BAB II TINJAUAN PUSTAKA
2.8. Kerangka Konseptual
2.8.3. Hubungan Suku Bunga BI terhadap Volume
stance kebijakan moneter yang ditetapkan oleh bank Indonesia dan diumumkan
kepada publik. Besar dan kecilnya suku bunga bank sangat mempengaruhi penyaluran kredit, semakin besar suku bunga bank maka akan semakin banyak pula keuntungan yang didapatkan oleh pihak bank dan akan memberikan peluang mudah untuk menyalurkan kreditnya kepada pengusaha UMKM.
Adapun kerangka konsep dalam penelitian ini dapat digambarkan sebagai berikut:
Gambar 2.1.
Kerangka Konseptual 2.9. Hipotesis
Berdasarkan kerangka konseptual dalam penelitian ini maka dapat dibuat hipotesis sebagai berikut:
1. Non Perform Loan (NPL) berpengaruh negatif terhadap Volume Penyaluran Kredit
2. Capital Adequacy Ratio (CAR) berpengaruh positif terhadap Volume Penyaluran Kredit
3. Suku Bunga BI berpengaruh positif terhadap Volume Penyaluran Kredit Non Perform Loan (X1)
Volume Penyaluran Kredit (Y) Capital Adequacy Ratio (X2)
Suku Bunga BI (X3)
25
BAB III
METODE PENELITIAN
3.1. Jenis Penelitian
Jenis penelitian ini adalah penelitian deskriptif kuantitatif, yaitu penelitian yang dilakukan untuk mengetahui nilai variabel mandiri, baik satu variabel atau lebih (independen) tanpa membuat perbandingan, atau menghubungkan dengan variabel yang lain (Sugiyono, 2012:13).
3.2. Lokasi Penelitian
Penelitian ini mengambil lokasi penelitian pada PT. Bank Sumut Medan, Jl. Imam Bonjol No.18, Madras Hulu, Medan Polonia, Kota Medan, Sumatera Utara 20212.
3.3. Jenis dan Sumber Data
Jenis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data sekunder (kuantitaif), sumber data yang digunakan diperoleh dari PT. Bank Sumut Medan, Jl. Imam Bonjol No.18, Madras Hulu, Medan Polonia, Kota Medan, Sumatera Utara. Adapun jenis data yang digunakan ialah tabulasi data Non Perform Loan (NPL), Capital Adequacy Ratio (CAR), Suku Bunga BI, dan Penyaluran Kredit periode bulan Januari sampai dengan Desember tahun 2014-2016.
3.4. Metode Pengumpulan Data
Dalam tujuan untuk memperoleh data dan informasi yang berhubungan dengan penelitian ini, maka dilakukan metode pengumpulan data sebagai berikut:
1. Wawancara
Dengan bertatap muka dan mengajukan pertanyaan untuk mendapatkan jawaban sesuai dengan yang dibutuhkan dalam penelitian ini.
2. Observasi
Melakukan pengamatan dan pencatatan secara sistematik untuk mendapatkan keterangan atau informasi yang dibutuhkan.
3. Studi Dokumentasi
Melakukan penelusuran dan mengumpulkan dokumen yang dibutuhkan dalam mendukung penelitian.
3.5. Definisi Operasional
1. Non Perform Loan (NPL), adalah salah satu indikator kunci untuk menilai kinerja fungsi bank atau kemampuan debitur dari sisi financial untuk melunasi pokok dan bunga pinjaman tidak akan ada artinya tanpa kemauan dan itikad baik dari debitur itu sendiri yang dinyatakan dalam rasio persentase.
2. Capital Adequacy Ratio (CAR), adalah rasio kecukupan modal yang berfungsi menampung risiko kerugian yang kemungkinan dihadapi oleh bank yang dinyatakan dalam rasio persentase.
3. Suku Bunga BI (BI Rate), adalah suku bunga kebijakan yang mencerminkan sikap atau stance kebijakan moneter yang ditetapkan oleh bank Indonesia dan diumumkan kepada publik yang dinyatakan dalam rasio persentase.
27
4. Volume Penyaluran Kredit, adalah pemberian atau penyerahan uang kepada debitur dalam bentuk kredit atau terutang dengan bunga pembayaran yang dinyatakan dalam juta rupiah.
