• Tidak ada hasil yang ditemukan

T I AD PARO GPO G

I STITUT PERTA IA BOGOR 2011

i RI GKASA

SARI CIPTA NINGTIYAS. D14070011. 2010. Manajemen Pemeliharaan Kuda ( untuk Upacara Kenegaraan dan Sarana Kesenjataan di Detasemen Kavaleri Berkuda (Denkavkud) T I AD Parongpong. Skripsi. Departemen Ilmu Produksi dan Teknologi Peternakan, Fakultas Peternakan, Institut Pertanian Bogor.

Pembimbing Utama : Prof. Dr. Ir. Pollung H. Siagian, MS Pembimbing Anggota : Dr. Ir. Kartiarso, MSc

Detasemen Kavaleri Berkuda (Denkavkud) TNI0AD Parongpong merupakan salah satu kesatuan militer di Indonesia yang memanfaatkan kuda dan melatihnya sebagai sarana kesenjataan dan upacara kenegaraan. Keterampilan yang dimiliki oleh kuda kavaleri (kuda militer) ini merupakan hasil pemeliharaan dan pelatihan khusus yang diberikan oleh pelatih. Aspek0aspek dalam manajemen pemeliharaan yang perlu diperhatikan dan dijalankan adalah dan manajemen. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan memahami manajemen pemeliharaan kuda meliputi manajemen pemberian pakan, reproduksi, perkandangan, dan pemeliharaan kesehatan ternak kuda di Denkavkud Parongpong, Bandung, Jawa Barat, sehingga diharapkan adanya evaluasi untuk perbaikan manajemen pemeliharaan di tempat tersebut.

Penelitian ini dilakukan dengan cara mengamati manajemen pemeliharaan kuda militer di Denkavkud. Kuda yang diamati sebanyak 108 ekor yang terdiri atas 22 ekor anak kuda (0024 bulan), tiga ekor jantan dewasa, 26 ekor betina dewasa, dan 57 ekor kuda kavaleri (sedang dan sudah dilatih). Pengumpulan data dilakukan melalui pengambilan data primer dan sekunder di Denkavkud. Data yang dikumpulkan meliputi pengadaan kuda, manajemen pemberian pakan, sistem perkandangan, manajemen reproduksi, sanitasi, penanganan kesehatan, dan bobot badan kuda. Seluruh data akan dianalisis secara deskriptif. Kesesuaian jumlah pakan yang diberikan akan dievaluasi berdasarkan standar NRC (1989).

Manajemen pemberian pakan kuda di Denkavkud sudah cukup baik. Frekuensi pemberian pakan sebanyak empat kali, yaitu pagi, siang, sore, dan malam hari. Pakan yang diberikan adalah konsentrat dan rumput. Rumput yang diberikan adalah . Konsentrat yang diberikan adalah konsentrat Vital untuk kuda lokal dan konsentrat Haras untuk kuda bibit (Thoroughbred). Kebutuhan nutrisi kuda di Denkavkud sudah tercukupi dari pakan yang telah diberikan, kecuali kuda induk lokal yang sedang laktasi. Kebutuhan protein dan lisin kuda tersebut belum tercukupi dari pakan yang diberikan.

Bangunan kandang yang terdapat di Denkavkud sebanyak 16 bangunan dengan kapasitas masing0masing bangunan berbeda0beda. Fasilitas yang terdapat di dalam bangunan tersebut adalah kandang individu, gudang peralatan, dan gudang pakan hijauan. Proses pengawinan kuda di Denkavkud dilakukan secara alami. Cara ini dilakukan karena belum adanya tenaga ahli yang dapat melakukan inseminasi buatan (IB). Selain itu proses pengawinan kuda dengan cara IB memerlukan biaya yang lebih besar. Jumlah kematian semakin meningkat dalam tiga tahun terakhir, atau sejak tahun 2008 hingga Juli 2010. Jumlah kuda yang mati adalah 7 ekor (2008), 13 ekor (2009), dan 11 ekor (Januari0Juli 2010).

