TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Konsep Kemiskinan
2.6. Hubungan Antar Variabel
2.6.1 Pengaruh IPM terhadap Pengangguran Terbuka
Peningkatan kualitas indeks pembangunan terutama dari sisi pendidikan akan membawa perubahan pada perekonomian, kualitas penduduk yang tingi akan meningkatkan daya saing untuk memperoleh pekerjaan. Hubungan Indeks Pembangunan Manusia dengan pengangguran menurut Todaro dan Smith (2011:445), bahwa pembangunan manusia merupakan tujuan pembangunan.
Dimana pembangunan manusia akan mampu menciptakan tenaga kerja yang mampu menyerap teknologi modern untuk menggembangkan kapasitasnya agar tercipta kesempatan kerja untuk mengurangi pengangguran.
Mahroji (2019) pengaruh indeks pembangunan manusia terhadap tingkat pengangguran di Banten dengan pendekatan fixed effect model mengemukakan bahwa indeks pembangunan manusia berpengaruh negative signifikan terhadap pengangguran. Dengan meningkatkan kualitas sumber daya manusia maka akan menciptakan tenaga kerja yang berkualitas sehingga akan meningkatkan produktivitas kerjanya. Peningkatan produktivitas kerja akan memberikan keuntungan terhadap perusahan yang pada akhirnya akan mendorong perusahan memperluas usahanya dan menambah tenaga kerja sehingga akan mengurangi tingkat pengangguran.
Jadi dapat disimpulkan bahwa IPM berpengaruh negative terhadap kemiskinan. Ketika IPM meningkatkan maka akan menurunkan kemiskinan.
Sebab IPM meningkat menandakan kualitas manusianya semakin berkualitas dan berpendidikan. Dengan begitu akan memudahkan untuk memperoleh pekerjaan dan menghasilkan pendapatan sehingga keluar dari garis kemiskinan.
2.6.2. Pengaruh Inflasi terhadap Pengangguran Terbuka
Inflasi dan pengangguran dapat memberikan efek negative dan positif.
Hubungannya positif apabila tingkat inflasi yang dihitung adalah inflasi harga secara umum, maka tingginya inflasi akan berakibat pada peningkatan bunga simpanan dan pinjaman. Oleh sebab itu ketika bunga naik maka akan mengurangi investasi mengembangkan sektor yang produktif. Hal ini berpengaruh pada peningkatan terhadap jumlah pengangguran karena sempitnya kesempatan kerja sebagai akibat dari menurunnya investasi (Sukirno 2008:152). Hasil penelitian Mahanatha dan Dewi (2013) menunjukkan bahwa inflasi berpengaruh positif terhadap pengangguran di Provinsi Bali.
Hubungan negatif antara inflasi dengan pengangguran digambarkan dengan kurva Philips. Semakin tingi tingkat pengangguran maka akan semakin rendah laju inflasi. Kurva pada gambar 2.3. Menyimpulkan bahwa penurunan tingkat pengangguran akan selalu dapat dipertahankan dengan mendorong kenaikan laju inflasi, dan sebaliknya laju inflasi akan selalu dapat diturunkan dengan membiarkan terjadinya peningkatan pengangguran. Dengan kata lain, kurva ini memberikan trade-off antara inflasi dan tingkat pengangguran Hasyim (2016:16).
Gambar 2.3 Kurva Philips
2.6.3. Pengaruh Pertumbuhan Ekonomi terhadap Pengangguran Terbuka
0
Tingkat Pengangguran Laju Inflasi
Kurva Philips
Pertumbuhan ekonomi yang semakin membaik dari tahun ke tahun akan memberikan dampak positif terhadap pembangunan. Pertumbuhan ekonomi sangat erat kaitannya dengan tingkat pengangguran, karena pertumbuhan ekonomi meningkat akan diikuti oleh peningkatan produktivitas masyarakat dalam menghasilkan barang dan jasa. Untuk menghasilkan barang dan jasa tentunya membutuhkan sumber daya seperti tenaga kerja, tenaga kerja inilah yang akan melakukan proses produksi sehingga dapat mengurangi tingkat pengangguran.
Hubungan antar laju pertumbuhan riil dan perubahan tingkat pengangguran dikenal dengan Hukum Okun’s (Okun’s Law). Arthur, 1962 (dalam Hasyim, 2016:15) menemukan, bahwa terdapat kaitan yang erat antara tingkat pengangguran dan pertumbuhan riil. Okun menemukan bahwa terdapat hubungan negative antara tingkat pengangguran dengan pertumbuhan riil. Laju pertumbuhan yang tinggi akan menyebabkan penurunan tingkat pengangguran, dan laju pertumbuhan yang rendah atau negatif akan diikuti oleh tingkat pengangguran yang meningkat. Hasil penelitian Amalia (2014) yang menganalisis tentang pengaruh pertumbuhan ekonomi dan inflasi terhadap pengangguran terbuka dan kemiskinan di kota Samarinda menyatakan bahwa pertumbuhan ekonomi memiliki pengaruh langsung dan signifikan terhadap pengangguran terbuka di kota Samarinda.
2.6.4. Pengaruh IPM terhadap Kemiskinan
Todaro (2006:434) mengatakan bahwa pembangunan manusia merupakan tujuan utama pembangunan itu sendiri. Indeks pembangunan manusia memiliki pengaruh negatif terhadap kenaikan kemiskinan. Semakin tinggi komposit dari
Indeks Pembangunan Manusia yang di lihat dari 3 komponen utama IPM yaitu pendidikan, kesehatan dan pendapatan, maka akan tercipta kesejahteraan dalam suatu negara dan perlahan akan menurunkan tingkat kemiskinan. Sebaliknya ketika indeks pembangunan manusa suatu negara rendah, maka keterampilan, pengetahuan dan produktivitas tenaga kerjanya juga rendah sehingga akan mendorong kenaikan kemiskinan.