3.6. Uji Asumsi Klasik
Uji asumsi klasik bertujuan untuk menganalisis apakah model yang digunakan dalam regresi adalah model yang terbaik (Juliandi et al. 2014). Uji asumsi klasik yang dilakukan dalam penelitian ini adalah uji normalitas, uji heterokedastisitas, uji multikolinearitas dan uji autokorelasi.
3.6.1. Uji Normalitas
Uji normalitas dilakukan untuk mengetahui distribusi masing-masing data variabel normal atau tidak. Normalitas suatu variabel diperlukan dalam analisis untuk memudahkan peneliti melakukan pengujian statistik. Hal tersebut disebabkan karena normal atau tidak normalnya suatu variabel dapat menentukan hasil sebuah uji statistik akan menjadi lebih baik atau akan terdegradasi.
Uji normalitas dalam penelitian ini menggunakan Kolmogorov Smirnov test. Untuk pengujian dengan Kolmogorov Smirnov test, penelitian ini
menggunakan tingkat signifikansi α = 5% atau 0.05.
Adapun kriteria pengambilan keputusan pada uji Kolmogorov Smirnov Test adalah sebagai berikut:
1. Jika asymp.sig (2-tailed) < 0.05, maka dapat disimpulkan bahwa data tidak normal.
2. Jika asymp.sig (2-tailed) > 0.05, maka dapat disimpulkan bahwa data normal.
3.6.2. Uji Multikolonieritas
Uji multikolonieritas digunakan untuk menguji korelasi antar variabel independen. Tidak adanya korelasi antar variabel independen adalah bentuk model regresi yang baik. Masalah multikolinearitas mengakibatkan kesalahan standar yang besar dalam model penelitian, sehingga koefisien tidak dapat ditaksir dengan ketepatan yang tinggi. Masalah multikolinearitas dapat dideteksi dengan melihat Tolerance value dan nilai Variance Inflation Factor (VIF).
Adapun kriteria pengambilan keputusan pada uji multikolinearitas adalah sebagai berikut (Ghozali, 2012):
1. Jika nilai tolerance < 0.1 dan Variance Inflation Factor (VIF) > 10, maka dapat disimpulkan bahwa terjadi gejala multikolinearitas pada model regresi yang digunakan.
2. Jika nilai tolerance > 0.1 dan Variance Inflation Factor (VIF) < 10, maka dapat disimpulkan bahwa tidak terjadi gejala multikolinearitas pada model regresi yang digunakan.
3.6.3. Uji Autokorelasi
Uji autokorelasi bertujuan untuk mengetahui apakah terjadi korelasi antara pengamatan periode t dengan periode sebelumnya (t-1). Autokorelasi muncul karena observasi yang berurutan sepanjang waktu berkaitan satu sama lainnya dan sering terjadi pada sampel dengan data bersifat time series. Model disebut baik, apabila model independen dari autokorelasi (Nawari, 2010).
Adapun kriteria pengambilan keputusan dalam uji autokorelasi adalah sebagai berikut:
29
1. Deteksi Autokorelasi Positif
a. Jika dw < dL maka terdapat autokorelasi positif b. Jika dw > dU maka tidak terdapat autokorelasi positif
c. Jika dL < dw < dU maka pengujian tidak meyakinkan atau tidak dapat disimpulkan
2. Deteksi Autokorelasi Negatif
a. Jika (4 – dw) < dL maka terdapat autokorelasi negatif b. Jika (4 – dw) > dU maka tidak terdapat autokorelasi negatif
c. Jika dL < (4 – dw) < dU maka pengujian tidak meyakinkan atau tidak dapat disimpulkan
3.7. Analisis Regresi Linier Berganda
Penelitian ini menggunakan analisis regresi linier berganda karena terdapat satu variabel dependen dan beberapa variabel independen. Pengujian regresi dilakukan dengan bantuan perangkat lunak IBM SPSS Statistic 23. Persamaan regresi yang akan diuji adalah sebagai berikut:
Y= α + β1X1 + β2X2 + β2X2 + e Keterangan:
Y = Volume Penyaluran Kredit (Rp Juta)
X1 = NPL (%)
Pengujian hipotesis dalam penelitian ini menggunakan model analisis regresi berganda. Penelitian ini menggunakan uji kesesuaian (goodness of fit test)
untuk menguji ketepatan fungsi regresi dalam menaksir nilai aktual. Goodness of fit diukur menggunakan uji signifikansi simultan (uji F), uji signifikansi parsial
(uji t) dan uji koefisiensi determinasi (R2).
