• Tidak ada hasil yang ditemukan

HUNUSAN PEDANG ES

Dalam dokumen Perahu Kertas Dee (Halaman 61-69)

Keempatnya saling berpandangan, lalu tertawa bersama. Mas Itok menerima honornya lalu berlalu dari sana, tanpa tahu apa yang membuat keempat anak itu tertawa.

“Gawat,” komentar Eko geli. “Gara-gara keseringan non-ton midnight bareng, kita berempat nanti bisa jadi double

date beneran.”

“Amiiin!” Terdengar Keenan menyahut dari belakang. Empat-empatnya tertawa lagi. Tapi Kugy sedikit merasa terusik dengan celetukan itu. Diam-diam, ia melirik Keenan yang berjalan di sampingnya. Mencari sesuatu, mencari se-macam petunjuk entah apa. Ia sendiri tak mengerti. Tahu-tahu Keenan meliriknya balik. Cepat-cepat Kugy membuang muka ke sembarang arah, menemukan mesin popcorn se-bagai objek perhatian baru yang lebih aman.

“Mau popcorn, Gy?” Keenan bertanya.

Kugy merasa tak punya pilihan selain mengangguk. “Ko, lu duluan aja. Gua beli popcorn dulu bareng Kugy,” kata Keenan pada Eko yang berjalan di depannya.

“Sip!” jawab Eko, ia pun melenggang menuju ruangan teater bersama Noni.

“Yuk,” Keenan berujar ringan pada Kugy, lalu menggan-deng tangannya.

Kugy tak yakin apakah Keenan menyadari perubahan yang terjadi. Dalam hati, sungguh Kugy berharap langkahnya yang berubah tersendat dan otot tangannya yang berubah tegang tidak terdeteksi.

Jakarta, Oktober 1999 ...

Sudah cukup lama perempuan itu berdiri dekat pesawat tele-pon di ruang tamunya sendiri. Tangannya memegang sebuah buku telepon yang terbuka, jemarinya bergerak-gerak tanda

gelisah. Kalau bukan demi sopan santun, sebetulnya aku

tidak harus melakukan ini, pikirnya. Puluhan tahun telah

berlalu, tapi tetap ia merasa hal ini tidak mudah. Sambil menelan ludah, akhirnya ia membulatkan tekad dan me-mencet tombol-tombol itu: 0-3-6-1 ....

“Halo, selamat sore.” Terdengar suara laki-laki remaja di ujung sana.

“Selamat sore. Bisa bicara dengan Pak Wayan? Ini dari Ibu Lena, Jakarta.”

Tak lama terdengar sayup suara itu memanggil,

“Po-yaaan ...9 ada telepon dari Jakartaaa ....”

Telepon itu kembali diangkat dan kali ini terdengar suara lelaki menyapa.

“Wayan?” panggilnya hati-hati.

Sejenak sunyi. “Lena?” Suara lelaki itu terdengar tak ya-kin.

“Iya, ini Lena. Apa kabar?”

“Kabar baik. Tumben sekali kamu telepon.” Setiap kata dilontarkan dengan kaku.

“Aku mau bicara soal Keenan. Di liburan semesternya nanti, dia kepingin sekali pergi ke tempatmu di Ubud ....”

“Keenan sudah lama bilang. Sejak dia masih di Amsterdam, dia juga pernah meneleponku soal itu,” potong Wayan.

“Tapi aku tidak enak kalau tidak langsung minta izin sama kamu.”

“Keenan sudah kuanggap seperti anakku sendiri. Ini rumahnya juga. Kapan pun dia ingin kemari, sudah pasti kuterima.” Nada itu berubah tegas.

“Mudah-mudahan dia tidak akan merepotkan ....”

“Keenan tidak pernah merepotkan. Seluruh keluargaku di

sini malah senang kalau dia datang.” Lagi-lagi nada itu tegas memotong, seolah Wayan ingin percakapan itu cepat usai.

Lena menghela napas. “Terima kasih kalau begitu.” “Cuma satu yang ingin aku pastikan. Ayahnya memberi izin Keenan kemari, kan?”

“Sudah. Adri sudah kasih izin ...”

“Oke. Tidak ada masalah lagi kalau begitu.”

