Hutang Luar Negeri
∗Persoalan kedua yang sedang dihadapi oleh negara-negara sedang berkembang penghutang besar ialah persoalan merosotnya
Pendahuluan
Hutang luar negeri yang disalurkan oleh pihak negara- negara maju ke negara-negara berkembang tidaklah dilakukan atas dasar kemanusiaan, tetapi atas dasar motivasi ekonomi dan bahkan politik. Hutang luar negeri tidak akan disalurkan jikalau tidak ada keuntungan ekonomi untuk pihak pemberi hutang (Hayter, 1971; Pomfret, 1992). Perkembangan-perkembangan pada tahun delapan puluhan dan sembilan puluhan yang menunjukkan situasi apa yang disebut krisis hutang (debt-crisis) dapat dijadikan petunjuk yang mendukung argumentasi ini.
Ada dua persoalan berat yang sekarang ini dihadapi oleh negara-negara berkembang yang dikelompokkan sebagai negara- negara penghutang besar (highly indebted countries) dalam hubungannya dengan pembayaran kewajiban hutang luar negeri mereka (pembayaran cicilan plus bunga). Persoalan yang pertama ialah apa yang disebut net transfer yaitu persoalan yang timbul akibat adanya negative inflow sumber-sumber keuangan disebabkan nilai cicilan plus bunga hutang luar negeri lebih besar dari nilai hutang baru yang diterima dari pihak luar negeri. Selama periode 1982-1991 saja misalnya, nilai net transfer dari negara- negara berkembang sebagai negara-negara debitor ke negara- negara maju sebagai negara-negara kreditor adalah sebesar US$ 428 miliar OECD, 1991). Nilai net transfer untuk beberapa negara berkembang yang dikategorikan sebagai negara-negara penghutang besar di Amerika Latin adalah US$ 179,8 miliar (Sangmeister, 1993).
∗Diskusi lebih lengkap mengenai hutang luar negeri dalam pembiayaan
pembangunan dapat diikuti dalam Sritua Arief (1998) “Teori dan Kebijaksanaan Pembangunan”, CIDES, Jakarta
nilai satuan (unit value) dan nilai tukar (terms of trade) produk- produk ekspor dari negara-negara ini ke negara-negara maju. Seperti terlihat dalam Tabel 1 antara periode 1980-1982 dan periode 1983-1986, nilai satuan dan nilai tukar produk-produk ekspor (baik secara keseluruhan maupun khusus produk manufaktur) dari beberapa negara penghutang besar di Asia, Afrika dan Amerika Latin pada umumnya menunjukkan kemerosotan kendatipun volume ekspor negara-negara ini meningkat.
“Fisher Paradox”
Profesor Fisher pada tahun 1933 (Fisher, 1933) mengemukakan sebuah tulisan yang mencetuskan apa yang kemudian dikenal dalam teori ekonomi internasional sebagai “Fisher Paradox”. Pengertian Fisher Paradox ini dikemukakan oleh Fisher sebagai berikut:
“Each dollar of debt still unpaid becomes bigger dollar
and if the over indebtedness with which we started was great enough, the liquidation of debts cannot keep up with the fall of prices, which it causes. In that case, the liquidation defeats itself. While it diminished the number of dollars owed. Then, the very effort of individuals to lessen their burden of debts increases it….. Then we have the great paradox: The more the debtors pay, the more they owe” (I. Fisher, 1933).
Pengertian Fisher Paradox ini dapat diaplikasikan untuk negara-negara penghutang besar dalam kelompok negara-negara berkembang.
Fisher Paradox mengemukakan bahwa negara-negara
penghutang besar yang terpaksa melakukan net transfer dan berbarengan dengan itu mengalami kemerosotan dalam daya beli penghasilan ekspornya jelas mengalami situasi yang menunjukkan bahwa semakin besar nilai pembayaran cicilan pokok hutang luar negeri yang dilakukan negara-negara ini, semakin besar nilai hutang luar negeri yang menumpuk. Brazil, Indonesia, Peru, Filipina, Tunisia, Uruguay, Argentina dan Chili telah berada
dalam situasi Fisher Paradox. Adapun Meksiko dapat keluar
Fisher Paradox sebagai akibat adanya pelaksanaan skema
peringanan beban hutang dan penjadwalan kembali hutang yang ada.
