BAB IV HUKUMAN KEBIRI DALAM PERSPEKTIF HUKUM
B. Hukuman Kebiri Bagi Pelaku Pedofilia Menurut Hak Asasi
manusia dalam konstitusinya. Pencantuman tentang hak asasi manusia dalam konstitusi merupakan instrumen utama guna membatasi kekuasaan yang dijalankan oleh pemerintahan. Gagasan tentang hak asasi manusia di negara Indonesia terdapat dalam Undang-Undang Dasar 1945, Undang-Undang No. 39 tentang hak Asasi manusia dan Undang-Undang No.26 tahun 2000 tentang Pengadilan Hak Asasi Manusia.122
Konstitusi Republik Indonesia setelah amandemen ke-4 memasukkan perlindungan tentang Hak Asasi Manusia kurang lebih berjumlah sepuluh pasal.
Dimulai dari pasal 28A sampai dengan Pasal 28J. Perlindungan hak asasi manusia juga terdapat dalam pasal 27 yang melindungi persamaan derajat didepan hukum, pasal 28 melindungi kebebasan berserikat dan berkumpul dan pasal 29 yang melindungi kebebasan beragama.123
Mengenai hukuman kebiri bagi pelaku pedofilia menurut hak asasi manusia terjadi pro dan kontra yakni, Komnas HAM menilai Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-undang Republik Indonesia No.1 tahun 2016 tentang Perubahan Kedua Atas Undang-undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak yang juga mencantumkan tentang penghukuman kebiri secara kimiawi (chemical castration)
122Mahmud Kusuma, Menyelami Semangat Hukum Progresif Terapi Paragmatik Bagi Lemahnya Hukum Indonesia (Yogyakarta: AntonyLib,2009).,hal.129.
123Ibid.,hal.130
bagi para pelaku kejahatan seksual terhadap anak, sebaiknya dipertimbangkan kembali dan tidak diterbitkan, Komnas HAM memandang bahwa penanganan kejahatan seksual terhadap anak, dalam hal ini juga perempuan, seharusnya melalui sebuah tindakan menyeluruh dan konsisten serta tidak hanya berpusat pada penghukuman namun juga rehabilitasi dan tindakan pencegahan.
Pemberian hukuman tambahan dengan pengebirian baik kimiawi maupun dengan operasi medis, dapat pula dikualifikasi sebagai pelanggaran hak yaitu pelanggaran hak atas persetujuan tindakan medis (the right to informed consent) dan hak perlindungan atas integritas fisik dan mental seseorang (the protection of the physical and mental integrity of the person)Ketentuan Pasal 28G ayat (2) UUD 1945 menyatakan bahwa setiap orang berhak untuk bebas dari penyiksaan dan perlakuan yang merendahkan derajat martabat manusia. Pasal 33 ayat (1) setiap orang berhak untuk bebas dari penyiksaan, penghukuman atau perlakuan yang kejam, tidak manusiawi, merendahkan derajat dan martabat kemanusiaannya
Dengan demikian, hak tersebut merupakan hak yang bersifat konstitusional.
Indonesia juga telah mengesahkan Konvensi Menentang Penyiksaan dan Perlakuan atau Hukuman Lain yang Keji, Tidak Manusiawi, dan Merendahkan Martabat Manusia melalui UU No. 5 Tahun 1998. 124
Berdasarkan masukan tersebut, maka Komnas HAM menyimpulkan bahwa penanganan masalah kekerasan seksual dengan pemberian hukuman tambahan
124 http://www.komnasham.go.id/kabar-latuharhary/komnas-ham-perppu-tentang-penghukuman-kebiri-untuk-tidak-diterbitkan diakses tanggal 14-09-206
pengebirian (castration) mereduksi masalah dan tidak akan menjawab masalah kekerasan seksual yang dihadapi.
Terkait sikap Komnas HAM yang menolak Perppu ini dengan alasan melanggar HAM, Komisioner Komisi Perlindungan Anak Indonesia Erlinda mengatakan, hukuman yang diperberat dalam Perppu Kebiri dibuat untuk memenuhirasa keadilan para korban. HAM dibatasi oleh hak asasi orang lain dalam hal ini undang-undang. Keputusan pemerintah dalam pemberatan hukuman jangan dilihat dari satu sudut pandang. Perppu itu juga menjadi jalan masuk untuk revisi UU Perlindungan Anak.125.