3.8.1. Uji Signifikansi Simultan (Uji F)
Uji statistik-F digunakan untuk menunjukkan apakah variabel-variabel independen yang telah dimasukkan ke dalam model mempunyai pengaruh secara bersama-sama terhadap variabel dependen (Ghozali, 2012). Apabila probability value dalam pengujian kurang dari 5% maka model regresi yang digunakan telah
layak. Apabila probability value dalam pengujian lebih dari 5% maka model regresi yang digunakan tidak layak.
Adapun kriteria pengambilan keputusan pada uji signifikansi simultan (uji-F) adalah sebagai berikut:
H0 : Jika Fhitung < Ftabel dan Sig. > 0.05, maka dapat disimpulkan bahwa tidak terdapat pengaruh signifikan antara variabel independen dengan variabel dependen.
Ha : Jika Fhitung > Ftabel dan Sig. < 0.05, maka dapat disimpulkan bahwa tidak terdapat pengaruh signifikan antara variabel independen dengan variabel dependen.
Adapun rumus uji-F adalah sebagai berikut:
3.8.2. Uji Signifikansi Parsial (Uji t)
Menurut Ghozali (2012), Uji t bertujuan untuk menunjukkan seberapa jauh pengaruh satu variabel independen secara individual dalam menjelaskan variasi variabel dependen. Uji-t dalam penelitian ini menggunakan signifikansi 5%.
Hipotesis penelitian dinyatakan diterima apabila probability value kurang dari 5%
31
yang menyatakan bahwa variabel independen berpengaruh terhadap variabel dependen. Hipotesis penelitian dinyatakan ditolak apabila probability value lebih dari 5% yang berarti bahwa variabel independen tidak berpengaruh terhadap variabel dependen.
Adapun kriteria pengambilan keputusan pada uji signifikansi parsial (uji-t) adalah sebagai berikut:
H0 : Jika thitung < ttabel dan Sig. > 0.05, maka dapat disimpulkan bahwa tidak terdapat pengaruh signifikan antara variabel independen dengan variabel dependen.
Ha : Jika thitung > ttabel dan Sig. < 0.05, maka dapat disimpulkan bahwa tidak terdapat pengaruh signifikan antara variabel independen dengan variabel dependen.
Adapun rumus uji-t adalah sebagai berikut:
( ) √
3.8.3. Uji Koefisien Determinasi (Adjusted R2)
Ghozali (2012) menjelaskan bahwa koefisien determinasi (R2) digunakan untuk mengukur seberapa jauh kemampuan model dalam menerangkan variasi variabel dependen. Semakin besar nilai Adjusted R2 atau semakin mendekati nilai 1 maka variabel independen semakin dapat menjelaskan variabel dependennya atau semakin besar pengaruhnya terhadap variabel dependen.
Adapun rumus R2 adalah sebagai berikut:
BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
4.1. Hasil Penelitian
4.1.1. Perkembangan UMKM di Sumatera Utara
Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM) di Sumatera Utara merupakan salah satu cara mewujudkan kemandirian ekonomi daerah. Bahkan, peran UMKM dalam pertumbuhan perekonomian suatu negara sangat penting.
Pasalnya, ketika terjadi krisis yang melanda tahun 1998, usaha berskala kecil dan menengah lah yang relatif mam-pu bertahan dibandingkan perusahaan besar.
Karena, selain terbukti lebih kebal terhadap krisis ekonomi, UMKM juga diyakini mampu menggerakkan potensi ekonomi daerah. Sebagai sektor strategis ekonomi domestik memiliki daya tahan yang kuat terhadap krisis. Hal ini disebabkan oleh sifat permodalannya yang mandiri dan tidak memerlukan uang pinjaman dari luar.
Selain itu UMKM juga sangat potensial untuk mengangkat potensi daerah, meningkatkan pendapatan daerah, dan menyejahterakan masyarakat. Pada umumnya UMKM selalu memberdayakan bahan baku lokal, sehingga potensi-potensi daerah tergali. Begitu pula dengan mempekerjakan talen-talen lokal yang bisa mengurangi jumlah pengangguran.
Pemerintah Sumatera Utara juga mengadakan Program Wirausaha Pemula dan memanfaatkan bantuan CSR dari Bank SUMUT. Program Wirausaha Pemula menyediakan 45 gerobak dan bahan baku es blend yang akan disalurkan kepada anak muda yang belum bekerja atau keluarga yang membutuhkan di Kota Medan, Kabupaten Asahan, dan Kabupaten Deli Serdang.