Tabel 9. Perubahan Nilai Satuan dan Nilai Tukar Produk-Produk Ekspor Negara-Negara Penghutang Besar di antara Periode 1980-1982 dan Periode 1983-
1986 (dalam Persentase)
Negara
Keseluruhan Ekspor Produk Manufaktur Perubahan Nilai Satuan Perubahan Nilai Tukar Perubahan Nilai Satuan Perubahan Nilai Tukar Argentina -18 -11 -22 -14 Bolivia -22 -14 -13 -4 Brazil -7 0 -18 -11 Chili -19 -12 -19 -11 Ekuador -16 -3 -12 -10 Mesir -21 -14 -6 -4 India -7 0 +3 +13 Indonesia -20 -13 -21 -13 Meksiko -23 -12 -10 -1 Nigeria -27 -20 -16 -8 Peru -20 -13 -17 -9 Filipina -13 -6 -16 -8 Sudan -16 -10 -13 -6 Tunisia -18 -11 -16 -7 Uruguay -17 -10 -9 0 Venezuela -25 -18 -17 -9
Sumber: Prabirjit Sarkar, “Debt Crisis of The Less Developed Countries
and The Transfer Debate Once Again,” The Journal of
Development Studies, vol. 27, no. 4, July 1991.
Akumulasi Hutang Luar Negeri
Dalam upaya memecahkan masalah beban hutang luar negeri yang dialami oleh sebagian besar negara-negara berkembang, tepatlah kiranya apabila kita meneliti secara cermat
faktor-faktor yang telah bertanggung jawab terhadap berakumulasinya hutang luar negeri di negara-negara ini. Dengan cara ini diperoleh pengertian atau kesimpulan mengenai apakah negara-negara ini dapat secara tuntas membaya penuh hutang luar negeri mereka sehingga saldonya menjadi nol atau secara terus- menerus akan dililit hutang dalam nilai yang bertambah besar sementara sumber-sumber keuangan negara-negara ini secara terus-menerus pula dihisap oleh pihak-pihak kreditor.
Berakumulasinya hutang luar negeri pada sebagian besar negara-negara berkembang pertama sekali dapat dijelaskan dengan melihatnya dari sisi permintaan yang ditimbulkan oleh negara-negara berkembang ini. Cara pendekatan ini didasarkan atas apa yang disebut “loan-pull theory”. Eksposisi yang telah dikemukakan oleh Hallberg (1986) antara lain termasuk dalam kerangka teori ini.
Permintaan akan pinjaman luar negeri yang dilakukan oleh negara-negara berkembang berdasarkan teori ini dapat dibagi dalam dua komponen. Komponen pertama ialah permintaan yang betul-betul dilandasi oleh perhitungan yang matang dan jelas mengenai proyek-proyek yang akan dibiayai. Proyek-proyek ini secara jelas terkait dengan proses peningkatan kapasitas produksi nasional. Dengan perkataan lain, proyek-proyek yang dibiayai hutang luar negeri ini jelas akan menimbulkan kapasitas pembayaran kembali (repayment capacity) hutang luar negeri yang telah digunakan untuk membiayainya. Komponen kedua ialah permintaan pinjaman luar negeri yang ditentukan oleh faktor-faktor yang random di dalam negara-negara berkembang ini.
Faktor-faktor yang random ini banyak berkaitan erat dengan perilaku elit kekuasaan di negara-negara ini yaitu perilaku yang bersifat korup dan mengandung unsur penyalahgunaan kekuasaan dalam pengelolaan sumber-sumber ekonomi nasional terutama sumber-sumber keuangan internasional yang merupakan pinjaman luar negeri yang didasarkan atas faktor-faktor yang random ini banyak yang tidak punya kaitan dengan peningkatan kapasitas produksi riil sehingga tidak menimbulkan kapasitas
pembayaran kembali pinjaman luar negeri yang telah diterima. Kendatipun ada yang punya kaitan dengan peningkatan kapasitas produksi nasional, skala pinjaman atau skala proyek yang dibiayai jauh melebihi keperluan yang realistis sehingga rate of return dana pinjaman jauh di bawah cost of borrowing, apalagi dalam
cost of borrowing dan nilai proyek yang dibiayai sudah
mengandung pula komponen-komponen yang bersifat manipulatif.