ii Perlu adanya perbaikan manajemen pemberian pakan, dimana jumlah pakan yang diberikan disesuaikan dengan kondisi fisiologis dan aktivitas kuda. Kuda pejantan tidak perlu diberi pakan tambahan berupa telur karena kebutuhan nutrisinya sudah tercukupi dari konsentrat dan rumput yang diberikan, sedangkan kuda induk lokal yang sedang menyusui perlu diberi konentrat dalam jumlah yang lebih banyak untuk memenuhi kebutuhan protein dan lisinnya. Selain itu perlu dilakukan peningkatan sanitasi baik pada ternak maupun lingkungan sekitar ternak, untuk meningkatkan kesehatan dari kuda di Denkavkud.

iii ABSTRACT

Care Management of Horses ( ) for Purpose of Formal State Ceremony and Armed Forces in Cavalry Horse Detachement

Indonesian ational Army Cavalry Parongpong ingtiyas, S.C, P.H. Siagian, and Kartiarso

Cavalry Horse Detachement (Denkavkud) Indonesian National Army0Cavalary Parongpong is one of the Indonesian military units that utilize the horse and train it as a means of purpose of formal state ceremony and armed forces. Skills possessed by the horse cavalry was the result of care management and specialized training provided by the trainer. Aspects of care management are breeding, feeding, and management. Horses that are kept in the Denkavkud, Parongpong are stallions, mares, foals, and military horses. Total populations of horses at Denkavkud are 183 horses. Besides commited horse training (remonte), Denkavkud also did breeding program to produce horses that can be trained and used as a military horse.There are some issues contained in Denkavkud, such as some of the nutrients needed by the horses not being met from feed given. One of these is crude protein and lysine. Lactation mares was crude protein and lysine deficiency. The number of death in 2010 is higher than previous years. Based on the number of horses that died from January until June 2010 is 11 horses. The average mortality was caused by colic. Colic is caused by excessive eating, excessive drinking during hot, moldy food, and even by investment roundworms. Animal welfare in Denkavkud can be enhanced by improvement of feed given and improving the health of livestock through improved sanitation.

1 PE DAHULUA

Latar Belakang

Hubungan antara kuda dan manusia telah terlihat sejak beberapa ribu tahun yang lalu. Kuda dimanfaatkan oleh manusia dalam berbagai hal, diantaranya adalah sebagai sumber pangan, alat transportasi, olahraga, pertanian, dan militer. Kuda dimanfaatkan di bidang kemiliteran sebagai sarana kesenjataan dan upacara kenegaraan. Pasukan berkuda di bidang militer disebut dengan kavaleri. Kavaleri berasal dari bahasa latin dan bahasa Perancis yang berarti kuda. Awalnya istilah kavaleri mengarah kepada pasukan berkuda, namun dalam perkembangan zaman, kavaleri disebut sebagai pasukan bertempur dengan menggunakan kendaraan lapis baja.

Detasemen Kavaleri Berkuda (Denkavkud) TNI0AD Parongpong merupakan salah satu kesatuan militer di Indonesia yang memanfaatkan kuda dan melatihnya sebagai sarana kesenjataan dan upacara kenegaraan. Namun pada kondisi Indonesia saat ini kuda tersebut hanya digunakan sebagai sarana upacara kenegaraan. Keterampilan yang dimiliki oleh kuda kavaleri ini merupakan hasil pemeliharaan dan pelatihan khusus yang diberikan oleh pelatih. Aspek0aspek dalam pemeliharaan yang menunjang keberhasilan dalam suatu peternakan adalah dan manajemen.

perlu diperhatikan untuk meningkatkan mutu genetik kuda. Salah satu cara untuk menghasilkan kuda yang bermutu genetik tinggi adalah dengan melakukan persilangan antar bangsa. Contoh persilangan yang telah dilakukan adalah persilangan kuda lokal dengan pejantan untuk Kuda Pacu Indonesia. Kuda dengan mutu genetik tinggi tidak akan menunjukkan performa yang baik jika tidak diimbangi dengan pemberian pakan yang baik.

memiliki peranan penting dalam kehidupan ternak diantaranya untuk pertumbuhan ternak muda, menjaga sistem reproduksi tetap berlangsung, dan memberikan energi bagi ternak kerja. Pakan yang diberikan harus memiliki nutrien yang seimbang serta jumlahnya sesuai dengan kebutuhan ternak kuda pada tingkat fisiologis tertentu. Pakan ini dimanfaatkan oleh ternak untuk mencukupi kebutuhan hidup pokok, pertumbuhan, reproduksi, dan produksi. Selain dan , faktor manajemen juga mempengaruhi performa dari ternak kuda khususnya pada