33
Pemerintah Sumatera Utara sangat berharap agar program-program yang menciptakan pertumbuhan UMKM seperti itu terus berlanjut. Pemerintahan Provinsi Sumatera Utara bersedia memberikan dukungan jika Gerbang Swara memiliki ide-ide atau program yang bisa meningkatkan pertumbuhan UMKM yang berkelanjutan dan mengurangi pengangguran.
Salah satu yang menjadi alasans karena mayoritas usaha berskala kecil tidak selalu bergantung pada modal besar atau pinjaman dari luar dalam kurs dolar. Sehingga ketika ada fluktuasi nilai tukar, perusahaan berskala besar selalu berurusan dengan mata uang asing adalah yang berpotensi mengalami imbas krisis. Seiring membaiknya perekonomian Indonesia, pelaku UMKM pun berpikir ingin segera bangkit dan mengembangkan usahanya menjadi lebih baik termasuk di Sumatera Utara.
Untuk mengembangkan bisnis usaha dari pelaku UMKM juga dibutuhkan peranan perbankan. Peranan Bank merupakan salah satu lembaga keuangan yang dibutuhkan oleh masyarakat yang membutuhkan dana baik untuk kepentingan konsumtif maupun untuk kepentingan mengembangkan usahanya. Sehingga bank mempunyai peran yang penting bagi masyarakat yang kelebihan dana maupun yang kekurangan dana. Khusunya Usaha Mikro Kecil dan Menengah dalam mengembangkan usahanya selain perlu dana juga membutuhkan adanya bimbingan dalam pengelolaan manajemen agar UMKM bisa berkembang dan mampu untuk memenuhi kewajiaban bagi UMKM yang punya pinjaman ke Bank.
Pentingnya dana bagi kegiatan usaha untuk UMKM d Ssumatera Utara maka perlu adanya kerja sama yang baik antara pihak Bank sebagai lembaga
pemberi kredit dengan UMKM. Kerjasama ini perlu dilakukan agar permasalahan di antara kedua belah pihak tersebut bisa diatasi dan saling menguntungkan. Di Sumatera Utara perkembangan UMKM juga tumbuh dengan baik dan turut andil campur dari pihak bank, terutama Bank SUMUT.
4.1.2. Sejarah Singkat PT. Bank SUMUT
PT. Bank pembangunan daerah sumatera utara disingkat BPDSU mendirikan di Medan Pada tanggal 04 November 1961 dalam bentuk Perusahaan Daerah (PD) berdasarkan Akta Notaris Rusli Nomor 22 dengan sebutan BPDSU.
Pada tahun 1962 tentang ketentuan pokok Bank pembangunan daerah dan sesuai dengan Peratuturan daerah Tingkat I Sumatera Utara No. 5 tahun 1965 bentuk usaha diubah menjadi Badan Usaha Milik Daerah (BUMD). Modal dasar pada saat itu sebesar Rp. 100 juta dan sahamnya dimiliki oleh Daerah tingkat I Sumatera Utara dan Pemerintahan Daerah Tingkat II Sumatera Utara.
Sejalan dengan program Rekapitulisasi, bentuk hukum BPDSU tersebut harus diubah dari perusahaan Daerah (PD) menjadi perseroan terbatas (PT) agar saham Pemerintah Pusat dapat masuk untuk mengembangkan dan di kemudian hari aham pihak ketiga dimungkinkan dapat masuk atas persetujuan DPRD Tingkat I Sumatera Utara, sehingga berdasarkan hal tersebut maka pada Tahun 1999, bentuk hukum BPDSU dirubah menjadi Perseroan Terbatas dengan nama PT. Bank Pembangunan Daerah Sumatera Utara atau disingkat PT. Bank Sumut yang berkedudukan dan berkantor pusat di Medan, JL. Imam Bonjol No. 18 Medan.
35
Perubahan tersebut dituangkan dalam Akte Pendirian Alina Hanum Nasution, S.H., dan telah mendapat pengesahan dari Menteri Kehakiman Republik Indonesia dibawah Nomor C–8224 HT.01.01.TH99, serta diumumkan dalam berita Negara Republik Indonesia Nomor 54 tanggal 6 Juli 1999. Modal dasar pada saat itu menjadi Rp. 400 Miliar yang selanjutnya dengan pertimbangan kebutuhan proyeksi pertumbuhan Bank, di tahun yang sama modal dasar kembali ditingkatkan menjadi Rp. 500 Miliar.
