• Tidak ada hasil yang ditemukan

Hubungan Teoritis Tingkat Pendidikan, Pertumbuhan Ekonomi,

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Landasan Teori

2.1.5 Hubungan Teoritis Tingkat Pendidikan, Pertumbuhan Ekonomi,

Dalam pembahasan ini akan dilihat bagaimana pengaruh tingkat pendidikan, pengeluaran pemerintah, dan pertumbuhan ekonomi terhadap ketimpangan wilayah.

Pertama, pengaruh tingkat pendidikan terhadap ketimpangan wilayah. Sampai akhir-akhir ini, hampir semua Negara baik di Negara-negara maju maupun di Negara-negara berkembang berfokus pada hubungan-hubungan antara pendidikan, produktivitas tenaga kerja, dan pertumbuhan output. Hal ini tidaklah mengagetkan karena seperti yang telah kita ketahui tujuan pembangunan adalah memaksimalkan tingkat pertumbuhan output secara bersama-sama. Sebagai hasilnya, dampak atau pengaruh pendidikan terhadap pemerataan pendapatan dan usaha penghapusan kemiskinan absolut sebagian besar tersendat-sendat. Akan tetapi, studi-studi yang baru telah memperlihatkan bahwa disamping sebagai kekuatan yang umum untuk mengusahakan kebersamaan, sistem-sistem pendidikan di berbagai Negara yang sedang berkembang lebih banyak menciptakan peningkatan dari pada mengurangi ketimpangan-ketimpangan pendapatan ini, Todaro (2006).

Sjafrizal (1997), mengemukakan bahwa salah satu faktor yang mempengaruhi ketimpangan ekonomi antar wilayah adalah perbedaan kondisi demografis, dimana yang dimaksud adalah perbedaan tingkat pertumbuhan dan struktur kependudukan, perbedaan tingkat pendidikan dan kesehatan, perbedaan kondisi ketenagakerjaan dan perbedaan dalam tingkah laku dan

kebiasaan serta etos kerja yang dimiliki masyarakat daerah bersangkutan. Daerah dengan kondisi demografis yang baik akan cenderung mempunyai produktivitas kerja yang lebih tinggi sehingga hal ini akan mendorong peningkatan investasi yang selanjutnya akan meningkatkan penyediaan lapangan kerja dan pertumbuhan ekonomi daerah.

Sumber daya manusia merupakan salah satu modal yang penting bagi pertumbuhan ekonomi. Menurut penelitian Prahara (2010) dalam Hariyanto (2010), sumber daya yang dicerminkan pada kualitas pendidikan, kualitas kesehatan, dan jumlah penduduk berpengaruh signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi. Sumber daya manusia berhubungan dengan proses produksi. Tenaga kerja dianggap sebagai faktor positif dalam merangsang pertumbuhan ekonomi. Tenaga kerja merupakan modal utama bagi suatu daerah untuk berproduksi.

Kualitas sumber daya manusia juga akan mempengaruhi pertumbuhan ekonomi suatu daerah. Apabila kualitas sumber daya manusia di suatu daerah baik, maka diharapkan perekonomiannya juga akan lebih baik. Kualitas sumber daya manusia dapat dilihat dari kualitas pendidikan, kesehatan, atau indikator-indikator lainnya. Tingkat pendidikan yang baik akan mempengaruhi perekonomian melalui peningkatan kapabilitas penduduk, sehingga akan meningkatkan produktivitas dan kreativitas, serta menentukan kemampuan dalam menyerap dan mengelola sumber-sumber pertumbuhan ekonomi.

Adisasmita (2007), mengemukakan bahwa daerah-daerah yang terbelakang atau tertinggal itu mempunyai ketergantungan yang kuat dengan daerah luar, mereka melakukan kegiatan pembangunan ekonomi untuk menghilangkan keterbelakangan (backwardness) yang berarti pula untuk mengurangi ketergantungan (dependency), namun dalam upaya

pembangunan ekonomi dihadapi hambatan di bidang sosial (sikap, perilaku, dan pandangan hidup, kelembagaan, ilmu pengetahuan dan teknologi). Daerah-daerah yang terbelakang harus melakukan perubahan yang mendasar atau fundamental untuk mampu hidup berdiri sendiri, untuk tidak ketergantungan dan mampu melakukan perubahan fundamental diperlukan ketersediaan sumber daya manusia yang berkualitas dan berketerampilan.