2 bidang kesehatan ternak. Manajemen pemeliharaan tersebut meliputi manajemen pemberian pakan, reproduksi, perkandangan, dan pemeliharaan kesehatan ternak kuda. Kesalahan dalam manajemen pemeliharaan atau ketidaksesuaian manajemen pemeliharaan kuda dengan tujuan panggunaan kuda dapat menyebabkan menurunnya peforma dari kuda tersebut.

Melalui beberapa aspek pemeliharaan dan persoalan yang dihadapi dalam manajemen pemeliharaan maka diperlukan penelitian lebih lanjut mengenai hal ini. \Penelitian yang dilakukan di Detasemen Kavaleri Berkuda Parongpong, Bandung, Jawa Barat ini diharapkan dapat menambah pengetahuan mengenai manajemen pemeliharaan kuda tunggang yang tepat sehingga diperoleh kuda dengan performa yang baik sesuai dengan pemanfaatannya sebagai sarana kesenjataan dan upacara kenegaraan.

Tujuan

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan memahami manajemen pemeliharaan kuda meliputi manajemen pemberian pakan, reproduksi, perkandangan, pemeliharaan kesehatan ternak, dan teknik pelatihan kuda di Detasemen Kavaleri Berkuda Parongpong, Bandung, Jawa Barat, sehingga diharapkan akan adanya evaluasi untuk perbaikan manajemen pemeliharaan di tempat tersebut dan dapat dijadikan sebagai masukan bagi pihak Denkavkud untuk peningkatan kesejahteraan serta kesehatan dari ternak kuda yang dipelihara.

3 TI JAUA PUSTAKA

Kuda (

Kuda merupakan salah satu jenis ternak besar yang termasuk hewan herbivora non0ruminansia. Ternak ini bersifat ! , kuat, dan mampu berjalan sejauh 16 km dalam sehari untuk mencari makan dan air (Kilgour dan Dalton, 1984). Blakely dan Bade (1991) menyatakan bahwa klasifikasi zoologis kuda adalah:

Kingdom : Animalia (hewan) Phylum : Chordata (bertulang belakang)

Class : Mammalia (menyusui)

Ordo : Perissodactyla (berteracak tidak memamahbiak) Family : Equidae

Genus : Equus

Spesies :

Kuda hidup berkelompok dan sering kali membentuk sebuah keluarga yang terdiri atas satu pejantan, satu atau beberapa betina dan keturunannya. Kelompok jantan muda biasanya membentuk kelompok yang terdiri atas satu hingga delapan jantan muda. Kuda jantan yang memimpin dan menguasai sekelompok betina, akan melindungi kuda betina dewasa yang merupakan bagian kelompoknya dari gangguan kuda jantan lain khususnya selama masa estrus. Kuda berkomunikasi dengan cara mengeluarkan suara, menggerakan tubuhnya seperti ekor, telinga, mulut, kepala, dan leher atau mengeluarkan bau yang berasal dari kotorannya untuk menandakan teritori. Kuda memiliki indera penciuman dan pendengaran yang kuat (Kilgour dan Dalton, 1984).

Pakan

Pakan yang biasanya dikonsumsi oleh kuda adalah hijauan dan konsentrat. Hijauan merupakan pakan dengan kandungan serat tinggi. Hijauan dapat berupa rumput dan legum. Konsentrat adalah campuran pakan yang mengandung serat kasar kurang dari 18% dan tinggi protein. Komposisi hijauan dan konsentrat yang diberikan pada kuda dapat bervariasi. Kuda dapat mengkonsumsi hijauan untuk hidup pokoknya sebanyak 1,502% bobot badan dan konsentrat sebanyak 0,5% bobot badan (NRC, 1989).