Sesuai dengan akta No. 39 tanggal 10 Juni 2008 yang dibuat dihadapan H.
Marwansyah Nasution, SH, notaris di Medan berkaitan dengan akta penegasan No.05, tanggal 10 November 2008 dan telah mendapat pengesahaan dari Menteri Hukum dan Hak Azazi Manusia Republik Indonesia sebagaimana dinyatakan dalam surat keputusan Nomor AHU-87927. AH. 01.02 tahun 2008 tanggal 20 November 2008 dan telah beberapa kali mengalami perubahan dan telah diumumkan dalam tambahan berita Negara Republik Indonesia No.10 tanggal 3 Februari 2009, maka modal dasar ditambahkan dari 500 miliar menjadi Rp. 1 trilyun. Anggaran dasar terakhir, sesuai dengan Akta No. 16, tanggal 29 Oktober 2010 akta notaris N.03 tanggal 6 desember 2010 mengenai pernyataan keputusan rapat, yang dibuat dihadapan Afrizal Aesad, SH, Notaris di Medan yang telah mendapatkan persetujuan dari Menteri Hukum dan hak Asasi Manusia Nomor AHU-AH 01-043350 tanggal 10 Februari 2011.
Anggaran dasar terakhir, sesuai dengan Akta No. 12 tanggal 18 Mei 2011 dari Notaris Afrizal Arsad Hakim, SH, mengenai pernyataan Keputusan Rapat PT.
Bank Pembangunan Daerah Sumatera Utara. Perubahan anggaran dasar ini telah
memperoleh persetujuan dari menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia sebagaimana dinyatakan dalam Surat Keputusan No. AHU-33566.
AHU.01.02 Tahun 2011 tanggal 05 Juli 2011, dimana modal dasar mengalami perubahan dari Rp. 1 Trilyun menjadi Rp. 2 Trilyun.
PT. Bank SUMUT awalnya merupakan Bank Non Devisa yang kantor pusatnya pertama kali beralamatkan di JL. Palang Merah No. 62 (menyewakan Ruko Milik Sultan Negara) pada tahun 1962, namun Bank SUMUT berdasarkan persetujuan Bank Indoneia telah meningkatkan status menjadi Bank Umum Devisa yang diresmikan (Launcing) pada tanggal 7 September 2012 oleh pelaksana tugas Gubsu di Gedung Kantor Pusat Bank Sumut. Dari tahun ke tahun PT. Bank SUMUT mengalami peningkatan asset sehingga untuk per 31 Desember 2013, asset PT. Bank SUMUT adalah sebesar Rp. 21.495 Milyar.
4.1.3. Perkembangan Kredit UMKM di Bank SUMUT
Adapun perkembangan kredit UMKM Bank SUMUT periode 2014-2016 dapat dilihat pada gambar-gambar berikut:
Sumber: Hasil Pengolahan SPSS, Lampran 1
Gambar 4.1.
Grafik Penyaluran Kredit UMKM Bank SUMUT
0 500000 1000000 1500000 2000000
2014 2015 2016
Penyaluran Kredit UMKM
37
Berdasarkan grafik tersebut dapat dilihat bahwa penyaluran kredit UMKM pada Bank SUMUT di tahun 2014 adalah yang paling tinggi, yang kemudian terjadi penurunan yang cukup signifikan di tahun 2015 serta di ikuti kembali penurunan yang sangat drastis di tahun 2016.
Sumber: Hasil Pengolahan SPSS, Lampran 1
Gambar 4.2.
Grafik Non Performing Loan Bank SUMUT
Berdasarkan grafik tersebut dapat dilihat bahwa Non Performing Loan pada Bank SUMUT di tahun 2014 adalah yang paling rendah, yang kemudian terjadi peningkatan yang cukup signifikan di tahun 2015 serta penurunan kembali dan tidak terlalu signifikan di tahun 2016.
Sumber: Hasil Pengolahan SPSS, Lampran 1
Gambar 4.3.
Berdasarkan grafik tersebut dapat dilihat bahwa Capital Adequacy Ratio pada Bank SUMUT di tahun 2014 adalah yang paling rendah, yang kemudian terjadi peningkatan yang cukup signifikan di tahun 2015 yang terus di ikuti peningkatan yang cukup siginifikan di tahun 2016.
