• Tidak ada hasil yang ditemukan

HUKUM B ISNIS IS LAM PADA PERB ANKAN S YARI AH

Dalam dokumen Hukum Bisnis syariah (Halaman 167-170)

PRINSIP, RUANG LINGKUP DAN URGENSI HUKUM BISNIS ISLAM

HUKUM B ISNIS IS LAM PADA PERB ANKAN S YARI AH

A. Sejarah Dan Perkembangan Perbankan Syariah Di Indonesia

Perbankan syariah adalah sistem perbankan yang didasarkan kepada prinsip-prinsip syariah, seluruh aktifitas yang dijalankan harus sesuai dengan syariat Islam. Sehingga seluruh aktifitasnya tidak boleh menggunakan akad-akad yang diharamkan dalam Islam seperti; riba, gharar, maisir dan akad batil lainnya.

Kehadiran perbankan syariah sejatinya telah lama diharapkan kehadirannya oleh umat Islam, K.H Mas Mansyur, ketua pengurus besar Muhammadiyah periode 1937-1944 pernah menyatakan kalau umat Islam di Indonesia terpaksa mengunakan jasa bank

konvensional karena belum memiliki lembaga yang bebas riba. Statement ini menunjukan bahwa ke depan harus ada bank yang bebas dari riba dan sesuai dengan ajaran Islam.

Gagasan pendirian Bank Syariah di Indonesia kembali didengungkan pada tahun 1970-an. Diskusi dan pembahasan mengenai Bank Syariah mengemuka pada seminar hubungan Indonesia-Timur Tengah pada tahun 1974 dan 1976. Seminar yang diprakarsai oleh Lembaga Studi Ilmu-Ilmu Kemasyarakatan dan Yayasan Bhineka Tunggal Ika mendiskusikan mengenai pentingnya umat Islam memiliki sistem perbankan yang berbasis syariah.

Namun gagasan tersebut belum bisa segera direalisasikan karena masih belum adanya kebijakan dari pemerintah mengenai bank syariah, Undang-Undang Nomor 14 Tahun 1967 hanya mengatur masalah perbankan dan sama sekali tidak menyinggung sistem perbankan syariah. Selain itu masih terjadi perdebatan mengenai status bunga bank di kalangan cendekiawan, walaupun akhirnya perdebatan tersebut berujung dengan perlunya segera mendirikan perbankan Islam.

Pada awal tahun 1980-an kembali digelar diskusi mengenai Bank Syariah sebagai pilar ekonomi Islam bagi masyarkaat di Indonesia. Tokoh-tokohh yang terlibat dalam diskusi tersebut diantaranya adalah; Karnaen A. Perwataatmadja, M. Dawam Rahardjo, A. M. Saefuddin, dan M. Amien Azis. Diskusi ini memutuskan untuk mendirikan ide perbankan syariah dalam skala relatif terbatas, diantaranya di Bandung pada lembaga

Bait At-Tamwil Salman Institut Teknologi Bandung (ITB) dan di Jakarta pada Koperasi

Ridho Gusti. Sehingga M. Darwam menulis dalam sebuah buku bahwa bank Islam sebagai konsep alternatif untuk menghindari larangan bunga (riba), serta menjawab tantangan bagi kebutuhan pembiayaan guna pemgembangan usaha ekonomi masyarakat yaitu dengan menerapkan sistem mudharabah, musyarakah dan murabahah. Pada tahun 1983 pemerintah Indonesia pernah berencana menerapkan “sistem bagi hasil” dalam perkreditan yang merupakan konsep dari perbankan syariah. Saat itu kondisi perbankan Indonesia memang parah-parahnya karena Bank Indonesia tidak bisa mengendalikan tingkat suku bunga di bank-bank yang membumbung tinggi. Sehingga pemerintah mengeluarkan deregulasi tanggal 1 Juni 1983 yang menimbulkan kemungkinan bank mengambil untung dari bagi hasil sistem kredit.

Namun, diskusi itu juga belum memberikan kabar gembira bagi umat muslim atas tekad pendirian bank Islam di Indonesia. Kemudian gagasan ini muncul kembali pada tahun 1988, disaat pemerintah mengeluarkan Paket Kebijakan Oktober (PAKTO) yang berisi

liberalisme Industri Perbankan. Walaupun lebih banyak bank konvensional yang berdiri, beberapa bank daerah yang berasaskan syariah juga mulai bermunculan. Pada saat itulah para ulama Indonesia berusaha untuk mendirikan bank bebas bunga, tetapi tidak ada satupun perangkat hukum untuk dijadikan dasar pendiriannya, kecuali bahwa bank dapat menetapkan bunga sebesar 0%. Sehingga gagasan masih gagal dilakukan oleh para ulama di Indonesia.