Ada juga faktor random yang lain, yang tidak terkait dengan perilaku penyimpangan oleh elit kekuasaan yaitu faktor kebutuhan untuk mempertahankan nilai tukar yang relatif tinggi untuk mata uang dalam negeri (overvalued currency) sehingga impor barang konsumsi meningkat dan faktor kebutuhan untuk mempertahankan cadangan devisa yang relatif tinggi. Pinjaman luar negeri untuk membiayai kedua kebutuhan ini jelas tidak menjurus kepada proses peningkatan kapasitas produksi nasional.
Berakumulasinya hutang luar negeri pada sebagian besar negara-negara berkembang dapat juga dijelaskan dengan melihatnya dari sisi penawaran yang datang dari pihak-pihak kreditor. Cara pendekatan ini didasarkan atas apa yang disebut
loan-push theory. Teori ini terdiri dari dua bentuk eksposisi.
Eksposisi yang pertama mengemukakan bahwa peningkatan akumulasi hutang luar negeri pada sebagian besar negara-negara berkembang secara substansial banyak diakibatkan oleh dorongan yang dilakukan oleh lembaga-lembaga keuangan internasional yang menguasai surplus petrodolar. Surplus petrodolar ini terpaksa dengan berbagai upaya dan cara dilempar ke negara- negara berkembang oleh karena berkurangnya permintaan akan pinjaman di negara-negara maju. Pelemparan dana petrodolar ini dikenal dalam dunia keuangan internasional sebagai proses
recycling of petro-dollars (William Darity dan Bobbie Horn,
1988).
Dalam proses seperti ini, banyak proyek ekonomi di negara-negara sedang berkembang secara perhitungan ekonomis tidak dapat dipertanggungjawabkan. Kolaborasi antara pihak kreditor dengan pejabat-pejabat pemerintahan terjadi sehingga
objektivitas mengenai kelayakan ekonomis proyek-proyek yang dibiayai pinjaman luar negeri melalui mekanisme yang direkayasa oleh pihak loan-pusher, banyak tidak didukung oleh justifikasi ekonomis. Akibatnya, kaitan yang jelas antara pinjaman yang diterima dengan peningkatan kapasitas produksi nasional atau repayment capacity untuk pinjaman ini lemah sekali. Sementara itu, kolaborasi antara pihak loan-pusher dengan pejabat-pejabat pemerintahan telah mengakibatkan terjadinya manipulasi nilai proyek yang dibiayai dari pinjaman.
Eksposisi yang kedua telah dikemukakan oleh Mandel yang menyatakan bahwa berakumulasinya hutang luar negeri negara-negara berkembang merupakan manifestasi yang spesifik dari overheating of credit yang terjadi di negara-negara kapitalis maju demi mencegah terjadinya krisis dalam sistem kapitalisme di negara-negara ini setelah melihat adanya gejala-gejala resesi yang berkepanjangan. Pelemparan dana pinjaman ke negara-negara berkembang adalah dalam rangka menstimulir proses pertumbuhan ekonomi di negara-negara kapitalis maju ini (Ernest Mandel, 1986).
Kemampuan Membayar Lunas
Bentuk-bentuk pinjaman luar negeri yang telah diterima oleh sebagian besar negara-negara berkembang seperti diuraikan di atas ditambah dengan kendala-kendala yang dihadapi oleh negara-negara ini dalam proses memperoleh penghasilan ekspor yang adil di pasar internasional, telah menumbuhkan pendapat yang pesimistis mengenai kemampuan negara-negara ini untuk membayar lunas hutang luar negeri mereka. Adalah suatu ilusi bahwa dalam suatu hubungan hutang-piutang antara pihak-pihak kreditor dengan sebagian besar negara berkembang, negara- negara ini mampu membayar lunas hutangnya secara tuntas sehingga sisanya menjadi nol.