Segoro dan Pou (2016) menganalisis pengaruh PDRB, IPM dan Pengangguran terhadap Kemiskinan di Indonesia mengemukakan bahwa IPM berpengaruh negative dan signifikan terhadap kemiskinan Indonesia. Mereka mengatakan bahwa kualitas sumber daya manusia yang tinggi akan berdampak pada turunnya tingkat kemiskinan. Ketika ketiga komponen IPM yaitu terutama pendidikan meningkat maka akan menambah pengetahuan dan keterampilan sehinga tercipta tenaga kerja yang terampil. dengan begitu akan sangat mudah memenuhi kebutuhan hidup sehingga akan mengurangi tingkat kemiskinan.
2.6.5. Pengaruh Inflasi terhadap Kemiskinan
Inflasi merupakan determinan makro ekonomi bagi perubahan kondisi kemiskinan di suatu wilayah. Pertumbuhan ekonomi yang diikuti perbaikan distribusi pendapatan diantara kelompok penerima pendapatan dapat meningkatkan daya beli masyarakat, meningkatkan pengeluaran konsumsi perkapita, sehingga disaat inflasi naik daya beli masyarakat tidak akan turun dan tingkat kemiskinan disuatu wilayah dapat berkurang Kharie (2007).
Penelitian yag dilakukan oleh Amalia (2012) menunjukkan bahwa inflasi berpengaruh negatif terhadap kemiskinan di wilayah perdesaan Provinsi
Lampung. Penelitian ini sejalan juga dengan hasil penelitian di negara Nigeria yang dilakukan oleh Aiyedogbon (2012) yang mengemukakan bahwa inflasi memiliki pengaruh negatif terhadap kemiskinan di Negeria.
2.6.6. Pertumbuhan Ekonomi dengan Tingkat Kemiskinan
Menurut Todaro dan Smith (2011:290), meskipun laju pertumbuhan ekonomi tidak secara otomatis dapat memberi jawaban atas berbagai macam persoalan kesejahteraan, namun hal tersebut tetap merupakan unsur penting setiap program pembangunan realistis yang sengaja dirancang untuk mengentaskan kemiskinan. Pengurangan kemiskinan dapat dilakukan tanpa pertumbuhan ekonomi yang cepat. Akan tetapi, terlepas dari kausalitasnya, tampak jelas bahwa penigkatan pertumbuhan ekonomi dan pengurangan kemiskinan merupakan tujuan yang sejalan.
Terdapat korelasi negatif antara pertumbuhan ekonomi dengan kemiskinan. Hal ini didasarkan atas asumsi bahwa ketika pertumbuhan ekonomi meningkat dan diikuti peningkatan pendapatan penduduk maka akan terpenuhi kebutuhan hidupnya. Hutagaol (2019) mengungkapkan bahwa peningkatan pertumbuhan ekonomi mengindikasikan adanya pertambahan produksi barang dan jasa, sehingga memberikan manfaat berupa peningkatan pendapatan bagi setiap penduduk. Peningkatan pendapatan tersebut digunakan untuk memperbaiki kualitas sumber daya manusia untuk membebaskan diri dari lingkaran kemiskinan.
Datt dan Ravallion (2013) meneliti pengaruh antara pertumbuhan ekonomi dan tingkat produktivitas di sektor pertanian, tingkat inflasi dan pengeluaran
pemerintah dengan penurunan tingkat kemiskinan di India. Mereka menemukan bahwa pertumbuhan ekonomi memberikan pengaruh yang lebih tinggi hasil dari penelitian menyimpulkan bahwa strategi yang efektif untuk menurunkan kemiskinan adalah melalui pertumbuhan ekonomi yang tinggi.
2.6.7. Pengaruh Pengangguran Terhadap Kemiskinan
Menurut Sadono Sukirno (2004:139), efek buruk dari pengangguran adalah mengurangi pendapatan masyarakat yang pada akhirnya mengurangi tingkat kemakmuran dan kesejahteraan yang telah dicapai seseorang. Semakin turunnya kesejahteraan masyarakat karena pengangguran tentunya akan meningkatkan peluang terjebak dalam kondisi miskin karena tidak memiliki sumber pendapatan.
Pengangguran dan kemiskinan memiliki korelasi yang positif, artinya ketika pengangguran meningkat maka akan diikuti dengan peningkatan kemiskinan. Hutagaol (2019) mengemukakan bahwa pengangguran berpengaruh positif terhadap kemiskinan. pengangguran berslop positif dengan kemiskinan karena ketika seseorang menganggur artinya tidak ada pendapatan yang dihasilkan untuk memenuhi kebutuhan hidupnya yang pada akhirnya digolongkan sebagai masyarakat miskin. Hasil penelitian Segoro dan Pou (2016) yang menganalisis pengaruh PDRB, IPM dan Pengangguran terhadap Kemiskinan di Indonesia mengemukakan bahwa pengangguran berpengaruh positif dan signifikan terhadap kemiskinan Indonesia. Pada saat pengangguran mengalami kenaikan maka akan diikuti oleh kenaikan kemiskinan. Ketika terjadi seseorang menganggur maka
pendapatan akan berkurang yang pada akhirnya terjebak dalam kemiskinan karena tidak dapat memenuhi kebutuhan hidupnya.