4 Hijauan

Hijauan mempunyai arti yang penting dalam makanan kuda. Performa yang dihasilkan kuda akan seiring dengan kualitas hijauan. Hijauan berkualitas baik akan menghasilkan performa kuda yang baik pula. Hijauan yang bagus tentunya tidak hanya sebagai sumber energi, tetapi juga sebagai sumber protein, vitamin, mineral, dan nutrisi lainnya (Mansyur, 2006).

Salah satu hijauan yang dapat digunakan dalam ransum kuda adalah

(" # ). adalah jenis rumput yang tumbuh dan dapat beradaptasi dengan baik di daerah tropis. dapat berkembang dengan stolon. Rumput ini baik digunakan untuk padang penggembalaan atau pastura, namun perlu dilakukan pengelolaan yang intensif dengan cara membuat # $ dan rotasi. % $ digunakan sebagai pastura kurang lebih selama 304 hari dan diistirahatkan selama 21028 hari (González &

2010).

dapat berproduksi sebanyak 47,0055,6 ton/ha/tahun, dengan pemberian 150 atau 300 kg nitrogen/ha/tahun dan interval pemanenan selama 21 hari (Miller & 2010). Rumput ini dapat tumbuh dengan baik di daerah dengan curah hujan 50001200 mm. Rumput ini tidak dapat tumbuh pada tanah yang tergenang dan kekurangan nitrogen (Partridge, 2010). Kandungan nutrien

adalah 32% bahan kering; 3,4% abu; 0,6% lemak kasar; 9,6% serat kasar; 15,4% BETN; dan 2,8% protein kasar (Hartadi & 1986). Menurut Miller &

(2010), DE atau ' dari rumput adalah 10,66 MJ per kg bahan kering, satu joule sama dengan 0,24 kal, maka 10,66 MJ sama dengan 2,56 Mkal.

Konsentrat

Pakan utama kuda adalah rumput. Pakan rumput hanya cukup untuk kelangsungan hidup tetapi untuk kuda pacu atau olahraga perlu tambahan konsentrat dan vitamin. Pakan konsentrat merupakan pakan sumber energi bagi kuda. Konsentrat yang dapat diberikan antara lain konsentrat serealia yang terdiri atas gandum, jagung, sorgum, berbagai produk sereal dan non sereal yang terdiri atas gula bit, legum seperti kedelai dan kacang (McBane, 1994).

5 Dedak Gandum

Dedak gandum merupakan hasil sampingan dari pengolahan tepung terigu. Dedak gandum merupakan pakan yang cocok untuk ternak besar, namun tidak cocok untuk unggas karena mengandung serat kasar yang tinggi. Kandungan nutrien dari dedak gandum berdasarkan NRC (1989), yaitu 89% bahan kering; 2,94 Mkal ; 15,4% protein kasar; 0,56% lisin; 0,13% kalsium; 1,13% fosfor; dan 0,56% magnesium.

Pakan Suplemen

Pakan suplemen adalah pakan atau campuran pakan yang sangat tinggi kandungan salah satu zat makanannya, seperti suplemen protein, mineral, dan lain0 lain. Telur merupakan salah satu pakan suplemen yang tinggi kandungan proteinnya. Komponen kimia telur menurut Panda (1996) tersusun atas air (72,8 075,6%), protein (12,8013,4%), dan lemak (10,5011,8%). Menurut American Egg Board (2010) kandungan protein telur tersusun atas 18 asam amino yaitu alanin, arginin, asam aspartat, sistin, asam glutamat, glisin, histidin, isoleusin, leusin, lisin, metionin, fenilalanin, prolin, serin, treonin, triptofan, tirosin, dan valin.

Sistem Perkandangan

Kandang harus lebih tinggi minimal satu kaki di atas daerah sekitarnya untuk memperlancar saluran pembuangan air. Kandang sering menjadi banjir jika saluran pembuangan air tidak baik, selain itu saluran pembuangan air yang tidak lancar juga menyebabkan kondisi kandang menjadi lembab. Kelembaban kandang yang tinggi dapat menyebabkan kuda mudah terserang penyakit (Brady &, 2010).

