• Tidak ada hasil yang ditemukan

Hubungan antara teknik penerjemahan dengan tingkat keakuratan dan keberterimaan

Dengan melihat penjelasan tingkat keakuratan dan keberterimaan terjemahan pada sub bab sebelumnya, dapat diketahui bahwa secara umum data tuturan Tinker Bell dalam penelitian ini, mempunyai tingkat keakuratan dan keberterimaan yang tinggi. Tingginya tingkat keakuratan dan keberterimaan data dalam penelitian ini, tidak dapat dipisahkan dari teknik-teknik penerjemahan yang commit to user

digunakan. Dengan kata lain, teknik-teknik penerjemahan yang digunakan menentukan tingkat kualitas terjemahannya.

a. Tingkat Keakuratan

Data-data tuturan yang Tinker Bell yang ditemukan dalam penelitian ini secara umum memiliki tingkat keakuratan yang tinggi. Keseluruhan data berjumlah 279. Sebanyak 262 data dengan prosentase sebesar 93,90 % termasuk kedalam kategori akurat. Sedangkan 17 data sisanya termasuk dalam kategori kurang akurat. Teknik yang paling banyak muncul dalam penerjemahan ini adalah teknik padanan mapan yaitu sebanyak 100 data. Dari 100 data yang menggunakan teknik ini, data yang termasuk dalam kategori kurang akurat sebanyak 6 data. Dengan kata lain data yang menggunakan teknik padanan mapan memiliki 94 data akurat. Data dengan teknik padanan mapan ini menyumbangkan keakuratan pada keseluruhan data sebanyak 33,69 %. Data yang menggunakan teknik duplet sebanyak 98 dengan 10 data yang ditemukan termasuk ke dalam kategori kurang akurat. Dengan kata lain tingkat keakuratan yang disumbangkan oleh data yang menggunakan teknik duplet sebanyak 88 dengan prosentase sebesar 31,54 %. Dengan demikian penggunaan dua teknik yaitu teknik padanan mapan dan teknik duplet dalam penelitian ini menyumbangkan tingkat keakuratan yang cukup tinggi pada data, bahkan prosentasenya lebih dari separuh, sebesar 65,23 %. Sedangkan sisa prosentase keakuratan dsumbangkan dari penggunaan teknik-teknik penerjemahan lainnya, yaitu teknik literal 10,39%, teknik peminjaman murni 5,73%, teknik reduksi 0,71%, teknik modulasi 4,3%, teknik amplifikasi linguistik

0,71%, teknik triplet 6,45% dan teknik kwartet sebesar 0,35%. Berikut ini disajikan tabel hubungan antara teknik penerjemahan dengan tingkat keakuratan Tabel 6-IV: Data tuturan Tinker Bell Berdasarkan Tingkat Keakuratan Dan

Teknik Penerjemahannya.

Kategori Teknik No.data Jml Prosentase

Akurat Pad.Mp. 10,12,14,19,21,29,31,33,35,36,3 9,42,43,45,47,53,54,58,60,61,62, 67,68,72,74,76,77,81,82,91,96, 100,101,103,105,107,108,109,11 8,121,123,126,128,131,132,133, 134,136,143,144,145,146,153,15 9,160,165,168,175,176,183,192, 194,198,199,203,204,205,208,21 1,213,215,216,217,225,227,228, 230,232,233,234,236,238,244,24 7,251,253,254,257,258,259,260, 263,266,268,272 94 33,61% Lit. 1,11,16,18,30,51,55,56,57,64,66, 69,79,86,97,106,110,120,124,12 9,148,149,155,163,219,249,256, 269,270 29 10,39% Pem Mur. 5,6,80,88,117,119,173,179,181,1 90,210,231,240,248,262,278 16 5,73% commit to user

Red. 32,93 2 0,71% Mod. 17,20,22,25,49,63,94,98,166,177 ,243,277 12 4,30% Amp.Ling. 7,85 2 0,71% Duplet 3,4,13,24,26,27,28,34,37,38,40,4 1,48,52,59,65,71,75,78,83,84,87, 89,90,92,99,102,104,111,112,11 5,116,122,125,127,130,135,139, 140,141,147,151,152,154,158,16 1,164,169,170,171,174,178,180, 184,185,186,187,188,193,195,19 7,200,201,202,206,209,212,214, 218,221,222,223,224,229,235,23 9,241,242,245,246,252,255,264, 265,267,271,273,274,276,279 88 31,54 Triplet 8,15,23,44,95,114,137,156,167,1 72,182,191,196,207,220,226,250 ,261,275 19 6,81% Kwartet 113 1 0,35%