Sunyi lagi. Lena pun tahu sudah saatnya pembicaraan itu disudahi.

Bandung, Oktober 1999 ...

Keenan menaiki anak tangga eskalator sekaligus dua-dua, menyusuli orang-orang yang berdiri diam di kanan-kiri, ber-usaha tiba di lantai paling atas secepat-cepatnya. Saat ia sampai, sudah ada Eko dan Noni berdiri sambil mengacung-kan tiga lembar tiket bioskop.

“My man. Right on time. Pintu bioskopnya udah dibuka, tapi filmnya belum mulai, kok,” sambut Eko.

“Tenang. Minuman buat lu udah gua beliin,” kata Noni, menunjukkan sekantong plastik berisi minuman kotak dan makanan ringan.

“Sori banget telat, ya. Tadi gua ketiduran,” ujar Keenan dengan napas yang masih terengah. Tiba-tiba ia tersadar sesuatu. Ada yang kurang di situ. “Si Kecil mana?”

“Kugy kedatangan tamu agung dari Jakarta. Biasaaa ...,” seloroh Noni.

Kening Keenan berkerut. “Tamu agung? Maksudnya?” “Cowoknya dia, si Ojos, lagi ngapelin dia ke Bandung. Jadi nggak mungkinlah gabung sama geng midnight kita ini,” timpal Eko.

“Iya. Satu-satunya kesempatan Kugy naik kasta dari Pe-madam Kelaparan,” Eko terkekeh.

Keenan terdiam sejenak. “Gua baru tahu Kugy punya pa-car. Di Jakarta?”

Noni mengangguk, “Pacarnya dari SMA.” “Galak,” Eko menambahkan.

“Nggak, ah ...,” sanggah Noni.

“Ke semua teman ceweknya nggak. Ke semua teman cowoknya? Wuiiih ... galakan Ojos daripada menwa kam-pus.”

“Pengalaman pribadi, ya? Itu karena Ojos bisa men-deteksi, cowok-cowok mana yang diam-diam naksir Kugy, tauk,” ledek Noni sambil menoyor bahu Eko.

“Ungkit teruuuus!” Eko tergelak. “Berarti Ojos bukan cuma galak kayak menwa, tapi juga sensi kayak herdernya polisi ....”

Percakapan itu berlanjut terus hingga keduanya me-masuki ruangan bioskop, dan Keenan hanya mengikuti dari belakang dengan mulut terkunci.

“KEENAN!”

Suara yang ia kenal. Nada ceria yang ia hafal. Derap lang-kah setengah berlari yang khas. Namun, entah kenapa, kali ini Keenan agak enggan menoleh ke belakang. Ditariknya napas dalam-dalam sebelum ia akhirnya membalikkan pung-gung.

“Hai, Gy.”

“Hai, hai. Gimana malam Minggu kemarin? Seru ya, film-nya? Noni sampai kemimpi-mimpi gitu. Sori ya, aku nggak gabung. Udah makan malam belum? Pemadam Kelaparan yuk ...,” dengan semangat tinggi Kugy menyerocos.

“Saya masih kenyang, dan harus cepat pulang. Banyak tugas. Nggak pa-pa, ya?” Keenan menimpali ringkas.

“No problemo,” Kugy tersenyum lebar, “sebetulnya sih

aku kepingin ngobrol, tapi ya udah, nanti-nanti aja.” “Tentang?”

“Mmm ...,” Kugy berpikir sejenak, “udah hampir dua minggu aku kasih majalah yang ada cerpenku itu, tapi ... he-he ... kok, kamu belum komentar,” Kugy mesem-mesem, “nggak maksa, sih ... cuma penasaran aja.”

Keenan menarik napas panjang untuk kedua kali. “Boleh jujur?” tanyanya.

“Harus, dong!” seru Kugy mantap. “Saya nggak suka.”

Letupan dalam hati Kugy mendadak seperti dibanjur air dingin. Padam. Air mukanya seketika berubah, meski ia ber-usaha tampil tenang.

“Buat orang yang nggak tahu kamu, cerpen itu mungkin bagus. Tapi saya merasa dongeng-dongeng kamu jauh lebih otentik, lebih orisinal, dan lebih mencerminkan kamu yang sebenarnya. Dalam cerpen itu, saya tidak menemukan diri kamu. Yang saya temukan adalah penulis yang pintar me-rangkai kata-kata, tapi nggak ada nyawa,” sambung Keenan lagi.

