Pemukiman adalah bagian dari lingkungan hidup diluar kawasan lindung, baik yang berupa kawasan perkotaan maupun pedesaan yang berfungsi sebagai lingkungan tempat tinggal atau lingkungan hunian adan tempat kegiatan yang mendukung perikehidupan dan penghidupan (UU No. 4 Tahun 1992 Tentang Perumahan dan Permukiman). Pemukiman sering disebut perumahan dan atau sebaliknya.
Dengan keterbatasan data yang ada untuk mengungkapkan kondisi permukiman masyarakat Gorontalo yaitu dengan melihat lokasi yang dihuni oleh penduduk terbesar. Pada Daerah Kota Gorontalo dengan 6 wilayah Kecamatan jumlah penduduk pada tahun 2009 seluruhnya 162.438 jiwa. Dari 6 wilayah Kecamatan tersebut terdapat 3 wilayah Kecamatan berpenduduk terbesar yakni Kecamatan Kota Timur, Kecamatan Kota Selatan dan Kecamatan Kota Utara. Dari ketiga Kecamatan ini, Kota Selatan yang memiliki kepadatan cukup tinggi. Hal ini dapat dilihat pada Kelurahan Bugis dan Biawao, penduduk yang tinggal dekat bantaran sungai rata-rata masih menggunakan bantaran sungai sebagai tempat pembuangan limbah domestik dan juga tempat untuk BAB (buang air besar).
Kebutuhan akan air bersih masyarakat Gorontalo untuk daerah perkotaan banyak menggunakan PDAM tetapi ada juga yang menggunakan sumur bor.
C. KESEHATAN
1. Angka Kematian Bayi ( AKB)
Kematian bayi adalah kematian yang terjadi antara saat setelah bayi lahir sampai bayi belum berusia tepat satu tahun. Banyak faktor yang dikaitkan dengan kematian bayi. Secara garis besar, dari sisi penyebabnya, kematian bayi ada dua macam yaitu endogen dan eksogen.
Grafik 3.1 Jumlah Bayi mati di Provinsi Gorontalo Tahun 2006-2010
I I I - 3 -
Berdasarkan tabel diatas, jumlah bayi yang mati di Provinsi Gorontalo selang Tahun 2006-2010 cenderung tidak mengalami perubahan yang signifikan pada tahun 2006 jumlah bayi mati sebanyak 162 bayi, namun tahun 2010 jumlah bayi yang mati sebanyak 283 kasus kematian, angka ini mengalami penurunan yang signifikan dari tahun sebelumnya sebanyak 333 kasus di tahun 2009 atau sebesar 15,2 per 1000 KLH. Tahun 2010 sebanyak 283 kasus atau 12,5 per 1000 KLH angka ini mengalami penurunan dari tahun 2009 tetapi sudah lebih rendah dari target nasional yang menargetkan penurunan angka kematian bayi sejumlah 26 per 1000 KLH, Kabupaten/ Kota yang melaporkan kematian bayi tahun 2010 tertinggi adalah kabupaten Gorontalo sebanyak 93 kasus.
2. Angka Kematian Balita ( AKABA)
Balita atau bawah lima tahun adalah semua anak termasuk bayi yang baru lahir, yang berusia 0 sampai menjelang tepat 5 tahun (4 tahun, 11 bulan, 29 hari). Pada umumnya ditulis dengan notasi 0-4 tahun. Angka Kematian Balita adalah jumlah kematian anak berusia 0-4 tahun selama satu tahun tertentu per 1000 anak umur yang sama pada pertengahan tahun itu (termasuk kematian bayi).
Grafik 3.2
Jumlah Balita Mati di Provinsi Gorontalo Tahun 2006-2010
Sumber : Profil kesehatan Kabupaten/ Kota Tahun 2006-2010
Langka kematian balita (AKABA) di Provinsi Gorontalo tertinggi dilaporkan pada tahun 2008 sebanyak 142 kemudian mengalami penurunan pada Tahun 2009 sebanyak
I I I - 4 -
112 atau 5,1 per 1000 KLH. Pada tahun 2010 mengalami kenaikan kematian Balita sejumlah 126 kasus atau 5,5 per 1000 KLH, jumlah ini sudah jauh lebih rendah dibandingkan dengan target nasional menurut SDKI tahun 2007 yang menargetkan penurunan angka kematian balita sejumlah 44 per 1000 KLH. Kabupaten/ Kota yang melaporkan tertinggai yaitu Kabupaten Gorontalo dan Kabupaten Gorontalo Utara masing-masing 43 kasus kematian Balita.
3. Angka Kematian I bu ( AKI )
Kematian ibu adalah kematian perempuan pada saat hamil atau kematian dalam kurun waktu 42 hari sejak terminasi kehamilan tanpa memandang lamanya kehamilan atau tempat persalinan, yakni kematian yang disebabkan karena kehamilannya atau pengelolaannya, tetapi bukan karena sebab-sebab lain seperti kecelakaan, terjatuh dll per 100.000 kelahiran hidup.(Budi, Utomo. 1985).
Di Provinsi Gorontalo belum dapat menghitung Angka kematian I bu dikarenakan Rasio kematian I bu tidak mencapai 100.000 KLH. Yang digunakan oleh Kabupaten/ Kota hanyalah merupakan asumsi AKI Kabupaten/ Kota untuk melihat kondisi kesehatan ibu dan di gunakan dalam pengambilan kebijakan oleh Stakeholder.
