BAB II TINJAUAN PUSTAKA
A. Tinjauan Teori
5. Hubungan Variabel yang diteliti
a. Hubungan Pendidikan dengan Kemiskinan
Keterkaitan kemiskinan dan pendidikan sangat besar karena pendidikan mampu memberikan kemampuan untuk berkembang lewat penguasaan ilmu dan keterampilan.
Pendidikan merupakan cara untuk menyelamatkan diri dari lingkaran kemiskinan.
Pendidikan memiliki peran penting dalam mengurangi kemiskinan baik di negara Indonesia atau negara manapun dalam jangka panjang. Baik secara tidak langsung melalui perbaikan produktivitas dan efisiensi secara umum, maupun secara langsung melalui pelatihan golongan miskin dengan keterampilan yang dibutuhkan untuk meningkatkan produktivitas mereka dan pada waktunya akan meningkatkan pendapatan mereka (Maulidah, 2015: 229).
Dengan pendidikan yang baik, setiap orang memiliki bekal pengetahuan dan keterampilan, mempunyai pilihan untuk mendapat pekerjaan, dari menjadi lebih produktif sehingga dapat meningkatkan pendapatan. Dengan demikian pendidikan dapat
memutus mata rantai kemiskinan dan menghilangkan eksklusi sosial, untuk kemudian meningkatkan kualitas hidup dan mewujudkan kesejahteraan masyarakat (Ustama, 2009: 5).
Menurut Kuznets dalam Todaro dan Smith (2011: 213), pendidikan merupakan cara untuk menyelamatkan diri dari kemiskinan. Pendidikan merupakan tujuan pembangunan yang mendasar. Yang mana pendidikan memainkan peranan kunci dalam membentuk kemampuan sebuah negara dalam menyerap teknologi modern dan untuk mengembangkan kapasitas agar tercipta pertumbuhan serta pembangunan yang berkelanjutan.
Pendidikan pada hakekatnya adalah upaya sadar yang dilakukan oleh seseorang atau sekelompok orang (penduduk) untuk meningkatkan kemampuan. Peningkatan kemampuan tidak hanya dapat melalui pendidikan formal, melainkan juga dapat melalui non formal, maupun pendidikan informal. Orang yang memperoleh pendidikan (formal) hingga tamat perguruan tinggi memiliki kemampuan intelek yang relatif lebih tinggi dari orang yang hanya tamat sekolah menengah. Variasi fleksibilitas dalam hal penentuan jenis dan atau lapangan kerja untuk mereka yang berkualitas tinggi karena berpendidikan tinggi yang lebih terbuka Mereka ini relatif lebih rewel/selektif memilih pekerjaan.
Besaran/tingkat upah, dan kenyamanan lingkungan tempat kerja, dapat menjadi faktor pemicu akan hal ini. Bahkan beberapa
diantaranya akan lebih memilih untuk menganggur (sementara) daripada bekerja (Seran, 2017: 64-65).
Dalam meningkatkan level modal manusia dibutuhkan investasi dalam bentuk guru, perpustakaan dan waktu belajar.
Sebab, pendidikan merupakan satu investasi yang sangat berguna untuk pembangunan ekonomi. Di satu pihak untuk memperoleh pendidikan diperlukan waktu dan uang. Pada masa selanjutnya setelah pendidikan diperoleh, masyarakat dan individu akan memperoleh manfaat. Individu yang memperoleh pendidikan tinggi cenderung memperoleh pendapatan yang lebih tinggi dibandingkan dengan tidak berpendidikan. Semakin tinggi pendidikan, semakin tinggi pula pendapatan yang diperoleh.
Peningkatan dalam pendidikan memberi beberapa manfaat dalam mengurangi tingkat kemiskinan dan sekaligus dapat mempercepat pertumbuhan ekonomi (Shabri, 2014: 18).
b. Hubungan Pengangguran dengan Kemiskinan
Hubungan pengangguran dan kemiskinan sangat erat sekali, jika suatu masyarakat sudah bekerja pasti masyarakat atau orang tersebut berkecukupan atau kesejahterannya tinggi, namun di dalam masyarakat ada juga yang belum bekerja atau menganggur, penganguran secara otomatis juga akan mempengaruhi tingkat kemiskinan (Putra dan Arka, 2018: 422).
Menurut Raper (dalam Rika dkk, 2012: 152), pengangguran adalah penyebab kemiskinan terbesar dan perlu diberantas, tetapi hanya dapat diatasi salah satunya dengan cara menyediakan pekerjaan dan kesempatan kerja, daripada hanya sekedar himbauan atau slogan-slogan saja.