Seluruh persendian tubuh Kugy serasa dikunci. Kata-kata Keenan seolah menyulapnya menjadi patung. Ia cuma bisa merasakan air ludahnya tertelan seperti bola bakso yang tak sempat terkunyah.

“Maaf ya, Gy. Kalau memang kamu kepingin saya jujur, ya itulah opini saya. Nggak kurang, nggak lebih.”

Kugy mengangguk kecil. “Makasih udah jujur,” ucapnya pelan.

Tak lama kemudian, Keenan pamit pulang, dan Kugy te-tap berdiri di tempatnya. Merenungi kata demi kata yang

menusuknya bagai hunusan pedang es. Menyakitkan sekali-gus membekukan. Membuatnya bungkam tanpa bisa me-lawan.

Malam itu Kugy terjaga lama di tempat tidur. Telentang menghadap langit-langit kamar kosnya dengan pikiran yang terus berputar dan hati yang teraduk-aduk. Ia tak mengerti mengapa komentar Keenan meninggalkan dampak yang begitu dalam. Ia juga tak mengerti mengapa ia begitu me-nunggu-nunggu pendapat Keenan, seolah pendapat manusia satu itulah yang terpenting. Ironisnya, semua orang terdekat-nya, termasuk Ojos, menyukai dan memuji-muji cerpennya. Hanya Keenan yang begitu tegas dan tanpa tedeng aling-aling menyatakan tidak suka.

Seharian Kugy bertanya dan bertanya: apa yang salah? Bagaimana mungkin Keenan menyebutnya penulis yang cuma pintar merangkai kata tapi tak bernyawa? Padahal ia setengah mati mengerjakan cerita pendek itu. Setiap kata dipilihnya dengan cermat dan teliti. Ia menulis dengan plot yang sudah diatur apik. Setiap konflik dimunculkan dengan momen yang sudah diperhitungkan. Ia hafal mati formula dan teori dari pedoman membuat cerita yang baik dan be-nar. Mungkinkah selera Keenan yang ‘‘salah’’?

Kugy terduduk tegak. Membuka majalah yang memuat cerpennya, dan mulai membaca dari awal hingga akhir. Lalu ia menyalakan komputer, membuka salah satu file dongeng-nya, dan juga membacanya saksama. Kugy mulai menyadari sesuatu. Dalam dongengnya, ia seolah berlari bebas, sesuka hati. Dalam cerpen itu, ia seperti berjalan meniti tali, ber-hati-hati dan penuh kendali. Dan ada satu perbedaan yang

kini menjadi sangat jelas baginya: dalam dongengnya ia ber-cerita untuk memuaskan dirinya sendiri, sementara dalam cerpennya ia bercerita untuk memuaskan orang lain.

Ingatannya pun kembali mundur ke siang tadi, dan kem-bali ia rasakan perih sayatan kata-kata Keenan. Namun, kali ini Kugy ikut merasakan kebenarannya.

Bandung, Desember 1999 ...

Tempat kos yang lengang itu semakin terasa sepi karena hampir semua penghuninya sudah kembali ke kota masing-masing untuk menikmati liburan semester. Hanya segelintir yang tersisa.

Keenan memasukkan barang-barang terakhirnya sebelum tas itu resmi diamankan dengan gembok kecil.

Pintu kamarnya yang setengah terbuka tahu-tahu terbuka lebar. Bimo, teman kosnya, muncul sambil menenteng travel

bag. “Hai, Nan. Jadi mau ikut ke Jakarta pakai mobil gua,

nggak? Masih ada tempat untuk satu lagi.”

Keenan menggeleng. “Nggak, Bim. Gua pakai kereta api nanti sore. Udah beli tiket. Salam buat anak-anak, deh.”

Bimo yang sudah mau beranjak pergi mendadak menahan langkahnya, seperti teringat sesuatu. “Oh, ya ... selamat, ya.”

“Untuk?”

“Kata anak-anak, IP lu tertinggi satu angkatan. Nggak

7.

Dalam dokumen Perahu Kertas Dee (Halaman 61-69)