Tahun 2010 jumlah kematian ibu mencapai 40 I bu (176/ 100.000 KLH) mengalami penurunan dibandingkan dengan tahun sebelumnya yaitu 50 (223/ 100.000 KLH) kematian penurunan capaian ini tidak terlepas dari upaya-upaya yang telah dilaksanakan serta semakin meningkatnya kesadaran ibu untuk memeriksakan kehamilannya, selengkapnya dapat dilihat sebagai berikutt :
Grafik 3.3
Jumlah Kematian I bu Provinsi Gorontalo Tahun 2006-2010
I I I - 5 -
Jumlah kematian ibu nifas, ibu melahirkan dan ibu hamil di Provinsi Gorontalo selama kurun waktu 5 tahun mengalami fluktuasi, jumlah kematian tertinggi dilaporkan terjadi pada tahun 2006 sebanyak 60, mengalami penurunan pada tahun 2007 sebanyak 49 kemudian pada tahun 2009 sebanyak 50 kasus atau 227,8 per 100.000 KLH dan menurun pada tahun 2010 menjadi 40 atau sebanyak 177, per 100.000 KLH. Kasus yang tertinggi di laporkan oleh Kabupaten Gorontalo sebanyak 11 Kasus.
AKI juga berguna untuk menggambarkan tingkat kesadaran perilaku hidup sehat, status gizi dan kesehatan ibu, kondisi kesehatan lingkungan, tingkat pelayanan kesehatan terutama untuk ibu hamil, pelayanan kesehatan waktu ibu melahirkan dan masa nifas
.
Kematian ibu maternal di Provinsi Gorontalo terdiri dari kematian ibu hamil (15% ), kematian ibu bersalin (57% ), dan kematian ibu nifas (28% ).Gambar : 3.4
Trend Jumlah Kematian Bayi, Balita dan I bu Provinsi Gorontalo Tahun 2006-2010
Sumber : Profil Kabupaten/ Kota Tahun 2006 - 2010
Grafik diatas menggambarkan tren kematian bayi, balita dan ibu dari tahun 2006 sampai dengan tahun 2010 di Provinsi Gorontalo. Untuk kematian bayi yang dilaporkan tahun 2006 hingga 2009 menunjukkan tren yang meningkat hampir setiap tahun dengan jumlah kematian bayi di tahun 2006 mencapai 162 bayi, 2007 meningkat menjadi 179 bayi, bertambah lagi untuk 2008 menjadi 196 bayi, hingga kemudian meningkat dengan jumlah kematian bayi yang cukup signifikan di tahun 2009 sebanyak 333 bayi, sampai akhirnya mengalami penurunan ditahun 2010 menjadi 283 bayi.
I I I - 6 -
Namun lain halnya dengan jumlah kematian ibu dan balita di Provinsi Gorontalo selama kurun waktu 5 tahun terakhir kematian Balita di tahun 2006 adalah 68 kasus, tertinggi tahun 2008 142 kasus dan mengalami penurunan di tahun 2010. Tren angka kematian I bu dari tahun 2006-2010 tidak mengalami kenaikan atau penurunan yg berarti dari tahun ke tahun hingga tahun 2010 kasus kematian I bu menurun hingga 40 kasus dari kasus tertinggi di tahun 2006 dan 2008 yang mencapai 60 kasus.
4. Angka Harapan Hidup ( AHH)
Angka Harapan Hidup merupakan alat untuk mengevaluasi kinerja pemerintah dalam meningkatkan kesejahteraan penduduk pada umumnya, dan meningkatkan derajat kesehatan pada khususnya. Angka Harapan Hidup yang rendah di suatu daerah harus diikuti dengan program pembangunan kesehatan, dan program sosial lainnya termasuk kesehatan lingkungan, kecukupan gizi dan kalori termasuk program pemberantasan kemiskinan.
Tabel : 3.1
Capaian Usia Harapan Hidup Provinsi Gorontalo Tahun 2006-2009
I ndikator
2006
2007
2008
2009
Usia Harapan Hidup
65,6 65,9 66,2 66,2Sumber : BPS Provinsi Gorontalo
Dari tabel diatas menunjukkan Usia harapan Hidup di Provinsi Gorontalo dari tahun ke tahun mengalami peningkatan, hal ini berarti UHH di Provinsi Gorontalo masih jauh dibawah target RPJMD Program Kesehatan yang menargetkan UHH ditahun 2009 mencapai 69,5 dan di tahun 2010 target 70,6 tahun.
5. Angka Kesakitan ( Morbiditas)
Tingkat kesakitan mencerminkan situasi derajat kesehatan masyarakat di Provinsi Gorontalo, beberapa indikator morbiditas penyakit tertentu merupakan keterkaitan dengan komitmen global dalam MDGs. Angka kesakitan di Provinsi Gorontalo diperoleh dari data berbasis masyarakat baik ditingkat Rumah Sakit ataupun Puskesmas melalui sistim pencatatan dan pelaporan yang disajikan dalam bentuk buku Profil kesehatan
I I I - 7 -
Kabupaten/ Kota Tahun 2010. Program utama untuk menekan angka kesakitan adalah dengan mengembangkan sistem surveilans epidemiologi berbasis masyarakat, pemberantasan sarang nyamuk (PSN) dan vektor penyakit lainnya, pengawasan pemeriksaan kualitas air dan lingkungan, perbaikan sarana air bersih dan sanitasi dasar, pengembangan program desa sehat, sosialisasi perilaku hidup bersih dan sehat dan revitalisasi Posyandu.