawan (n=12)

KATEGORI SKOR f %

Sangat tinggi ≥43 0 0

Tinggi 35-42 0 0

Sedang 27-34 1 8,33

Rendah 19-26 6 50

Sangat rendah ≤18 5 41,67

JUMLAH 12 100

Berdasarkan tabel 8 dapat dilihat bahwa stres kerja karyawan pada aspek behavior (tingkah laku) sebanyak 41,67% berada pada kategori sangat rendah, 50% berada pada kategori rendah dan 8,33% berada pada kategori sedang. Tidak ada karyawan yang stres kerja pada aspek tingkah laku berada pada kategori tinggi dan sangat tinggi.

a. Pekerjaan itu sendiri

Berdasarkan hasil penelitian dapat dijelaskan kepuasan kerja karyawan dari aspek pekerjaan itu sendiri, dapat dilihat pada tabel 10.

Tabel 10

Tingkat Kepuasan Kerja Aspek Pekerjaan Itu Sendiri (n=12)

KATEGORI SKOR f %

sangat tinggi ≥18 3 25

tinggi 15-17 8 66,67

sedang 12--14 0 0

rendah 9--11 1 8,33

sangat rendah ≤8 0 0

jumlah 12 100

Dari tabel 10 dapat dilihat bahwa kepuasan kerja karyawan pada aspek pekerjaan itu sendiri sebanyak 66,67% berada pada kategori tinggi, sebanyak 25% berada pada kategori sangat tinggi, 8,33% berada pada kategori rendah. Tidak ada karyawan yang kepuasan kerja pada aspek pekerjaan berada pada kategori sedang dan sangat rendah.

b. Gaji

Berdasarkan hasil penelitian dapat dijelaskan kepuasan kerja karyawan dari aspek gaji, dapat dilihat pada tabel 11.

Tabel 11

Kepuasan Kerja Karyawan Aspek Gaji (n=12)

KATEGORI SKOR f %

sangat tinggi ≥18 2 16,67

tinggi 15-17 9 75

sedang 12--14 1 8,33

rendah 9--11 0 0

sangat rendah ≤8 0 0

JUMLAH 12 100

Dari tabel 11 dapat dilihat sebanyak 75% karyawan merasa puas dengan gaji yang diperoleh yaitu pada kategori tinggi, sebanyak 16,67%

sangat tinggi, 8,33% yang sedang. Tidak ada karyawan yang kepuasan kerjanya berada pada kategori rendah dan sangat rendah.

c. Promosi

Berdasarkan hasil penelitian dapat dijelaskan tingkat kepuasan kerja karyawan pada aspek promosi, dapat dilihat pada tabel 12.

Tabel 12

Kepuasan Kerja Karyawan Aspek Promosi (n=12)

KATEGORI SKOR f %

sangat tinggi ≥18 6 50

tinggi 15-17 4 33,33

sedang 12--14 1 8,33

rendah 9--11 1 8,33

sangat rendah ≤8 0 0

JUMLAH 12 100

Dari tabel 12 dapat dilihat bahwa kepuasan kerja karyawan pada aspek promosi 50% berada pada kategori sangat tinggi, 33,33% berada pada kategori tinggi, 8,33% berada pada kategori sedang. Dan pada kategori rendah sebanyak 8,33%. Tidak ada karyawan yang kepuasan kerja pada aspek promosi berada pada kategori sangat rendah.

d. Pengawasan (supervisi)

Berdasarkan hasil penelitian dapat dijelaskan tingkat kepuasan kerja karyawan dari aspek pengawasan, dapat dilihat pada tabel 13.