Atap pada kandang kuda lebih baik jika jaraknya semakin tinggi dari lantai, karena dapat menghasilkan sirkulasi udara yang baik. Tinggi atap kandang minimal adalah 12 kaki atau sama dengan 3,66 m. Ketersediaan udara yang baik dalam kandang sangat dibutuhkan karena kuda mudah terkena penyakit pernafasan. Udara yang bersih sangat penting untuk kesehatan dan kenyamanan kuda serta akan mempengaruhi kekuatan dari kuda tersebut. Tipe atap kandang dengan ventilasi yang baik adalah tipe dimana atap berbentuk puncak. Jendela pada kandang kuda harus berada pada posisi sejajar dengan kepala kuda. Bagian kandang harus tersedia air bersih. Kandang juga harus memiliki sistem pembuangan kotoran yang baik dan

6 adanya ketersediaan listrik untuk lampu, kipas angin, dan lain sebagainya (McBane, 1991).

Jenis alas kandang (bedding) yang digunakan tergantung pada ketersediaan, harga, dan kesesuaian material. Serutan kayu dan jerami merupakan bahan alas kandang yang sangat baik, namun dapat menjadi mahal atau sulit didapat. Bahan0 bahan lain yang dapat digunakan sebagai alas kandang adalah gambut, sekam padi, sekam kacang, serbuk gergaji, dan bubur kertas (Brady &, 2010). Alas kandang kuda harus selalu dalam keadaan bersih dan lunak serta beralaskan serbuk gergaji atau jerami. Alas kandang berfungsi untuk melindungi kuda ketika sedang menggulingkan badannya, memberikan kehangatan dan kenyamanan, serta melindungi kaki kuda terutama untuk kuda olahraga dan kuda pacu. Peternakan kuda lebih baik dilengkapi dengan fasilitas pendukung seperti tempat penyimpanan peralatan, tempat penyimpanan pakan, ruang ! pada setiap kandang sehingga memudahkan dalam pengawasan kuda (McBane, 1991).

Kandang kuda dewasa dengan tinggi 150 cm sebaiknya berukuran minimal 5x5 m2, sedangkan untuk kuda poni berukuran minimal 3,7 x 3,0 m2. Selain itu bangunan kandang juga sebaiknya memiliki pencahayaan dan ventilasi yang baik. Pintu untuk kandang harus kuat dan akan lebih baik jika pintu tersebut dibagi menjadi dua bagian yaitu bagian bawah yang tertutup dan bagian atas yang berkisi, sehingga kandang tetap aman dan ventilasi baik. Kuda muda atau anak kuda lebih baik jika berada dalam kandang kelompok, karena kuda muda yang berada dalam kandang individu dan jarang beraktivitas akan mengalami kegemukan. Pembersihan kandang, tempat pakan, dan tempat minum harus rutin dilakukan (Morel, 2008).

Manajemen Pemeliharaan Kuda Jantan

Reproduksi

Kuda jantan mulai dewasa kelamin pada usia 15 bulan (Kilgour dan Dalton, 1984). Pejantan yang akan digunakan sebagai pemacek sebaiknya sudah berumur empat tahun (Jacoebs, 1994). Keberhasilan dalam pengawinan membutuhkan betina yang sedang birahi serta pejantan yang memiliki kualitas semen dan spermatozoa yang baik (McBane, 1991). Berdasarkan hasil penelitian Arifiantini (2007) kualitas semen yang berasal dari satu ekor kuda generasi empat (G4) yang berbadan sehat dan berumur antara 508 tahun dapat dilihat pada Tabel 1.

7 Tabel 1. Karakteristik Semen Segar (Kuda G4 )

Parameter Hasil

Volume (ml) 27,7 ± 10,1

Konsistensi Encer

Warna Putih keruh

pH 7,0 ± 0,1

Motilitas (%) 67,5 ± 7,2

Viabilitas (%) 78,4 ± 7,7

Konsentrasi (106/ml) 222,7 ± 18,1 Morfologi spermatozoa normal (%) 74,2 ± 3,3

Sumber: Arifiantini (2007)

Performa pejantan dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu nutrisi, lingkungan, penyakit, dan hormon. Hormon yang mempengaruhi kualitas pejantan diantaranya adalah FSH atau ! ( ! (mengatur produksi sperma) dan LH atau ) * ( ! (mengatur pengeluaran hormon testosteron). Hormon testosteron berpengaruh terhadap karakteristik fisik pejantan, libido, dan produksi semen (McBane, 1991). Ukuran testis adalah salah satu indikator kemampuan kuda menghasilkan sperma, kuda jantan yang memiliki ukuran testis lebih besar dapat menghasilkan sperma lebih banyak. Kuda jantan yang berumur dua hingga tiga tahun menghasilkan sperma lebih sedikit dibandingkan dengan kuda yang lebih tua. Kuda jantan biasanya akan tetap subur hingga berumur 20 tahun (Freeman, 2010).

