• Tidak ada hasil yang ditemukan

Hypertonic saline

Dalam dokumen PENANGANAN KEGAWAT DARURATAN HEAD INJURY (Halaman 26-31)

- Diberikan untuk menurunkan tekanan intrakranial. Konsentrasi yang digunakan adalah 3%-23,4%, ini dapat digunakan untuk pasien dengan hipotensi karena tidak bersifat osmosis diuretik.

E. Barbiturat

- Barbuturat dapat digunakan untuk menurunkan Tekanan intrakranial. Namun tidak dapat digunakan untuk pasien dengan hipotensi. Sedangkan hipotensi itu sendiri dapat timbul akubat penggunaan barbiturat tersebut. Oleh karena itu tidak dapat digunakan pada resusitasi akut.

F. Anticonvulasan

- Penggunaan anticonvulsan profilaksisi tidak bermanfaat untuk mencegaah terjadinya epilepsi pasca trauma. Dan atikonvulsan dapat menghambat penyembuhan otak sehingga harus digunakan saat diperlukan

27 - Phenytoin sering dipakai dalam fase akut dimana dosis awal pada orang dewasa adalah 1 g iv dengan kecepatan tidak lebih dari 50mg/menit dengan rumatan 100mg/8jam. Diazepam dan lorazepam dapat digunakan untuk tambahan hingga kejang berhenti.

- Kejang yang lama (30-60 menit) dapat menyebabkan kerusakan otak sekunder.

Tatalaksana Konservatif 1) Manitol 20%

Cairan ini menurunkan TIK dengan menarik air dari jaringan otak normal melalui sawar otak yang masih utuh kedalam ruang intravaskuler. Bila tidak terjadi diuresis pemberiannya harus dihentikan. Cara pemberiannya : Bolus 0,5-1 gram/kgBB dalam 20 menit dilanjutkan 0,25-0,5 gram/kgBB, setiap 6 jam selama 24-48 jam. Monitor osmolalitas tidak melebihi 310 mOSm (Japardi, 2002).

2) Loop diuretik (Furosemid)

Furosemid dapat menurunkan TIK melalui efek menghambat pembentukan cairan serebrospinal dan menarik cairan interstitial pada edema sebri. Pemberiannya bersamaan manitol mempunyai efek sinergik dan memperpanjang efek osmotik serum oleh manitol. Dosis 40 mg/hari/IV (Japardi, 2002).

3) Terapi barbiturat (Fenobarbital)

Terapi ini diberikan pada kasus-kasus yang tidak responsif terhadap semua jenis terapi yang tersebut diatas. Terapi ini bermanfaat untuk untuk menurunkan TIK yang refrakter terhadap obat-obatan lain. Fenobarbital bekerja dengan cara menekan metabolisme otak sehingga kebutuhan oksigen juga akan menurun;

karena kebutuhan yang rendah, otak relatif lebih terlindung dari kemungkinan kerusakan akibat hipoksi, walaupun suplai oksigen

28 berkurang.Cara pemberiannya: bolus 10 mg/kgBB/IV selama 0,5 jam dilanjutkan 2-3 mg/kgBB/jam selama 3 jam, lalu pertahankan pada kadar serum 3-4 mg%, dengan dosis sekitar 1 mg/KgBB/jam.

Setelah TIK terkontrol, 20 mmHg selama 24-48 jam, dosis diturunkan bertahap selama 3 hari (Japardi, 2002).

4) Cairan Intravena

Prinsip manajemen trauma kapitis adalah mempertahankan perfusi serebral yang adekuat dengan menjaga tekanan atau bahkan menaikkan tekanan darah. Cairan intravena diberikan secukupnya untuk resusitasi agar penderita tetap dalam keadaan normovolemia, jangan beri cairan hipotonik. Penggunaan cairan yang mengandung glukosa dapat menyebabkan hiperglikemia yang berakibat buruk pada otak yang cedera. Cairan yang dianjurkan untuk resusitasi adalah larutan garam fisiologis atau ringer laktat. Kadar natrium serum juga harus dipertahankan untuk mencegah terjadinya edema otak (De Jong, 2004). Strategi terbaik adalah mempertahankan volume intravaskular normal dan hindari hipoosmolalitas, dengan cairan isotonik. Saline hipertonik bisa digunakan untuk mengatasi hiponatremia yang bisa menyebabkan edema otak (Seth & Morris, 2004).

5) Antikonvulsan

Kejang pasca trauma terjadi pada sekitar 12% pasien trauma kepala tumpul dan 50% trauma kepala penetrasi. Kejang pasca trauma bukan prediksi epilepsi tetapi kejang dini bisa memperburuk secondary brain injury dengan menyebabkan hipoksia, hiperkarbia, pelepasan neurotransmitter, dan peningkatan ICP (Feliciano et al., 2004).