Teori sumber daya manusia dan paradigma ketidaktergantungan dengan daerah lain merupakan pendekatan dasar yang prospektif untuk melakukan perubahan dan pembangunan ekonomi sosial dalam upaya mencapai sasaran jangka panjang, yaitu penguatan kemandirian lokal atau lokalitas itu sangat penting dan harus dipertimbangkan dalam pendekatan pembangunan dalam rangka mengejar ketertinggalan dari daerah lain agar tidak terjadi ketimpangan wilayah yang semakin melebar. Dan dalam hal peningkatan kualitas sumber daya manusia, maka diperlukan peningkatan mutu pendidikan, derajat kesehatan, perbaikan gizi, yang diharapkan akan menumbuhkan inisiatif atau prakarsa untuk menciptakan lapangan kerja baru, dengan demikian produktivitas nasional dan regional dapa ditingkatkan.

Tarigan (2005), mengemukakan bahwa sebetulnya apa yang diuraikan hingga saat ini adalah yang berkaitan dengan rencana pengembangan fisik dan struktur perekonomian. Perlu diingat bahwa pengembangan perekonomian, baik nasional maupun regional banyak ditentukan oleh kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) yang mengambil peran dalam gerak perekonomian. Sejalan dengan itu langkah-langkah untuk memperbaiki mutu SDM perlu terus digalakkan melalui pendidikan. Mutu SDM dibagi dalam dua aspek, yaitu aspek keahlian/keterampilan dan aspek moral/mental. Semakin tinggi kualitas SDM suatu daerah, maka pertumbuhan ekonomi di daerah

bersangkutan juga akan semakin meningkat, yang selanjutnya pertumbuhan ini tidak memberikan efek stimulus bagi daerah lain yang lebih tertinggal khususnya di daerah pedesaan, sehingga akan meningkatkan ketimpangan wilayah.

Kedua, pengaruh pengeluaran permerintah terhadap ketimpangan wilayah. Secara garis besar, pengeluaran pemerintah terbagi atas tiga bagian yaitu sebagai berikut: pengeluaran pemerintah untuk kebijakan pertumbuhan ekonomi, pengeluaran pemerintah untuk pembelian barang dan jasa (Exhausative), pengeluaran pemerintah untuk subsidi (Government Transfer Payment).

Pengeluaran pembangunan terdiri dari bantuan proyek dan bantuan program dimana bantuan proyek tersebut diarahkan untuk menciptakan prasarana dan sarana publik lewat pengadaan berbagai proyek yang bertujuan untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi dan pengurangan tingkat kemiskinan, (Arsyad, 1992).

Alokasi investasi pemerintah ke daerah lebih banyak ditentukan oleh sistem pemerintahan daerah yang dianut. Bila sistem pemerintahan daerah yang dianut bersifat sentralistik, maka alokasi dana pemerintah akan cenderung lebih banyak dialokasikan pada pemerintah pusat, sehingga ketimpangan pembangunan antar wilayah akan cenderung tinggi. Akan tetapi jika sebaliknya dimana sistem pemerintahan yang dianut adalah otonomi atau federal, maka dana pemerintah akan lebih banyak dialokasikan kedaerah sehingga ketimpangan pendapatan akan cenderung rendah. Alokasi dana pemerintah yang antara lain akan memberikan dampak pada ketimpangan pembangunan antar wilayah adalah alokasi untuk pengeluaran pembangunan, antar lain alokasi dana untuk sektor pendidikan, kesehatan, jalan, irigasi dan

listrik. Semua sektor ini akan memberikan dampak pada peningkatan produktivitas tenaga kerja, pendapatan perkapita, dan pada akhirnya dapat meningkatkan pergerakan ekonomi di daerah tersebut, Syafrizal (2008).

Pada Negara-negara sedang berkembang, ketimpangan wilayah dan kesejahteraan sangat lebar. Pengeluaran pemerintah cenderung untuk mempersempit jurang perbedaan tersebut, dimana pengeluaran pemerintah di bidang pendidikan, kesehatan dan medis akan meningkatkan mutu sember daya manusia yang berpengaruh pada pembangunan ekonomi yang meningkat lewat kenaikan pengeluaran pemerintah, lapangan kerja meluas dan menyebar yang menyerap banyak tenaga kerja sehingga mampu meningkatkan kemampuan industrialisasi sehingga daerah yang tadinya tertinggal mampu berkembang dan memperkecil ketimpangan yang ada (Jhingan, 2007).