Tahun 1990, MUI membentuk kelompok kerja untuk mendirikan Bank Islam di Indonesia. Ini merupakan cikal bakal lahirnya perbankan syariah di Indonesia. Pada tahun 1991, bank syariah pertama di Indonesia yaitu Bank Muamalat pun lahir. Saat krisis ekonomi tahun 1998 Bank Muamalat bisa bertahan dari krisis yang membuat belasan bank konvensional lain tersungkur tak berdaya. Terinspirasi dengan tegarnya Bank Muamalat menghadapi krisis, maka pada tahun 1998 berdirilah Bank Syariah Mandiri menjadi bank syariah kedua di Indonesia. Bank Syariah Mandiri ini merupakan anak perusahaan dari Bank Mandiri serta merupakan gabungan dari beberapa bank yang dimiliki Badan Usaha Milik Negara (BUMN).

Tahun 1998 keberadaan perbankan syariah telah mendapatkan pengakuan dari pemerintah dengan diundangkannya UU No. 10/1998 tentang Perubahan UU No. 7 1992 tentang perbankan. Selanjutnya Pada tahun 1999 dikeluarkan UU No. 23 Tahun 1999 tentang Bank Indonesia yang memberikan kewenangan kepada Bank Indonesia untuk dapat pula menjalankan tugasnya berdasarkan prinsip syari’ah. Pada periode 1992 sampai dengan 1998, terdapat dua bank syari’ah yaitu Bank Muamalah dan Bank Syariah Mandiri dan 78 Bank Perkreditan Rakyat Syari’ah (BPRS) yang telah beroperasi.

Selanjutnya perkembangan perbankan syariah semakin banyak dengan berdirinya PT. Bank Mega Syariah pada tahun 2001, PT. Bank Bukopin Syariah dan PT. BRI Syariah tahun 2004. Hingga tahun 2004 terdapat Unit Usaha Syariah (UUS) dari perbankan konvensional yaitu: Bank IFI Syari’ah, Bank Danamon Syari’ah, BRI Syari’ah, Bank Niaga Syari’ah, Bank Permata Syari’ah, BNI Syari’ah, BII Syari’ah, Bank Riau Syari’ah, Bank Jabar Syari’ah, BPD Sumut Syari’ah, BPD DKI Syari’ah, BPD Lombak NTB, BPD Aceh Syari’ah, BPD Kalsel Syari’ah, HSBC Syari’ah dan BTN Syari’ah. Statistik Perbankan Syari’ah yang dirilis oleh Bank Indonesia menunjukkan bahwa sampai dengan bulan November tahun 2007, jumlah bank syari’ah mencapai 143 bank. Tiga diantaranya adalah Bank Umum Syari’ah (BUS); Bank Muamalah, Bank Syariah

Mandiri dan Bank Syariah Mega Indonesia, dan 26 merupakan Unit Usaha Syari’ah (UUS), serta 114 sisanya merupakan Bank Perkreditan Rakyat Syari’ah (BPRS). Pada tahun 2008 bertambah dua Bank Umum Syariah yaitu unit Usaha Syariah yang melakukan spin-off (BRI Syariah dan Bank Syariah Bukopin), pada tahun 2009 bertambah satu lagi Bank Umum Syariah di Indonesia yaitu BNI Syariah. Pada tahun 2010 s.d. sekarang terjadi perkembangan yang pesat dengan pertambahan 6 Bank Umum Syariah di Indonesia yaitu BJB Banten Syariah, Bank Viktoria Syariah, Bank Panin Syariah, BCA Syariah, Maybank Syariah Indonesia, BTPN Syariah.

Pertumbuhan yang paling pesat terjadi pada tahun 2008 s.d. 2013, setelah disahkannya UU nomor 21 tahun 2008 tentang perbankan syariah. Jika dilihat dari jumlah Unit Usaha Syariah di Indonesia dari tahun 2000 s.d. tahun 2014 perbankan syariah juga selalu mengalami peningkatan. Begitu juga dengan jumlah Bank Pembiayaan Rakyat Syariah selalu mengalami peningkatan dari tahun 2000 s.d. 2014.

Kronologis perkembangan bank syariah dapat dilihat pada tabel berikut ini:

Hingga tahun 2018 terdapat 13 Bank Umum Syariah (BUS), 21 Unit Usaha Syariah (UUS) dan 168 BPRS dengan total aset BUS dan UUS sebesar Rp. 423.944 Miliar. Detail statistik di atas digambarkan dalam tabel di bawah ini.

BUS/UUS/B

Dalam dokumen Hukum Bisnis syariah (Halaman 167-170)