Tabel 13

Kepuasan Kerja Karyawan Aspek Pengawasan (n=12)

KATEGORI SKOR f %

sangat tinggi ≥18 2 16,67

tinggi 15-17 8 66,67

sedang 12--14 2 16,67

rendah 9--11 0 0

sangat rendah ≤8 0 0

JUMLAH 12 100

Dari tabel 13 dapat dilihat bahwa kepuasan kerja karyawan pada aspek pengawasan 66,67% berada pada kategori tinggi, 16,67% berada pada kategori sangat tinggi, 16,67% berada pada kategori sedang. Tidak ada karyawan yang kepuasan kerja pada aspek pengawasan berada pada kategori rendah dan sangat rendah.

e. Kelompok Kerja

Berdasarkan hasil penelitian dapat dijelaskan tingkat kepuasan kerja karyawan dari aspek kelompok kerja, dapat dilihat pada tabel 14

Tabel 14

Kepuasan Kerja Aspek Kelompok Kerja (n=12)

KATEGORI SKOR f %

sangat tinggi ≥18 6 50

tinggi 15-17 6 50

sedang 12--14 0 0

rendah 9--11 0 0

sangat rendah ≤8 0 0

JUMLAH 12 100

Dari tabel 14 dapat dilihat bahwa kepuasan kerja karyawan pada aspek kelompok kerja sebanyak 50% berada pada kategori sangat tinggi dan 50% pada kategori tinggi. Tidak ada karyawan yang kepuasan kerja pada aspek kelompok kerja berada pada kategori sedang, rendah dan sangat rendah.

f. Lingkungan Kerja

Berdasarkan hasil penelitian dapat dijelaskan tingkat kepuasan kerja karyawan dari aspek lingkungan kerja, dapat dilihat pada tabel 15.

Tabel 15

Kepuasan Kerja Aspek Lingkungan Kerja (n=12)

KATEGORI SKOR f %

sangat tinggi ≥22 0 0

tinggi 18-21 2 16,67

sedang 14-17 9 75

rendah 10--13 1 8,33

sangat rendah ≤9 0 0

JUMLAH 12 100

Dari tabel 15 dapat dilihat bahwa kepuasan kerja karyawan pada aspek lingkungan kerja 75% berada pada kategori sedang, 16,67%

berada pada kategori tinggi, dan 8,33% berada pada kategori rendah.

Tidak ada karyawan yang kepuasan kerja pada aspek lingkungan kerja berada pada kategori sangat tinggi dan sangat rendah.

3. Hubungan antara Stres Kerja dengan Kepuasan Kerja Karyawan Hasil uji hipotesis dimaksudkan untuk mengetahui hubungan stres kerja dengan kepuasan kerja karyawan. Hipotesis yang diajukan dalam penelitian ini adalah terdapat hubungan signifikan negatif antara stres kerja dengan kepuasan kerja karyawan. Pengujian hipotesis dilakukan dengan menggunakan teknik analisis korelasi Product Moment.

Pengolahan data untuk menguji korelasi stres kerja dengan kepuasan kerja menggunakan bantuan komputer SPSS for windows versi 20.0. Adapun hasil korelasi variabel stres kerja (X) dengan kepuasan kerja (Y) dapat dilihat pada tabel 16.

Tabel 16

Korelasi Stres Kerja (X) dengan Kepuasan Kerja (Y)

Correlations

Stres Kerja Kepuasan Kerja

Stres Kerja

Pearson Correlation 1 -,635*

Sig. (2-tailed) ,027

N 12 12

Kepuasan Kerja

Pearson Correlation -,635* 1 Sig. (2-tailed) ,027

N 12 12

*. Correlation is significant at the 0.05 level (2-tailed).

Berdasarkan tabel 16 diatas dapat diketahui bahwa terdapat hubungan signifikan negatif antara stres kerja dengan kepuasan kerja karyawan di Auto 2000 Bukittinggi, dengan koefisien sebesar -0,635 dengan nilai signifikan Sig. (2-tailed) sebesar 0,027.

Hal ini menunjukkan hipotesis yang diajukan dalam penelitian ini bahwa terdapat hubungan yang signifikan negatif antara stres kerja dengan kepuasan kerja karyawan di Perusahaan Auto 2000 diterima. Hal ini dapat diartikan bahwa semakin rendah tingkat stres maka kepuasan kerja karyawan semakin tinggi.

Dokumen terkait