Pengobatan (Japardi, 2002):

a. Kejang pertama: Fenitoin 200 mg, dilanjutkan 3-4 x 100 mg/hari

29 b. Status epilepsi: diazepam 10 mg/iv dapat diulang dalam 15 menit. Bila cenderung berulang 50-100 mg/ 500 ml NaCl 0,9%

dengan tetesan <40 mg/jam. Setiap 6 jam dibuat larutan baru oleh karena tidak stabil. Bila setelah 400 mg tidak berhasil, ganti obat lain misalnya Fenitoin. Cara pemberian Fenitoin, bolus 18 mg/KgB/iv pelan-pelan paling cepat 50 mg/menit. Dilanjutkan dengan 200-500 mg/hari/iv atau oral

c. Profilaksis: diberikan pada pasien cedera kepala berat dengan resiko kejang tinggi, seperti pada fraktur impresi, hematom intrakranial dan penderita dengan amnesia post traumatik panjang.

Tatalaksana Pembedahan

Indikasi operasi pada cedera kepala harus mempertimbangkan Status neurologis, Status radiologis, Pengukuran tekanan intrakranial. Secara umum indikasi operasi pada hematoma intrakranial :

• Massa hematoma kira-kira 40 cc

• Massa dengan pergeseran garis tengah lebih dari 5 mm

• ICD dan SDH ketebalan lebih dari 5 mm dan pergeseran Baris tengah dengan GCS 8 atau kurang.

• Konstusio cerebri dengan diameter 2 cm dengan efek massa yang jelas atau pergeseran garis tengah lebih dari 5 mm.

Pasien-pasien yang menurun kesadarannya dikemudian waktu disertai berkembangnya tanda-tanda lokal dan peningkatan tekanan intraknial lebih dari 25 mm Hg.

Sedangkan Indikasi operasi pada fraktur depres adalah lebih dari satu tabula, adanya defisit yang berhubungan dengan bagian otak dibawahnya, LCS leakage, fraktur depres terbuka, preventif growing fracture pada anak.

30

 Nonmedikamentosa 1) Posisi Tidur

Penderita cedera kepala berat dimana TIK tinggi posisi tidurnya ditinggikan bagian kepala sekitar 20-30, dengan kepala dan dada pada satu bidang, jangan posisi fleksi atau leterofleksi, supaya pembuluh vena daerah leher tidak terjepit sehingga drainase vena otak menjadi lancar (Japardi, 2002).

2) Nutrisi Adekuat

Pada cedera kepala berat terjadi hipermetabolisme sebanyak 2-2,5 kali normal dan akan mengakibatkan katabolisme protein. Proses ini terjadi antara lain oleh karena meningkatnya kadar epinefrin dan norepinefrin dalam darah danakan bertambah bila ada demam.

Setelah 3-4 hari dengan cairan perenterai pemberian cairan nutrisi peroral melalui pipa nasograstrik bisa dimulai, sebanyak 2000-3000 kalori/hari (Japardi, 2002).

2.1.7 Prognosis

Prognosis tergantung pada (Heegaard & Biros, 2007):

a. Lokasinya ( infratentorial lebih jelek ) b. Besarnya

c. Kesadaran saat masuk kamar operasi.

Jika ditangani dengan cepat, prognosis hematoma epidural biasanya baik, karena kerusakan otak secara menyeluruh dapat dibatasi. Angka kematian berkisar antara 7-15% dan kecacatan pada 5-10% kasus.

Prognosis sangat buruk pada pasien yang mengalami koma sebelum operasi (Heegaard & Biros, 2007).

31 DAFTAR PUSTAKA

Langlois J.A., Rutland-Brown W., Thomas K.E., Traumatic brain injury in the United States: emergency department visits, hospitalizations, and deaths.

Atlanta (GA): Centers for Disease Control and Prevention, National Center for Injury Prevention and Control, 2006.

Jagger J, Levine JI, Jane JA, Rimel RW. Epidemiologic features of head injury in a predominantly rural population. Journal of Trauma 1984;24:40-44.

Krisna Veni, 2011. Gambaran Penderita Trauma Kepala di Unit Gawat Darurat Rumah Sakit Haji Adam Malik Medan Tahun 2009. Medan. Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara.

American College Surgeon. 2012. Advanced Trauma Life Support Edisi Ke 9.

United States of America.

De Jong, Wim. 2004. Buku Ajar Ilmu Bedah. Jakarta: EGC.

Feliciano, David, Kenneth Mattox, Ernest Moore. 2004. Trauma. 5th Ed. New York: McGraw-Hill.

Heegaard, William dan Michelle Biros. 2007. Traumatic Brain Injury. Emerg Med Clin N Am. 25: 655–678.

Japardi, Iskandar. 2002. Penatalaksanaan Cedera Kepala Akut. (online). Available at: library.usu.ac.id/download/fk/bedah-iskandar%20japardi37%20.pdf.

Diakses tanggal 30 Oktober 2014.

Seth J. Karp, MD. James P. G. Morris, MD. David I. Soybel. 2004. Blueprints Surgery. Third Edition. UK: Blackwell Publishing.

Dalam dokumen PENANGANAN KEGAWAT DARURATAN HEAD INJURY (Halaman 26-31)

Dokumen terkait