Pengangguran memiliki hubungan yang sangat erat dalam mempengaruhi tingkat kemiskinan. Standar hidup yang rendah diimplementasikan ke dalam bentuk tingkat pendapatan yang rendah, perumahan yang kurang layak, kesehatan yang buruk, bekal pendidikan yang minim, atau bahkan tidak ada sama sekali, angka kematian bayi yang tinggi, usia harapan hidup yang relatif sangat singkat dan peluang untuk mendapatkan kerja yang rendah. Dalam hal peluang untuk mendapatkan kerja yang rendah berarti pengangguran. Pengangguran yang tinggi akan menyebabkan pendapatan berkurang sehingga tidak dapat memenuhi kebutuhan sehari-hari yang pada akhirnya akan mengalami kemiskinan (Nisbah, 2018: 26).
Ditinjau dari sudut individu, pengangguran menimbulkan berbagai masalah ekonomi dan sosial kepada yang mengalaminya. Ketiadaan pendapatan menyebabkan para pengangguran harus mengurangi pengeluaran konsumsinya.
Apabila pengangguran di suatu negara adalah sangat buruk, kekacauan politik dan sosial selalu berlaku dan menimbulkan efek
yang buruk kepada kesejahteraan masyarakat dan prospek pembangunan ekonomi dalam jangka panjang. Semakin turunnya kesejahteraan masyarakat karena menganggur tentunya akan meningkatkan peluang mereka terjebak dalam kemiskinan karena tidak memiliki pendapatan (Irhamini, 2017: 26).
Menurut Tambunan 2001 (dalam Waruwu, 2016: 61), pengangguran dapat mempengaruhi tingkat kemiskinan dengan berbagai cara, antara lain: (1) Jika rumah tangga memiliki batasan likuiditas yang berarti bahwa konsumsi saat ini sangat dipengaruhi oleh pendapatan saat ini, maka bencana pengangguran akan secara langsung mempengaruhi income poverty rate dengan consumption poverty rate. (2) Jika rumah tangga tidak mengahadapi batasan likuiditas yang berarti bahwa konsumsi saat ini tidak terlalu dipengaruhi oleh pendapatan saat ini, maka peningkatan pengangguran akan menyebabkan peningkatan kemiskinan dalam jangka panjang tetapi tidak terlalu berpengaruh dalam jangka pendek.
c. Hubungan Kesehatan dengan Kemiskinan
Beberapa ekonom beranggapan bahwa kesehatan merupakan fenomena ekonomi yang dapat dinilai dari stok maupun juga dinilai sebagai investasi sehingga fenomena kesehatan menjadi variabel yang nantinya dapat dianggap sebagai suatu faktor produksi untuk meningkatkan nilai tambah
barang dan jasa, atau sebagai suatu sasaran dari berbagai tujuan yang ingin dicapai oleh individu, rumah tangga maupun masyarakat, yang dikenal sebagai tujuan kesejahteraan. Oleh sebab itu, kesehatan dianggap sebagai modal yang memiliki tingkat pengembalian yang positif baik untuk individu perorangan maupu untuk masyarakat luas (Suryandari. 2017: 38).
Akses terhadap pelayanan kesehatan merupakan tanggung jawab yang harus diberikan oleh pemerintah terhadap masyarakatnya. Kesehatan merupakan standar hidup minimun yang harus dimiliki oleh setiap masyarakat. Kesehatan masyarakat yang cenderung baik akan berdampak pada produktivitas dan etos kerja yang meningkat pula, alhasil pendapatan yang dihasilkan meningkat seiring dengan perbaikan kesehatan di masyarakat. Pendapatan baik secara individu maupun aggregat akan bertambah. Pendapatan yang meningkat akan mengangkat derajat seseorang untuk keluar dari kemiskinan (Wahyudi dan Rejekingsih, 2013).
Berdasarkan teori mengenai lingkaran kemiskinan yang dikemukakan Myrdal (2000) bahwa semakin tinggi tingkat kesehatan masyarakat yang ditunjukkan dengan meningkatnya nilai Angka Harapan Hidup (AHH) maka produktivitas akan semakin meningkat. Peningkatan produktivitas dapat mendorong laju pertumbuhan ekonomi yang nantinya akan menurunkan
tingkat kemiskinan. Artinya semakin tinggi angka harapan hidup maka tingkat kemiskinan akan menurun (Azwar dan Subekan, 2016: 9).
Arsyad (dalam Suryandari, 2017: 38), menjelaskan intervensi untuk memperbaiki kesehatan dari pemerintah juga merupakan suatu alat kebijakan penting untuk mengurangi kemiskinan. Salah satu faktor yang mendasari kebijakan ini adalah perbaikan kesehatan akan meningkatkan produktivitas golongan miskin. Kesehatan yang lebih baik akan meningkatkan daya kerja, mengurangi hari tidak bekerja dan menaikkan output energi. Oleh karena, itu kesehatan yang baik akan berpengaruh negatif terhadap tingkat kemiskinan.