• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III HUBUNGAN INTERTEKSTUALITAS PUISI “LA RONDE’ KARYA

3.2 Analisa Hubungan Intertekstualitas

3.2.1 Hubungan Struktur Formal

Kedua puisi memiliki 3 bagian yaitu berupa introduksi atau pembuka, isi dan penutup. Bagian introdiksi dari kedua puisi tersebut penulis buktikan dalam bagian di bawah ini :

§

Pada bagian pembuka ini kedua puisi memaparkan fakta tentang pertemuan seorang sosok laki-laki dengan seorang wanita dengan suasana yang dingin. Dalam “La Ronde” pertemuan terjadi di puncak musim salju dan dingin

La Ronde I

Senandung lupa pertemuan malam dengan dirinya, memisah di kamar. Meninggi musim hingga salju jatuh, hingga bertambah lapar

Dua kisah tak bertubuh

Rasuk-merasuk bau kehadirannya “Sekira mati begini” bisi gelap di puncak nikmat, hingga ke subuh Terbaring di dada malam. “Milikku seluruh”

erang detik mengalir dalam ciuman kegemasan bibir meraba waktu memadat jadi tubuh perempuan

Gadis Malam di Tembok Kota

Tubuhnya kuyup diguyur hujan Rambutnya awut-awutan dijarah angin malam

Tapi enak saja ia nampang mengangkang seperti ingin memamerkan kecantikan

Wajah ranum yang merahasiakan derita dunia;

Leher langsat yang menympan jeritan;

dada segar yang mengentalkan darah dan nanah;

dan lubang sunyi, di bawah pusar, yang dirimbuni rumput berduri

itu membuat “lapar” (semakin birahi), siap melakukan persetubuhan. Dalam “Gadis Malam di Tembok Kota”, pertemuan itu berlangsung ditengah guyuran hujan. Rambut sang gadis malam digambarkan awut-awutan karena diterpa angin malam. Meskipun demikian, sang gadis malam tidak “peduli”. Dia bahkan menantang dengan “mengangkang” untuk menimbulkan birahi teman kencannya.

Bagian isi kedua puisi tersebut akan penulis paparkan pada bagian di bawah ini :

La Ronde II

Adakah yang lebih indah dari bibir padat merekah? Adakah yang lebih manis dari gelap bayang di bawah alis Di keningnya pelukis ragu

Mencium atau menyelimuti bahu ? Tapi rambutnya menuntun tangan Hingga pinggulnya, penuh saran Lalu paha, pualam pahatan mendukung lengkung perut Berkisar di pusar, lalu surut agak ke bawah, ke pusat segala Hitam pekat, siap menerima dugaan indah

Ah, dada yang lembut menekan hati Terimalah kematangan mimpi lelaki ! III

Kau dewiku penghibur malam hampa segala perbuatan siang yang sia-sia Kebosanan abadi jadilah lupa dan badan hancur nikmat terasa ! Di matamu ingin tak puas

membakar tulang, hingga ke sumsum diperas

Kuserahkan pada binatang malam hari nafsumu, semakin buas dan menjadi’ Adakah candi pedupan lebih mulia dari kesucian pualam tubuhmu ? Adakah lebih pemurah dari pangkuanmu

Dan panas rahmat dirangkul mulut dosa ?

Gadis Malam di Tembok Kota

Dan malam itu datang seorang pangeran dengan celana komprang, bahu kedodoran, rambut

acak-acakan. Datang menemui gadisnya yang lagi kasmaran.

“Aku rindu Mas Alwy yang tahan meracau seharian,

yang tawanya ngakak membikin ranjang reyot

bergoyang-goyang, yang jalannya sedikit goyah

tapi gagah juga. Selamat malam Alwy.” “Selamat malam Kitty. Aku datang membawa puisi.