Ketiga, pengaruh pertumbuhan ekonomi terhadap ketimpangan wilayah. Pertumbuhan ekonomi yang diharapkan setiap Negara adalah pertumbuhan ekonomi yang tinggi dan mampu memacu perkembangan ekonomi secara makro. Namun hal tersebut seringkali menyebabkan pendapatan antar daerah kurang merata akibat sumber daya alam dan keadaan geografis yang dimiliki oleh beberapa daerah kurang memadai dibanding dengan daerah-daerah yang maju.

Pertumbuhan ekonomi dan ketimpangan merupakan fungsi dari waktu. Pada tahap awal pembangunan, perbedaan laju pertumbuhan ekonomi regional yang cukup besar antar daerah telah mengakibatkan ketimpangan wilayah. Namun dalam jangka panjang, ketika faktor-faktor produksi di daerah semakin dioptimalkan dalam pembangunan maka perbedaan laju pertumbuhan output antar daerah akan cenderung menurun. Kondisi tersebut

sesuai dengan hipotesa kuznets yang dikenal dengan hipotesa U terbalik (interved U hypothesis Kuznets), yang menyatakan bahwa kesenjangan pendapatan dan pertumbuhan ekonomi mempunyai hubungan yang berbentuk U terbalik seiring waktu yang berjalan.

Dalam buku klasiknya yang berjudul Poverty, Inequality, and Development, Gary Fields dalam Todaro (2006), menunjukkan penggunaan kurva Lorenz untuk menganalisis tiga kasus terbatas dalam pembangunan dualistik. Ia membedakannya dalam tiga tipologi pembangunan. Pertama, tipologi pertumbuhan perluasan sektor modern (modern-sektor enlargement), dimana usaha pengembangan ekonomi dua sektor (sektor industri modern dan sektor pertanian tradisional) bertumpu pada pembinaan dan pemekaran ukuran sektor modern dengan mempertahankan tingkat upah di kedua sektor. Kedua, tipologi pertumbuhan pengayaan (enrichment) sektor modern. Di sini perekonomian memang tumbuh, tetapi yang benar-benar menikmati buah pertumbuhan itu hanya terbatas pada segelintir orang yang berkecimpung di sektor modern, sedangkan jumlah pekerja maupun tingkat upah kaum pekerja di sektor tradisional tetap. Ketiga, tipologi pertumbuhan pengayaan (enrichment) sektor tradisional. Dalam tipologi pertumbuhan ini, hamper semua manfaat pertumbuhan tercurah secara merata ke para pekerja di sektor tradisional, dan hanya sedikit saja atau bahkan tak ada yang dinikmati oleh sektor industri modern.

Ketiga tipologi ini menawarkan prediksi yang berbeda-beda mengenai apa yang akan terjadi terhadap ketimpangan pendapatan akibat pertumbuhan ekonomi. Dengan pengayaan sektor modern, ketimpangan akan semakin meningkat, sementara dalam kondisi yang memperkaya sektor tradisional, ketimpangan akan semakin menurun. Sebaliknya, dengan perluasan sektor

modern, mula-mula ketimpangan akan meningkat dan setelahnya menurun (Todaro, 2006).

Pertumbuhan ekonomi daerah berbeda-beda intensitasnya akan menyebabkan terjadinya ketimpangan atau disparitas ekonomi dan ketimpangan wilayah. Myrdal dan Friedman dalam Solihin (2012) menyebutkan bahwa pertumbuhan atau perkembangan daerah akan menuju kepada divergensi. Hirschman dalam Solihin (2012) mengemukakan konsep pengembangan wilayah yaitu dalam suatu wilayah atau daerah yang cukup luas hanya terdapat beberapa titik pertumbuhan (growth center), dimana industri berada pada suatu kelompok daerah tertentu sehingga menyebabkan timbulnya daerah pusat dan daerah belakang (hinterland). Untuk mengurangi ketimpangan ini perlu memperbanyak titik-titik pertumbuhan baru.

Menurut Hirschman, seperti dikutip oleh Solihin (2012) bila terjadi pembangunan di suatu wilayah akan terdapat daya tarik kuat yang menciptakan konsentrasi pembangunan dan tergantung pada potensi wilayah yang dimiliki masing-masing wilayah. Sedangkan Esmara seperti dikutip oleh Solihin (2003) menyatakan konsep pusat pertumbuhan sebagai alat perumusan kebijaksanaan yang seringkali menjadi pertentangan antara kepentingan wilayah dan nasional terutama dalam penentuan lokasi dan dapat menimbulkan pertumbuhan yang tidak seimbang.

Dokumen terkait