C.2.B. KEBIJAKAN TERKAIT SELEKSI PEMASOK DAN HAK-HAK KREDITUR Untuk memastikan bahwa Emiten dan Perusahaan Publik memperoleh barang atau jasa yang diperlukan dengan harga yang kompetitif dan kualitas yang baik, diperlukan kebijakan terkait seleksi pemasok. Kebijakan tersebut menentukan perlunya kriteria dalam memilih pemasok dan mekanisme pengadaan yang transparan. Kebijakan dimaksud juga perlu dikomunikasikan secara efektif kepada para pemangku kepentingan. Selanjutnya apabila telah dipilih pemasok, maka hak-hak yang berkaitan dengan pemasok harus dipenuhi. Saat ini belum ada peraturan yang spesiik mewajibkan atau mendorong perusahaan untuk memiliki kebijakan dan mekanisme dalam seleksi pemasok, serta pengungkapan kebijakan tersebut dalam laporan tahunan.
REKOMENDASI
Berdasarkan praktik keteladanan internasional tentang tata kelola, Emiten dan Perusahaan Publik didorong untuk memiliki kebijakan terkait seleksi
and their implementation procedures, as well as to disclose them in the annual report. In this regard, Issuers and Public Companies should be encouraged to have these policies and procedures and disclose compliance in the annual report.
C.2.B. POLICIES RELATED TO SUPPLIER SELECTION AND CREDITOR RIGHTS
To ensure that Issuers and Public Companies obtain required goods or services with competitive prices and good quality, relevant policies are required in terms of selection of suppliers. The policy determines the need for criteria for selecting suppliers and a transparent procurement mechanism. The policy also needs to be effectively communicated to stakeholders. Furthermore, if suppliers have been selected, their rights must be met.
Currently there is no specific regulation that requires or encourages companies to have policies and mechanisms in the selection of suppliers, as well as disclosure of the policy in the annual report.
RECOMMENDATION
Based on international exemplary practices concerning governance, Issuers and Public Companies are encouraged to have policies
pemasok dan pemenuhan hak-hak kreditur. Selain itu, Emiten dan Perusahaan Publik juga didorong untuk mengungkapkan hal dimaksud dalam laporan tahunan. Oleh karena itu, perlu adanya ketentuan yang mendorong Emiten dan Perusahaan Publik untuk memiliki kebijakan terkait seleksi pemasok dan pemenuhan hak-hak kreditur, serta mengungkapkan kesesuaiannya dalam laporan tahunan.
C.2.C. INSENTIF JANGKA PANJANG BAGI KARYAWAN
Dalam rangka mendorong loyalitas dan memotivasi karyawan untuk bertindak demi kepentingan perusahaan, karyawan perlu diberikan insentif jangka panjang. Insentif jangka panjang juga berperan untuk memastikan bahwa kinerja
karyawan selaras dengan kinerja perusahaan. Prinsip CG OECD menekankan pentingnya partisipasi karyawan dalam tata kelola untuk meningkatkan kinerja perusahaan, diantaranya dalam bentuk Employee Stock Ownership Program (ESOP). Pemberian insentif. sebagai pelaksanaan ESOP. ini dapat diberikan dalam bentuk saham atau opsi saham (stock option). Data pada Graik 5 memperlihatkan bahwa dari total 494 Emiten dan Perusahaan Publik di Indonesia yang menyerahkan laporan tahunan 2012 ke regulator terdapat sekitar 11% telah melaksanakan ESOP dan mengungkapkannya dalam laporan tahunan14, meskipun belum ada ketentuan khusus yang diterbitkan mengenai ESOP dimaksud. Hal ini menunjukkan adanya kesadaran perusahaan untuk memberikan insentif jangka panjang kepada karyawan dalam rangka meningkatkan kinerja perusahaan.
REKOMENDASI
Memperhatikan praktik pelaksanaan ESOP yang sudah berjalan selama ini dan praktik keteladanan internasional di bidang tata kelola, Emiten dan Perusahaan Publik perlu didorong untuk memiliki kebijakan pemberian insentif jangka panjang bagi karyawan secara adil dan transparan. Untuk itu regulator perlu memperkuat ketentuan yang ada untuk mendorong Emiten dan Perusahaan Publik memiliki kebijakan ESOP tersebut dan
14 Berdasarkan Peraturan Nomor X.K.6 tentang Penyampaian Laporan Tahunan Emiten atau Perusahaan Publik (2012).
regarding selection of suppliers and fulfillment of creditor rights. In addition, Issuers and Public Companies are also encouraged to disclose this in the annual report. Therefore, provisions are needed to encourage Issuers and Public Companies to have policies related to supplier selection and fulfillment of creditor rights, and to disclose compliance in the annual report.
C.2.C. LONG-TERM INCENTIVES FOR EMPLOYEES
In order to encourage loyalty and motivate employees to act in the interests of the company, employees need to be given long- term incentives. Long-term incentives also play a role to ensure that employee performance is aligned with company performance. OECD CG Principles emphasize the importance of employee participation in governance to improve company performance, among others in the form of the Employee Stock Ownership Program (ESOP). Providing incentives for the implementation of the ESOP can be done in the form of stock or stock options. Data in Graph 5 show that of a total of 494 Issuers and Public Companies in Indonesia that submitted annual reports to the regulator in 2012, approximately 11% have implemented the ESOP and disclosed it in the annual report14, although there is no specific provision issued to that effect. This shows company awareness to provide long-term incentives to employees in order to improve company performance.
RECOMMENDATION
Given the ESOP practices that have been implemented so far and international exemplary practices in governance, Issuers and Public Companies should be encouraged to have a policy of long-term incentives for employees on a fair and transparent basis. To that end, the regulator needs need to strengthen existing provisions to encourage the Issuer of Public Company to have such a system and explain if it could not comply
14 Based on Regulation No.X.K.6 on Submission of Annual Re- port of Issuer or Public Company (2012).
menjelaskannya apabila tidak dapat mematuhinya (comply or explain).
C.2.D. PENERAPAN SISTEM WHISTLEBLOWING
Saksi atau pelapor atas suatu pelanggaran yang dilakukan karyawan atau manajemen perusahaan perlu dilindungi agar memotivasi pemangku kepentingan tersebut untuk
melaporkan pelanggaran yang terjadi. Hal tersebut dapat dilaksanakan melalui penerapan sistem whistleblowing yang dirancang dengan baik, yang pada akhirnya akan bermuara pada pembentukan budaya tata kelola perusahaan yang baik.
Grafik 5
graph Pengungkapan Program Kepemilikan Saham oleh KaryawanDisclosure of Employee Stock Ownership Program
Mengungkapkan/Disclosed Sumber/Source: OJK, 2013
89%
11%
Tidak Mengungkapkan/Not Disclosed