Pejantan yang akan dikawinkan mulai diberikan makanan yang bergizi dan vitamin dua hingga tiga bulan sebelum pengawinan, dengan tujuan meningkatkan kesuburan pejantan. Pejantan sebaiknya diistirahatkan dan dijauhkan dari kuda jantan lainnya agar tidak mengalami stress sebelum pengawinan (Jacoebs, 1994). Morel (2008) menyatakan hal0hal yang harus diperhatikan saat mempersiapkan jantan untuk kawin adalah kecukupan nutrisi dan latihan, karena kondisi fisik kuda saat kawin harus sehat dan tidak gemuk. Latihan dapat memperbaiki kondisi kuda jantan, mencegah kegemukan, menjaga kesehatan otot, dan meningkatkan stamina.

Pemberian Pakan

Pengetahuan mengenai kebutuhan zat0zat makanan untuk kuda di Indonesia belum diketahui secara luas dibanding ternak lain (sapi, domba, dan lain sebagainya).

8 Seperti halnya ternak lain, kuda memerlukan karbohidrat, protein, mineral, vitamin untuk hidup pokok (beristirahat), bekerja (misalnya berlari dan mengangkat beban), reproduksi (bunting dan laktasi), dan pertumbuhan. Beberapa faktor yang menentukan kebutuhan zat makanan, antara lain: 1) temperatur; 2) kondisi; 3) umur; 4) berat badan; 5) lama bekerja/hari; dan 6) bunting/laktasi. Tingkat aktivitas kuda dapat dibagi ke dalam tiga kelompok yaitu kerja ringan, sedang, dan berat (Parakkasi, 1986).

Kebutuhan nutrisi kuda dengan bobot badan 200, 400, dan 500 kg berdasarkan tingkat aktivitas yang sedang dijalaninya dapat dilihat pada Tabel 2. Tabel 2. Kebutuhan Nutrisi Kuda Berdasarkan Tingkat Aktivitasnya

Aktivitas Bobot Badan

(kg) DE (Mcal) Protein Kasar (g) Lisin (g) Ca (g) P (g) Mg (g) K (g) Vit. A (103 IU) Ringan 200 9,3 370 13 11 8 4,3 14,1 9 Sedang 200 11,1 444 16 14 10 5,1 16,9 9 Berat 200 14,8 592 21 18 13 6,8 22,5 9 Ringan 400 16,8 670 23 20 15 7,7 25,5 18 Sedang 400 20,1 804 28 25 17 9,2 30,6 18 Berat 400 26,8 1079 38 33 23 12,3 40,7 18 Ringan 500 20,5 820 29 25 18 9,4 31,2 22 Sedang 500 24,6 984 34 30 21 11,3 37,4 22 Berat 500 32,8 1312 46 40 29 15,1 49,9 22 Sumber : NRC, 1989

Blakely dan Bade (1991) mengemukakan pedoman umum pemberian pakan kuda sesuai dengan kebutuhannya adalah sebagai berikut: (1) Kuda yang bekerja ringan (kurang dari tiga jam) diberi pakan 0,5% konsentrat dan hijauan 1% sampai 1,25% bobot badan, (2) Kuda yang bekerja sedang (tiga sampai lima jam) diberi 1% konsentrat dan hijauan 1% sampai 1,25% bobot badan, dan (3) Kuda yang bekerja berat (lebih dari lima jam) diberi 1,25% konsentrat dan hijauan 1% bobot badan. Jumlah dan frekuensi pemberian pakan kuda harus sesuai dengan umur dan fungsi kuda tersebut. Frekuensi pemberian pakan dapat dilakukan dua sampai tiga kali sehari yaitu pada waktu pagi, siang, dan sore hari tergantung dari umur dan fungsi kuda tersebut (Jacoebs, 1994).