Wakil Ketua Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) Susanto mengatakan bahwa kebiri dilakukan terhadap pelaku kejahatan seksual yang sudah bersifat adiktif. Dengan demikian, hukuman kebiri dianggap sebagai intervensi khusus yang dilakukan pemerintah terhadap kejahatan seksual..
Pasal 73 Undang-Undang Nomor 39 Tahun 1999 tentang HAM berisi penjelasan mengenai pembatasan HAM. pasal tersebut menggiring pada kenyataan bahwa Indonesia mengenal mazhab pembatasan HAM.Artinya seseorang tidak serta-merta melakukan ekspresi sesuai dengan keinginannya, tetapi menurut UU HAM
125 http://www.gresnews.com/berita/hukum/180285-perppu-kebiri-menghukum-pemerkosa-dengan-melanggar-ham/0 diakses tanggal 14-09-2016
Hak asasi manusia dibatasi demi pengakuan dan perlindungan HAM orang lain.
Dalam konteks itu, berarti kita mengenal mazhab HAM pembatasan dalam konteks Indonesia.126
Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia, Yasonna H Laoly menegaskan bahwa penerapan hukuman tambahan berupa suntik kimia kebiri bagi pelaku kejahatan seksual anak telah mempertimbangkan sejumlah aspek, termasuk kajian hak asasi manusia (HAM). pemberian hukuman kebiri ini menjadi kewenangan hakim sepenuhnya. Hakim yang nantinya menilai perbuatan pelaku dengan melihat fakta-fakta atas kejahatan seksual kepada anak yang dilakukannya. Sehingga, hakim tidak sembarang memberi vonis kepada semua orang yang melakukan tindak pidana tersebut.127
126http://megapolitan.kompas.com/read/2015/11/05/17545591/Apakah.Hukuman.Kebiri.Mela nggar.HAM.Ini.Penjelasan.KPAI diakses tanggal 14-09-2016.
127 http://news.okezone.com/read/2016/05/28/337/1400105/menkumham-hukuman-kebiri-sudah-pertimbangkan-ham diakses tanggal 01-10-2016.
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
A. Kesimpulan
Berdasarkan hasil uraian yang telah dikemukakan pada bab sebelumnya, maka dapat disimpulkan sebagai berikut:
1. Kebijakan pemidanaan bagi pelaku pedofilia dalam hukum positif Indonesia pada dasarnya memiliki tujuan pemidanaan yakni: untuk memperbaiki pribadi dan penjahat itu sendiri, untuk membuat orang menjadi jera, untuk membuat penjahat-penjahat tertentu menjadi tidak mampu untuk melakukan kejahatan lain. pedofilia merupakan suatu kelainan seks yang menyimpang yang dialami oleh orang yang sudah dewasa yakni ketertarikan seksual kepada anak-anak yang menjurus kepada pemerkosaan dan/atau pencabulan, didalam hukum positif Indonesia pemidanaan pelaku pedofilia sudah diatur di dalam KUHP sebagai peraturan umum dan Perppu No.1 Tahun 2016 tentang perubahan kedua atas Undang-Undang No.23 Tahun 2002 Tentang Perlindungan Anak serta Undang-Undang No.23 tahun 2004 tentang Penghapusan Kekerasan dalam Rumah Tangga sebagai peraturan khusus 2. Pengaturan hukuman kebiri menurut Perpu No. 1 Tahun 2016 tentang
perubahan kedua atas Undang-Undang No.23 Tahun 2002 Tentang Perlindungan Anak yang terdapat didalam pasal 81 serta pasal 81A, dimana
hukuman kebiri merupakan suatu bentuk sanksi tindakan yang baru di Indonesia yang sebelumnya telah diterapkan terlebih dahulu dibeberapa negara lain, pemberian sanksi kebiri dapat diberikan bersama-sama dengan pidana pokok, adapun hukuman kebiri yang dilakukan dapat dilakukan dengan kebiri fisik dan kebiri kimia, Pengebirian yang dilakukan di Indonesia adalah kebiri secara kimia yakni dengan memasukkan cairan antiandrogen kedalam tubuh pelaku pedofilia yang bertujuan menghentikan dorongan seksual, pelaku yang dapat diberikan tindakan kebiri sebagaimana diatur dalam Perppu No.1 tahun 2016 adalah pelaku yang pernah dipidana dengan tindak pidana yang sama dan pelaku yang hukumannya dipidana, penjara seumur hidup atau pidana penjara yang paling singkat 10(sepuluh) tahun dan paling lama 20 (dua puluh) tahun, adapun bagi pelaku anak tidak dapat dikenai tindakan kebiri yang jikapun dikenai hukuman harus berdasarkan dalam undang-undang peradilan anak.