Dalam konteks ini, Beltratti pada tahun 1989 telah melakukan suatu studi yang membandingkan nilai hutang luar negeri yang telah digunakan (actual foreign debt) oleh delapan
negara-negara sedang berkembang dengan nilai hutang luar negeri yang sebetulnya dapat ditanggung oleh negara-negara ini (sustainable foreign debt). Kedelapan negara-negara yang diteliti adalah Brazil, Venezuela, Meksiko, Indonesia, Kolombia, Bolivia, Peru, dan Filipina. Berdasarkan metodologi ekonometrik yang dikenal dengan vector autoregressive methodology (VAR methodology), Beltratti melakukan penaksiran mengenai kapasitas pembayaran kembali (repayment capacity) negara-negara yang dicakupnya dalam penelitiannya terhadap hutang luar negeri yang telah digunakan oleh negara-negara ini. Penaksiran didasarkan atas variabel-variabel neraca perdagangan, tingkat pertumbuhan produk domestik dan rasio antara investasi dan produk domestik. Hasil penelitiannya menunjukkan tidak ada satu negara pun di antara negara-negara yang ditelitinya yang punya repayment
capacity untuk membayar hutang luar negeri secara tuntas. Ini
bermakna bahwa nila sustainable foreign debt berada jauh di bawah nilai actual foreign debt (Andrea Beltratti, 1989).
Penemuan Beltratti sejajar dengan adanya kenyataan bahwa negara-negara berkembang penghutang besar hanya dapat membayar kewajiban hutang mereka jika ada hutang-hutang baru yang masuk. Ini menunjukkan pertanda bahwa terdapat situasi yang tidak simetris antara hutang luar negeri yang diterima dengan kapasitas pembayaran bunga plus cicilan hutang luar negeri lebih besar dari nilai hutang baru yang diterima, maka terjadilah net transfer sumber keuangan dari negara-negara pembayar hutang ini.
Nilai net transfer sumber keuangan ini adalah nilai pembayaran bunga plus cicilan hutang luar negeri dikurangi dengan nilai hutang baru yang diterima. Situasi ini juga merupakan bukti tambahan mengenai tidak simetrisnya kapasitas pembayaran hutang dengan hutang yang masuk. Nilai net transfer dari negara-negara Amerika Latin dalam periode 1982-1989 misalnya, adalah sebesar US$ 194 miliar atau rata-rata US$ 24,3 miliar per tahun. Dalam persentase dari nilai Produk Domestik Bruto negara-negara Amerika Latin, nilai net transfer telah naik sebesar 0,4% pada tahun 1982 menjadi 2,6% pada tahun 1989
(Manuel Pastor dan Gary A. Dymski, 1990). Selain terjadinya net
transfer sumber-sumber keuangan ini, negara-negara berkembang
yang banyak berhutang juga mengalami kemerosotan dalam nilai tukar (terms of trade) dalam sektor ekspor sehingga daya beli penghasilan ekspor per satuan nilai uang asing menurun (Prabirjit Sarkar, 1991).
Dampak Negatif Hutang
Ada baiknya juga di sini dikemukakan hasil survei mengenai dampak negatif hutang luar negeri sektor pemerintah terhadap pertumbuhan ekonomi di negara-negara sedang berkembang. Adapun penjelasan-penjelasan ekonomi yang telah dikemukakan untuk mendukung penemuan empiris mengenai dampak negatif hutang luar negeri sekor pemerintah terhadap pertumbuhan ekonomi pada sebagian besar negara-negara berkembang adalah sebagai berikut.
Pertama, hutang luar negeri menimbulkan efek negatif
terhadap tingkat tabungan dalam negeri (domestic saving rate), oleh karena hutang luar negeri sektor pemerintah ini membuat pemerintah bersifat santai sehingga cenderung mengalokasikan banyak pengeluarannya untuk tujuan konsumsi. Terjadi apa yang
disebut “aid-switching” dan hutang luar negeri telah
mensubstitusikan tabungan domestik.