Kurang Akurat Pad.Mp. 10,46,50,53,138,142 6 2,15% Duplet 2,9,70,73,150,157,189,200,201,2

37,

10 3,58%

Jumlah Total 279 100%

b. Diskusi Tingkat Keakuratan

Untuk mengetahui tingkat keakurata data, maka peneliti meminta bantuan rater. Hasil penilaian para rater kemudain dianalisis dan diperbandingkan hasilnya. Meskipun data dalam penelitian ini memiliki tingkat keakuratan yang tinggi, tetapi ada beberapa data yang menjadi bahan diskusi dengan para rater. Data-data tersebut berkaitan dengan aspek keakuratan. Para rater bersepakat dengan penilaian tersebut. Tetapi dari pihak peneliti mempunyai pandangan dan dasar yang berbeda sehingga harus mendiskusikannya dengan para rater. Data-data yang berkaitan dengan aspek keakuratan tersebut adalah Data-data-Data-data no.62,70,71, dan 205. Bagian yang menjadi titik fokus permasalahan dari data-data tersebut terletak pada ungkapan sharp. Adapun salah satu tuturannya diambil dari data no.70 yang berbunyi Terence, this is not sharp. This is round. yang diterjemahkan menjadi Terence, ini tidak tajam. Ini bundar. Para rater berpandangan bahwa terjemahan tersebut akurat. Tetapi peneliti tidak sepakat dengan para rater.

Peneliti memiliki dua argumen. Argumen yang pertama dengan melihat adegan ataupun lebih teliti memperhatikan konteksnya. Konteks situasi tersebut berkaitan dengan kegiatan Tinker Bell dalam membuat tongkat musim gugur. Dengan segala aktivitasnya, ketika itu Tinker Bell hendak membuat lubang di penopang bagian atas dari tongkat musim gugur. Tinker Bell ketika itu juga ingin membuat dudukan untuk tongkat. Oleh karenanya, Tinker Bell memerlukan benda

yang dapat ia pergunakan untuk melanjutkan pekerjaanya. Kemudian Terence pergi keluar untuk mencari benda tersebut. Selang beberapa lama Terence datang dan membawa sebuah kompas yang besar. Tinker Bell pun menjadi bingung dan akhirnya menuturkan ungkapan tersebut. Padahal benda yang dimaksudkan Terence adalah jarum yang ada didalam kompas tersebut. Dengan melihat konteksnya, benda yang dimaksud oleh Tinker Bell adalah benda runcing dan bukan benda tajam. Sifat runcing dan tajam mempunyai makna yang sedikit berbeda. Tinker Bell memerlukan benda runcing untuk melubangi penopang atas tongkat musim gugurnya atau juga menjadi sarana untuk menancapkan tongkat musim gugurnya di atas tempat yang sudah disediakan.

Dasar yang kedua diambil pengertian sharp dari Kamus Inggris-Indonesia karya John M. Echols (2005:519) yang mempunyai beberapa pengertian diantaranya tajam (knife, turn, words) dan runcing (point). Seperti sedikit disinggung pada bagian atas tadi, bahwa istilah runcing dan tajam itu sedikit berbeda. Dengan mengacu pada pengertian seperti dalam kamus, bahwa istilah tajam dapat dicontohkan penggunaannya pada benda seperti pisau, atau bisa juga pedang, dan lain sebagainya. Sedangkan runcing lebih condong pada bentuk yang lancip. Oleh karena itu dengan mendasarkan pada konteks dan referensi yang ada, dapat disimpulkan bahwa Tinker Bell membutuhkan benda yang ujungnya runcing dan bukannya benda yang tajam.