3. Hukuman kebiri didalam perspektif hukum islam dan hak asasi manusia menjadi suatu pro dan kontra dimana terjadi perbedaan pendapat yang timbul dimasyarakat terhadap hukuman kebiri, jika kita melihat dari pandangan hukum islam, yakni agama yang mayoritas dianut di Indonesia.
hukuman kebiri tidak diterapkan didalam hukum islam yang mana didalam hukum islam bagi pelaku kejahatan tertentu sudah ditentukan secara tersendiri pula jenis hukumannya. Serta menurut hak asasi manusia hukuman
kebiri juga terjadi perbedaan pendapat disatu sisi melanggar hak asasi manusia disisi lain ada yang mengatakan tidak melanggar hak asasi manusia.
B. Saran
Saran yang diharapkan sebagai konstribusi pemikiran terhadap permasalahan dalam penelitian ini adalah:
1. Mengingat begitu banyak kejadian kekerasan seksual terhadap anak, maka pemerintah dan DPR hendaknya tidak hanya menambah jenis dan berat hukuman bagi pelaku pedofilia tetapi juga harus melindungi kepentingan anak yang menjadi korban kekerasan seksual sebagaimana yang diatur didalam Perppu No.1 Tahun 2016 Tentang Perubahan Kedua Atas Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 Tentang Perlindungan Anak yang hanya menambah jenis dan berat hukuman bagi pelaku pedofilia yang salah satunya adalah hukuman kebiri.
2. Pemberian hukuman kebiri kimia sebagai bentuk pemidanaan kepada pelaku pedofilia bukan merupakan cara yang ampuh untuk menghentikan maraknya tindakan kekerasan seksual terhadap anak mengingat pedofilia merupakan suatu penyakit kejiwaan setelah efek obat antiandrogen habis maka pelaku pedofilia akan kembali seperti sedia kala. Bagi pelaku pedofilia yang pernah dipidana dengan tindak pidana yang sama dan menimbulkan dampak serius
sebagai mana pada pasal 81 ayat (5) Perppu No.1 Tahun 2016. Sebaiknya bentuk pemidanaan yang digunakan bagi pelaku kekerasan seksual terhadap anak atau pelaku pedofilia diberikan hukuman mati saja tanpa dilakukan pemberian tindakan hukuman kebiri kimia.
3. Negara sebaiknya mengkaji kembali dalam menggunakan hukuman kebiri sebagai salah satu solusi dalam mengatasi kekerasan seksual terhadap anak yang sedang merebak akhir-akhir ini dikarenakan banyak terjadi perbedaan pendapat terhadap pemberian hukuman kebiri kepada pelaku pedofilia.
Meskipun masyarakat mempunyai kesamaan pendapat bahwa pelaku pedofilia harus dihukum dengan hukuman yang berat.
DAFTAR PUSTAKA A. BUKU
Abdussalam, R, Prospek Hukum Pidana Dalam Mewujudkan Rasa Keadilan Masyarakat, Jakarta: Restu Agung,2006.
Ablisar, Madiasa, Hukuman Cambuk Sebagai Alternatif Pemidanaan dalam Rangka Pembaharuan Hukum Pidana Indonesia, Medan: USU Press,2011.
Al faruk, Asadulloh, Hukum Pidana Dalam Sistem Hukum Islam, Bogor: Ghalia Indonesia,2009.
Amiruddin dan Zainal Asikin, Pengantar Metode Penelitian Hukum, Jakarta: Grafitti Press, 2006.
Arief, Barda Nawawi, Bunga Rampai Kebijakan Hukum Pidana, Bandung: Citra Aditya Bakti,2005.