Datang sebagai pasien rumah sakit jiwa dari negeri

Yang penuh pekik dan basa-basi.” Ini musim birahi. Kupu-kupu berhamburan liar

Mencerca bunga-bunga layu yang bersolek di bawah

Cahaya merkuri. Dab bila situasi politik memungkinkan,

Tentu akan semakin banyak yang gencar bercinta

Tanpa merasa was-was akan ditahan dan diamankan

“Merapatlah ke gigil tubuhku, penyairku

Ledakkan puisimu di nyeri dadaku.” “Tapi aku ini bukan binatang jalang, Kitty

Aku tak pandai meradang, menerjang.” Sesaat ada juga keabadian. Diusapnya pipi muda,

Leher hangat, dan bibir lezat yang terancam kelu.

Dan dengan cinta yang agak berangasan diterkamnya

Bagian isi puisi “La Ronde” terdiri dari 7 bait yang terbagi dalam dua bagian, sedangkan bagian ini “Gadis Malam di Tembok Kota” terdiri dari 7 bait. Bagian isi puisi “La Ronde” mengisahkan tentang sosok seniman atau sosok pelukis yang merupakan pemggambaran laki-laki yang menikmati keindahan tubuh wanita dan melakukan persetubuhan. Dalam bagian II yang merupakan bagian awal dari isi puisi ini memaparkan tokoh laki-laki dalam puisi ini melakonkan diri sebagai seorang pelukis yang memuja sosok wanita sehingga si pelukis itu seakan-akan melukis keindahan lekuk tubuh wanita, kemudian dengan penuh rasa kenikmatan melakukan persetubuhan dengan objek lukisannya tersebut, yaitu wanita. Sedangkan bagian isi “Gadis Malam di Tembok Kota” menceritakan tentang sosok penyair yang melakukan persetubuhan dengan gadis malam tetapi tidak menikmatinya, bahkan sedikit bersikap malu-malu tetapi sebenarnya dalam hati sangat menginginkan. Hal ini didasari oleh sikapnya yang mencoba merendahkan diri dihadapan si gadis malam dengan mengatakan bahwa dia tidak sehebat binatang jalang atau Chairil Anwar dan juga tak pandai bercinta tetapi akhirnya tetap melakukan persetubuhan dengan si gadis malam, walaupun tanpa kenikmatan dan terasa hambar saja. Dalam kedua puisi ini terdapat unsur-unsur yang sama yaitu sosok seniman, sosok wanita dan persetubuhan.

Bagian penutup masing-masing puisi tersebut adalah seperti dalam bagian di bawah ini :

La Ronde

Padamu seluruh setia dan sembah sajak penyair dan mimpi indah Kelupaan sesaat, terlalu nikmat Pada siksa ingin, selalu melumat

(1955)

Gadis Malam di Tembok Kota “Tapi malam cepat habis juga ya. Apa boleh buat, meski kuakhiri kisah kecil ini saat engkau terkapar di puncak risau. Maaf, aku tak punya banyak waktu buat bercinta. Aku mesti lebih jauh lagi mengembara di poster-poster iklan. Tragis bukan, jauh-jauh datang dari Amerika Cuma untuk jadi penghibur

Di negeri orang-orang kesepian ?” “Terima kasih, gadisku.”

Peduli amat, penyairku.” (1996)

Bagian penutup kedua puisi tersebut menunjukkan persamaan yang sangat kental. Dalam “La Ronde” setelah mengalami persetubuhan yang “terlalu nikmat”, penyair menyatakan rasa terima kasih, bahkan “Setia dan sembah”. Hal ini menunjukkan adanya rasa sangat puas atas kenikmatan persetubuhan yang di dalamnya setelah luar biasa menginginkannya “Siksa ingin selalu melumat.”

Dalam “Gadis Malam di Tembok Kota” penyair melukiskan adanya percintaan persetubuhan itu tetap semuanya berlangsung sangat datar. Karena malam cepat berlalu, persetubuhan berlangsung singkat dan tidak nikmat. Ketika sang gadis “terkapar dipuncak risau,” sang seniman justru menyatakan penyesalannya karena tidak punya banyak waktu dan masih harus mengembara lagi (Maaf, aku tak punya banyak waktu untuk bercinta./Aku mesti lebih jauh lagi mengembara di poster-poster iklan.)