Kedua, penggunaan hutang luar negeri untuk mempertahankan overvalued currency sehingga mempermudah impor untuk tujuan-tujuan yang tidak produktif. Keadaan ini dialami oleh negara-negara Amerika Latin (Linwood Geiger, 1990).
Ketiga, sebagian besar dana hutang luar negeri sektor
pemerintah dibelanjakan di negara pemberi hutang bukan di negara penerima hutang, yaitu untuk pembelian barang-barang yang harganya di luar kontrol negara penerima hutang, pembiayaan kehidupan mewah para birokrat asing yang mengelola pencairan hutang, pembiayaan jasa-jasa konsultan asing, pembiayaan pengapalan barang-barang dalam rangka
hutang luar negeri, dan pembiayaan kegiatan-kegiatan administrasi dan public relation (G. Hancock, 1989). Situasi ini jelas sangat mengurangi net resource transfer untuk kepentingan pertumbuhan ekonomi di negara penerima hutang. Artinya, efektivitas hutang luar negeri untuk tujuan peningkatan kapasitas produksi nasional menjadi berkurang.
Keempat, pada waktu pembayaran cicilan dan bunga
hutang luar negeri sudah memberatkan maka setiap pembayaran cicilan dan bunga hutang luar negeri jelas mengalihkan dana yang dapat digunakan sebagai investasi domestik akibat pembayaran ini. Sementara itu, ketidakpastian dan menurunnya insentif di kalangan investor swasta timbul, jika berbarengan dengan ini terdapat pula akumulasi hutang luar negeri yang masif nilainya dan menunggu pembayaran pada tahun-tahun yang akan datang. Ini mengandung implikasi mutlak perlunya peringanan pada tahun-tahun yang akan datang. Ini mengandung implikasi mutlak perlunya peringanan beban hutang luar negeri (Kenen, 1990; Sach, 1990).
Kelima, pembayaran cicilan dan bunga hutang luar negeri
yang masif nilainya menjuruskan pemerintah negara berkembang penghutang besar untuk mengintensifkan penerimaan pajak yang besar kemungkinan akan menghambat kegiatan investasi dan menyebabkan pelarian modal.
Formulasi Kebijakan
Dalam rangka memformulasikan kebijaksanaan hutang luar negeri perlu kita untuk tidak mendasarkan kerangka berpikir atas debt-secvice ratio sebagai indikator beban hutang luar negeri. Adalah naif dan sangat keliru apabila kita tetap menggunakan indikator ini walaupun Bank Dunia tetap menggunakannya. Dasar berpikir Bank Dunia bukan jaminan bagi rasionalitas analisa.
Seperti kembali ditegaskan dalam literatur mengenai hutang luar negeri negara-negara sedang berkembang yang mengalami posisi defisit neraca berjalan yang terus menerus, indikator beban hutan luar negeri hendaklah dikaitkan dengan
posisi neraca berjalan tidak termasuk bunga (noninterest current
account).
Sementara itu Liviatan (1984) telah mengemukakan pendekatan mengenai indikator beban hutang luar negeri berdasarkan pendekatan makro. Liviatan mengemukakan dua kondisi dasar yang harus dikandung oleh suatu pendekatan makro mengenai dasar yang harus dikandung oleh suatu pendekatan makro mengenai penentuan indikator beban hutang luar negeri suatu negara. Kondisi-kondisi itu ialah (1) indikator itu bersifat kuantitatif, (2) indikator itu dapat menunjukkan titik yang kritis di atas titik mana suatu negara diramalkan akan menunda pembayaran hutang luar negerinya atau melakukan penjadwalan kembali pembayaran hutang luar negeri.
Dua langkah perhitungan digunakan untuk menentukan indikator beban hutang luar negeri. Kedua langkah perhitungan ini meliputi perhitungan apa yang disebut : (1) gross margin untuk pembayaran cicilan hutang luar negeri beserta bunganya dan (2)
net margin untuk pembayaran cicilan hutang luar negeri beserta
bunganya.