Sumber: Hasil Pengolahan SPSS, Lampran 1
Gambar 4.4.
Grafik Suku Bunga BI
Berdasarkan grafik tersebut dapat dilihat bahwa Suku Bunga BI di tahun 2014 adalah yang paling rendah, yang kemudian terjadi peningkatan yang cukup signifikan di tahun 2015 dan peenurunan kembali yang siginifikan di tahun 2016.
4.1.4. Deskriptif Statistik
Deskriptif statistik dalam penelitian ini digunakan untuk mendeskripsikan atau menggambarkan data masing-masing variabel penelitian meliputi Non Performing Loan (NPL), Capital Adequacy Ratio (CAR), Suku Bunga BI, dan
Penyaluran Kredit. Pada Tabel 4.1 berikut dapat dilihat nilai minimum, nilai maksimum, mean, dan nilai standar deviasi dari setiap variabel penelitian.
0 50 100 150 200
2014 2015 2016
Suku Bunga BI
39
Sumber: Hasil Pengolahan SPSS, Lampran 1
Berdasarkan tabel diatas dapat dilihat nilai minimum, maksimum, rata-rata dan standar deviasi dari Non Perform Loan (NPL), Capital Adequacy Ratio (CAR), Suku Bunga BI (SB), dan Penyaluran Kredit (PK) periode bulan Januari-Desember Tahun 2014-2016.
Nilai minimum Non Perform Loan (NPL) sebesar 3,05%, nilai maksimum sebesar 4,93% dengan rata-rata sebesar 4,11 dan standar deviasi sebesar 0,54%.
Nilai minimum Capital Adequacy Ratio (CAR) sebesar 18,45%, nilai maksimum sebesar 23,02% dengan rata-rata sebesar 20,86 dan standar deviasi sebesar 1,12%.
Nilai minimum Suku Bunga (SB) sebesar 5,27%, nilai maksimum sebesar 18,38%
dengan rata-rata sebesar 10,04% dan standar deviasi sebesar 4,58%. Nilai minimum Penyaluran Kredit (PK) sebesar 12076, nilai maksimum sebesar Rp 168.016.000 dengan rata-rata sebesar Rp 118.009.000 dan standar deviasi sebesar Rp 41.628.000.
4.1.5. Pengujian Asumsi Klasik 4.1.5.1.Uji Normalitas
Uji normalitas dalam penelitian ini dilakukan untuk mengetahui apakah data yang akan diuji dalam model regresi normal atau tidak. Jika data normal,
ini menggunakan Kolmogorov-Smirnov Z dengan tingkat signifikansi 0,05.
Kriteria dalam penilaian ini, yaitu jika nilai Asymp. Sig. (2-tailed) < 0,05 maka data berdistribusi tidak normal dan jika nilai Asymp. Sig. (2-tailed) > 0,05 maka data berdistribusi normal. Hasil dari uji Kolmogorov-Smirnov Z dalam penelitian dapat dilihat pada tabel berikut:
Tabel 4.2.
Uji Normalitas dengan Kolmogorov-Smirnov Z One-Sample Kolmogorov-Smirnov Test
Unstandardized Residual
N 36
Normal Parametersa,b Mean ,0000000
Std.
Deviation ,54174679
Most Extreme Differences Absolute ,187
Positive ,097
Negative -,187
Test Statistic ,187
Asymp. Sig. (2-tailed) ,803c
Sumber: Hasil Pengolahan SPSS, Lampran 1
Berdasarkan hasil uji normalitas dengan Kolmogorov-Smirnov Z pada tabel diatas dapat dilihat bahwa nilai Asymp. Sig. (2-tailed) sebesar 0,80, nilai tersebut lebih besar dari 0,05, maka dapat disimpulkan bahwa data yang akan menjadi model regresi dalam penelitian ini berdistribusi normal.
4.1.5.2.Uji Multikolinearitas
Uji multikolinearitas dalam penelitian dilakukan untuk mengetahui ada atau tidaknya gejala multikolinearitas dalam data yang menjadi model regresi dalam penelitian ini. Multikolinearitas adalah sebuah situasi yang menunjukkan adanya korelasi atau hubungan kuat antara dua variabel bebas atau lebih dalam sebuah model regresi berganda. Model regresi yang baik adalah model regresi yang tidak mengalami multikolinearitas. Kriteria penilaian uji multikolinearitas
41
dalam penelitian ini, yaitu jika nilai VIF > 10 maka terjadi gejala multikolinearitas dalam model regresi dan jika nilai VIF < 10 maka tidak terjadi gejala multikolinearitas dalam model regresi. Adapun hasil uji multikolinearitas dalam penelitian ini dapat dilihat pada tabel berikut:
Tabel 4.3.