Jika pada puisi “La Ronde” percintaan dan persetubuhan dua insan itu berlangsung penuh keromantisan dan berakhir dengan rasa syukur, Dalam “Gadis Malam di Tembok Kota” hal itu berakhir datar dan mengecewakannya.

Dari uraian di atas dapat diduga adanya kemiripan struktur formal kedua puisi. Bagian introduksi merupakan semacam narasi dari masing-masing penyair yang mencoba mengantarkan pembaca pada pada bagian isi atau inti puisi yang menggambarkan tentang seksualitas dan persetubuhan. Diakhiri dengan bagian penutup yang mengisahkan dari masing-masing tokoh laki-laki setelah melakukan persetubuhan tetapi dengan rasa yang berbeda. Apabila tokoh laki-laki dalam puisi “La Ronde” merasakan kepuasan lahir batin yang luar biasa, maka tokoh laki-laki dalam puisi “Gadis Malam di Tembok Kota” hanya merasakan kehambanan dan rasa tidak puas.

Selain terdapat persamaan struktur puisi, di dalam kedua puisi tersebut, terdapat tiga kata kunci (keywords) yang menunjukkan adanya kemiripan yang kuat.

Tiga kata kunci itu adalah :

a. Alat Kelamin Wanita (Vagina)

Gambaran tentang alat kelamin wanita (Vagina) masing-masing puisi ditunjukkan pada bagian di bawah ini :

La Ronde Lalu paha, pualam pahatan mendukung lengkung perut Berkisar di pusar, lalu surut agak ke bawah, ke pusat segala hitam pekat, siap menerima dugaan indah.

(Bait ke 6)

Gadis Malam di Tembok Kota Wajah ranum yang merahasiakan derita dunia ;

Leher langsat yang menyimpan jeritan dada segar yang

mengentalkan darah dan nanah Dan lubang sunyi, di bawah pusar, yang dirimbuni rumput berduri

(Bait ke 2)

Akan tetapi pada puisi “La Ronde” gambaran vagina dilukiskan secara indah, diibaratkan sebagai suatu wadah untuk menerima hasrat seksual dari laki-laki dengan penuh kelembutan (Hitam pekat, siap menerima dugaan indah). Sedangkan pada puisi “Gadis Malam di Tembok Kota” gambaran vagina dilukiskan secara buruk dan dipandang sebagai sesuatu yang menjijikkan serta menyakitkan (dan lubang sunyi, di bawah pusar/ yang dirimbuni rumput berduri). b. Binatang

Gambaran tentang binatang dan penggambarannya pada kedua puisi tersebut terletak pada bagian di bawah ini :

La Ronde

Kuserahkan pada binatang malam (Bait ke 9 larik ke 3)

Gadis Malam di Tembok Kota “Tapi aku ini bukan binatang jalang, Kitty”

(Bait ke 8 larik ke 1)

Gambaran binatang pada puisi “La Ronde” mengibaratkan tentang nafsu birahi yang meledak-ledak seperti pada nafsu birahi binatang yang sedang

melakukan persetubuhan. Hal ini juga dapat berarti bahwa tokoh laki-laki tersebut sedang merasakan klimaks atau puncak dari persetubuhan tersebut.

Dan pada puisi “Gadis Malam di Tembok Kota” gambaran binatang mengibaratkan tentang rasa kerendahan diri tokoh laki-laki tersebut. Dia menyadari tidak sehebat si binatang jalang yaitu Chairil Anwar.

c. Seniman

Sosok seniman pada kedua puisi ini dapat dibuktikan dalam bagan di bawah ini :

La Ronde Di keningnya pelukis ragu

(Bait ke 5 lirik ke 1)

Gadis Malam di Tembok Kota “Peduli amat, penyairku”.

(Bait ke 12 lirik ke 2)

Sosok seniman dalam puisi “La Ronde” adalah seorang pelukis yang menikmati kemolekan lekuk tubuh wanita. Sedangkan sosok seniman dalam puisi “Gadis Malam di Tembok Kota” adalah seorang penyair yang sedang mencari pelampiasan atas kepenatan hidupnya.

Dokumen terkait