Ariman, M. Rasyid, M. Fahmi Raghib, dan S. Pettanase, Sari Kuliah Hukum Pidana dalam Kodifikasi, Palembang: Fakultas Hukum Unversitas Sriwijaya, 2007 Arrasjid, Chainur,Suatu Pemikiran Tentang Psikologi Kriminal, (Medan:Kelompok
Studi Hukum dan Masyarakat FH USU,1998
Atmasasmita, Romli, Kapita Selekta Hukum Pidana dan Kriminologi, Bandung:
Mandar Maju, 1995
Bungi, Burhan,Analisa Data Penelitian Kualitatif, Pemahaman Filosofis dan Metodologis Kearah Penguasaan Modal Aplikasi, Jakarta : PT. Grafindo Persada,2003
Daud, Muhammad,Bunga Rampai Hukum Pidana dan Kriminologi, Medan: Pustaka Bangsa Press,2004
Dirjosiswono, Sudjono, Pengantar tentang Psikologi Hukum, Bandung:
Alumni,1983.
Ediwarman, Monograf Metode penelitian Hukum (Panduan Penulisan Tesis dan Disertasi),Medan : Sofmedia,2015.
---,Penegakan Hukum Pidana Dalam Perspektif Kriminologi,Yogyakarta:
Genta Publishing,2014.
Ekaputra, Mohammad, Dasar-Dasar Hukum Pidana, Medan: USU Press,2010 --- dan Abul Khair, Sistem Pidana di Dalam KUHP dan
Pengaturannya Menurut Konsep KUHP Baru, Medan: USU Press,2010.
--- dan Abul Khair, Pemidanaan, Medan: USU Press,2011.
Gosita, Arif, Masalah Korban Kejahatan, Jakarta: Bhuana Ilmu Populer.
Hakim, Rahmat, Hukum Pidana Islam, Bandung: Pustaka Setia,2000.
Hamzah, Andi,Sistem Pidana dan Pemidanaan Indonesia, Jakarta: Pradnya Paramita,1993
Huda, Chairul,Dari Tiada Pidana Tanpa Kesalahan Menuju Kepada Tiada Pertanggung jawaban Pidana Tanpa Kesalahan, Jakarta: Kencana,2006.
Huraerah, Abu, Kekerasan Terhadap Anak, Bandung: Nuansa, 2006.
Johny Ibrahim, Teori dan Metedologi Penelitian Hukum Normatif, Malang : Bayumedia Publishing, 2008.
Kartono, Kartini,Patologi Sosial, Jakarta: Rajawali Pers,1992.
Kelsen, Hans, Pengantar Teori Hukum, Bandung: Nusa Media,2010.
Kusuma, Mahmud, Menyelami Semangat Hukum Progresif Terapi Paragmatik Bagi Lemahnya Hukum Indonesia, Yogyakarta: AntonyLib,2009
Lamintang, P.A.F, Hukum Penitensier Indonesia, Jakarta: Sinar Grafika,2012.
Marzuki, Peter Mahmud, Penelitian Hukum, (Jakarta : Kencana Prenada Media Group, 2010
Marlina, Hukum Penitensier, Bandung: Refika Aditama,2011.
Marpaung, Leden, Kejahatan Terhadap Kesusilaan dan masalah Prevensinya, Jakarta: Sinar Grafika,2004.
Mertokusumo, Sudikno, Teori Hukum, edisi revisi, Yogyakarta: Cahaya Atma Pustaka,2012.
Muhdar, Muhammad., “Bahan Kuliah Metode Penelitian Hukum : Sub Pokok Bahasan Penulisan Hukum”, Balikpapan : Universitas Balikpapan, 2010.
Muladi dan Barda Nawawi A, Teori- Teori dan Kebijakan Pidana, Bandung:
Alumni,1998.
Mulyadi, Mahmud, Criminal Policy Pendekatan Integral Penal Policy dan Non Penal Policy dalam Penanggulangan Kejahatan Kekerasan, Medan: Pustaka Bangsa Press,2008.
Munajat, Makhrus,DekonstruksiHukum Pidana Islam, Jogjakarta: Logung,2004 Nashriana, Perlindungan Hukum Pidana Bagi Anak di Indonesia, Jakarta: Raja
Grafindo Persada,2014.
Poernomo, Bambang, Asas-Asas Hukum Pidana, Jakarta: Ghalia Indonesia,1992.
Prasetyo, Teguh, Kriminalisasi dalam Hukum Pidana, Bandung: Nusa Media,2011.
--- dan Abdul Halim Barkatullah, Politik Hukum Pidana Kajian Kebijakan Kriminalisasi dan Dekriminalisasi, Yogyakarta: Pustaka Pelajar,2005.
Priyatno, Dwidja, Sistem Pelaksanaan Pidana Penjara di Indonesia, Bandung:
Refika Aditama,2006.