c. Tingkat Keberterimaan

Keberterimaan dalam penerjemahan berkaitan dengan sejauh mana kealamiahan dan kaidah-kaidah dari teks terjemahan dalam bahasa sasaran. Data-data tuturan yang Tinker Bell yang ditemukan dalam penelitian ini secara umum memiliki tingkat keakuratan yang tinggi. Sama dengan data keakuratan, data berjumlah 279. Terdapat 267 data dengan prosentase sebesar 95,69 % termasuk kedalam kategori berterima. Teknik padanan mapan merupakan teknik yang paling banyak muncul sebanyak 99 data dengan prosentase 35,48%. Berikut ini disajikan tabel hubungan antara teknik penerjemahan dengan tingkat keakuratan. Sedangkan untuk teknik selanjutnya dengan data berterima yang banyak adalah teknik duplet dengan jumlah data sebanyak 91 dengan prosentase sebesar 32,62%. Prosentase keberterimaan data penelitian yang berasal dari teknik literal dan teknik duplet sudah lebih dari separuh, yakni sebanyak 78%. Sedangkan teknik yang paling banyak memiliki data yang kurang berterima adalah duplet, sebanyak 7 data. Kemudian diikuti teknik triplet dengan jumlah data kurang berterima sebanyak 3. Selanjutnya data dengan teknik literal dan reduksi, masing-masing memiliki 1 data kurang berterima. Berikut dibawah ini disajikan tabel hubungan antara teknik-teknik penerjemahan dengan tingkat keberterimaan.

Tabel 7-IV: Data tuturan Tinker Bell Berdasarkan Tingkat Keberterimaan Dan Teknik Penerjemahannya

Kategori Teknik No.data Jml Prosentase

Berterima Pad.Mp. 10,12,14,19,21,29,31,33,35,36,3 9,42,43,45,46,47,50,53,54,58,60,

99 35,48% commit to user

61,62,67,68,72,74,76,77,81,82,9 1,96,100,101,103,105,107,108,1 09,118,121,123,126,128,131,132 ,133,136,138,142,143,144,145,1 46,153,159,160,165,168,175,176 ,183,192,194,198,199,203,204,2 05,208,211,213,215,216,217,225 ,227,228,230,232,233,234,236,2 38,244,247,251,253,254,257,258 ,259,260,263,266,268,272, Lit. 1,11,16,18,30,51,55,56,57,64,66, 69,79,86,97,106,110,120,124,12 9,148,149,155,163,219,249,256, 269,270 29 10,39% Pem Mur. 5,6,80,88,117,119,173,179,181,1 90,210,231,240,248,262,278 16 5,73% Red. 32 1 0,35% Mod. 17,20,22,25,49,63,94,98,166,177 ,243,277 12 4,30% Amp.Ling. 7,85 2 0,71% Duplet 2,3,4,13,24,26,28,34,38,40,41,48 ,52,59,65,70,71,73,75,78,83,84,8 7,89,90,92,99,102,104,111,112,1 91 32,62% commit to user

d. Diskusi Tingkat Keberterimaan

Sama halnya pada pengujian tingkat keakuratan, untuk mengetahui tingkat keberterimaan data penelitian ini, peneliti meminta bantuan para rater. Seperti halnya pada data keakuratan, pada data keberterimaan ini terdapat sebuah data yang menjadi permasalahan. Data tersebut adalah data no.134 yang berbunyi My

mouse cheese1 My pumpernickel muffin! diterjemahkan menjadi Keju tikusku!

15,116,122,125,127,130,135,139 ,140,141,147,150,151,152,154,1 57,158,161,169,170,171,174,178 ,180,184,185,186,188,189,193,1 95,197,200,201,202,206,212,214 ,218,221,222,223,224,229,235,2 37,239,241,242,245,252,255,264 ,265,267,271,273,274,276,279 Triplet 8,44,95,114,137,156,167,172,19 1,196,207,220,226,250,261,275 16 5,73% Kwartet 113 1 0,35%

Kurang Berterima Pad.Mp. 134 1 0,35%

Red. 93 1 0,35%

Duplet 9,27,37,164,187,189,246 7 2,51%

Triplet 15,23,182 3 1,08%

Jumlah Total 279 100%

Kue gandumku! Para rater bersepakat bahwa terjemahan tersebut berterima. Fokus

permasalahan terletak pada terjemahan Kue gandumku! Peneliti berpandangan bahwa kue gandum bukanlah istilah yang lazim dikenal masyarakat. Pemirsa pasti akan meraba-raba tentang terjemahan kue gandum tersebut. terlebih lagi di dalam adegan filmnya, gambar dari kue tersebut tidak ada, tentu hal ini akan tambah membingungkan benak pemirsa. Jika merujuk pada istilah muffin, beberapa kelompok orang sudah mengenalnya. Tetapi beberapa kelompok orang juga ada yang belum mengenalnya. Oleh karena itu penulis mendasarkan pandangannya pada http://www.bogasari.com/zona-konsumen/baca-tips-bogasari.aspx?t= perbedaan-muffin-dan-cupcake, bahwa:

Penyajian, cupcake biasanya dihias dengan berbagai topping, dari krim

hingga gula icing aneka bentuk. Sedangkan muffin biasa disajikan apa adanya dengan puncak yang merekah dan potongan-potongan isi yang terlihat menggoda. Kesamaan cupcake dan muffins adalah mereka menggunakan cup dan cetakan yang sama.

Berdasarkan pengertian tersebut, dipahami bahwa kue muffin

menggunakan cup. Kue yang sudah dikenal banyak masyarakat dan mirip bentuknya dengan muffin adalah kue bolu atau roti kukus. Berikut adalah salah satu contoh jenis kue muffin.

Gambar 47-IV: Visualisasi kue muffin

Dengan demikian jelas bahwa terjemahan tersebut kurang berterima. Istilah

pumpernickel (sejenis biji-bijian serupa gandum) juga tidak dikenal pada budaya

kita. Oleh karenanya, terjemahan tersebut akan menjadi berterima jika teknik penerjemahannya menggunakan teknik adaptasi, sehingga terjemahannya menjadi kue bolu kukus.

e. Perbandingan dengan Penelitian Sebelumnya

Pada bagian ini, akan diulas juga perihal perbandingan terhadap penelitian sebelumnya. Adventina Putranti mengkaji tindak tutur pada film, begitu juga penelitian ini. Penelitian Adventina Putranti hanya difokuskan pada kajian jenis tindak tutur ekspresif dengan dengan berbagai fungsinya. Di dalam penelitiannya, ditemukan 117 data tuturan tindak ilokusi ekspresif dengan 15 macam fungsi ilokusinya. Jika dilihat sekilas, tidak ada perbandingan yang mencolok diantaranya, yang membedakan hanya kajian terhadap jenis tindak tuturnya. Tetapi di dalam penelitian Adventina Putranti terdapat 35 tindak ilokusi ekspresif yang tidak berterima ( dari 117 data tuturan yang ada). Dengan demikian, tingkat ketidakberterimaan data tuturan tersebut mencapai sekitar 30%. Sedangkan di dalam penelitian tentang tuturan Tinker Bell ini, ditemukan 13 fungsi dari jenis tindak tutur ekspresif dengan jumlah data sebanyak 48. Dari 48 data tuturan tersebut, hanya sebuah data yang termasuk kedalam kategori kurang berterima (sekitar 2%). Perbandingan perbedaan tingkat ketidakberterimaan kedua penelitian tersebut cukup tinggi. Adventina didalam penelitiannya juga mengungkapkan bahwa keberterimaan tidak selalu ditentukan oleh kesepadanan commit to user

makna antara bahasa sumber dengan bahasa sasaran. Selain itu dari 35 data tuturan yang tidak berterima di dalam penelitiannya, 18 data tergolong tidak berterima karena tidak ada dukungan aspek visual, sedangkan 17 data sisanya tidak diterjemahkan sehingga menjadi tidak berterima karena tidak didukung aspek visual.

Berdasarkan gambaran hasil penelitian dan perbandingan tersebu diatas, dapat diambil tiga pembahasan. Pertama, pemikiran Adventina terhadap tingkat keberterimaan ternyata mengkaitkan dengan tingkat kesepadanan. Seharusnya kesepadanan mengarah pada aspek keakuratan, sedangkan keberterimaan lebih mengarah pada kelaziman teks terjemahan dan kesesuaiannya dengan kaidah ataupun budaya pembaca sasaran. Berikut contohnya:

Tinker Bell : Why are you counting? Fairy Mary : It helps to calm me down.

Tinker Bell (BSu) : Got it. Don’t worry, Fairy Mary. I’ll make you proud, all

of you.

Tinker Bell (BSa) Mengerti, jangan cemas, Peri Mary. Akan aku buat kalian bangga,

semuanya.