Sumber: Hasil Pengolahan SPSS, Lampran 1
Berdasarkan hasil uji multikolinearitas pada tabel diatas dapat dilihat bahwa nilai VIF variabel Non Perform Loan (NPL) sebesar 1,174 < 10, nilai VIF variabel Capital Adequacy Ratio (CAR) sebesar 1,198, dan nilai VIF variabel Suku Bunga BI (SB) sebesar 1,076. Nilai VIF masing-masing variabel tersebut lebih kecil dari 10, maka dapat disimpulkan bahwa tidak terjadi gejala multikolinearitas pada model regresi yang digunakan dalam penelitian ini.
4.1.5.3.Uji Auto Korelasi
Uji autokorelasi dalam penelitian ini dilakukan untuk mengetahui ada atau tidaknya gejala autokorelasi dalam model regresi. Autokorelasi merupakan salah satu dari uji asumsi klasik yang di gunakan untuk mengetahui apakah dalam suatu model regresi linear terdapat korelasi antar kesalahan pengganggu dengan periode t dengan kesalahan periode t-1 yang berarti kondisi saat ini dipengaruhi oleh kondisi sebelumnya dengan kata lain auto korelasi. Uji autokorelasi dalam
penelitian ini menggunakan Durbin-Watson dengan kriteria penilaian sebagai berikut:
Adapun hasil pengujian autokorelasi dalam penelitian ini dapat dilihat pada tabel berikut:
Sumber: Hasil Pengolahan SPSS, Lampran 1
Berdasarkan hasil uji autokorelasi pada tabel diatas dapat dilihat bahwa nilai Durbin-Watson sebesar 1,338. Berdasarkan jumlah variabel bebas dan melihat tabel Durbin-Watson diketahui bahwa nilai dL dan dU dalam penelitian ini, yaitu dL sebesar 1,257 dan dU sebesar 1,651, sehingga nilai dW 1,338 > dL 1,257 dan dW 1,338 < dU 1,651. Maka dapat disimpulkan bahwa tidak terjadi autokorelasi pada model regresi dalam penelitian ini.
4.1.6. Pengujian Regresi Linear Berganda
Hasil pengujian regresi linear berganda pada penelitian ini dapat dilihat pada tabel berikut:
Sumber: Hasil Pengolahan SPSS, Lampran 1
Berdasarkan hasil uji regresi linear berganda pada tabel diatas dapat dibuat
43
PK = 177,720 - 0,403 NPL - 0,241 CAR + 0,049 SB
Dari persamaan tersebut dapat dibuat penjelasan yang lebih rinci sebagai berikut:
1. Nilai koefisien penyaluran kredit (PK) sebesar 17,720 artinya adalah, jika Non Performing Loan (NPL), Capital Adequacy Ratio (CAR), dan Suku
Bunga BI naik sebesar 1% maka akan menaikkan penyaluran kredit sebesar 17,720 juta.
2. Nilai koefisien Non Performing Loan (NPL) sebesar -0,403 (-40,3%) artinya adalah, bahwa variabel Non Performing Loan (NPL) memiliki pengaruh negatif terhadap variabel Penyaluran Kredit. Nilai koefisien sebesar -0,403 (-40,3%) mengartikan bahwa setiap Non Performing Loan (NPL) naik 1% maka menurunkan penyaluran kredit sebesar 0,403 juta.
3. Nilai koefisien Capital Adequacy Ratio (CAR) sebesar -0,241 (-24,1%) artinya adalah, bahwa variabel Capital Adequacy Ratio (CAR) memiliki pengaruh negatif terhadap variabel Penyaluran Kredit. Nilai koefisien sebesar -0,241 (-24,1%) mengartikan bahwa setiap Capital Adequacy
3. Nilai koefisien Capital Adequacy Ratio (CAR) sebesar -0,241 (-24,1%) artinya adalah, bahwa variabel Capital Adequacy Ratio (CAR) memiliki pengaruh negatif terhadap variabel Penyaluran Kredit. Nilai koefisien sebesar -0,241 (-24,1%) mengartikan bahwa setiap Capital Adequacy