Raharjo, Satjipto, Penegakan Hukum: Suatu Tinjauan Sosiologis, Yogyakarta: Genta Publishing,2009
Sambas, Nandang, Pembaharuan Sistem Pemidanaan Anak di Indonesia, Yogyakarta: : Graha Ilmu,2010.
Sanit, Arbi, Perwakilan Politik di Indonesia, Jakarta:Rajawali,1985.
Santoso, Topo dan Eva Achjani Zulfa, Kriminologi, Jakarta: Raja Grafindo Persada,2002.
Serikat Jaya Putra, Nyoman,Beberapa Pemikiran ke arah Pengembangan Hukum Pidana, Bandung: Karya Nusantara,1988.
Sholehuddin, Sistem Sanksi Dalam Hukum Pidana, Kota besar: Raja Grafindo persada, 2002.
---, Sistem Sanksi Dalam Hukum Pidana Ide dasar Double Track system dan Implementasinya, Jakarta: Raja Grafindo Persada,2003
Soesilo, R,Kitab Undang Undang Hukum Pidana (KUHP) Serta Komentar-Komentarnya Lengkap Pasal Demi Pasal, Bogor: Politeia,1994
Soetedjo, Wagiati,Hukum Pidana Anak,(Bandung: Refika Aditama,2013 Solly Lubis, M, Filsafat Ilmu dan Penelitian, Bandung: Mandar Maju,1994 Susanto, I.S, Kriminologi, Yogyakarta: Genta Publishing,2011
Suwarto, Individualisasi Pemidanaan, Medan: Pustaka Bangsa Press,2013.
Usfa, A. Fuat dan Tongat, Pengantar Hukum Pidana, Malang: UMM Press,2004 Widyanti, Ninik dan Yulius Waskita, Kejahatan Dalam Masyarakat dan
Pencegahannya, Jakarta: Bina Aksara,1987.
Winarta, Frans. H, Evaluasi Peranan Profesi Advokat dalam Pemberantasan Korupsi, dimuat dalam Majalah Desain Hukum,Vol.11 No. 10, Edisi November-Desember, 2011
Yulia, Rena, Viktimologi Perlindungan Hukum Terhadap Korban Kejahatan, Yogyakarta: Graha Ilmu,2010.
Yuwono, Ismantoro Dwi, Penerapan Hukum Dalam Kasus Kekerasan Seksual terhadap Anak, Jakarta: Pustaka Yustisia,2015
Zulfa, Eva Achjani, Pergeseran Paradigma Pemidanaan, Bandung: Lubuk Agung,2011
B. Peraturan Perundang-undangan
Republik Indonesia, Undang-Undang Dasar 1945.
Republik Indonesia, Undang-Undang No.1 Tahun 1946 tentang KUHP.
Republik Indonesia, Undang-Undang No. 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan
Republik Indonesia, Undang-Undang No.4 Tahun 1979 Tentang Kesejahteraan Anak Republik Indonesia, Undang-Undang No. 12 Tahun 1995 tentang Lembaga Pemasyarakatan
Republik Indonesia, Undang-Undang No.39 Tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia Republik Indonesia, Undang-Undang No.23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak Republik Indonesia, Undang-Undang No.11 Tahun 2012 Tentang Sistem Peradilan
Anak
Republik Indonesia, Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang No.1 Tahun 2016 tentang tentang Perubahan Kedua atas Undang-Undang No. 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak.
C. Internet
https://www.brilio.net/serius/5-kasus-pemerkosaan-anak-di-bawah-umur-ini-bikin-geram-masyarakat-1605145.html diakses tanggal 14-06-2016.
http://database-artikel.blogspot.co.id/2016/05/hukuman-kebiri.html diakses tanggal 14-06-2016
https://id.scribd.com/doc/94107015/Definisi-Pedofilia diakses tanggal 16-06-2016
http://nasional.sindonews.com/read/1111378/13/jokowi-teken-perppu-kebiri-dan-hukuman-mati-pelaku-kejahatan-seksual-1464171354 diakses tanggal 16-06-2016
http://www.portalbuana.ga/2016/01/pria-ini-tega-perkosa-dan-membunuh.htmldiakses tanggal 21-06-2016
http://news.okezone.com/read/2016/05/28/337/1400105/menkumham-hukuman-kebiri-sudah-pertimbangkan-ham diakses tanggal 01-10-2016.