• Tidak ada hasil yang ditemukan

Hukuman Terhadap Pemberontak

MACAM-MACAM HUDUD DALAM AL-QUR ’AN

E. Meminum Khamr

2. Hukuman Terhadap Pemberontak

tidak dianggap sebagai pemberontakan. Adapun pendapat yang lain mengatakan, bahwa suatu golongan dikatakan pemberontak jika terdapat sifat-sifat sebagai berikut:

 Tidak mentaati perintah yang adil yang diwajibkan Allah atas kaum muslimin sebagai waliul amri.

 Mereka adalah jama‟ah yang kuat dan bersenjata.

 Mereka mempunyai alasan kuat untuk keluar dari islam.

 Mereka mempunyai pemimpin yang ditaati sebagai sumber kekuatan mereka .

c) Dilakukan secara demonstratif (menggunakan kekuatan)

Maksudnya adalah di dukung oleh kekuatan bersenjata. Apabila sikap tersebut tidak disertai dengan penggunaan kekuatan maka hal itu tidak dianggap sebagai pemberontakan. Contohnya seperti keenggangan untuk membaiat seorang imam, setelah ia didukung oleh suata mayoritas, walupun ia mengajak orang lain untuk memecat imam tersebut, dan ia tidak tunduk kepadanya, atau menolak untuk melaksanakan kewajiban tetapi baru sebatas ajakan semata. Contohnya seperti pembangkangan kelompok khawarij dari Sayyidina Ali. Mereka tidak dianggap sebagai pemberontak, sampai mereka mewujudkan sikapnya itu dengan menggunakan kekuatan. Jadi, apabila baru sebatas ide, sikap tersebut belum termasuk pemberontakan.209

Akan tetapi terdapat dua pendapat yang berbeda, yang mana Imam Malik, Imam Syafi‟i, dan Imam Ahmad setuju dengan pendapat di atas, sedangkan menurut Imam Abu Hanifah, pemberontakan itu sudah dimulai sejak mereka berkumpul untuk menghimpun kekuatan dengan maksud untuk berperang dan membangkang terhadap imam, bukan menunggu sampai terjadinya penyerangan secara nyata. Karena kalau sudah terjadi, maka sulit untuk menolak dan menumpasnya.

2. Hukuman Terhadap Pemberontak

209 Nurul Irvan, Fiqh Jinayah,..., hal. 68-71.

Para ulama telah sepakat bahwa tindakan pemberontakan yang dilakukan oleh sebagian kaum muslim haruslah ditumpas. Memerangi mereka itu wajib hukumnya, yang mana tindakan mereka itu dapat di pandang sebagai hukuman.

Dasar hukum untuk pemberontakan ini yaitu dalam Surat Al-Hujurat[49]: 9



Dan kalau ada dua golongan dari mereka yang beriman itu berperang hendaklah kamu damaikan antara keduanya! tapi kalau yang satu melanggar Perjanjian terhadap yang lain, hendaklah yang melanggar Perjanjian itu kamu perangi sampai surut kembali pada perintah Allah. kalau Dia telah surut, damaikanlah antara keduanya menurut keadilan, dan hendaklah kamu Berlaku adil;

Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang Berlaku adil.

Dalam ayat ini jelas sekali perintah Tuhan kepada orang-orang beriman yang ada perasaan tanggungjawab, kalau mereka dapati ada dua golongan orang yang sama-sama beriman dan keduanya itu berkelahi, dalam ayat ini disebut iqtatalu yang dapat diartikan berperang, hendaklah orang beriman yang lain itu segera mendamaikan kedua golongan yang berperang itu. Karena bisa saja kejadian bahwa kedua golongan sama-sama beriman kepada Allah SWT tetapi timbul salah faham sehingga timbul perkelahian. Maka hendaklah datang golongan ketiga untuk mendamaikan kedua golongan beriman yang berkelahi itu.

Kalau kiranya keduanya sama-sama mau didamaikan, sama-sama mau kembali kepada yang benar, niscaya mudahlah urusan. Tetapi kalau yang satu pihak mau berdamai dan satu pihak lagi masih mau saja meneruskan peperangan hendaklah diketahui apa sebab-sebabnya dia untuk terus berperang. Hendaklah diketahui mengapa ada satu pihak yang tidak mau berdamai, yang tidak mau berdamai di dalam ayat ini disebut orang yang menganiaya. Maka orang yang ingin mendamaikan itu hendaklah memerangi pula yang tidak mau berdamai itu, sampai dia kalah dan mau tunduk kepada kebenaran. Setelah itu barulah diperiksa dengan teliti dan dicari jalan perdamaian dan diputuskan dengan adil, disalahkan mana

yang salah dan dibenarkan mana yang benar. Jangan menghukum berat sebelah.