Perhitungan Gross Margin
untuk Pembayaran Cicilan Hutang Luar Negeri Beserta Bunganya
(Dinyatakan dengan Simbol T)
Tt = Y t + FG t + R t-1 (1)
Di mana,
Y = Output nasional
FG = Arus kotor modal asing yang masuk (gross capital
imports)
R = Cadangan alat pembayaran luar negeri pada permulaan
tahun
Simbol t menunjukkan tahun.
FGt = (M – X) t + A t + ∆ R (2)
Di mana,
(M – X) = Surplus impor
A = Cicilan hutang luar negeri
R∆ = Perubahan dalam cadangan alat pembayaran luar negeri
Dengan mensubstitusikan persamaan (2) ke dalam persamaan (1) kita memperoleh gross margin pada tahun t sebagai berikut:
Tt = Y t + (M – X) t + A t + ∆ R+ R t-1 (3)
Oleh karena pembayaran bunga hutang luar negeri merupakan salah satu pos dalam perkirakan sedang berjalan dalam neraca
pembayaran, maka Y t + (M – X) t dapat dinyatakan dalam bentuk
persamaan yang berikut yang menunjukkan penggunaan keseluruhan sumber-sumber dalam ekonomi:
Y t + (M – X) t = C t + I t + G t + r t (4)
di mana,
Ct = Konsumsi sektor swasta pada tahun t
It = Investasi domestik pada tahun t
Gt = Konsumsi sektor Pemerintah pada tahun t
rt = Pembayaran bunga hutang luar negeri pada tahun t
Dengan menggunakan persamaan (4), persamaan (3) dapat ditulis menjadi persamaan yang berikut:
Tt = C t + I t + G t + r t + A t + ∆ R+ R t-1 (5)
Jumlah pembayaran cicilan hutang luar negeri dan bunga hutang
luar negeri sama dengan r t + A t dan cadangan alat pembayaran
luar negeri pada akhir tahun t sama dengan R+ R t-1 . Berdasarkan
ini, maka persamaan (5) dapat dinyatakan sebagai berikut:
Tt = C t + I t + G t + D t + R t∆ (6)
D t = Jumlah pembayaran cicilan hutang luar negeri beserta
bunga hutang luar negeri
R t = Cadangan alat pembayaran luar negeri pada akhir
tahun t
Dalam menentukan nilai minimum setiap variabel yang membentuk gross margin yang harus dipertahankan, petunjuk kebijaksanaan yang berikut telah diusulkan: (1) Sumber-sumber ekonomi negara tidak akan dialokasikan untuk membayar cicilan hutang luar negeri beserta bunganya jikalau dengan ini tingkat hidup rakyat akan berada di bawah tingkat yang dapat ditoleransi. (2) Sumber-sumber ekonomi negara tidak akan dialokasikan untuk membayar cicilan hutang beserta bunganya jikalau dengan ini kelangsungan proses produksi di dalam negeri terganggu sebagai akibat rendahnya likuiditas nasional sehingga tidak dapat memproduksi barang dan jasa secara mencukupi.
Berdasarkan kedua petunjuk kebijaksanaan ini, Liviatan menetapkan kriteria yang berikut untuk batas minimum tingkat konsumsi masyarakat, investasi domestik dan cadangan alat pembayaran luar negeri: (1) konsumsi rata-rata selama tiga tahun terakhir hendaklah dipertahankan, (2) tingkat investasi domestik neto hendaklah sedemikian rupa besarnya sehingga dapat mempertahankan persediaan modal per kapita yang terdapat pada tahun sebelumnya, (3) cadangan alat pembayaran luar negeri hendaklah sekurang-sekurangnya cukup untuk membiayai 20% impor tahun bersangkutan.
