BAB I : PENDAHULUAN
A. Hukum Pidana dan Jenis Pidana
1. Hukum Pidana
Dalam tulisan bab dua ini sengaja diawali pemaparan hal-hal yang terkait dengan hukum pidana. Hal itu dimaksudkan sebagai upaya pendalaman atau setidak-tidaknya menambah cakrawala terhadap masalah pidana. Tentunya banyak pendapat para ahli atau pakar yang berkaitan dengan hukum pidana.1
Pada dasarnya, kehadiran hukum pidana di tengah masyarakat dimaksudkan untuk memberikan rasa aman kepada individu maupun kelompok dalam masyarakat dalam melaksanakan aktifitas kesehariannya. Rasa aman yang dimaksudkan dalam hal ini adalah perasaan tenang, tanpa ada kekhawatiran akan ancaman ataupun perbuatan yang dapat merugikan antar individu dalam masyarakat. Kerugian sebagaimana dimaksud tidak hanya terkait kerugian sebagaimana yang kita pahami dalam istilah
1Bambang Waluyo, Pidana dan Pemidanaan, Jakarta: Sinar Grafika, 2004, hlm 6
keperdataan, namun juga mencakup kerugian terhadap jiwa dan raga. Raga dalam hal ini mencakup tubuh yang juga terkait dengan nyawa seseorang, jiwa dalam hal ini mencakup perasaan atau keadaan psikis.2
Secara sederhana dapat dikemukakan bahwa hukum pidana merupakan hukum yang mengatur tentang perbuatan-perbuatan yang dilarang oleh undang-undang beserta sanksi pidana yang dapat dijatuhkan kepada pelaku. Hal demikian menempatkan hukum pidana dalam pengertian hukum pidana materiil. Dalam pengertian yang lengkap dinyatakan Prof. Satochid Kartanegara, S.H.:I bahwa Hukum Pidana Materiil berisikan peraturan-peraturan tentang berikut ini.
a. Perbuatan yang diancam dengan hukuman (Strafbare Feiten) misalnya:
1. Mengambil barang milik orang lain;
2. Dengan sengaja merampas nyawa orang lain. b. Siapa-siapa yang dapat dihukum atau dengan
perkataan lain: mengatur pertanggungjawaban terhadap hukum pidana.
2Amir Ilyas, Asas-Asas Hukum Pidana, Memahami Tindak Pidana dan Pertanggungjawaban Pidana Sebagai Syarat Pemidanaan, Yogyakarta: Mahakarya Rangkang, 2012, hlm 2
39
c. Hukuman apa yang dapat dijatuhkan terhadap orang yang melakukan perbuatan yang bertentangan dengan undang-undang atau juga disebut hukum penententiair.
Seorang ahli hukum lain memberikan pengertian luas terhadap hukum pidana, misalnya Prof. Moeljatno, S.H. dapat dikemukakan disini bahwa hukum pidana adalah sebagai berikut.
a. Menentukan perbuatan-perbuatan mana yang tidak boleh dilakukan, yang dilarang dengan disertai ancaman atau sanksi yang berupa pidana tertentu bagi barang siapa yang melanggar larangan tersebut.
b. Menentukan kapan dan dalam hal apa kepada mereka yang telah melanggar larangan-larangan itu dapat dikenakan atau dijatuhkan pidana sebagaimana yang telah diancamkan.
c. Menentukan dengan cara bagaimana pengenaan pidana itu dapat dilaksanakan apabila ada orang yang disangka telah melanggar larangan tersebut.
Menurut Pakar hukum dari barat (eropa) mengenai hukum pidana antara lain sebagai berikut:3
a. Pompe, menyatakan bahwa Hukum Pidana adalah keseluruhan aturan ketentuan hukum mengenai perbuatan-perbuatan yang dapat dihukum dan aturan pidananya.
b. Apeldorn, menyatakan bahwa Hukum Pidana dibedakan dan diberikan arti:
Hukum Pidana materiil yang menunjuk pada perbuatan pidana dan yang oleh sebab perbuatan itu dapat dipidana, dimana perbuatan pidana itu mempunyai dua bagian, yaitu:
1. Bagian objektif merupakan suatu perbuatan atau sikap yang bertentangan dengan hukum positif, sehingga bersifat melawan hukum dengan ancaman pidana atas pelanggarannya.