Bahasa sasaran yang berbunyi Akan aku buat kalian bangga, semuanya terdengar kurang alamiah karena kaidah tata bahasanya. Jika dilihat pada bahasa sasarannya, terlihat adanya penegasan objek dengan menggunakan tambahan tanda baca

koma. Teremahan akan menjadi berterima jika susunanya dirapikan menjadi

Mengerti, jangan cemas, Peri Mary. Aku akan membuat kalian semua bangga.

Kedua, didalam penelitiannya, 18 data tergolong tidak berterima karena tidak ada dukungan aspek visual. Peneliti kurang sepakat dengan pendapat Adventina tersebut, dikarenakan visualisasi memang dapat menunjang keberterimaan, tetapi tidak berarti data menjadi tidak berterima tanpa adanya visualisasi. Berikut contoh-contohnya:

Tinker Bell (BSu) : Toll bridge?

Tinker Bell (BSa) : Jembatan tol?

Fawn : Yeah.

Di dalam percakapan tersebut, tidak diberikan visualisasi mengenai jembatan tol. Selain itu, untuk menerjemahkan istilah toll (Bsu), penerjemah tidak menggunakan teknik literal sehingga terjemahannya menjadi (jalan) bebas

hambatan. Tetapi penerjemah menggunakan teknik peminjaman naturalisasi

untuk menerjemahkannya. Terjemahan tersebut tetap berterima, karena istilah tol sudah lazim di telinga pendengar (walaupun tanpa adanya visualisasi dari istilah tol tersebut).

Tinker Bell (BSu) : My boysenberry rolls!

Tinker Bell (BSa) : Roti arbeiku!

Blaze : (Squeaking)

Terjemahan Roti arbeiku! dipilih penerjemah untuk menerjemahnkan bahasa sumbernya. Penerjemah menggunakan teknik generalisasi untuk menerjemahkan tuturan My boysenberry rolls! Hal-hal yang khusus dalam bahasa sumber yang jarang sekali terdengar bagi pembaca sasaran, diterjemahkan secara umum. Orang akan lebih mudah menerima terjemahan Roti arbeiku! daripada gulungan lapis

roti arbei hitam kemerah-merahan berukuran besar, walaupun tidak terdapat

dukungan visual.

Dengan demikian, dapat dimengerti bahwa tanpa adanya dukungan visualisai akan menjadikan data menjadi tidak berterima. Keberterimaan suatu terjemahan juga ditentukan dari kejelian penerjemah dalam menggunakan teknik penerjemahannya. Ketiga, peneliti juga kurang setuju dengan penelitian Adventina Putranti yang menghasilkan 17 data yang tidak berterima, karena tidak diterjemahkan dan tidak ada bantuan visual. Penelitian tersebut mengkaji masalah penerjemahan yang melibatkan dua aspek yakni bahasa sumber dan bahasa sasaran. Seharusnya tuturan-tuturan pada penelitian Adventina Putranti yang tidak diterjemahkan, seharusnya tidak dijadikan data.

3. Jenis dan fungsi ilokusi, teknik penerjemahan, dan kualitas terjemahan. Di dalam penelitian ini ditemukan 3 komponen hasil analisis. Ketiga komponen tersebut adalah jenis dan fungsi serta pergeseran ilokusi, teknik penerjemahan, dan kualitas terjemahan (keakuratan dan keberterimaan). Ketiga teknik tersebut ternyata memiliki keterkaitan antara yang satu dengan yang lainnya. Adapun gambaran commit to user keterkaitannya adalah penggunaan teknik

penerjemahan berpengaruh terhadap makna pesan yang disampaikan. Apakah makna pesan dapat tersampaikan dengan sepadan dalam bahasa sasaran atau tidak, maka hal tersebut tergantung pada teknik penerjemahan yang digunakan. Makna pesan yang dapat tersampaikan dengan baik kedalam bahasa sasaran, memungkinkan tidak terjadinya perubahan jenis dan fungsi ilokusi di dalam bahasa sasarannya. Dengan penggunaan teknik penerjemahan yang tepat akan menjadikan makna pesan tersampaikan dengan baik, dan dengan ini, maka akan dihasilkan terjemahan yang berkualitas. Berikut dibawah ini disajikan sebuah tabel yang menunjukkan hubungan ketiga komponen tersebut.