Tidak ada penetapan nilai minimum untuk G t dan malah G t tidak
dimasukkan dalam penentuan indikator beban utang luar negeri oleh karena konsumsi di sektor pemerintah pada umumnya terdiri dari non-tradables. Akhirnya net margin dalam ekonomi untuk tujuan pembayaan cicilan hutang luar negeri dan bunga hutang luar negeri setelah memperhitungkan pertimbangan-pertimbangan normatif yang tersebut di atas dapat diformulasikan sebagai berikut:
PERHITUNGAN NET MARGIN UNTUK PEMBAYARAN CICILAN HUTANG LUAR
NEGERI BESERTA BUNGANYA (DINYATAKAN DENGAN SIMBOL Z)
Zt = Ct - Ct-3 + Ct-2 + Ct-1 + N Ct-3 + Ct-2 + Ct-1 + 3 Nt-3 + Nt-2 + Nt-1 It - Kpt – N Kt-1 + Rt - 0,20 Mt + Dt Nt-1 (7)
Di mana, Ct = Konsumsi dalam harga tetap pada tahun t
Nt = Jumlah penduduk pada tahun t
Kt-1 = Persediaan bersih modal pada tahun t – 1
Kpt = Penyusunan modal pada tahun t
N Ct-3 + Ct-2 + Ct-1 dan N Kt-1 menunjukkan keperluan Nt-3 + Nt-2 + Nt-1 Nt-1 tambahan penduduk selama tahun t Ct - Ct-3 + Ct-2 + Ct-1 + N Ct-3 + Ct-2 + Ct-1 3 Nt-3 + Nt-2 + Nt-1
merupakan suatu “surplus consumption”, yaitu sebagian daripada konsumsi masyarakat yang dapat dialokasikan untuk tujuan pembayaran cicilan hutang luar negeri plus pembayaran bunga hutang luar negeri.
It - Kpt – N Kt-1
merupakan suatu “surplus investment” Nt-1
yaitu bagian dari investasi domestik yang dapat dialokasikan untuk tujuan pembayaran cicilan hutang luar negeri beserta bunganya.
(Rt - 0,20 Mt )
adalah “surplus foreign exchange reserves” yaitu bagian cadangan alat pembayaran luar negeri yang dapat digunakan untuk pembayaran cicilan hutang luar negeri plus bunga hutang luar negeri ini.
Berdasarkan nilai Zt yang telah ditentukan di
atas, maka indikator beban hutang luar negeri pada
tahun t (dinyatakan dengan simbol Bt )
diformulasikan sebagai berikut: Bt = Dt
Zt
Nilai maksimum Bt yang dapat ditanggung oleh
sesuatu negara ialah 1 atau Bt = 1. Dt tampil
dalam definisi Zt demi membuat indikator ini
secara matematika mempunyai makna seperti yang dikehendaki dalam kondisi yang telah disebutkan sebelumnya.
Dalam kasus Indonesia perhitungan yang didasarkan atas
dan 1986. Ini menunjukkan bahwa sumber-sumber ekonomi yang terdapat di Indonesia pada tahun 1985 dan 1986 dilihat dari konsep net margin seperti yang dikemukakan sebelumnya bukan hanya tidak mempunyai kemampuan untuk membayar cicilan hutang luar negeri beserta bunganya, tetapi juga sudah tidak mempunyai kemampuan untuk mempertahankan tingkat konsumsi dan investasi yang minimum untuk keperluan rakyat Indonesia.
Dalam kaitan dengan beban hutang luar negeri ini, ada baiknya juga di sini kita kemukakan perhitungan mengenai apakah suatu negara berkembang telah mengalami pertambahan atau penurunan dalam apa yang disebut real cost of the external
debt servicing, yaitu apakah pembayaran cicilan hutang luar
negeri plus bunga hutang luar negeri yang telah dilaksanakan, secara riil telah menaik dan menurun ditinjau dari ekonomi secara keseluruhan. Untuk ini metode yang dikemukakan Massad (1983) telah digunakan di mana the real cost of the external debt
servicing ditaksir dengan memperhitungkan terms of trade yaitu
perbandingan antara indeks harga ekspor dan impor. Menurut metode ini, naiknya harga ekspor suatu negara, ceteris paribus,