9 Manajemen Pemeliharaan Kuda Betina

Reproduksi

Seekor kuda betina dara akan mencapai pubertas atau masak kelamin pada umur 12 sampai 15 bulan. Namun hendaknya kuda itu tidak dikawinkan sebelum mencapai umur dua tahun dan lebih baik setelah berumur tiga tahun. Kuda betina bila dikawinkan pada umur yang lebih muda, biasanya memiliki tingkat kebuntingan yang rendah. Kuda betina yang dikawinkan pada umur tiga tahun dan dirawat dengan cermat maka selama hidupnya dapat menghasilkan 10 sampai 12 ekor anak karena kuda betina masih dapat beranak meski telah mencapai umur 20 tahun atau lebih (Blakely dan Bade, 1991).

Siklus estrus (birahi) kuda betina rata0rata adalah 21 hari dengan kisaran waktu antara 10 sampai 37 hari. Periode birahinya rata0rata adalah empat sampai enam hari. Tanda0tanda birahi kuda adalah gelisah, keinginan untuk ditemani oleh kuda lain, urinasi (kencing) yang berulangkali, serta vulva membengkak dan berwarna merah. Ovulasi terjadi pada saat0saat akhir periode birahi. Ovum yang dihasilkan dapat bertahan hidup sekitar enam jam. Oleh karena itu dianjurkan agar seekor kuda betina yang birahi dikawinkan tiap hari atau dua hari sekali mulai pada hari ketiga awal timbulnya birahi (Blakely dan Bade, 1991). Estrus kuda betina yang baru beranak dapat dihitung dengan kisaran 9 hingga 30 hari sesudah beranak (McBane, 1991).

Pengawinan

Kuda betina yang akan dikawinkan harus diberi pakan yang baik dan juga latihan yang cukup. Namun kuda betina tidak dianjurkan menjalani latihan yang terlalu berat karena akan menyebabkan siklus estrus (birahi) yang tidak normal, keterlambatan estrus, dan menunjukkan tanda0tanda estrus namun tidak terjadi ovulasi. Kuda betina akan memiliki tingkat # yang baik jika diberi pakan yang memiliki nutrien yang baik dan kandungan energi tinggi empat hingga enam minggu sebelum pengawinan (Morel, 2008). Alat kelamin jantan dan betina dicuci terlebih dahulu dengan air hangat dan sabun sebelum dilakukan proses pengawinan. Hal ini dilakukan untuk menghindari kontaminasi kuman yang menyebabkan infeksi pada alat kelamin. Ekornya lalu dibungkus dengan kain flanel agar ekor betina tidak ikut masuk ke dalam vagina saat proses pengawinan dan

10 mengotori vagina. Kaki betina perlu diikat, tindakan ini perlu untuk mengamankan pejantan yang akan menaiki betina agar tidak ditendang sewaktu mendekati (Blakely dan Bade, 1991).

Kebuntingan

Pengujian kebuntingan dapat dilakukan dengan beberapa metode diantaranya adalah palpasi rektal, tes darah, tes urin, dan (McBane, 1991). Rataan masa kebuntingan seekor kuda betina adalah 335 hari dengan kisaran 315 sampai 350 hari (Blakely dan Bade, 1991). Kegemukan pada betina bunting harus dihindari karena dapat menyebabkan kesulitan dalam pemeriksaan kebuntingan khususnya diakhir kebuntingan. Kuda juga harus sering latihan untuk menjaga kondisi tubuh kuda betina (Morel, 2008). Betina yang sedang bunting dan mendekati masa beranak akan terlihat lesu, namun beberapa betina akan bersikap agresif (Kilgour dan Dalton, 1984).

Induk kuda yang sedang bunting dan menyusui membutuhkan pakan yang cukup banyak baik untuk induk maupun anaknya (Jacoebs, 1994). Kuda bunting, perlu diberi konsentrat 0,7501,5% bobot badan dengan hijauan sebanyak 0,7501,5% bobot badan (Blakely dan Bade, 1991). Kebutuhan nutrisi kuda bunting dengan bobot badan dewasa 200, 400 dan 500 kg dapat dilihat pada Tabel 3.

Dokumen terkait