2. Bagian subjektif merupakan kesalahan yang menunjuk kepada pelaku untuk dipertanggungjawabkan menurut hukum.
3Teguh Prasetyo, Hukum Pidana, Jakarta: Rajawali Pers, 2012, hlm 4
41
Hukum Pidana formal yang mengatur cara bagaimana hukum pidana materiil dapat ditegakkan.
c. W.L.G Lemaire: Het strafrecht is samengesteld uit
die normen welke geboden en verboden bevatten en waaraan (door de wetgever) als sanctie straf, d.i. een bijzonder leed, is gekopeld. Men kan dus ook zeggen dat bet strafrecht bet normen stelsel is, dat bepaalt op welke gedragingen (doen of niet-doen waar handelen verplicht is) en onder welke omstandigheden bet recht met straf reageert en waaruit deze straf bestaat (artinya: hukum pidana
itu terdiri dari norma-norma yang berisi keharusan-keharusan dan larangan-larangan yang (oleh pembentuk undang-undang) telah dikaitkan dengan suatu sanksi berupa hukuman, yakni suatu penderitaan yang bersifat khusus. Dengan demikian dapat juga dikatakan, bahwa hukum pidana itu merupakan suatu sistem norma-norma yang menentukan terhadap tindakan-tindakan yang mana (hal melakukan sesuatu atau tidak melakukan sesuatu di mana terdapat suatu keharusan untuk melakukan sesuatu) dan dalam keadaan-keadaan
bagaimana hukuman itu dapat dijatuhkan serta hukuman yang bagaimana yang dapat dijatuhkan bagi tindakan-tindakan tersebut.4
Dalam Hukum Islam/fiqh jinayah adalah ketentuan hukum mengenai tindak pidana atau perbuatan kriminal yang dilakukan oleh orang-orang mukallaf (orang yang dapat dibebani kewajiban), sebagai hasil pemahaman atas dalil-dalil hukum dari Al-Qur’an dan Hadist.5
Dalam Hukum Islam hukum pidana atau disebut juga dengan jarimah (perbuatan tindak pidana). Jarimah terbagi atas:
a. Jarimah Hudud
Adalah perbuatan pidana yang mempunyai bentuk dan batas hukumannya di dalam Al-Qur’an dan Sunnah Nabi Muhammad Saw. Sanksinya berupa sanksi had (ketetapan yang terdapat pada Al-Qur’an dan Sunnah). Hukumannya berupa Rajam, Jilid atau Dera, Potong Tangan,
4
Ruslan Renggong, Hukum Pidana Khusus, Memahami Delik-Delik di Luar KUHP, Jakarta: Prenadamedia Group, 2016, hlm12
5Teguh Prasetyo, Hukum Pidana, Jakarta: Rajawali Pers, 2012, hlm 12
43
Penjara/Kurungan seumur hidup, Eksekusi Bunuh, Pengasingan atau Deportasi dan Salib.
b. Jarimah Ta’zir
Adalah perbuatan pidana yang bentuk dan ancaman hukumannya ditentukan oleh penguasa (hakim) sebagai pelajaran bagi pelakunya. Dalam pengertian istilah hukum islam merupakan hukuman yang bersifat mendidik yang tidak mengharuskan pelakunya dikenai had. Hukumannya berupa hukuman penjara, skorsing atau pemecatan, ganti rugi, pukulan, teguran dengan kata-kata, dan jenis hukuman lain yang sesuai dengan pelanggaran yang dilakukan.
Prospek pembentukan hukum nasional telah dijelaskan sebelumnya, dan telah pula dikemukakan keberadaan hukum islam di indonesia. Untuk menjelaskan peranan hukum islam dalam pembentukan atau pembangunan hukum nasional dapat dilihat dari dua sisi, yaitu dari sisi hukum islam sebagai salah satu sumber pembentukan hukum nasional dan kedua dari sisi diangkatnya hukum islam sebagai hukum negara dalam
arti sebagai hukum positif yang berlaku secara khusus dalam bidang-bidang tertentu.6