Dan wajib dikembalikan kepada jalan Allah SWT.210

211

Siapa yang telah memberikan bai‟atnya kepada seorang imam (penguasa) dan telah menyatakan kesetiaan hatinya, maka patuhilah dia semaksimal mungkin.

Bila datang yang lain memberikan perlawanan kepadanya, maka bunuhlah dia.

(HR. Muslim)

212

Dari Abdullah bin Umar radhiyallahu „anhuma, dari Rasulullah Shallallâhu 'alaihi wasallam bersabda: Barang siapa membawa senjata untuk mengacau kita, maka bukanlah ia termasuk umatku.(HR. Bukhari).

Dari penjelasan Allah SWT dalam Al-Qur‟an dan hadis Nabi tersebut di atas dapat dipahami bahwa tindakan yang dilakukan terhadap pemberontak tersebut adalah sebagai berikut:213

Pertama melakukan ishlah atau perdamaian dengan pihak pelaku makar, yang dalam ishlah tersebut imam menuntut para pelaku makar untuk menghentikan perlawanannya dan kembali taat kepada imam. Bila perlawanan tersebut dilakukan karena imam telah berlaku dzalim dan menyimpang dari ketentuan agama, maka imam memberikan penjelasan atau memperbaikinya.

Kedua bila cara pertama tidak berhasil dalam arti perlawanan masih tetap berlangsung maka imam memerangi dan membunuh pelaku makar, sampai selesai dan tidak ada lagi perlawanan.

Di dalam Ensiklopedi Hukum Islam, untuk dapat menentukan hukuman terhadap pemberontak, ulama fiqih membagi pemberontakan menjadi dua bentuk.

Pertama para pemberontak yang tidak memiliki kekuatan persenjataan dan tidak menguasai daerah tertentu sebagai basis mereka. Untuk pemberontak seperti

210Jalaluddin Al-Mahalli dan Jalaluddin As-Suyuti, Tafsir Jalalain, Surabaya: Nurul Hidayah, 2006, hal. 424.

211Abu Husain ibn al-Hajjaj al-Qusyairi an-Naisaburi, Shahih Muslim,..., jilid. IX, hal.

380.

212Muhammad bin Ismail al-Bukhari, Shahîh Bukhâri,..., juz. XXI, hal. 163.

213Amir Syarifuddin. Garis-Garis Besar Fiqh. Jakarta: Kencana, 2005. hal. 315.

ini, ulama fiqih sepakat menyatakan bahwa pemerintah yang sah boleh menangkap dan memenjarakan mereka sampai meraka sadar dan bertaubat.

Kedua pemberontak yang menguasai suatu daerah dan memiliki kekuatan bersenjata. Terhadap para pemberontak seperti ini, pihak pemerintah menghimbau terlebih dahulu untuk menyerah dan bertaubat, jika masih melawan maka pemerintah dapat memerangi mereka.

Sebagian ulama mengatakan bahwa had al-baghyu bagi anak kecil dan orang gila maka hadnya gugur dan gugur pula bagi orang dewasa yang berakal namun yang akan dikenakan hadnya adalah perbuatan yang telah dilakukan misalkan perbuatan makar tersebut telah menewaskan seseorang maka pelaku makar tersebut terkena had pembunuhan dan seterusnya berlaku bagi perbuatan yang lain.

Sedangkan menurut madzhab Maliki dan Zhahiriyah mengatakan bahwa had pemberotakan gugur bagi anak kecil dan orang gila tetapi tidak gugur bagi orang dewasa dan berakal (mukallaf). Karena had ini adalah hak Allah SWT sedangkan dalam melaksanakan hak Allah itu anak kecil dan orang gila tidak boleh disamakan dengan orang yang mukallaf.214

Penerapan hukum al-baghyu akan dilaksanakan bila memenuhi persyaratan sebagai berikut:215

a) Pemegang kekuasaan yang sah bersikap adil dalam menetapkan kebijakan.

b) Pemberontak merupakan suatu kelompok yang memiliki kekuatan.

c) Dari gerakan tersebut diperoleh bukti-bukti kuat yang menunjukkan sebagai gerakan untuk memberontak guna menggulingkan pemerintahan yang sah. Jika tidak gerakan tersebut dikategorikan sebagai pengacau keamanan atau perampok.

d) Gerakan tersebut mempunyai sistem kepemimpinan, karena tanpa ada seorang pemimpin tidak mungkin kekuatan akan terwujud.